ARDIAN

ARDIAN
Mencintai Rafael


__ADS_3

Salsa saat ini hanya menundukkan kepalanya, dia tidak berani melihat wajah menyeramkan milik sahabatnya sekaligus sepupunya itu. Yah, Cika dan Salsa bersepupu.


Mereka berdua masih berada di dalam mobil, Cika belum menjalankan mobilnya untuk segera pergi dari sini.


Sementara Nanda tadi izin ke toilet sebentar.


''Aku minta maaf sama.'' Air mata Salsa turun begitu saja. ''Gara-gara aku, kalian jadi repot. Gara-gara perasaan aku ke El, kalian jadi kebawa gini.''


Hanya Cika saja di sini, tapi Salsa sadar. Perasaanya itu membuat sahabtnya ikutan emosi jika Rafael mulai mengati dirinya.


Cika menarik nafasnya dalam, lalu membuagnya dengan kasar. Jujur, dia masih kesal kepada Salsa saat ini.


''Sal...Gue nggak larang perasaan lo ke Rafael. Punya perasaan suka ke orang itu wajar. Gue juga suka sama orang...tapi dengan cara lo kayak gini, Rafael bakalan nginjak-nginjak harga diri lo, seperti dia nginjak tanah!'' Cika menasihati Salsa, karna bagaimanapun, Salsa bukan hanya sahabatnya, mereka juga sepupu.


Salsa mendongakkan kepalnya, menatap Cika yang wajahnya masih terlihat jelas, masih menyimpan kekesalan untuk Rafael.


''Kamu suka sama siapa?'' pertanyaan itu langsung di lontarkan Cika, membuat Cika berusaha sesantai mungkin.


Tidak ada yang tau, jika gadis itu menyukai seseorang. Bahkan, Salsa sampai terkejut saat Cika mengatakan hal tersebut.


Tidak ada jawaban dari Cika, membuat Salsa paham. Jika Cika masih tidak ingin memberitahukan mereka mengenai seseorang yang dia sukai.


''Aku minta maaf, ya.'' Salsa meminta maaf, seraya mengusap air matanya.


''Aku nggak bisa cinta sama orang lain, kecuali El. Dari dulu, aku suka sama El dan rasa suka aku ke dia semakin hari semakin tumbuh, dan akhirnya menjadi cinta. Meskipun respon Rafael nggak pernah baik sama aku, tapi aku yakin kok, dia bakalan lirik aku suatu saat.'' Salsa berusah menyakinkan dirinya sendiri, jika Rafael suatu saat akan mencintainya, seperti dia mencintai Rafael.


''Bagaiamana pun, Rafael itu tetangga aku sejak aku kecil, aku sering main sama dia. Meski dia berulang kali ngusir aku, kalau aku ajak dia main, Ci.'' Air mata Salsa kembali menetes, mengingat tentang Rafael sejak kecil tidak pernah memberikan celah untuknya, bahkan sampai mereka beranjak dewasa.


''Aku tau dia baik, aku masih ingat, dia pernah marahin anak cowok itu, karna dia buat aku nangis.'' Salsa menerbitkan senyuman di wajahnya, mengingat masa kecilnya saat itu.


Rafael datang memarahi anak itu, lalu pergi meninggalkan Salsa. Secuek itulah Farel kepada Salsa sejak kecil.


Cika mendengar seksama ucapan Salsa, dia tau sahabatnya itu mencintai Rafael dengan tulus. Hatinya begitu kuat, mencintai Rafael.


Cika menarik nafasnya panjang, ''jadi...lo mau kayak gini terus?''


Salsa menganguk, ''sampai aku capek sendiri. Tapi aku yakin, aku nggak akan pernah capek buat Rafael.''


***


Setelah membuang air kecil, Nanda memutar kran air, lalu membasuhi wajahnya. Ada rasa takut sedikit, saat dia dengan lancang berkata seperti itu, kepada anak ARIGEL.

__ADS_1


Padahal, teman-teman barunya sudah mengatakan, bagaiaman watak anak ARIGEL itu.


Namun, melihat Salsa di perlakukan seperti tak ada harganya oleh Farel, membuat Nanda tidak bisa diam.


Dia kasihan, dia tidak suka, perempuan di hina. Apa lagi jika yang menghina adalah laki-laki membuat Nanda semakin tidak terima, Salsa di perlakukan seperti itu, banyak orang di sana, Rafael sungguh tidak menjaga perasaan tetangganya.


