
''Nggak usah kasar jadi cewek.''
Izam datang, sehingga Yuni, Naya, Vani dan juga Greta melihat keasal suara, mereka melihat Izam menatap ketiga gadis itu dengan tatapan intimidasi.
''Nggak usah ikut campur urusan cewek,'' ucap Yuni dengan malas.
''Gue nggak ikut campur, gue cuman heran aja sama kalian. Pada hobi cari masalah,'' kata Izam. ‘’Kemarin, Vani sama Puri. Sekarang lo sama Greta. Emang ya, kalian nggak pernah diam. Sukanya cari masalah, giliran di senggol balik malah berapi-api.''
''Nggak usah bawa-bawa gue,'' ucap Vani, tentu saja dia tidak mengeraskan suaranya, sebagai gadis yang pernah berpacaran dengan salah satu anak ARIGEL, membuat Vani melihat watak kejam anak ARIGEL.
''Gue cuman mau kasi peringatan sama, Greta,'' kata Yuni lagi. ''Gara-gara dia udah ciuman sama cowok, yang udah dia tahu, kalau temanya suka.'' Yuni menatap tajam Greta, ini baru pertama kalinya Yuni menghampiri Greta, selama dia di scorsing karna video itu.
''Kalau dia suka lo balik, dia nggak bakalan lakuin hal seperti itu. Karna dia nggak suka sama lo, jadi lo nggak berhak salahin Greta,'' kata Izam, sementara Naya memilih untuk diam, dia tidak mau berurusan dengan anak ARIGEL.
‘’Karna dia murahan. Itu yang buat dia mau ciuman sama Arya, biar dia kasi duit,'' sinis Yuni kepada Greta. ''Kalau miskin ya miskin aja, nggak usah menghalal segala cara buat dapetin duit.''
Tangan Greta siap ingin menampar Yuni, namun tangannya langsung di cekal oleh Izam. ''Jangan gegabah, lo nggak mau'kan sampai masuk kantor lagi? Lo harus ingat kata kepala sekolah. Kalau lo buat masalah lagi di sekolah ini, lo bakalan di keluarin,'' peringat Izam, agar Greta bisa menahan dirinya.
Greta mengatur nafasnya, lebih dulu. Sekarang bukan hanya Kesya yang bermusuhan denganya, tetapi juga mantan temanya, yaitu Vani, Yuni dan Naya.
''Itu Greta kan?'' tanya Puri memastikan, jika dia tidak salah lihat.
''Kayaknya dia lagi di labrak sama mantan temanya sendiri,'' balas Cika membuat Puri mengangguk kecil.
Cika dan Puri juga melihat ada Izam, kedua gadis itu memperhatikan Greta yang sedang beradu mulut dengan Yuni.
''Mendingan gue ciuman dapat duit dari, Arya. Dari pada lo....'' Gadis itu menjeda ucapanya, Greta menatap Yuni dengan tatapan remah, ''lo rela tubuh lo itu di cicipi cowok hidung belang, secara gratis.'' Greta menekan setiap perkataanya, bahkan suara gadis itu naik beberapa oktaf, sehingga para murid-murid yang berada di kantin ini, mendengar jelas apa yang Greta katakan.
Bahkan, mereka mulai berbisik-bisik mengenai Yuni, apa lagi ucapan lantang Greta.
Puri menatap Cika. ''Lo dengar kan apa yang dibilang Greta tadi, tentang Yuni?'' tanya Puri memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Cika.
''Kalau gue sih nggak heran lagi,'' ucap Cika santai. ''Gue bahkan berpikir, kalau Greta itu nggak seperti orang yang pikirkan, mereka mencap Greta sebagai gadis nakal, yang udah rusak.''
Puri hanya manggut-manggut saja.
Yuni mengepalkan tanganya, sekarang tatapan penghuni kantin tertuju padanya.
''Jangan pernah macam-macam sama gue. Rahasia kalian ada di tangan gue,'' ancam Greta, apa yang dia katakan memang yang sebenarnya. Jika dia mengetahui segala keburukan temannya itu. ''Bahkan, kalian lebih buruk dari gue.''
