
Salsa menggenggam tangan Cika, dia tahu gadis itu sedang naik pitam mendengar tanggapan Vani.
Bukan hanya Cika dan Salsa saja yang heran, bahkan Rafael, Ardian dan Izam ikutan terkejut melihat dua sijoli itu bergandengan tangan, ternyata mereka balikan.
''Eh, Sethan. Lu serius balikan sama, Vani?'' bisik Izam yang masih di dengar oleh Vani.
‘’Emang kenapa kalau gue sama Ethan balikan? Gue sama Ethan sama-sama masih sayang kok. Iya‘kan sayang?'' Vani meminta jawaban dari Ethan membuat cowok itu langsung mengangguk.
Sementara Izam hanya mendumel dalam hati, berbeda dengan Rafael.
‘’Seharusnya, sebelum lo balikan sama dia, lu harus pikir lebih panjang lagi, lo mau kalau dia minta sesuatu, tapi lo nggak nurutin, ujung-ujung nya dia minta putus lagi,'' sinis Rafael dengan mulut pedasnya itu. ''Mendingan lu sama Puri, dari pada balikan sama dia,'' lanjut Rafael menatap Vani dengan tatapan tidak suka.
Bagaiamana tidak, gadis itu sudah membuat sahabatnya galau brutal, dan ujung-ujung nya mereka balikan.
''Raf...'' Ethan tidak enak hati Rafael berkata seperti itu, ada Vani di sini.
''Emangnya lo udah siap turutin mau nya cewek lo itu? Kalau lo belum siap nurutin mau nya, lo harus siap putus lagi sama dia. Lo 'kan tahu, lu putus sama dia gara-gara lo nggak bisa nurutin permintaan nya,'' balas Rafael lagi menatap Vani dengan tatapan tidak suka.
‘’Seharusnya lo jadi cewek itu sadar, udah mutusin malah balikan,'' lanjut Rafael dengan sinis pada Vani.
''Ethan yang minta balikan duluan, bukan gue,'' balas Vani.
‘’Seharus nya lu sadar, nggak usah mau di ajak balik lagi. Kalau sifat lo itu masih kayak anjing,'' greget Rafael.
''Stop, Raf. Dia cewek, nggak seharus nya lo ngomong kasar ke Vani. Kalau lo nggak bisa hargain dia, tolong hargai gue, Raf!'' Ethan nampak marah.
''Eh, udah dong. Biarin aja kalau Ethan mau balikan sama Vani. Dia yang jalanin hubungan nya. Tapi awas aja lo, Sethan, kalau Vani buat lo galau, dan lo galau brutal di markas lagi,'' peringat Izam. ''Gue setuju sama Rafael, Vani itu nggak baik buat lo. Lu sahabat kita, jadi semestinya kita saling kasi tahu. Gue juga setuju, Kalau lu sama Pur,'' kata Izam yang tidak setuju jika Ethan dan Vani balikan.
''Ngak usah ribut, ini rumah sakit,'' selah Ardian, agar mereka tidak berdebat di rumah sakit.
Vani dengan rasa kesal pergi, membuat Ethan langsung mengejar gadis itu.
''Vani, kamu mau kemana,'' panggil Ethan seraya mengikuti gadis itu.
Rafael hanya memutar bola mata nya malas.
''Ini yang nggak gue sukain dari cewek. Kalau dia tahu kita terlalu cinta sama dia, dia makin bertingkah,'' decak Rafael. Inilah alasan cowok itu mengapa dia tidak mau berpcaran ataupun dekat dengan gadis manapun.
''Tapi aku nggak kayak gitu,'' sahut Salsa membuat Rafael langsung menatap gadis itu dengan datar.
Salsa tersenyum kepada Rafael, senyuman tulus yang selalu dia berikan pada cowok itu.
Izam menyiku lengan Rafael. ''Kalau tadi Ethan yang bodoh karna udah mau balikan sama cewek kayak Vani,'' bisik Izam pada Rafael. ‘’Sekarang yang bodoh itu lo, Raf. Lo bodoh karna mau sia-siakan ketulusan cewek sebaik, Salsa. Cewek kayak Salsa itu udah langkah, Raf. Seharus nya lo bangga di kejar cewek mahal.''