''Gadis secantik Salsa, yang sopan, lembut dan baik itu di perlakukan seperti tidak ada harga dirinya!'' decak Nanda. ''Gue yakin, itu mata Rafael katarak. Cewek secantik Salsa di tolak habis-habisan.''


Lepas membasuhi wajahnya, Nanda kembali memutar kran air tersebut, lalu merapikan rambutnya untuk segera pergi.


Ceklek


Dia membuka pintu toilet, baru beberapa langkah saja, seseroang langsung mencekal tanganya.


Nanda membalikkan tubuhnya dan melihat Gerald sahabatnya di sini toilet perempuan.


''Rald....''


Gerald langsung memeluk Nanda, membuat Nanda tidak tau, mengapa Gerald memeluk dirinya begitu tiba-tiba.


Nanda membalas pelukan Gerald.


Nanda melihat sekelilingnya, takut-takut jika ada yang melihat mereka berdua di sini, terutama anak ARIGEL.


''Aku juga,'' jawab Nanda.


''Ngapain sih kamu, Rald. Berteman sama preman kayak Ardian!'' desis Nanda mengingat wajah Ardian yang selalu terbayang-bayang di wajahnya, saat cowok itu mengatakan ingin menculik Dika.


''Ushhhh!'' Gerald langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Nanda.


‘’Jangan keras-keras ngomongnya,'' ucap Gerald seraya melapskan jari telunjuknya.


''Ardian nggak seburuk yang kamu pikirkan, Ra,'' protes Gerald. ''Aku udah kenal Ardian sejak smp.''


''Nggak seburuk apa, sih Rald. Pastinya kamu udah tau, kalau sahabat kamu yang udah ngeprank malaikat maut cowok itu,'' beber Nanda.


''Seseorang nggak akan lakuin tindakan seperti itu, tanpa alasan yang jelas, Ra.'' Gerald berkata dengan suara teduh.


Cowok dingin itu akan berubah jika sudah bersama Nanda.


''Rald...Apapun alasanya, nggak kayak gitu juga. Sampai-sampai mau bunuh anak orang.'' Jelas Nanda kepada Gerald. ''Itu nyawa Rald, bukan barang, kalau hilang bisa di ganti atau di beli. Kalau nyawa yang hilang? Nggak akan pernah bisa di ganti ataupun di beli, Rald.''

__ADS_1


''Sahabat kamu itu kayak ngeremehin nyawa orang!''


Gerald memasang telinganya, mendengar baik-baik apa yang di katakan oleh Nanda.


Nanda saja tidak tau, jika yang menyeret cowok itu tanpa hati dari dalam club, adalah Gerald.


''Nanda!''


Nanda langsung melototkan matanya, saat suara Cika memanggil namanya.


''Buruan pergi, Rald. Cika datang!'' usir Nanda.


''Ok. Hati-hati di jalan.'' Sempat-sempatnya Gerald mengusap rambut Nanda lalu berlalu pergi.


''Nan.''


Nanda langsung membalikkan tubuhnya, melihat Cika menghampiri dirinya.


“Hampir aja.”


''Lo ngapain di sini?'' tanya Cika dengan raut wajah heran, melihat Nanda berdiri di sini, seorang diri.


''Gu—''


Cika langsung menarik tangan Nanda keluar dari sini. ''Kita pulang.''


Nanda tersenyum lalu mengangguk, dia tidak perlu menjelaskan. Karna Cika tipikal cewek mood-mood an.


Tanpa Nanda dan Gerald sadari, ada Ardian yang mendengar dan melihat Nanda berpelukan dengan Gerald.


Mereka berdua langsung masuk kedalam mobil, Cika langsung melajukan mobilnya untuk segera pulang.


Dia akan mengantar Nanda dan Cika terlebih dahulu, karna rumah mereka bertiga berbeda arah.


Tidak ada yang angkat suara di dalam mobil, mereka bertiga sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


“Kamu suka sama siapa?”


Pertanyaan Salsa tiba-tiba terlintas di benak Cika. Entahlah, dia benar-benar menyukai seseorang itu karna cinta, atau hanya karna perasaan kagum saja.


Dirinya saja tidak bisa memastikan perasaanya.

__ADS_1


__ADS_2