
Boy langsung menatap Ardian dengan tatapan horor. Sementara orang yang di tatap horor hanya santai saja.
"Gue sembelih juga lo lama-lama!" kesal Boy dengan sangat kesal.
Dia tahu, jika adiknya itu berpacaran dengan sosok datar seperti Ardian. Awalnya, Boy tidak percaya jika adiknya akan menjalin hubungan lebih dengan Ardian.
Namun, melihat Ardian yang lumayan perhatian dengan Nanda, membuat Boy percaya jika mereka berdua benar-benar pacaran, bukan pura-pura.
Ardian hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh, dia tidak peduli dengan ucapan Boy barusan.
Boy menarik nafasnya panjang, lalu kembali menatap Nanda. "Ra.. Ini sisir baru buat lo." Boy meletakkan sisir berwarna biru itu di atas nakas. Karna sisir milik gadis itu rusak, akibat lemparan nya pada benda-benda di dalam kamar.
Nanda hanya mengangguk kecil saja. Lalu Boy kembali menatap Ardian. "Gue tinggal dulu, Ra. Kalau nih anak macam-macam sama lo, langsung panggil gue. Biar langsung gue sembelih sekalian," ujar Boy lalu melenggang pergi meninggalkan Nanda dan Ardian.
Ardian berdesis, "emangnya gue sapi kurban mau di sembelih."
Nanda dan Ardian kembali bertatapan, setelah kepergian Boy dari kamar.
"Jangan kunci kamar lo." Boy menyembulkan kepalanya di pintu menatap Ardian dan Nanda silih berganti.
Nanda tentunya terlonjak kaget, dia pikir Boy sudah pergi. Ternyata abangnya itu tengah menyembul kan kepalanya di depan pintu kamar, lalu pria itu benar-benar pergi setelah memberikan senyuman pada Nanda, dan tatapan intimidasi untuk Ardian.
"Ch! Dia pikir gue takut." Ardian kembali kesal.
Nanda melirik wajah datar itu, lalu berucap, "emangnya lo nggak takut?" tanya Nanda menaik nurun kan alisnya itu.
Ardian membalas tatapan Nanda. "Selama gue nggak salah, gue nggak akan takut sama siapapun," jawabnya mantap.
Nanda sudah tidak membalas ucapan Ardian. Dilihatnya cowok itu berjalan menuju nakas, lalu mengambil sisir yang dibawa oleh Boy tadi.
Ardian kembali berjalan mendekati Nanda, dengan membawa sisir tersebut, membuat gadis itu memperhatikan Ardian.
"Mau apa lo?" tanya Nanda.
Ardian melirik Nanda, lalu mengangkat sisir itu, "menurut lo, gue mau ngapain?" Bukannya menjawab, cowok itu malah balik bertanya.
Nanda tidak berminat menjawab pertanyaan Ardian.
__ADS_1
"Gue mau sisir rambut lo itu. Lepas gue sisir lo harus mandi. Lo keramas pakai sampo satu botol, biar rambut lo nggak lepek lagi. Biar wangi."
"Nggak perlu, gue bisa sisir rambut gue sendiri." Nanda sempat terkejut mendengar jika cowok itu berinisiatif ingin menyisir rambutnya.
Tentu saja Nanda akan menolaknya, selama ini hanya mama Gina saja yang menyisir rambutnya. Sedangkan orang terdekatnya Boy dan Gerald tidak pernah.
"Gue nggak minta persetujuan lo," balas Ardian santai.
"Jelas lo minta persetujuan gue. Karna rambut gue yang mau lo sisir," dengus Nanda. Sejenak, gadis itu melupakan masalahnya karna kedatangan Ardian.
Mungkin cowok itu sengaja datang, untuk mengalihkan pikiran nya dari berbagai masalah. Itu yang di pikirkan Nanda saat ini.
"Nggak usah banyak ngomong. Lo cukup diam." Ardian berkata tegas, lalu mulai menyisir rambut gadis itu.
Nanda tertegun, sentuhan tangan Ardian pada rambutnya membuat jantungnya tidak baik-baik saja. Seperti ada sengatan listrik yang mengalir pada sekujur tubuhnya.
