ARDIAN

ARDIAN
Perdebatan


__ADS_3

Kesya turun dari mobil, begitupun dengan Iksan setelah memantapkan hatinya, dia akan menerima apa yang akan terjadi hari ini. Jika dia di lihat oleh putrinya sendiri, mengantar gadis yang hampir seumuran dengan Nanda.


Kesya menggandeng tangan papanya, banyak adik kelas maupun kakak kelas yang menyapa dirinya, setelah beberapa hari dia tidak ke sekolah.


''Kelas kamu dimana, Sya?'' tanya Iksan, yang tidak tahu kelas anaknya itu di mana. Karna ini pertama kalinya dia mengantar Kesya ke sekolah nya.


Dan baru kali ini juga dia menginjakkan kakinya di sekolah ini.


''Papa sih nggak pernah ke sekolah Kesya, jadinya nggak tahu Kesya di kelas mana,'' ejek gadis itu membuat Iksan hanya tertawa kecil.


''Kamu, kan tahu. Papa sibuk kerja di luar kota,'' balas Iksan kepada putrinya itu.


Mereka berdua berjalan di koridor sekolah. Iksan mengingat perkataan Raisa, jika Nanda satu kelas dengan Kesya.


''Di ujung sana kelas Kesya, Pa,'' tunjuk Kesya pada kelas yang berada di ujung sana.


''Jangan bilang papa nggak tahu Kesya itu kelas IPA atau IPS?'' tebak Kesya dan dibalas anggukan kepala oleh Papanya.


‘’Memangnya kamu kelas apa?''


''IPA, Pa,'' jawab Kesya membuat Iksan tersenyum, itu berarti Nanda juga di kelas IPA.


Kesya sudah sampai di depan kelasnya, banyak murid dalam kelas melihat Kesya diantar oleh pria berbadan tegak.


‘’Kesya udah ada di luar.'' Puri langsung berdiri dari tempat duduknya untuk segera menghampiri Kesya, begitupun dengan yang lainya berdiri mengikuti Puri.


Kecuali Nanda, gadis itu sedang menerima Telfon dari Boy.


''Aaaaaa, akhirnya lu ke sekolah juga, Sya.'' Puri langsung memeluk dengan erat tubuh Kesya.


Yang lainya juga memeluk Kesya, lalu menyapa papanya Kesya.


‘’Bilang aja lo kesepian nggak ada yang nemenin lu duduk,'' balas Kesya dan dibalas anggukan kepala oleh Puri.


‘’Gimana kondisi lu, Sya?'' tanya Pute.


Kesya tersenyum kearah Pute. ''Gue baik-baik aja.''


''Oiya, Nanda mana?'' tanya Kesya membuat Iksan diam seribu bahasa, saat Kesya mengucapkan nama Nanda.


Raisa mengatakan jika Nanda dan Kesya itu satu kelas, namun Raisa tidak mengatakan jika Nanda dan Kesya berteman, karna sejatinya Raisa juga tidak tahu.


Iksan berani bertanya. ''Kamu cari Nanda siapa?'' tanya Iksan, seraya mengusap rambut anaknya. ''Kata mama kamu, sahabat kamu cuman empat,'' lanjut Iksan membuat Kesya menggeleng.


''Ada murid baru, Pa. Dia masuk di sircel pertemanan Kesya sama yang lain, karna dia cocok gabung dengan kami,'' ucap Kesya.


''Namanya Nanda Raisa Arabela.‘'


Deg...


Jantung Iksan semakin berdetak kencang, saat Kesya menyebut nama asli Nanda. Jadi, Nanda bersahabat dengan Kesya?


Bagaiamana bisa mereka bisa dekat...


''Nama lengkap Nanda, ada nama mama juga, Raisa,'' ucap Kesya dengan tawa kecilnya, dia baru ngeh dengan nama lengkap gadis itu.


''Papa kenapa?'' tanya Kesya, karna melihat raut wajah papanya tiba-tiba berubah.


‘’Tidak apa-apa ,'' bohongnya pada Kesya.


Sedari tadi, Kesya melihat papanya bebe tingkah aneh, apa ada yang di sembunyikan papanya itu?


''Itu Nanda, dia lagi kesini,'' ucap Salsa, melihat Nanda berdiri dari tempat duduknya berjalan menghampiri mereka.


Iksan semakin gelagapan.


Drt...