Anak ARIGEL yang menonton dari sana, begitu tertarik menonton drama yang tersuguh di hadapan mereka.
Apa lagi saat Greta membongkar satu rahasia Yuni, bahkan gadis itu mengancam ketiga gadis itu.
Ketiga gadis itu diam, dia takut jika Greta benar-benar membuatnya malu di sekolah ini.
‘’Berani juga sih, Greta. Pantas aja Izam klepek-klepek sama tuh cewek,'' kata Leo.
Sementara Ethan hanya diam saja, mendengar ancaman Greta untuk Vani, membuat Ethan menjadi penasaran, ada hal besar yang Vani sembunyikan selama mereka berpacaran, sehingga dia langsung takut saat Greta mengancamnya.
''Kita pergi aja.'' Vani dan Naya menarik tangan Yuni untuk segera pergi dari sini.
Ketiga gadis itu pergi, namun Yuni masih tidak terima. Karna ucapan Greta, semua murid-murid di sekolah ini tahu, bagaiamana dirinya di luar.
''Awas aja lo, Greta.''
Greta menghembuskan nafas berat, lalu gadis itu duduk di kursinya. Dia kembali menikmati makananya, seakan-akan tidak ada Izam di sini.
''Lo hebat, Gre,‘’ ucap Izam, menggeser kursi di depan Greta.
Greta hanya menatap Izam sejenak, lalu kemudian dia melanjutkan makanya, seolah-olah Izam tidak ada di sini.
Dari sana, anak ARIGEL tertawa miris melihat Izam, mereka pikir pendekatan Greta dan Izam akan dekat, saat cowok itu menolong Greta dari ketiga gadis itu.
Namun nyatanya, Greta berlindung sendiri tanpa bantuan orang lain.
Izam melirik sahabatnya, dia di tertawakan membuat cowok itu tersenyum miris dengan jalan cintanya ini.
''Ada yang mau gue bilang.''
Izam berani menatap Greta, karna gadis itu juga sedang menatapnya.
‘’Greta, gue suka sama lo.'' Izam langsung saja kembali mengutarakan isi hatinya, dia tidak tahu ini yang ke berapa kalinya dia menembak gadis di depanya.
''Kalau lo mau jadi pacar gue, gue bakalan bahagia. Kalau lo nolak gue. Gue bakalan terima dengan lapang dada,'' jelas Izam dengan raut wajah serius.
__ADS_1
Sahabat Izam memperhatikan cowok itu dari sana. Mereka memang tidak tahu, apa yang sedang Izam obrolkan dengan Greta. Namun mereka bisa melihat, jika Izam saat ini bicara serius dengan Greta.
‘’Dari dulu gue memang nolak lo.''
Jleb...
Itu adalah ucapan Greta, untung saja gadis itu mengucapkan kata tersebut tidak keras, sehingga dia tidak perlu malu dengan banyaknya murid di kantin ini.
Izam tersenyum kecut, lalu kemudian dia pamit pergi meninggalkan meja gadis itu. Sementara Greta melanjutkan makanya lagi. Dia tidak punya perasaan dengan Izam, dia tidak bisa memaksa hatinya untuk menerima Izam jadi pacarnya.
Meski dia tahu, cowok itu sangat menyukainya sejak mereka sekolah di sini, Izam mulai mengincar dirinya namun dia selalu menghindar hingga dia jatuh cinta dengan sahabat Izam, yaitu Ardian.
Namun perasaan itu mulai dari kemarin, dia sudah mengatakan pada Ardian jika dia tidak akan menganggu cowok itu lagi. Ini sedikit sulit untuk Greta. Apa lagi dia sampai bermusuhan dengan Kesya karna hanya menyukai cowok yang sama.
Tapi sayangnya, Ardian tidak menyukai salah satu dari mereka, karna dia telah jatuh cinta kepada Nanda Raisa Arabela, sosok murid baru yang berhasil menbuatnya sesuka itu.
Dan ini pertama kalinya Ardian di tolak mentah-mentah oleh cewek, berulang kali dia menembak Nanda, namun dia tetap memperoleh jawaban yang sama, yaitu penolakan.
