ARDIAN

ARDIAN
Memberikan pelajaran


__ADS_3

Ucapan Puri sukses membuat Pute terdiam, "Nita anak osis?" tanya Pute memastikan dan dibalas anggukan semangat oleh Puri.


"Iyalah, Nita anak osis," balas Puri lagi.


"Positif tingking aja, siapa tahu anak ARIGEL buat masalah. Jadi Nita cuman berani ngomong sama Leo." Cika memberikan asumsi meskipun ia tidak yakin dengan apa yang barusan dia katakan.


"Bisa jadi sih," ucap Puri manggut-manggut. "Udah, ahk. Nggak usah bahas anak osis," kata Puri lagi.


"Andai gue tahu, hari ini guru-guru masih ngadain rapat, gue nggak akan ke sekolah," gerutu Cika.


Puri dan Pute refleks melihat gadis itu, "tumbenan lo  malas ke sekolah. Nggak biasanya," goda Puri, "apa karna Gerald nggak ada, semangat lo buat ke sekolah juga hilang?" Puri menyipitkan matanya kearah Cika.


Pletak....


Buku di tangan Puri langsun menggeplak kepala sahabatnya. Bisa-bisanya gadis itu berpikir sampai kesana. Padahal hari ini mood Cika sedang buuk tanpa Salsa.


Pute hanya terkekeh melihat Puri meringis, "otak lo sama Cika itu beda, Ri," celutuk Pute seperti sindiran keras untuk dirinya.


"Lama-lama ucapan lo kayak Rafael juga, Put. Pedas tau nggak,"  gerutunya pada Pute.


''Sory, Ri. Habisnya lucu sih," kata Pute.


"Iya deh, otak gue sama Cika jauh beda."


"Kantin aja, yuk. Gue lapar nih." Cika berdiri dari kursi yang ia duduki di ikuti oleh kedua sahabatnya.


Mereka bertiga berjalan meninggalkan kelas menuju kantin. Biasanya mereka selalu berlima ke kantin. Dan sejak kehadiran Nanda mereka selalu berenam ke kantin. Tapi, semuanya sudah berubah jauh. Merekatinggal berempat karna Kesya menjauhi mereka dan Salsa yang pindah ke jepang mengikuti kedua orang tuanya. Karna Nanda hari ini belum ke sekolah, jadinya mereka hanya bertiga saja.


Mereka bertiga memilih duduk di tengah-tengah, sehingga ketiga gadis itu menjadi pusat perhatian.


"Siapa yang mau pesan makan?" tanya Cika.


"Gue aja." Puri berdiri dari kursi yang ia duduki untuk memesan makanan mereka.


"Mau pesan apa?" tanya Puri.


"Gue bakso aja."


"Gue juga, samain aja sama punya Cika."


"Ok."

__ADS_1


Puri mulai memberitahukan pesananya pada pemilik kantin itu. Ia memesan bakso tig dan juga air mineral. Sembari menunggu pesananya siap, gadis itu merogoh saku bajunya mengambil ponselnya.


Senyuman di wajah Puri terbit saat melihat postingan Salsa, gadis itu tengah jalan-jalan di jepang bersama keluarganya.


"Ini neng pesananya."


Puri langsung memasukkan ponselnya kembali, "makasih. Nih uangnya." Puri menyodorkan uang berwrna biru pada penjual itu. Lalu ia mengambil nampan berisi tiga mangkuk bakso dan tiga air mineral.


Gadis itu berjalan menuju meja tempat para sahabatnya duduk, saat Puri asik melangkah tiba-tiba saja ada kaki terulur kedepan, sehingga membuat gadis itu kehilangan keseimbanganya dan....


BRUK....


Suara pecahan kaca memenuhi isi kantin, dan parahnya lagi Puri jatuh ke lantai. Banyak pasang mata menatap Puri kasihan ada juga yang tertawa, contohnya Vani dan dua sahabatnya.


"Kaisahan banget sih!" ejek Vani di tempat duduknya.


Puri mengepalkan tanganya, penampilanya saat ini sudah acak-acakan, bau kuah bakso memenuhi indra penciumanya.


Pute dan Cika berlari menghampiri Puri dengan wajah panik mereka. "Berdiri, Ri." Pute membantu Puri berdiri. ''Kita ke toilet dulu bersihin seragam lo."


"Gue nggak mau, gue harus balas dia dulu!"Puri menatap Vani dengan tatapan membunuh.


Akhir-akhir ini Vani senang mencari masalah denganya.


