ARDIAN

ARDIAN
Fatur dan Ardian


__ADS_3

Huft...


Ardian langsung menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur, setelah bertemu dengan Kesya di mall tadi membuat Adrian berpikir, mengapa Kesya masih setia mengejar nya. Padahal gadis itu tahu, jika ia sudah mempunyai pacar, saudara Kesya sendiri.


Ardian sadar, jika dia lebih lama mengenal Kesya ketimbang Nanda. Tapi apa boleh buat, perasaan tidak bisa di paksa, Ardian juga tidak meminta jatuh cinta secepat ini, tapi takdir berkata lain.


Kedatangan Nanda di sekolah ini membuat hati Ardian berdesir, ia tahu jika saat itu dia hanya iseng-iseng berujung suka beneran.


Ting...


Ponsel milik Ardian bergetar, menandakan adanya pesan masuk. Ardian tahu pesan itu adalah pesan dari group khusus untuk mereka, Ardian sudah memberikan notifikasi khusus tentu nya.


Ardian membaca pesan di grup tersebut, sahabat nya mengajak mereka kumpul malam di markas, Ardian bisa menebak jika mereka akan membahas mengenai liburan mereka, karna mereka sudah libur sekolah selama beberapa minggu kedepan.


Ardian masuk kedalam kamar mandi, pukul 8 malam dia akan ke markas menemui para sahabat nya.


Sekitar tiga puluh menit mandi, Ardian keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Ardian menuju cermin, melihat pantulan wajah nya, dia menarik sudut bibir nya berbentuk senyum. Ardian sadar, para perempuan diluar sana menginginkan dirinya karna dia tampan dan juga kaya raya. Perempuan mana yang menolak kelebihan itu?


Ardian memakai kaos oblong berwarna hitam, yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih, lalu dia memakai celana chino pendek, sampai lutut, berwarna cream. Di padukan dengan sandal Nike berwarna hitam. Styles nya sangat santai, namun begitu memukau tentu nya.


Baju apapun yang cowok itu pakai, pasti akan cocok untuk dirinya.


Ardian melirik jam di pergelangan tangan nya, 30 menit lagi masuk jam 8, membuat cowok itu keluar kamar, saat membuka pintu kamar, dia berpapasan dengan Fatur.


"Mau kemana lo?"


Ardian menaikkan alisnya sebelah, dia tidak salah dengar, 'kan? Jika Fatur bertanya dirinya ingin kemana.


"Tumben." Bukanya menjawab, Ardian malah mengatakan kata tumben.


Fatur diam sejenak, lalu mengambil langkah lebih dulu, meninggalkan Ardian yang masih menatap nya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


Ardian mengedikkan kedua bahunya, lalu kembali melanjutkan langkah kaki nya. Ardian berjalan menuruni anak tangga, namun langkah kaki cowok itu terhenti saat melihat Fatur tengah menyiapkan makan malam diatas meja, cowok itu membantu Tari. Dan Ardian bisa melihat keduanya nampak akrab, Ardian jadi berpikir sejak kapan Fatur mau mengakrabkan diri dengan mama nya?


Apa lagi Ardian tahu, jika Fatur membenci dan sempat menyulik mama nya, karna Fatur pikir saat itu Tari merebut papa nya dari Livy, mama Fatur.


Ardian kembali melanjutkan langkah kaki nya, menghampiri sang mama yang tengah menyajikan makan malam mereka.


"Kamu mau kemana, Ar?" tanya Tari, melihat anak nya sudah rapih begini.

__ADS_1


"Mau ke markas bentar, Ma. Ketemu sama sahabat Ardian," jawab Ardian, "mau bahas rencana liburan, kan udah libur sekolah," lanjut cowok itu membuat Tari manggut-manggut.


"Kamu nggak makan malam bareng? Bentar lagi papa pulang," ujar wanita itu, sembari mengecek jam di pergelangan tangan nya.


"Ardian makan bareng teman di markas aja, Ma. Nggak apa-apa, 'kan? Teman-teman Ardian udah pada nunggu," jelas Ardian pada sang mama.