Makanan pesan Puri dan Cika datang, dengan cepat mereka menyatap makananya, dia harus cepat kembali ke kelas, jangan sampai Kesya berbuat ulah di dalam kelas apa lagi ada Pute dan juga Salsa.
‘’Kita nggak bawain mereka makanan?'' tanya Puri, seraya menyeruput es tehnya.
‘’Mereka nggak pesan.''
Puri mengangguk paham, lalu kemudian dia kembali melanjutkan makanya.
Puri sedari tadi mencuri pandang kearah Ethan, hanya saja Ethan tidak melihatnya di sini, Puri berharap jika Ethan menghampirnya di sini, namun sepertinya cowok itu tidak melihat keberadaannya di kantin ini.
Cika dan Puri telah usai makan, kedua gadis itu membayar makananya lalu melenggang pergi untuk segera kembali ke kelas.
''Di tolak lagi lo!'' tanya Rafael, setelah Izam datang dan bergabung dengan mereka, dia memasang wajah cemberut membuat sahabatnya ngakak sekaligus miris dengan cowok itu.
‘’Yang kesekian kalinya gue di tolak sama Greta,'' curhat Izam. ''Mungkin dia benar-benar nggak suka sama gue. Padahal gue serius suka sama dia,'' lesuhnya membuat mereka kembali tertawa.
‘’Harus berani di tolak,'' celetuk Ardian dengan senyuman tipisnya, sehingga para sahabatnya langusng melirik cowok itu.
''Lo harus kayak Ardian, berulang kali di tolak sama Nanda, dia tetap nembak,'' ucap Rafael membuat mereka lagi-lagi tertawa, sementara Ardian hanya menatap tajam Rafael, sementara sang empuh yang di tatap hanya acuh saja.
Baginya, tatapan sangar Ardian sudah biasa dia dapatkan. Lagian, mereka juga heran dengan Ardian, seberapa besar penasaran cowok itu kepada Nanda, sehingga dia terus-terusan menembak gadis itu.
''Ardian sama Izam tahan banting,'' celetuk Leo.
***
Bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid berbondong-bondong meninggalkan kelas, untuk segera pulang.
Vani dan juga kedua sahabatnya sedang memasukkan buku mereka kedalam tas, mereka akan segera pulang.
''Kalian nggak mau kasi pelajaran sama Greta? Gue benci sama dia tau nggak, dia udah bongkar aib gue!'' geram Yuni, dia sekarang seperti buronan saja di tatap dengan jijik oleh murid-murid di sekolah ini.
''Gara-gara dia, sekarang orang cap gue gadis murahan,'' lanjut Yuni.
''Kita bakalan kasi pelajaran sama Greta. Tapi nggak sekarang, gue nggak mau Greta sampai bongkar semua sisi gelap kita diluar sekolah,'' kata Vani yang ingin menghindar untuk saat ini.
''Gue setuju sama Vani. Lebih baik kita mikirin caranya dulu, baru kita balas Greta. Lo tenang aja, kita bakalan balas Greta cepat atau lambat. Gue juga greget sama tuh anak,'' timpal Naya.
Yuni menghembuskan nafas berat, sebenarnya dia tidak ingin menunggu lagi, kalau perlu dia ingin memberikan Greta pelajaran pulang sekolah, namun kedua sahabatnya mengurungkan niatnya itu.
''Ok,'' putus Yuni, dia akhirnya mau mendengarkan omongan kedua sahabatnya, untuk mencari cara membalas Greta.
''Gitu dong,'' celetuk Vani.
Hanya ketiga gadis itu yang berada di dalam kelas, sementara yang lainya sudah pulang. Ketiga gadis cantik itu memakai tasnya untuk segera pulang.
Langkah kaki ketiga gadis itu terhenti, saat melihat ada sosok Ethan di depan pintu kelas, yang tentunya menunggu Vani.
Ethan menatap Vani. ''Aku mau ngomong sama kamu.''
''Ehem.'' Yuni dan Naya berdehem bersaman, karna Ethan mengucapkan kata aku kamu, kata yang biasa mereka gunakan saat mereka berpcaran.
