
Mobil milik Ardian sudah terparkir di parkiran rumah sakit. Keduanya masih berdiam diri di mobil, Ardian yang menunggu Nanda untuk keluar dari mobil, lalu dia akan menyusul gadis itu untuk turun, namun gadis di samping nya hanya diam saja.
"Mau tetap di dalam mobil, atau masuk?" tanya Ardian yang berhasil mengalihkan pandangan Nanda, lalu gadis itu menatap Ardian. "Kenapa?" tanya Ardian sedikit gugup, karna Nanda menatap nya begitu dalam, membuat jantung nya berdetak tidak karuan saat ini..
"Gue.... " Nanda tidak tahu, harus mulai dari mana, mengatakan ini.
"Gue apa?" tanya Ardian bingung, karna gadis itu berkata hanya sepotong-sepotong saja.
Nanda menimbang-nimbang lebih dulu, sebelum mengatakan ini.
"Nggak jadi." Nanda dengan cepat turun dari mobil Ardian, mengisahkan Ardian yang masih penasaran.
Nanda harus memastikan lebih dulu perasaan ini, siapa tahu aja perasaan ini hanya sementara, 'kan? Karna Ardian bersikap berbeda padanya.
Nanda harus memastikan lebih dulu, sebelum dia mengatakan nya. Jika sudah pasti, dia akan mengungkapkan nya pada Ardian.
Nanda berjalan di Koridor rumah sakit, dengan Ardian berada di samping nya. Untung saja Ardian mengikuti langkah kaki Nanda, jika gadis itu yang menyamai langkah Ardian, sudah pasti dia akan kewalahan.
Ardian berjalan dengan wajah datar nya, membuat seluruh tatapan mata segan padanya. Apa lagi mata cowok itu sangat tajam dan mengintimidasi, lawan nya. Dengan tangan dia masukkan kedalam saku celana, baju kaos oblong menghiasi tubuh nya dan di padukan dengan sepatu converse mahal.
"Nyokap lo udah pindah?" tanya Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.
"Pas gue masuk rumah sakit, Boy fokus jaga gue. Sementara mama di jaga sama perawat." Ada jeda sementara, "papa nemuin mama malam itu. Boy mindahin mama, jangan sampai papa gue bakalan datang diam-diam lagi." Nanda menjelaskan nya pada Ardian membuat cowok itu manggut-manggut.
Saat tahu Gina di rawat di rumah sakit, Iksan melakuan berbagai cara untuk menemui Gina. Bagaiamana pun, Gina adalah ibu yang memberikan nya dua anak. Masih ada rasa peduli Iksan kepada mantan istrinya itu.
Ya, mantan istri. Karna Iksan dan Gina sudah resmi bercerai.
Mereka sudah sampai di ruangan Gina, ruangan yang di tempati merupakan ruangan yang sangat mewah. Terdapat televisi besar, tempat tidur yang luas, untuk keluarga pasien, ada kulkas dan lemari kecil, ada sofa empuk juga di sini. Semuanya lengkap di dalam ruangan Gina, suasananya seperti bukan di rumah sakit, tapi seperti di dalam kamar sendiri.
__ADS_1
Ruangan vvip memang beda ya, semua fasilitas nya lengkap jika di ruangan vvip.
Nanda menutup pintu ruangan mama nya. Ardian dan Nanda berjalan menghampiri Gina yang tengah berbaring, sembari menonton TV.
"Gimana kabarnya, tante?" tanya Ardian setelah menyalimi punggung tangan Gina, yang tersenyum hangat padanya.
"Tante baik-baik aja," jawab Gina. "Makasih ya, udah anterin anak tante kesini."
Gina merindukan anak gadis nya itu, memeluk Nanda dengan erat, mencium wangi khas anak nya.
"Mama sama papa, titip salam sama tante. Kalau papa Ardian udah nggak sibuk, mama bakalan datang ke sini," jelas Ardian, mengatakan apa yang Tari katakan padanya untuk di sampaikan pada Gina.
Gina hanya membalas nya dengan senyuman.
Mereka bertiga berbincang-bincang, hingga Ardian memutuskan untuk berbaring diatas sofa saja, memberikan ruang antara Gina dan Nanda.
"Mama baik-baik aja, sayang. Ara nggak perlu khawatir ya." Tangan kurus itu bergerak mengusap rambut Nanda. Usapan tangan Gina membuat buliran air mata jatuh di pipi nya.
"Mama nggak bohong, 'kan?" Entah mengapa Nanda merasakan, jika mama nya berbohong pada nya tentang penyakit nya.
Boy mengatakan jika mama nya baik-baik saja. Begitu pun dengan Gina. Namun jawaban mereka tidak mampu membuat Nanda legah.
"Mama nggak bohong, sayang. Ara jangan nangis, entar Ardian lihat loh," goda nya, sembari mengusap air mata anak gadis nya.
Nanda mengerucutkan bibir nya, hubungan nya dengan Ardian sudah hampir seluruh fans-fans Ardian tahu, dan mereka mengatakan hari patah hati..
"Kan nggak enak diliat sama pacar nya, kalau muka kucel kayak gitu." Gina terkekeh, membuat Nanda semakin mengeratkan pelukan nya.
"Bang Boy mana, Ma?" tanyanya.
__ADS_1
"Boy lagi keluar bentar," jawab nya, "kamu mandi dulu ya, Ra. Nggak biasanya, badan kamu bau nggak enak kayak gini. Apa yang kamu kerja di sekolah, Ra? Kamu nggak kerja sebagi bersih-bersih kamar mandi, 'kan?" Gina menatap anak nya itu, tidak biasanya Nanda bau lepek seperti ini, jika pulang sekolah. Meskipun anaknya seharian tidak mandi, dia tetap wangi. Namun berbeda dengan ini.
Dia mencium bau tidak sedap dari tubuh Nanda.
Nanda hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan sang mama. Dia memang tidak bekerja sebagai tukang bersih toilet, namun dia di hukum untuk membersihkan toilet, untung saja sahabat Ardian membantu nya, sehingga pekerjaan nya cepat selesai.
"Yaudah deh, aku mandi dulu." Nanda turun dari tempat tidur yang di tempati oleh Gina, bukan bansal yang ia kenakan, melainkan sprimbed ukuran besar, yang bisa di naiki tiga orang sekaligus.
"Baju kamu ada di dalam lemari, Ra. Boy bawain kamu baju ganti," kata Gina lagi.
"Iya, Ma."
Nanda melewati Ardian yang tengah berbaring diatas sofa panjang, cowok itu memejamkan matanya, entah dia tidur atau hanya terpejam saja.
Nanda tersenyum tipis melihat wajah Ardian. Meski dalam mode senyap begini, wajah itu tetap kelihatan galak.
Nanda mengakui, Ardian orang kedua yang ia akui tampan, setelah sahabat nya.
"Udah puas lihatin gue?"
Deg...
Padahal mata cowok itu terpejam, tapi mengapa ia bisa tahu, Nanda gelapan. Seharusnya dia langsung masuk kedalam kamar mandi saja, tanpa harus menatap wajah tampan itu.
Ardian membuka matanya, bulu matanya yang lentik serta mata nya yang indah terpampang jelas, membuat Nanda meneguk saliva nya susah payah..
"Mendingan lo buruan mandi," kata cowok itu membuat Nanda memutar bola mata nya malas, dia tahu jika cowok itu mencium bau tidak sedap dari dirinya, namun dia tidak terus terang seperti mama nya. ..
"Iya." Lalu, Nanda melangkah masuk kedalam kamar mandi, menyisakan Ardian yang senyum-senyum tidak jelas.
__ADS_1