Ponsel Iksan bergetar, membuat Iksan bernada legah. Setidaknya ada alasan untuk pergi dari sini.


''Kesya, papa angkat Telfon dulu.


''Iya, Pa.''


''Om angkat Telfon dulu,'' pamit Iksan kepada sahabat anaknya.


''Iya, om.''


Iksan mengangkat Telfon, seraya melangkah pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


‘’Sorry, tadi gue angkat Telfon Abang gue. Jadi telat gabungnya,'' ucap Nanda dan dibalas senyuman oleh Kesya.


‘’Nggak apa-apa.'' Kesya langsung memeluk Nanda. Sehingga mereka bedua berpelukan, Nanda melihat punggung seseorang pria berjalan di koridor.


Nanda menaikkan alisnya sebelah. Punggung seorang pria itu, sungguh tidak asing untuk Nanda.


''Itu siapa?'' tunjuk Nanda pada seorang pria yang sudah berjalan jauh.


''Itu papa gue, dia lagi nerima Telfon dari orang penting,'' jawab Kesya membuat Nanda manggut-manggut.


Karna punggung seseorang itu membuat Nanda ingat kepada Iksan, karna punggung papa Kesya sama dengan punggung papanya.


‘’Yaudah yuk masuk kelas,'' ajak Kesya sehingga mereka langsung kembali duduk di tempatnya.


Mereka kembali kumpul, meski Puri belum menerima Nanda sepenuhnya karna gadis itu membela Greta, jangan lupa Puri masih sakit hati dengan Salsa.


Kesya bisa melihat tatapan mata Puri kepada Nanda tidak seperti biasanya. ‘’Kalian bedua ada masalah apa sih?'' tanya Kesya kepada Puri dan Nanda, karna dia bisa melihat tatapan tidak suka Puri di tujukan untuk Nanda.


Nanda langsung menatap Puri, gadis itu menatapnya dengan tatapan tidak suka, Nanda sudah peka sedari tadi, hanya saja dia diam.


‘’Kenapa sih?'' tanya Kesya lagi, karna Nanda dan Puri hanya diam saja.


Sementara Pute, Cika dan Salsa memilih untuk diam, karna mereka tahu kenapa Puri sudah tidak serespek saat pertama kali kenal dengan Nanda.


‘’Nggak usah di bahas,'' ucap Puri. ''Kalau dia tahu diri, dia nggak bakalan gabung sama kita lagi,'' lanjutnya dengan sindiran pedas untuk Nanda.


Kesya semakin di buat penasaran dengan Puri dan juga Nanda.


‘’Karna dia nggak tahu diri, makanya dia masih ada di sini,'' lanjut Puri, setelah beberapa menit diam. ''Bukan begitu?'' Puri menatap Nanda dengan senyuman sinis, membuat Nanda ingin meremas mulut sih Puri itu.


''Ok-Ok. Kalau kalian berdua nggak mau cerita,'' putus Kesya, karna Puri hanya bisa memberikan tanda tanya, tidak ada kejelasan.


''Gue mau bilang, ini serius.'' Kesya bicara dengan suara pelan. Jangan lupa mimik wajahnya berubah menjadi serius, tidak seceriah tadi.


Membuat Nanda bisa melihat Kesya dari sisi lain, mungkin ini yang di katakan Gerald padanya.


‘’Kalian udah tahu, kalau video Greta udah di hapus?'' tanya Kesya dan dibalas anggukan kepala oleh sahabatnya.


''Kita udah tahu,'' ucap Pute.


‘’Gerald yang nyuruh orang itu hapus semuanya,'' timpal Cika, membuat Kesya mengepalkan tanganya, dia tidak menyangka jika Gerald akan turun tangan mengenai masalah ini.


''Lo kenapa?'' tanya Pute, sehingga Kesya melirik Pute.


''Gerald mana?'' tanya Kesya berdiri ingin mencari keberadaan Gerald.


''Mungkin di ruangan osis. Kan, waktu lalu pentas Seni sekolah gagal, di undur bulan depan, jadi mungkin Gerald sama anggota osis lainya lagi ngumpul di ruangan osis, bahas ini,'' jelas Salsa menjelaskan panjang kali lebar.


''Lo mau kemana, Sya?'' panggil Puri, namun di hiraukan oleh Kesya.


Puri dan Pute berjalan mengikuti Kesya.