''Apasih.'' Vani tentunya salting, namun dia berusaha menetralkan wajahnya, agar tidak terlihat salting.
Ethan hanya tersenyum tipis, padahal dia mau bilang lo gue, tapi mulutnya malah bilang sebaliknya. Bertahun-tahun pacaran dengan Vani, membuat Ethan sulit mengubah cara bicaranya untuk gadis yang pernah mengisi hatinya itu.
''Kita duluan,'' pamit Yuni dan Naya, lalu kedua gadis itu melenggang pergi meninggalkan Ethan dan Vani.
__ADS_1
''Mau ngomong apa?'' tanya Vani.
Ethan memperhatikan Vani, jujur saja dia belum bisa melupakan gadis itu sepenuhnya, andai saja Vani tidak memutuskanya, mungkin mereka berdua sudah pulang bareng, seperti dulu.
Ethan menggelengkan kepalnya. Apa sih yang lo pikiran, Ethan. Stop berpikir kalau lo sama Vani bakalan balikan.
Puri melihat punggung Ethan di depan pintu kelas, dia tahu kalau cowok itu sedang mengobrol dengan seseorang membuat Puri menjadi penasaran, Ethan sedang mengobrol dengan siapa.
Puri mencari celah, agar dia bisa melihat, Ethan sedang mengobrol dengan siapa. Gadis itu baru pulang dari perpustakaan menyimpan buku, tanpa sengaja dia melihat ada Ethan di sini.
Meski cowok itu membelakang, namun Puri mengenalnya, jika dia adalah Ethan.
Deg..
Jantung Puri ingin berhenti berdetak saja, bagaimana tidak jika dia melihat Vani. Sekarang gadis itu tahu, jika Ethan sedang mengobrol dengan Vani.
''Ethan ngapain ketemu Vani sih?'' gumam Puri. Dia ingin pergi, namun dia penasaran apa yang akan mereka lalukan, apa lagi mereka berdua di kelas, karna yang lainya sudah pulang.
Gadis itu memejamkan matanya, dia harus berpikir positif mengenai Ethan saat ini, dia harap apa yang dia pikirkan tidak sesuai dengan apa yang Ethan lakukan nanti.
''Ethan,'' panggil Vani, karna cowok itu tidak bergeming sama sekali.
Ethan menarik nafasnya panjang, pikiranya dengan hatinya tidak sejalan. Padahal, dia kesini untuk membicarakan hal yang Greta ucapkan di kantin tadi.
''Kamu masih sayang'kan sama aku?''
Puri meremas ujung rokonya, tak kalah dia mendengar ucapan Ethan, dengan lantangnya dia berucap seperti itu.
Sialan, Ethan tidak bisa berpikir jernih. Mau bagaimanapun bentuk orang baru di dalam hidupnya, pemenangnya adalah orang lama. Apa lagi mereka pacaran begitu lama.
Vani diam, dia tidak menyangka jika dia Ethan akan mempertanyakan hal ini. Apa lagi mereka berdua hampir sebulan sudah putus.
Jujur saja, saat Vani melabrak Puri, karna dia cemburu karna gadis itu dekat dengan Ethan, dia tidak terima melihat kedekatan Ethan dan Puri.
''Vani,'' panggil Ethan, karna gadis itu belum mengucapkan sepatah katapun saat ini.
''Tapi kamu dekat sama, Puri. Giman bisa kamu mempertanyakan itu lagi ke aku,'' kata Vani, setelah sekian menit hanya diam saja.
Didalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia bahagia karna ini adalah tanda-tanda jika Ethan akan mengajaknya balikan. Hal yang di tunggu-tunggu oleh Vani.
Sudah Vani duga, jika dia dan Ethan itu sama. Mereka tidak akan langsung melupakan satu sama lain, dengan kehadiran orang baru di hidup mereka, apa lagi mereka pacaran begitu lama.
Puri dengan seksama mendengar obrolan Ethan dan Vani, kaki gadis itu melemas, dia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun saat ini.
Tentu saja dia mendengar dengan jelas obrolan Vani dengan Ethan saat ini, karna jarak mereka tidak terlalu jauh. Ethan dan Vani juga belum sadar, jika Puri tengah mengintip obrolan mereka.