Rafael menatap Izam. ''Lo bilang dia mahal?'' tanya Rafael dan dibalas anggukan kepala oleh Izam, lalu kemudian cowok itu tersenyum meremahkan pada Salsa. ‘’Kalau emang dia cewek mahal, dia nggak akan ngejar cowok duluan.''
Jleb...
Salsa menjadi kikuk, namun gadis itu tetap tersenyum pada Rafael. ''Kalau aku beda, El. Kalau aku tuh cewek mahal yang ngejar kamu. Bukan cewek murahnya yang ngejar kamu,'' kata Salsa dengan tawa kecil nya membuat Cika menatap sahabatnya itu.
''Gue tahu, lu ngomong kayak gitu nahan air mata,'' bisik Cika membuat Salsa langsung melirik Cika, lalu kemudian gadis itu menampung air mata nya, siap untuk tumpah, membuat Cika langsung membawa Salsa pergi dari sini, dia tidak mau jika ketiga cowok itu melihat Salsa menangis, dan Rafael semakin besar kepala.
''Mereka mau kemana?'' gumam Ethan yang melihat Cika menarik pergelangan tangan salsa pergi dari sini.
‘’Gue nggak peduli,'' balas Rafael.
''Dih, awas aja lo nangis bombay, kalau Fatur rebut Salsa,'' gerutu Izam membuat Farel tidak membalas ucapan cowok itu.
Baru saja Ethan menyebut nama Fatur, cwok itu langsung muncul di depan nya.
Fatur nampak mencari seseorang, dia melihat ada Salsa tadi di sini, sehingga cowok itu langsung kesini saat sudah mengambil obat nya di apotek, namun saat sudah sampai di sini, dia tidak melihat ada Salsa di sini.
Ardian yang melihat Fatur yang mampak mencari seseorang langsung bertanya pada cowok itu, meski dia tahu Fatur belum mau berdamai dengan nya secara penuh.
''Lu nyariin Salsa?'' Ardian tidak suka basa-basi, apa lagi jika dia tahu apa yang fatur cari sekarang ini.
Sontak saja Rafael dan Izam melirik kearah Ardian, bagaiamana bisa cowok itu menyimpulkan jika Fatur saat ini mencari Salsa?
Apa Fatur beneran suka sama, Salsa?
Rafael hanya bisa membatin, sepenuhnya dia belum percaya dengan omongan Ardian, kalau saudara nya itu menyukai Salsa.
Rafael tahu, jika mereka pernah bertetangga, dan main bertiga bersama, hingga Fatur pindah rumah bersama Mama nya. Seingat Rafael, Fatur sangat gemar membuat Salsa menangis saat mereka bertetangga.
__ADS_1
Rafael menggelengkan kepala nya, tidak ada urusan nya jika Fatur menyukai Salsa, lagian dia juga tidak menyukai Salsa, jadi mengapa dia harus memikirkan nya?
Fatur mengangguk kecil, sebagai jawaban jika dia memang mencari Salsa.
Ardian langsung menunjuk kearah dimana Salsa dan Cika berjalan meninggalkan mereka, lalu kedua punggung gadis itu menghilang karna kedua gadis itu membelokkan tubuh nya menuju lorong.
Tanpa mengucapkan kata Terimaksih, Fatur langsung pergi meninggalkan Ardian bersama kedua sahabat nya.
''Buset, nggak ngucapin terimkasi sama saudara sendiri,'' gumam Izam.
Ketiga cowok itu memilih duduk di kursi panjang yang sudah di sediakan, lama menunggu membuat mereka jadi capek sendiri, karna kedua orang tua Gerald belum juga keluar dari ruangan Gerald.
''Salsa!''
Langkah kaki Cika dan Salsa terhenti, saat sosok cowok memanggil nama Salsa. Kedua gadis itu membalikkan tubuhnya, dia melihat Fatur di sini membuat Salsa menarik kembali air matanya, tadinya dia ingin menangis karna ucapan Rafael, air mata nya langsung masuk kembali melihat ada Fatur di sini.
''Kak Fatur,'' gumam Salsa.
Salsa dan Fatur saling bertatapan, membuat Cika perlahan-lahan melapskan tangan Salsa.
''Mata lo kenapa merah?'' tanya Fatur.