"Tap--''


"Lo harus percaya sama gue. Biar gue yang kasi mereka pelajaran."


Cika mendekati Vani dan kedua sahabatnya.


"Van, gue takut kalau dia sampai ngehajar kita di kantin ini," cicit Yuni dan dibalas anggukan setuju oleh Naya.


Mungkin jika Puri yang  menatap mereka, dia tidak akan setakut ini. Tapi ini Cika si kutu buku anak IPA, gadis itu tomboy terkenal dengan ilmu bela dirinya, apa lagi Yuni dan Naya mengikuti Cika di ig. Cika sering kali up stori di ig jika ia latihan taekwondo, apa lagi gadis itu sudh menyandang sabuk hitam.  Yuni dan Naya takut jika gadis  itu membantainya di sini.


Selama ini mereka melihat Cika hanya diam saja, tidak terlalu aktif seperti sahabatnya yang lain. Dan hari ini mereka tengah membangunkan macan yang tertidur pulas.


"Mau ngapin lo? Mau jadi sok pahlawan?" Vani memicingkan matanya.


"Udah lama gue biarin lo bertingkah ke Puri!" Cika mengepalkan tanganya dimeja ketiga gadis itu.


Naya dan Yuni meneguk salivanya susah payah, melihat kepalan tangan Cika diatas meja.

__ADS_1


"Bukan urusan lo ya!" nyolot Vani, gadis itu berdiri dari kursinya  sehingga dia bertatapan seimbang dengan Cika.


"Goblok lo! Jelas urusan gue, karna dia saabat gue!" gerundel Puri.


Mereka berdua menjadi tontonan di kantin saat ini.


''Berani lo ya bilangin gue goblok!" tanpa aba-aba Vani langsung mendorong Cika, hingga gadis itu mundur beberapa langkah.


Untung saja Cika bisa mengimbangi tubuhnya, sehingga ia tidak jatuh ke bawa lantai saat ini.


Naya dan Yuni memilih diam, sama Greta saja mereka sudah ketar ketir, apa lagi jika berurusan dengan sosok Cika.


"Kesabaran gue buat maklumin tingkah lo itu udah habis!" Cika langsung menarik paksa tangan Vani keluar kantin. Vani memberontak namun dia tidak bisa lepas dari Cika, tenaga anak itu seperti laki-laki saja.


"Ngapain lo pada diam! Bantuin gue buat lepas!" teriak Vani pada Naya dan Yuni, karna gadis itu hanya diam saja.


"Kita takut, Van."


"Pengecut lo!"


Sekuat apapun Vani memberontak. Di tidak bisa lepas dari Cika.


"Lepasin gue sialan!" amuk Vani.


Cika tengah menarik paksa Vani di koridor sekolah, sehingga banyak pasang mata menatap kearah mereka.Apa lagi Vani meraung-raung untuk di lepaskan. Pertama kalinya ia melihat sosok Cika marah seperti itu, terlihat jelas dari air wajahnya.


Cika membawa Vani idi belakang gudang, letaknya jauh dari kelas. Di tambah lagi tempat ini sunyi, jarang ada yang berada di sini. Palingan jika ada murid di sini pasti mereka tengah bolos dan merokok.


Cika langsung menghempaskan tangan Vani, membuat gadis itu mengadu kesakitan. Tanganya saat ini sudah memar karna cekalan dari gadis itu.


"Mau apa lo!" pekik Vani saat tatapan mata Cika makin tajam padanya, gadis itu melangkah mendekatinya, hingga Vani mundur ke belakang.


Jujur saja, Vani saat ini takut pada Cika, gadis itu sangat menyeramkan kalau marah.


"Urusan gue bukan sama lo ya!" kata Vani lagi. "Kalau lo berani nyentuh gue seujung kuku lo itu, gue akan lapor lo ke polisis!" ancam Vani, tubuhnya bergetar hebat.


"Lo pikir gue takut sama lo? Gue nggak takut sama sekali. Lo udah ngusik sahabat gue,. Gue MUAK lihat lo cari masalah sama sahabat gue, apa lo mau gantiin posisi Greta sebagai biang onar?"


"Lo pengecut, lo beraninya bawa gue kesini!" sungut Vani membuat Cika menahan tawa.


"Jadi lo lebih suka berantem di depan banyak orang?" tanya Cika. "Kenapa? Biar lo bisa di tolongin mereka? Teman lo aja nggak peduli sama lo. Apa lagi orang lain!"

__ADS_1


Vani mengepalkan tanganya, ejekan dari Cika sukses membuatnya makin murkah.


__ADS_2