Nanda membiarkan Ardian menyisiri rambutnya yang panjang itu. Lalu kemudian senyuman kecil terbit di wajah Nanda.
***
Dilubuk hatinya paling dalam, Rafael berharap kecil. Salsa menampakkan dirinya di balkon kamar, seperti yang biasa gadis itu lakukan.
Rafael memejamkan matanya, entah mengapa langkah kakinya ingin membawanya ke seblah.
"Persetan!"
Rafael berjalan keluar kamar, sudah satu jam lebih dia berdiam diri di balkon kamar, menunggu Salsa muncul di sana. Namun, gadis itu tidak memunculkan batang hidungnya.
Menggunakan baju kaos oblong dengan celana short cino, lalu cowok itu melangkah keluar rumah. Seluruh kemampuannya berpikir sudah dia kerahkan semua. Malam ini, pertama kalinya Rafael melangkahkan kakinya menuju rumah gadis itu.
Semenjak duduk di bangku SMP, Rafael sudah tidak kerumah Salsa lagi sampai sekarang. Hingga malam ini, dia memutuskan untuk menginjakkan kakinya lagi kesana.
Karna mereka berdua bertetangga, tanpa adanya jarak rumah.
Satpam yang menjaga gerbang rumah, melotot kan matanya tidak percaya. Ini pertama kalinya dia melihat Rafael kesini, setelah beberapa tahun lamanya.
"Acca ada, pak?"
__ADS_1
Yah, Acca adalah nama masa kecil Salsa. Hanya orang terdekatnya saja yang tahu dan pekerja yang sudah lama bekerja di rumahnya.
Setelah sekian lama, Rafael menyebutkan nama itu.
Sangat manis bukan, Rafael mencari Salsa dengan nama masa bermain mereka waktu kecil.
"Aduh, den Rafael lambat. Non Acca baru aja pergi," jelas pak satpam setelah sekian detik diam.
Rafael menaikkan alisnya sebelah. Lalu kemudian kembali bertanya, "kemana?" tanya Rafael penasaran, "dan perginya sama siapa," lanjutnya.
"Kalau nggak salah, non Acca pergi kerumah temannya buat cake. Dia pergi sama teman cowoknya," jujurnya membuat Rafael diam sejenak.
Setahunnya, Salsa tidak punya teman cowok dekat. Apa jangan-jangan Fatur?
Rafael hanya diam saja, pikirnya terarah untuk satu nama. Yaitu sosok Fatur.
"Den Rafael tunggu di dalam aja." Satpam tersebut mempersilahkan Rafael untuk masuk kedalam rumah.
"Ok, jangan tanya sama Acca, kalau saya ada di sini," peringat Rafael membuat Satpam itu diam sejenak. "Paham?" lanjut Rafael membuat Satpam terlonjak kaget dengan suara cowok itu.
"Eh... Iya-iya, Den."
Rafael langsung melenggang masuk kedalam rumah yang bertingkat dua itu. Pak satpam tengah menutup gerbang sembari menunggu kepulangan anak majikannya.
Kedua orang tua Salsa tidak ada. Rafael tahu kedua orang tua gadis itu sibuk mengurus bisnis mereka diluar negeri. Dan pikiran Rafael langsung tertuju kesana. Dia yakin, Salsa akan pindah keluar negeri, mengingat kesibukan orang tuanya diluar negeri.
Rafael sudah berada di depan pintu kamar Salsa. Pintu kamar gadis itu mempunyai keamanan berupa password untuk masuk.
Rafael berdecih. Kemudian cowok itu menekan deretan angka untuk membuka pintu kamar Salsa.
"Salah?" gumam Rafael, memasukkan pasword ulang tahun Salsa, namun salah.
Tidak ingin melakukan untuk kedua kalinya. Cowok itu melangkah turun di ruangan tamu. Dia akan menunggu Salsa pulang di ruangan tamu.
Beberapa panggilan telfon dari Izam tidak Rafael angkat. Moodnya sedang berantakan saat ini. Dia sudah bertekad menghampiri Salsa, namun gadis itu sudah pergi.
"Ch, padahal tadi dia minta sama gue buat jalan-jalan. Tapi dia malah pergi sama Fatur!" Raut wajah kesal Rafael tidak bisa dia sembunyikan.
__ADS_1