Fatur harus berani menemui Salsa, meski dia tahu perasaan gadis itu bukan untuk nya.
''Aku nggak apa-apa kok,'' jawab Salsa seraya tersenyum kikuk kearah Fatur.
Mengingat perlakuan Fatur saat mereka kecil membuat Salsa menggeleng tidak percaya, jika cowok itu tumbuh menjadi cowok tampan. Ini yang kedua kali nya Salsa bertemu dengan Fatur di rumah sakit.
‘’Gue tahu, pasti ini ada hubungan nya sama, Rafael,'' kata Fatur dengan yakin, dia tahu hanya Rafael saja cowok yang bisa membuat Salsa menangis, karna memikirkan gadis itu.
''Kak Fatur mau kemana?'' Salsa langsung berlari mencekal pergelangan tangan Fatur, dia takut jika cowok itu berantem dengan Rafael, bukan maksud Salsa kepedean, hanya saja dia hati-hati.
Entahlah, mengapa dia berpikir Fatur sedang marah saat ini.
Fatur melihat tangan nya di cekal oleh Salsa, lalu membuat Salsa melepaskan cekalan tanganya.
''Maaf,'' cicit Salsa. ''Tapi aku serius nanya, kak Fatur mau kemana?'' tanya Salsa lagi.
''Oiya.''
Fatur langsung pergi meninggalkan Salsa dan Cika, cowok itu tidak pulang dia berjalan menuju tempat dia melihat Ardian dan kedua sahabat nya.
‘’Rafael.''
Ardian, Izam serta Rafael langsung melihat keasal suara, rupanya Fatur yang meneriaki nama Rafael.
Fatur langsung mencengkam kerah baju Rafael, membuat cowok itu langsung berdiri dari kursi yang dia duduki.
''Maksud lo apa!'' desis Rafael melihat tangan Fatur mencengkeram kerah bajunya.
''Ini rumah sakit, Tur. Gue harap lo nggak buat masalah di sini. Sahabat gue lagi sakit, jangan buat kekacauan.'' Ardian memisahkan Fatur dari Rafael membuat Fatur langsung menghempaskan tangan Ardian, membuat cowok itu menatap Fatur, untung saja dia sudah tahu jika Fatur adalah Kaka nya, jika tidak dia akan membawa cowok itu keluar dari rumah sakit, lalu menghajarnya di luar.
‘’Bilangin sama sahabat lo ini, nggak usah sok ganteng mau nyakitin cewek!'' Fatur menekan setiap perkataanya membuat Rafael tersenyum kearah Fatur.
''Gue bukan sok ganteng, gue emang ganteng,'' jelas Rafael.
''Raf,'' tegur Ardian agar cowok itu tidak membalas ucapan Fatur karna mereka sedang berada di rumah sakit.
‘’Gue pastiin, Salsa bakalan jatuh di tangan gue. Dan gue nggak akan biarin lu milikin, Salsa.'' Fatur menunjuk Rafael menggunakan jari telunjuk nya memberikan peringat pada cowok itu. ''Ingat kata-kata gue!'' Fatur langsung pregi, sebenar nya dia ingin memberikan pelajaran kepada Rafael, namun dia berada di rumah sakit, apa lagi Ardian sudah memberikannya peringatan untuk tidak ribut di sini.
‘’Seriusan tuh Fatur suka sama, Salsa?'' tanya Izam memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.
''Lo lihat sendiri'kan,'' jelas Ardian dan dibalas anggukan paham oleh Izam.
‘’Saingan lo Fatur, Raf,'' celetuk Izam lalu ketiga cowok itu kembali duduk di tempat nya.
''Emangnya gue suka sama salsa? Lo bilang kalau Fatur itu saingan gue? Selama gue nggak suka sama Salsa, Fatur bukan saingan gue. Mau dia pacaran sama Salsa, gue nggak urus.'' Terang nya pada Izam.
''Cinta itu akan terasa, jika kita akan kehilangan. Lo bakalan tahu rasa nya, ada yang hilang dalam hidup lu, kalau Salsa udah nggak ngejar lo lagi, Raf,'' bijak Izam yang tidak di gubris oleh Rafael lagi.
Semenatara Ardian hanya menyimak saja.
