ARDIAN

ARDIAN
Sebuah kebohongan besar


__ADS_3

''Gue benci sikapnya, bukan orangnya.'' Cika duduk di kursi panjang, bercat putih.


Saat ini, mereka bertiga berada di taman sekolah, mereka malas ke kantin, tadinya mereka ke kelas, namun karna guru tidak masuk, sehingga mereka memutuskan ke taman saja, ketimbang kantin.


Mereka bertiga duduk di kursi panjang itu, dengan posisi Cika di tengah, di apit oleh Nanda dan juga Salsa.


‘’Padahal, kan, kalau emang benar sahabat kita harus ingetin dia, kalau yang dia lakuin itu salah,'' ucap Salsa, ‘’tapi Puri lain, dia malah belaian kesalahan Kesya,'' lanjut Salsa.


''Sampai-sampai Puri nggak omong aku karna masalah ini, padahl aku nggak belaian Greta,'' lanjut gadis itu.


‘’Gue minta maaf.'' Nanda angkat suara, setelah beberapa menit diam. Salsa dan Cika langsung melirik Nanda.


''Minta maaf karna apa?'' tanya Salsa.


‘’Mungkin karna gue ngajakin kalian, buat bantu Gerald hapus video itu, jadinya sahabat lo sendiri nggak omong lo,'' jelas Nanda membuat Salsa menggelengkan kepalanya.


‘’Ini bukan salah kamu,'' ucap Salsa. ''Malahan aku saka Cika suka temenan sama kamu, Nan. Aura positif aja kamu bisa nyebarin ke kita,'' ucap Salsa dan dibalas anggukan setuju oleh Cika.


‘’Bukan salah lo. Nggak usah mintaa maaf,'' timpal Cika.


‘’Apa yang di bilang Cika benar, kalau Kesya sama Puri nggak mau temenan lagi sama kita....'' Salsa tidak melanjutkan ucapnya,


‘’Kita bertiga aja,'' lanjut Cika. ‘’Berteman sama orang egois seperti Kesya, bakalan berimbas sama kita.''


‘’Gue aja udah lama temenan sama dia, nggak nyangka kalau dia bakalan lakuin hal bodoh ini. Padahal semua orang punya aib, dia malah nyebar aib orang,'' decak Cika.


''Kalau masih mau temenan yah, Ayok. Kalau nggak mau, Yaudah. Gue nggak bakalan rugi juga nggak berteman sama mereka. Jujur aja ya, gue gedek sama sikap Kesya. Bukanya mau minta maaf, dia malah mau labrak Gerald, emang gila.'' Cika mengeluarkan unek-uneknya, ini pertama kalinya Nanda mendengar gadis itu bicara panjang kali lebar.


''Di tambah Puri, dia malah belaian yang salah, bukanya di nasehat in malah di dukung, emang manusia bodoh!''


‘’Udah, Ci. Nggak baik ngomel-ngomel, sejak kapan kamu suka ngomong panjang kali lebar?''


Huft


Cika menghembuskan nafas berat, dia mengoceh panjang kali lebar.


‘’Oh. Jadi gini....''


Deg


Mereka bertiga langsung melihat kearah Kesya dan Puri, entah sejak kapan mereka ada di sini. Yang jelas, Kesya dan Puri mendengar semua apa yang mereka bicarakan.


''Nggak nyangka yah gue sama kalian,'' ucap Kesya. ''Kalian mutusin persahabatan kita demi video Greta. Bukan sepenuhnya gue salah.'' Kesya menatap gadis itu satu persatu.


''Nggak salah gimana lagi, Sya? Kamu nyebar aib orang. Lo juga punya aib, gue, kita semua. Aib kita cuman di tutup, tapi lo malah nyebar aib orang. Gue cuman khawatir, kalau Greta bakaln balas perbuatan lo itu jauh lebih kejam.''


Kesya mengepalkan tanganya. ‘’Nggak nyangka gue, Ci. Lo ngehina gue kayak gini!''


''Cika nggak ngehina lo, dia cuman ingetin perbuatan lo itu. Kalau apa yang lo lakuin itu nggak bener,'' sahut Nanda, seraya mengunyah permen karetnya itu.


Kesya mendelik kearah Nanda. Gadis itu berani menyahut.


“Mending lo diam!” bentak Kesya.