Gadis itu menarik nafasnya panjang. ''Lo nggak suka sama Ethan, jadi lo nggak boleh sedih,'' menolog gadis itu, dia ingin melangkah pergi, dia sudah tidak tahan berada di sini, namun langkah kakinya langsung terhenti saat mendengar Ethan kembali bicara.
''Aku cuman dekat sama, Puri. Aku pikir, dengan aku dekat dengan orang baru, aku bisa lupain kamu sepenuhnya. Ternyata dugaan aku salah. Aku emang lupa sama kamu sejenak, saat aku dekat dengan Puri. Tapi itu cuman sebentar, karna pada akhirnya aku kembali mikirin kamu, mikirin hubungan kita, yang bertahun-tahun harus putus karna waktu itu aku nggak nurutin permintaan kamu,'' jelas Ethan membuat Puri menitihkan air matanya, dia tidak menyangka jika Ethan mendekatinya hanya untuk melupakan Vani.
Seharusnya dia mendengarkan ucapan Cika, jika Ethan mendekatinya hanya untuk melupakan Vani. Namun dia ngeyel, jika Ethan benar-benar sudah melupakan Vani, makanya cowok itu berani mendekatinya. Ternyata pikiranya itu salah, karna buktinya dia mendengar dari mulut Ethan sendiri.
Puri mengusap air matanya, tanpa sengaja Vani melihatnya, sehingga mata kedua gadis itu saling beradu. Vani tersenyum penuh arti, ini kesempatan yang baik, karna kebetulan ada Puri di sini. Dia ingin, gadis itu menjadi saksi, jika dia dan Ethan kembali balikan.
Dia hanya memperlihatkannya pada Puri, jika cowok yang dia lepas akan kembali kedalam pelukanya.
Puri ingin pergi dari sini, saat Vani menangkap basah dirinya di sini, hanya saja kakinya terasa berat untuk dia ajak pergi dari sini. Alhasil, dia tetap di sini melihat Ethan dan Vani.
''Kamu beneran cuman anggap Puri pelampiasan doang?'' Vani memancing Ethan, agar cowok itu kembali membuka suara, dia mau lihat bagaiamana reaksi Puri saat tahu, jika dia dan Ethan akan segera balikan lagi.
Vani tentu saja tahu, jika Puri cewek cerewet itu menyimpan rasa kepada Ethan.
Ethan mengangguk mengiyakan ucapan Vani. ''Aku kesini mau ngajakin kamu balikan. Aku masih sayang sama kamu. Aku nggak bisa secepat itu lupain kamu. Aku mohon ya, kita balikan. Orang tua aku juga udah kenal sama kamu. Cafe yang aku rintis udah makin berkembang. Tujuan aku buka cafe itu karna kamu, buat lamar kamu pake uang aku sendiri, tanpa menggunakan uang orang tua.''
Puri menahan sesak di dalam dadanya, tidak seharusnya dia masuk kedalam hidup Ethan, yang sepenuhnya belum bisa melupakan masa lalu bersama orang yang dia cintai. Seharusnya, Puri sadar akan hal itu, jika Ethan berpcaran bertahun-tahun dengan Vani, nggak akan semudah itu untuk melupakan mantan yang sudah lama dengan kita.
''Tapi kamu harus janji, kamu harus jauhin Puri, kamu harus kasi tau dia, kalau kamu sama aku udah balikan. Bilang sama dia, buat nggak deketin kamu lagi.'' Vani menjelaskan panjang kali lebar, membuat Ethan dia sejenak.
''Gimana?'' tanya Vani, matanya masih setia melihat Puri yang mendengarkan obrolan mereka.
''Aku bakalan ngomong sama Puri,'' balas Ethan membuat Vani tersenyum manis, lalu gadis itu tersenyum penuh kemenangan melihat kesedihan di wajah Puri.
''Jadi gimana, kamu maukan balikan sama aku?'' tanya Ethan memastikan lagi dan gadis itu mengangguk matap mengiyakan ucapan Ethan.
''Iya, aku mau. Balikan sama kamu.''
__ADS_1