"Yaudah deh, kamu pergi nya hati-hati," peringat Tari dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.


Ardian mulai mencium punggung tangan Tari.


"Nggak ngajakin Kak Fatur juga? Siapa tahu aja dia mau main di tempat kamu, Ar," celetuk Tari membuat Ardian dan Fatur saling bertatapan.


"Emang nya Fat... "


"Ar," tegur Tari sembari memberikan pelotan tajam untuk Ardian, sudah berulang kali dia mengajar anak nya itu, namun Ardian selalu lupa.


Ardian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Ardian tidak masalah jika menyebut nama Fatur dengan embel-embel 'Kak' asal cowok itu tidak ada di sini. Namun ceritanya kali ini beda, karna Fatur ada di sini, menyimak tampan diatas kursi kayu.


"Emangnya kak Fatur mau ikut?" kata Ardian pelan, agar Fatur tidak mendengar diri nya. Agak malu menurut Ardian, Fatur memang kakak nya, tapi mulut nya sangat kaku mengucapkan kata-kata tersebut.


"Loh, kok tanya sama Mama, Ar. Kamu tanya langsung sama Kak Fatur nya," ujar Tari sembari melirik Fatur menggunakan dagu nya.


Fatur menunggu Ardian bicara, berusaha menahan senyum nya.


"Kak Fatur mau ikut? Gue mau pergi ke markas anak ARIGEL." Ardian sengaja menekan kata ARIGEL, Fatur tahu itu.


"Gue mau-mau aja, karna lo maksa," balas Fatur membuat Ardian memicingkan mata nya. Dari mana nya Ardian memaksa Fatur untuk ikut. Padahal Ardian berharap jika Fatur tidak ikut. Jawaban Fatur yang ingin ikut sukses membuat Ardian bingung.


"Gue siap-siap dulu." Fatur berdiri dari kursi yang ia duduki, "Ma, nggak apa-apa, 'kan, kalau Fatur nggak ikut makan malam bareng Mama sama Papa?" kata Fatur sembari melirik Tari, ucapan Fatur suskes membuat Ardian melotot kan mata nya, sejak kapan Fatur memanggil Mama nya dengan sebutan Mama.


"Iya, nggak apa-apa," balas Tari dengan senyum lembut, lalu Fatur pergi meninggalkan mereka berdua, mengabaikan tatapan tak percaya dari Ardian.


"Ma," panggil Ardian.


Tari sudah tahu, apa yang akan Anak nya itu pertanyaan kan. "Dia udah nerima semuanya. Mama sama kak Fatur udah akrab selama dua minggu uni," kata Tari dengan bangga, sementara Ardian tidak tahu apa-apa mengenai ini.


Ardian memilih menunggu Fatur di dalma mobil, sembari memikirkan soal ini. Jika Fatur mulai menerima mama nya, sudah jelas bukan, jika Fatur juga sudah menerima, jika dirinya ini adalah adik nya.


Ardian jadi geli sendiri memikirkan hal ini. Dia tidak bisa membayangkan, jika suatu saat dia dan Fatur akan akrab seperti adik kakak yang sesungguhnya.


Tidak butuh waktu lama, Fatur masuk kedalam mobil, "andai gue tahu lo pergi nya bawa mobil, gue nggak akan pake jaket, celana panjang," gerutu Fatur sembari menutup pintu mobil.

__ADS_1


"Lo ngga lihat, styles gue santai kayak gini, udah pasti gue naik mobil. Nggak mungkin gue naik motor pake baju lengan pendek, celana sampai lutut tanpa jaket," jelas Ardian seraya menyalakan mesin mobil nya.


Seseorang mengetuk jendela mobil, membuat Fatur membuka jendela mobil dan di suguhkan wajah teduh milik Tari.


"Mama lupa kasi ini, ini kue kering untuk kalian makan, kalau lagi nongkrong." Tari menyodorkan paper bag berisi kue kering tiga toples.