''Lo itu bawa pengaruh buruk di pertemanan gue!'' Kesya maju kedepan mendorong tubuh Nanda sehingga gadis itu langsung terjatuh.


''Nanda!''


Cika dan Salsa langsung membantu Nanda untuk berdiri.


''Nggak usah kasar!'' Nanda menatap tajam kearah Kesya.


Gadis itu merapikan roknya, lalu dia maju mendorong tubuh Kesya.


BRUK....


Puri melototkan matanya, saat Nanda mendorong keras tubuh Kesya hingga gadis itu menubruk dinding pembatas antara taman dan gudang.


‘’Awkh!'' pekik Kesya, seraya memegang kepalanya. Bekas jahitan itu kembali terbentur di tembok.


''Kesya!'' Puri langsung membantu Kesya berdiri, kamu terlambat gadis itu langsung pingsan. Karna bekas jahitan di kepalanya belum kering kini tebentur lagi.


Nanda, Salsa dan Cika terkejut, lalu ketiga gadis itu ingin membantu gadis itu, membawanya ke uks.


''Stop, nggak usah lo bantu. Terutama lo! Lo yang buat Kesya pingsan kayak gini!'' tunjuk Puri kearah Nanda dengan mata tajam.


Puri mengeluarkan ponselnya, menghubungi Pute untuk segera kesini.


****


Raisa menerima Telfon dari pihak sekolah, jika anknya di larikan kerumah sakit karna bekas jahitan di kepalnya terbentur di tembok. Membuat wanita itu dengan cepat bergegas untuk menuju rumah sakit.


Iksan dan Raisa langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit, mereka benar-benar terkejut mendapatkan berita ini.

__ADS_1


Baru-baru saja anaknya itu keluar dari rumah sakit, sekarang Kesya kembali masuk rumah sakit.


''Buruan, Mas.'' Raisa menyuruh suaminya itu untuk menyetir lebih cepat lagi.


''Iya, Ma. Sabar.''


‘’Gimana bisa aku sabar, anak kita baru keluar rumah sakit. Dan sekarang dia masuk kerumah sakit lagi,'' jelas Raisa dengan nada cemas.


Iksan tidak membalas ucapan Raisa, dia fokus menyetir mobil untuk segera sampai di rumah sakit.


Untung saja jalan tidak begitu macet, sehingga mereka tiba di rumah sakit cepat. Iksan menggandeng tangan Raisa masuk rumah sakit, mereka berjalan di koridor rumah sakit untuk segera menuju UGD.


Anggota ARIGEL semuanya ada di rumah sakit, karna Leo memaksa mereka untuk kesini. Karna dia yang membawa Kesya kerumah sakit atas permintaan Pute.


Leo tidak mau sendiri, sehingga dia mengajak kelima sahabatnya untuk ikut mengantar Kesya kerumah sakit.


Nanda, Cika dan Salsa tentunya ada. Sementara Puri sedari tadi mondar-mandir karna sudah 10 menit dokter yang menangani Kesya belum juga keluar.


‘’Gimana bisa terjadi?'' tanya Pute kepada Nanda, seraya menghembuskan nafas berat.


''Gue nggak sengaja,'' jawab Nanda.


Pute mengangguk, dia yakin Nanda benar-benar tidak sengaja, hanya saja Pute khawatir pertemanan mereka semakin renggang, dan di tambah lagi mamanya Kesya akan marah besar.


Bagaimana tidak, Kesya baru saja keluar dari rumah sakit, kini dia kembali masuk rumah sakit.


‘’Tenang aja, lo nggak usah khawatir. Karna Kesya yang mulai duluan,'' ucap Cika kepada Nanda.


Meski Nanda tidak sengaja, tetap saja gadis itu tidak tenang. Apa lagi dia tahu jika mama Kesya seperti iblis.


Nanda masih terngiang-ngiang dengan tamparan mamanya Kesya kepada Greta, bahkan pipi Greta saat itu memerah karna tamparan Raisa.


Nanda takut jika Raisa akan menampar dirinya, seperti Raisa menampar Greta karna melukai anaknya. Dan sekarang dia yang membuat Kesya masuk rumah sakit.


Memikirkan itu membuat Nanda menggelengkan kepalnya. Kedua orang tuanya saja tidak pernah kasar padanya apa lagi menampar dirinya. Namu bagaiamana jika orang lain yang akan menampar dirinya untuk pertama kalinya.