‘’Mau di susul?'' tanya Nanda kepada Cika dan Salsa.


''Ayok!'' Salsa berdiri dari kursinya menarik tangan Nanda dan juga Cika.


''Suruh Gerald keluar!'' Kesya berdesis kepada Nita, gadis itu di halangi oleh Dio dan Nita.


''Nggak bisa, Gerald ngadain rapat osis!'' tegas Dio kepada Kesya.


Dio masih setia mencekal tangan Kesya, agar dia tidak masuk kedalam ruangan osis, yang dimana Gerald sedang mengadakan rapat bersama osis lainya untun pentas seni, yang akan di laksanakan kurang lebih satu bulan lagi.


''Apa-apaan sih lo megang tangan, Kesya!'' marah Puri kepada Dio.


''Ambil teman lo, jangan mau nerebos masuk!'' kesal Dio menghempaskan tangan Kesya begitu kasar.


‘’Nggak usah ikut campur lo!'' cecar Puri.


''Osis kayak lo itu cuman caper!'' lanjut gadis itu menatap Dio dan Nita secara jijik.


''Kalau ngomong itu di jaga,'' sahut Nita, yang tidak suka saat Puri megatakan jika anak osis itu hanya caper saja.


''Gue ngomong fakta!'' nyolot gadis itu kepada Nita.


''Udah, Ri.'' Pute datang, agar sahabatnya itu tidak berdebat dengan anak osis di hadapanya.


''Kalian itu yang caper, suka nyari masalah supaya di kenal di sekolah ini,'' balas Nita kepada Kesya dan Puri, sehingga Pute menatap tajam Nita.


''Udah, Nit. Kita masuk aja, kita nggak usah ladenin mereka. Mereka yang sebenarnya caper, sok jago!'' sindir Dio lalu pergi meninggalkan ketiga gadis itu.

__ADS_1


Kesya mengepalkan tanganya, saat Dio mengatakan jika dirinya sok jago.


Dio dan Nita sudah masuk kedalam ruangan osis, mengunci pintu agar Kesya dan antek-anteknya tidak masuk.


‘’Sialan lo!'' Teriak Kesya namun sudah tidak di dengarkan oleh Dio dan Nita lagi, karna keduanya sudah masuk.


''Udah, Sya. Sebenarnya masalah lo sama anak osis apa sih, Sya?'' tanya Pute penasaran, karna Kesya begitu membenci anak osis, terutama Gerald.


Tidak lama itu, Nanda, Cika dan Salsa ikut bergabung, ketiga gadis itu yakin, jika Kesya adu berantem dengan anggota osis, terlihat wajah gadis itu merah padam.


''Jangan bilang ini ada hubungannya dengan vid—''


''Gue yang sebarkan video, Greta.''


Puri dan Pute terdiam, dia tidak menyangka jika Kesya yang menyebarkan video itu, mereka pikir itu hanya sebuah firasat mereka, ternyata itu benar.


Sementara Nanda, Cika dan Salsa yang sudah tahu hanya diam saja. Karna mereka sudah tahu, apa lagi Greta dan Kesya bermusuhan, entah apa yang mereka rebutkan sehingga seperti ini.


''Lo serius, Sya?'' tanya Pute, masih tidak menyangka jika dugaan ketiga temanya itu benar, jika yang menyebarkan video Greta itu adalah Kesya.


''Gue serius, kenapa? Kalian mau jauhin gue? Kalian mau berhenti berteman sama gue? Kalau itu mau kalian, gue terima!'' decak Kesya menatap satu persatu sahabatnya.


''Nggak, Sya.'' Puri menyahut, jika dia tidak akan meninggali Kesya.


''Ini bukan salah lo kok, kalau lo nyebarin video Greta. Karna kalian berdua, kan emang musuhan. Jadi wajar aja kalau musuh bakalan menjatuhkan satu sama lain,'' bela Puri terhadap Kesya. ‘’Gue dukung lo, Sya. Apa lagi cewek kayak Greta.''


Kesya menatap Pute, Nanda, Salsa dan Cika, karna gadis itu belum mengeluarkan sepatah katapun, hanya Puri saja.


''Kalian kenapa cuman diam?'' tanya Kesya, membuat Pute tersenyum tipis.


