ARDIAN

ARDIAN
Menang?


__ADS_3

Dokter Ivan tersenyum kearah Nanda, siang ini gadis itu akan pulang kerumah, seperti yang ia harapkan.


"Gimana, kamu senang bisa pulang?" tanya dokter Ivan basi-basi seraya memasukkan alat medisnya kedalam tas. Setelah ia memeriksa tekanan darah gadis itu.


"Senang banget," Jawab Nanda dengan senyuman sangat ramah, "kepala saya juga udah nggak sakit, jadi udah nggak ada alasan saya tetap di sini," lanjutnya membuat Ivan menggelengkan kepalanya.


"Oiya, pacar kamu yang... Serem itu mana?" tanya Dokter Ivan, jangan lupa dia mengucapkan kata 'serem' setengah berbisik membuat Nanda menahan tawa.


Nanda juga tengah menunggu Ardian balik, karna cowok itu pamit padanya untuk sarapan di kantin, namun sampai sekarang Ardian belum juga balik kesini.


Ia pikir Ardian sudah pulang, tapi mengapa cowok itu tidak pamit padanya? Ia ingin mengubungi Ardian namun ia sadar, ponselnya tengah ketinggalan di rumah miliknya, alhasil dia tidak bisa menanyakan dimana cowok itu sekarang.


Pria berstatus dokter itu tidak munafik, jika ia takut dengan tatapan mata milik Ardian, seperti tatapan mata yang siap mengulitinya hidup-hidup.


"Dokter takut ya sama Ardian?" Nanda menaik nurun kan alisnya menggoda dokter Ivan, membuat pria itu tertawa renyah.


"Dikit."


Ceklek...


Pintu ruangan Nanda terbuka, Ivan sempat menahan nafas ia pikir yang membuka pintu adalah orang yang baru saja dia bicarakan, ternyata dugaanya salah, karna yang datang adalah Boy.


Dokter Ivan dan Dokter Boy tengah mengobrol serius, membahas mengenai pasien mereka. Indra pendengaran Nanda juga menangkap jika sang kakak meminta bantuan pada Ivan, untuk memintakan dirinya izin pada pemimpin rumah sakit, karna di rumah ia ingin menjaga Nanda dulu, sekitar dua hari.


Dokter Ivan pamit lebih dulu, karna ada beberapa pasien yang harus ia tangani.


"Udah nggak ada barang lo yang ketinggalan 'kan?" tanya Boy setelah Nanda keluar dari kamar mandi mengganti pakaian miliknya.


"Udah nggak ada," jawab Nanda, seraya berjalan menuju nakas mengambil tisu.


"Yaudah, ayok." Boy menjulurkan tangannya kearah Nanda, lalu dengan senang hati Nanda menerima uluran tangan Boy.


Mereka berdua berjalan beriringan, dengan kedua tangan kakak beradik itu bergandengan, di sepanjang koridor rumah sakit banyak para perawat, dokter dan pasien menatap Boy dan Nanda dengan tatapan takjub.


Yang satu cantik imut, yang satunya berkarisma dengan wajah tampan nya itu.


Tanpa sengaja ekor mata Nanda menangkap sosok dokter, yang merupakan dokter yang menyukai kakaknya itu, siapa lagi kalau bukan dokter Sasa.


"Bang," panggil Nanda.

__ADS_1


"Masih bisa jalan? Atau mau gue gendong?" tanya Boy membuat Nanda tidak bisa menahan senyuman.


"Lo kira gue lumpuh nggak bisa jalan," balas Nanda membuat Boy tertawa pelan.


"Yaudah, mau ngomong apa?" tanya Boy.


"Lo nggak tau, kalau ada dokter yang suka lo?" tanya Nanda, tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.


"Setahu gue, hampir seluruh dokter yang bekerja di sini suka sama gue," sombongnya mendarah daging membuat Nanda memutar bola matanya malas.


"Gue serius nanya nih."


Boy melirik adiknya, "ada, namanya dokter Sasa."


"Terus, lo nggak suka balik sama dia?"


Boy tersenyum samar, "andai aja gue belum ketemu Greta, kemungkinan besar gue suka balik sama dia," jawab Boy santai, pikirannya langsung di penuhi wajah datar anak SMA itu.


Nanda manggut-manggut dengan ucapan sang kakak. Satu yang Nanda tahu, jika Boy benar-benar serius pada Greta.