''Mikirin apa?'' tanya Gerald tiba-tiba, membuat Nanda menjadi terkejut karna Gerald.


''Mikirin, Kesya?'' Tanya Gerald dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.


''Nggak sengaja, Rald,'' jawab Nanda dengan suara berat.


Memikirkan tamparan Raisa membuat Nanda sudah ngilu duluan, dia membayangkan tangan itu menyentuh pipinya yang mulus ini.


''Nggak usah khawatir, kamu nggak sengaja.''


Seseorang menyodorkan Nanda permen karet, sehingga Gerald dan Nanda melihat kearah seseorang yang memberikanya permen karet.


''Lo suka ini, kan kalau lagi pusing. Situasinya sekarang pasti udah buat lo pusing,'' ucap Ardian membuat Nanda tersenyum tipis.


Karna apa yang di katakan cowok itu ada benarnya, jika sekarang ini dia membutuhkan permen karet.


‘’Thanks,'' ucap Nanda seraya mengambil permen karet tersebut.


Ardian hanya mengangguk kecil.


Ardian sudah tahu apa penyebab Kesya masuk rumah sakit, karna Nanda tidak sengaja mendorongnya hingga gadis itu terbentur di tembok.


Gerald sudah tahu, jika Ardian juga menyukai Nanda. Tidak masalah bagi Gerald, jika Ardian menyukai gadis yang sama. Karna dia tidak bisa menghentikan perasaan suka seseorang kepada Nanda.


''Mau balik ke sekolah lagi, Rald?'' tanya Ardian.


‘’Kayaknya, soalnya masih ada kegiatan osis yang gue tinggalin gara-gara ajakan Leo,'' jawab Gerald seraya menatap Leo, sementara cowok yang di tatap itu cengengesan seperti tak bersalah saja.


''Sorry,'' ucap cowok itu pelan.


Iksan dan Raisa berjalan cepat menuju ugd, dia melihat teman-teman Kesya di depan ugd menunggu.


Iksan masih setia menggenggam tangan istirnya itu.


‘’Gimana kondisi Kesya?''


Deg


Suara khawatir rasa langsung memasuki gendang telinga mereka.


‘’Dokter yang nanganin Kesya belum keluar, Tan,'' jawab Pute kepada Raisa.


Nanda menatap kedepan, berani menatap wajah cemas milik Raisa, apa lagi jika dia tahu, kalau yang membuat kesya celaka adalah dirinya, teman baru kesya.


Deg...


Mata Iksan dan Nanda bertemu, dia melihat tangan pria itu menggenggam erat tangan milik wanita yang merupakan mama Kesya.

__ADS_1


Jantung Iksan seakan-akan ingin berhenti, saat melihat ada anaknya di sini, Nanda Raisa Arabela.


Anaknya itu menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Nanda mematung, bahkan gadis itu tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, saat melihat papanya menggandeng tangan wanita lain.


Papanya di sini, bukan di luar kota!


Perlahan-lahan Ibnu melepaskan genggaman tanganya pada Raisa, dan itu di rasakan oleh Raisa sendiri.


Nanda seperti mimpi, melihat papanya di sini. Dan yang membuat gadis itu tidak menyangka, papanya menggenggam erat tangan wanita lain.


''Papa.''


Satu kata yang di keluarkan Nanda, mampu membuat seluruh tatapan mata menatap Nanda dengan tatapan bertanya-tanya.


Mereka semua langsung berpikir, jika Nanda tidak salah panggil, kan, dengan matanya menatap lekat Iksan.


Raisa langsung menatap Nanda, gadis itu menatap suaminya.


''Nan....'' panggil Salsa, karna gadis itu menatap Iksan dengan serius.


''Itu papanya Kesya, kamu nggak salah panggil, kan.'' Pernyataan Salsa membuat hati Nanda memanas, saat Salsa mengatakan jika seseorang yang dia panggil dengan sebutan papa merupaka papa Kesya juga.


Iksan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun saat ini, mulutnya kakuh. Sekarang semuanya terbongkar, jika dirinya bukan di luar kota, dirinya berada di Jakarta.


''Siapa yang buat kesya masuk rumah sakit?'' tanya Raisa kepada Puri.