‘’Gue nggak bakalan ninggalin lo, Sya. Kita sahabat, dan selamanya bakalan begitu,'' ucap Pute. ''Cuman gue minta sama lo, hal kayak gini jangn lo ulang lagi, Sya. Kasihan sama Greta, aibnya di nonton banyak orang, bukan maksud gue belaian Greta, gue cuman takut lo bakalan kena karna,'' lanjut gadis itu seraya menepuk pundak Kesya.


''Kita tetap sahabat selamanya.''


Salsa dan Nanda juga Cika masih diam, mereka tidak bergeming, dia pikri Kesya akan menyesali perbuatanya ini.


Kesya, Puri dan Pute menatap ketiga gadis itu, yang masih diam, belum mengeluarkan sepatah katapun.


‘’Kalian?'' tanya Kesya, karna mereka bertiga hanya diam, seakan-akan mereka berkomunikasi dalam diamnya.


''Kita masih mau sahabatan sam—''


‘’Ada baiknya lo minta maaf sama Greta.'' Cika angkat bicara, sehingga perkataan Salsa terpotong.


Nanda dan Salsa Langsung melirik Cika yang sedari tadi hanya diam saja.


‘’Maksud lo?'' bukan Kesya yang bertanya, namun Puri yang nyolot pada Cika.


Dia tahu, jika Cika menginginkan Kesya untuk maaf pada Greta.


''Gue nggak bicara sama lo,'' jengkel Cika kepada Puri, karna gadis itu yang nyolot.


‘’Ngapain lo nyuruh gue minta maaf sama Greta. Jelas-jelas lo lihat dengan mata kepala lo sendiri, kalau dia menahun vas bunga di kepala gue, Ci. Sampai-sampai gue masuk rumah sakit karna ulah gila dia!'' Kesya marah kepada Cika, karna dari ucapan Cika, gadis itu menyuruhnya untuk minta maaf pada Greta.


''Sya, nggak bakalan terjadi hal ginian, kalau kamu nggak nyebarin video Greta.'' Salsa ikut menimpali membuat kesya menatap Salsa dengan tatapan tidak percya.


''Jadi maksud lo itu, lo nyalahin gue?''


''Iya, Sya. Andai aja kamu nggak nyebarin video Greta, mungkin kamu nggak akan masuk rumah sakit kayak gini. Greta juga nggak bakalan lakuin hal segila itu, kalau kamu nggak mulai duluan,'' ucap Salsa lagi, dengan suara lembutnya pada Kesya.


''Kita semua punya aib, Sya. Nggak sepantasnya kita umbar aib orang.'' Lanjut Salsa membuat Cika dan Nanda mengangguk setuju dengan ucapan gadis itu.


‘’Mending lo diam, Sal!'' cecar Puri, karna sedari tadi Salsa sok bijak menurut Puri. ''Lo itu sok bijak tau nggak,'' sinisnya pada Salsa.


‘’Emangnya salah kalau sahabat ngingetin sahabatnya?'' Nanda yang sedari tadi diam angkat bicara.


Sikap Puri semakin hari semakin membuat Nanda jadi greget dengan gadis itu. Dia mau cari sahabat modelan bagaimana lagi? Jika Salsa yang baiknya kayak malaikat mau di sia-siakan.


''Hmmm...Gue di sini baru berteman sama kalian beberapa minggu ini. Jadi gue nggak ikut campur terlalu dalam mengenai persahabatan kalian. Tapi, kalian nggak lihat, kalau yang kasi kalian pilihan itu sahabat lama kalian, Cika sama Salsa. Sahabat yang berani negur kesalahan lo itu, demi kebaikan, sejatinya itu sahabat lo.''


Nanda menasihati Kesya, sementara Puri sedari tadi menatap Nanda dengan tatapan tidak suka.


''Bukan sahabat yang dukung lo di jalan yang salah,'' lanjut Nanda menatap Puri, tentu saja ucapan Nanda di tujukan untuk Puri.


Mereka berdua saling bertatapan tajam.


‘’Nggk usah sok tahu lo, Nan. Lo baru gabung di sini, tapi lo udah berani sama gue!'' geram Puri.


''Lo pikir gue bakalan ngajakin Kesya di jalan yang salah? Gue cuman dukung dia karna dia sahabat gue!'' lanjut gadis itu.

__ADS_1


‘’Justru lo sahabatnya Kesya, harus buka pikiran dia. Kalau hal yang dia lakuin itu salah.''


__ADS_2