Ketiga cowok itu langsung melihat kearah pintu ruangan Gerald yang di buka. Dia melihat Raga papi nya Gerald keluar dari ruangan anak nya itu.
__ADS_1
''Om,'' panggil Izam. ''Udah asa tanda-tanda Gerald siuman?'' lanjut Izam dan dibalas gelengan kepala lemah oleh Raga.
‘’Kalian mau jenguk Gerald'kan?'' tanya Raga dan dibalas anggukan kepala oleh ketiga cowok itu.
''Kalian boleh lihat Gerald, sebelum om bawa dia pergi.''
Ardian, Rafael dan Izam saling bertatapan satu sama lain, tidak mengerti dengan apa yang di katakan Papi nya Gerald barusan.
Gerald mau di bawa kemana? Itu yang ada di dalam benak ketiga cowok itu.
''Maksud om apa?'' tanya Ardian.
''Gerald memang nya mau di bawa kemana?'' timpal Rafael.
‘’Nggak kemana-mana. Kalian masuk aja kedalam. Mami nya Gerald lagi tidur di dalam,'' elak Raga dan dibalas anggukan kepala oleh ketiga cowok itu.
Mereka bertiga lansung masuk kedalam keruangan Gerald, sementara Raga sedang menahan tangis nya.
***
''Tunggu aku, Vani.'' Ethan berhasil mencekal pergelangan tangan gadis itu, membuat Vani menghentakkan kaki nya kesal.
''Teman-teman kamu nggak bisa ya jaga perasaan orang,'' marah Vani, terutama ada Rafael yang bicara seenak jidat nya saja.
''Aku minta maaf atas teman-teman, aku. Kamu kan tahu gimana mulut Rafael,'' jelas Ethan membuat Vani memutar bola mata nya malas.
''Kamu jangan marah, ya,'' pintah Ethan seraya menggenggam tangan Vani.
‘’Mungkin mereka ada benar nya, kalau kamu emang cocok sama Puri, bukan sama aku,'' kata Vani.
‘’Nggak, sayang. Aku sama kamu itu cocok, nggak usah dengerin omongan sahabat aku. Mereka cuman takut kalau aku kembali kayak dulu, dimana aku nggak bisa ngapa-ngapain karna putus dari kamu,'' kata Ethan lagi.
‘’Tapi—''
Ethan langsung memeluk Vani. ''Janga tinggalin aku lagi, aku mohon.''
Vani membalas pelukan Ethan, dia tahu cowok itu benar-benar mencintai nya.
''Ok, aku maafin teman-teman kamu. Tapi kamu harus belaian aku kalau mereka nyudutin aku,'' kata Vani membuat Ethan diam sejenak lalu kemudian cowok itu mengangguk mengiyakan ucapan Vani.
Drt...
Ponsel milik Ethan bunyi.
''Aku angkat Telfon dulu,'' kata Ethan dan dibalas anggukan kepala oleh Vani.
''Halo, Ar,'' sapa Ethan, karna yang menelfon diri nya adalah Ardian.
''Lo dimana?'' tanya Ardian di ujung Telfon.
‘’Gue lagi di parkiran sama Vani,'' jawab Ethan.
''Lo nggak ke ruangan Gerald? Gue sama yang lain udah di dalam.''
Ethan diam sejenak, lalu kemudian cowok itu menjauhkan ponsel nya dari mulut nya.
''Sayang, kamu mau pulang?'' tanya Ethan pada Vani.
''Iya, aku jadi malas di sini,'' ungkap Vani, padahal niat nya baik untuk menjenguk Gerald, karna Ethan mengajak nya kerumah sakit menjenguk Gerald.
Ethan kembali mendekatkan ponsel nya. ‘’Gue antar Vani pulang dulu,'' ucap Ethan.
''Ok, lo cepetan.''
Tut..
Panggilan berakhir.
‘’Ayok, aku antar kamu pulang,'' ajak Ethan.
''Sayang, kamu mau ‘kan antar aku ke Mall dulu? Ada yang mau aku beli, cuman sbentar doang kok,'' pintah Vani.
Padahal Ethan sudah mengatakan pada Ardian jika dia hanya sebentar saja. Untuk mengikuti mau nya Vani untuk saat ini, akhir nya Ethan mengangguk mengiyakan permintaan gadis itu.
__ADS_1