''Dia,'' tunjuk Puri kepada Nanda, sehingga Iksan semakin terkejut.


Raisa sekarang tahu, jika teman baru Kesya itu adalah anak suaminya bersama dengan Gina.


Hati Nanda sakit, di situasi ini sekarang dia paham, sekarang dia tahu jika selama ini papanya bukan di luar kota. Melainkan di Jakarta bersama wanita lain, dan membuat Nanda semakin sakit hati, jika papanya adalah papa temannya juga.


‘’Dasar anak kurang ajar!'' Raisa melangkahkan kakinya ingin menampar Nanda.


Ardian ingin menghentikan Raisa, menghentikan langkah kakinya. Tiba-tiba pria berseragam dokter menahan tangan Raisa, sehingga tangan wanita itu menggantung di udara.


''Beraninya lo mau nyentuh adik gue!'' marah Boy. Menghempaskan tangan Raisa dengan kasar, sehingga wanita itu hampir terjatuh, untung saja Iksan menangkap tubuh Raisa.


Sementara Nanda belum juga bergeming, bahkan saat Raisa ingin menamparnya dia hanya diam karna tidak sadar.


''Bajingan!'' geram Boy yang di tujukan untuk Iksan dan juga Raisa.


Mata Boy memerah menatap Iksan dengan penuh kebencian.


''Papa udah puas, kan. Ngehancurin hati dan mental anak papa!'' geram Boy.


Dia menarik tangan Nanda untuk segera pergi dari sini, untung saja dia datang tepat waktu, jika tidak, tamparan wanita itu akan mengenai pipi adiknya.


Nanda tidak bergerak saat Boy menarik tanganya pergi dari sana, dia masih tidak menyangka dengan apa yang dia lihat.


Boy menuju parkiran, dia akan pulang membawa adiknya. Dia tahu, sekarang adiknya jauh dari kata baik-baik saja.


‘’Sialan!'' geram Boy, hal yang dia takutkan kini terjadi, Nanda sudah mengetahui semuanya, bahkan melihat papanya menggandeng tangan wanita lain.


Itu sungguh menyakitkan untuk seorang anak, Boy melajukan mobilnya menuju rumah, sekarang adiknya sudah tahu.


Boy tidak tahu, apa yang akan terjadi pada adiknya nanti.


Nanda masih dikuasai oleh bayangan papanya bersama dengan wanita lain. Gadis itu meremas ujung roknya, rasanya dia ingin berteriak detik ini juga.


Bagaiamana bisa mamanya tahan dengan situasi seperti ini? Pantas saja mamanya makin hari makin kurus.


Ternyata ini yang mamanya pikirkan.


***


''Kamu mau kemana, Mas. Kamu mau tinggalin anak kamu?'' marah Raisa kepada Iksan, saat pria itu ingin meninggalkan dirinya di sini.


Sementara anak ARIGEL sudah pulang, karna dia tahu ada urusan kelurga yang terjadi saat ini.


Iksan mengusap wajahnya kasar, dia ingin menemui Nanda. Menjelaskan kepada anaknya mengenai kerumitan ini.


Nand sudah melihatnya di sini, bukan di luar kota.


Akhirnya, Iksan tetap berada di sini, menunggu Kesya sampai dia di bawa keruangan rawat inap.


Iksan pusing harus berbuat apa sekarang, kedua anaknya sudah membenci dirinya, namun Iksan akan berusaha agar Nanda tidak membencinya, meski kemungkinannya hanya kecil.


Sakit hati, kebohongan Nanda dapatkan kepada papanya. Teman-teman Kesya juga sudah pulang, atas Iksan.


Pintu ruangan ugd terbuka, perawat dan dokter mendorong brankar yang di tempati Kesya untuk dibawa keruangan rawat inap.


Berulang kali Iksan menghembuskan nafas berat, dia seperti mimpi saat ini, melihat anaknya melihat kelakuannya secara langsung.

__ADS_1


''Jangan kemana-mana, Mas. Kamu harus di sini jaga Kesya. Aku mau urus obat Kesya dulu.'' Peringat Raisa, lalu melenggang pergi meninggalkan Iksan yang sudah berada di ruangan Kesya.


Dokter menjelaskan keadaan tubuh Kesya masih lemah, bekas jahitan yang belum kering itu terbuka kembali.


__ADS_2