Mereka berdua berjalan menuju parkiran rumah sakit, yang khusus untuk para dokter dan petinggi rumah sakit.


Nanda pikir, cowok itu sudah pulang ternyata dugaanya salah, karna Ardian masih ada di sini.


"Lu yang bawa mobil!" Boy langsung melemparkan kunci mobil pada Ardian, untung dengan sigap cowok itu menangkap kunci mobil.


Ardian berdengus kasar.


"Apa?" Nyolot Boy melihat tatapan bengis dari Ardian.


"Lo yang apa?" balas Ardian.


"Berani lo ya, lawan orang tua!" kesel Boy.


"Jadi lo  udah sadar, kalau lo itu emang udah tua?" Ardian manggut-manggut dramatis di sertai senyuman mengejek.


Boy geram, bisa-bisanya curut itu mengejeknya.


Ardian menatap Nanda sejenak, lalu kemudian cowok itu masuk kedalam kemudi di susul Boy dan Nanda.

__ADS_1


Ardian menghembuskan nafas kasar, saat melihat Boy ikutan duduk di belakang. Pria itu pikir dia supir pribadinya?


"Jalan!" titah Boy seperti tuan muda memerintahkan supir.


Ardian tidak ingin meladeni Boy, lalu kemudian cowok itu menyalakan mesin mobil meninggalkan rumah sakit.


Boy tersenyum kemenangan melihat Ardian hanya diam saja. Siapa suruh mengatai dirinya sudah tua, padahal hanya mapan saja. Meskipun Boy yang lebih dulu mengatakan itu, namun ia tidak suka Ardian menimpali.


Nanda menggelengkan kepalanya pelan, melihat tingkah Boy seperti tuan muda saja.


"Kalau lo mau tidur, tiduran aja. Entar gue bangunin," kata Boy dan dibalas gelengan kepala oleh Nanda.


"Gue nggak ngantuk," jawabnya.


"Yaudah, gue aja yang tidur," kata Boy memperbaiki posisinya untuk tidur sejenak. "Kalau udah sampai, bangunin gue, Ar." Perkataan Boy seperti perintah di telinga Ardian dan juga Nanda.


Padahal Boy bisa minta tolong pada Nanda untuk membangunkannya kalau sudah sampai, tapi begitulah Boy ingin yang ribet-ribet.


Ardian tidak menggubris ucapan Boy lagi, dia fokus menyetir mobil. Entah ini perasaan Ardian saja atau apa, semenjak ia dekat dengan Nanda, lebih tepatnya mereka pacaran, dia bisa melihat karakter Boy yang sangat jauh berbeda saat ia dan para sahabatnya membawa salah satu sahabatnya masuk rumah sakit, dan itu semua di tangani oleh dokter Boy dengan ramah kepada mereka dan dari situlah mereka mulai sedikit akrab.


Ardian baru tahu, jika dokter yang selalu menangani sahabatnya jika masuk rumah sakit, adalah dokter yang meyebalkan. Makin mengenal Boy membuat Ardian tahu, tentang pria itu sedikit.


Boy mulai memejamkan matanya, dia sangat letih akhir-akhir ini. Mulai dari mama nya yang masuk rumah sakit, lalu kemudian di susul Nanda.


Untung saja gadis itu hanya letih saja, sehingga Boy bernafas legah dengan kondisi adiknya.


Ardian melihat Nanda dari kaca, dengan tatapan mata yang tajam, membuat Nanda yang menatap kedepan langsung terkesip saat tatapannya dengan mata Ardian bertemu di kaca. Nanda langsung memalingkan wajahnya ke samping.


Lagi-lagi Nanda jatuh cinta pada manik mata indah Ardian.


Cowok itu hampir sempurna dari segi fisik. Mata yang tajam nan indah, hidung mancung, rahang tegas, alis yang hitam tebal, rambut yang acak-acakan membuat nya makin tampan.


Pantas saja Ardian banyak di gilai para gadis, terutama Greta dan Kesya. Dan ujung-ujungnya dia yang mendapatkan cowok itu.


Pipi Nanda bersemu merah, entah mengapa ia tiba-tiba baper dengan mendapatkan sosok cowok yang banyak di gilai kaum hawa.


Itu berarti dia yang menang 'kan?


Ardian itu seperti sosok dewa yang tampan, menjelma sebagai manusia. Saking tampangnya cowok nakal itu.

__ADS_1


__ADS_2