Fatur tersenyum seraya mengambil kue tersebut, "makasih, Ma," kata Fatur dan dibalas anggukan kepala oleh Tari.


Ardian bahkan tertegun saat Fatur mengucapakan kata Mama, ada rasa legah dihati Ardian saat Fatur mengatakan panggilan Mama kepada Tari.


"Iya sayang. Kalian hati-hati, ya. Jangan ngebut bawa mobilnya, Ar," peringat Tari dan dibalas anggukan paham oleh Ardian.


"Iya, Ma. Ardian pergi dulu." Mobil Ardian meninggalkan pekarangan rumah mewah milik orang tuanya.


Ardian melirik Fatur yang membuka paper bag berisi kue itu, lalu dia mengeluarkan satu toples untuk ia cicipi.


Ini pertama kali nya Fatur mencicipi kue kering buatan Tari, rasanya sangat enak membuat Fatur menjadi ingat seseorang, siapa lagi kalau bukan Salsa, dia masih mengingat rasa kue buatan gadis itu.


"Itu kue buatan Salsa sama Nyokap, pas dia datang ke rumah minta diajarin buat kue sama nyokap. Gue ingetin, siapa tahu aja lo lupa," celetuk Ardian tanpa melirik kearah Fatur, karna matanya fokus menyetir mobil.


Fatur jadi ingat, jika malam itu dia mengantar Salsa pulang kerumah nya, membawa kue buatan nya bersama Tari. Mengapa Fatur bisa lupa itu?


"Kangen lo sama Salsa?" tanya Ardian, Fatur mengangguk mengiyakan ucapan nya, Ardian dapat melihat dari ekor matanya, Fatur mengangguk.


"Ingat sama perjanjian kita," peringat Ardian, kali ini dia melirik Fatur, sehingga mereka berdua saling bertatapan, lalu dengan bersamaan mereka mengalihkan pandangan dengan ekspresi jijik. "Lo juga harus ingat, kalau Salsa itu udah di ikat sama sahabat gue. Jangan pernah coba bersaing sama orang yang Salsa suka," jelas Ardian lagi membuat Fatur berdesis ke arah Ardian.


"Gue tahu, nggak usah lo perjelas juga," sungut Fatur membuat Ardian terkekeh.


"Lo tinggal jadian sama Kesya aja. Lagian, Kesya juga nggak kalah cantik nya sama Salaa," kata Ardian lagi. "Asal lo tau, gue udah kenal Kesya lumayan lama. Ada sesuatu di diri Kesya, yang nggak Salsa punya," lanjut Ardian membuat Fatur menaikkan alisnya sebelah.


"Apa?" tanya Fatur penasaran, "nggak usah lo jelasin. Gue udah tahu, kalau Salsa itu lembut, beda sama Kesya." Fatur kembali mengingat pertemuan nya dengan Kesya di pasar malam.


Dari raut wajah Kesya saja, Fatur bisa menebak jika gadis itu tipe egois, angkuh dan mempunyai ego yang tinggi.


"Bukan itu," ucap Ardian lagi, "Kesya itu mental nya kuat, dia tipe gadis yang nggak lemah. Kalau dia jadi pasangan lo, dia nggak akan ngerepotin lo, Tur. Dan gue pastiin, lo cowok beruntung yang dapetin Kesya, karna nggak semua cowok bisa deketin Kesya."


Fatur memutar bola matanya malas, "ucapan lo barusan cermin buat Nanda, cewek lo itu," kata Fatur membuat Ardian tertawa.


"Lo belum kenal sama Nanda. Dia sama Kesya jauh beda. Ada sih sifat mereka yang sama," kata Ardian mengingat-ingat sikap Kesya dan Nanda yang sama.


"Kesya sukanya sama lo, gue ogah kalau sampai di tolak sama cewek. Selama gue hidup, gue baru satu kali di tolak sama cewek, cuman sama Salsa, dan gue nggak mau keulang sama Kesya, lagian gue nggak punya perasaan sama tuh cewek," jelas Fatur panjang kali lebar.

__ADS_1


__ADS_2