ARDIAN

ARDIAN
Kedatangan Iksan di sekolah


__ADS_3

Bel istirahat berbunyi, membuat guru yang mengajar di dalam kelas mengakhiri pelajarannya.


''Baiklah anak-anak, sampai jumpa dengan pelajaran ibu minggu depan!''


''Iya bu!'' sahut mereka bersaman, lalu guru itu meninggalkan kelas, begitupun dengan murid-murid di dalam kelas.


''Gimana?'' tanya Cika kepada Puri. Karna gadis itu di panggil ke kantor sama kepala sekolah.


''Puri di scorsing satu minggu.'' Bukan Puri yang menjawab, melainkan Salsa yang sudah tau.


''Serius?'' Nanda dan Cika bertanya secara bersaman tatkala mendengar jawaban dari Salsa.


''Nggak apa-apa gue di scorsing, lumayan waktu satu minggu bisa buat gue ke salon. Gue mau perawatan rambut juga di salon. Udah beberapa kali rambut gue kena jambak,'' kata Puri dengan tawa kecilnya membuat mereka juga ikutan tertawa.


''Kalau lo di scorsing, ngapain ikut belajar,'' timpal Nanda masih dengan sisa tawanya lalu kemudian merea kembali tertawa.


''Ya ampun, gue sampai lupa. Yaudah, gue di kelas aja belajar sama kalian. Besok gue baru mulai nggak naik. Lu antar gue balik ya, Ci,'' kata Puri meminta Cika untuk mengantarnya pulang. ‘’Karna Pute masih di rumah sakit,'' lanjutnya dan dibalas anggukan kepala oleh Cika.


''Yuk, kantin,'' ajak Salsa dan di iyakan ketiga sahabatnya, sementara Pute belum balik dari rumah sakit.


Ketiga gadis itu bersiap-siap ke kantin. Beranjank dari kursi lalu ke empat gadis itu bejalan keluar kelas.


Di ambang pintu. Langkah kaki Nanda terhenti membuat ketiga temanya ikutan berhenti.


‘’Kenapa....'' Salsa tidak melanjutkan lagi pertanyaanya, kenapa Nanda berhenti tiba-tiba, karna anak ARIGEL menghadang di depan pintu kelas.


''Rafael,'' gumam Salsa melihat Rafael begitu tampan. Setiap hari Farel ganteng, namun kali ini kegantengan cowok itu berkali-kali lipat. Bagaimana tidak, jika Rafael tampil dengan rambut barunya.


Sementara Nanda dan Ardian saling berpandangan, dapat Cika lihat Ardian menatap Nanda begitu lekat di sertai senyuman yang sangat manis, senyuman yang selama ini tidak mereka lihat dari ketua ARIGEL itu.


Yah, untuk pertama kalinya mereka bisa melihat senyuman yang berbeda. Apa lagi mereka tahu, kalau cowok itu datar, dia hanya tersenyum licik saja namun kali ini senyuman yang beda mereka lihat, meski senyuman itu untuk Nanda.


Ethan memalingkan wajahnya saat Puri menatap kedua bola matanya, seperti seorang cowok yang punya sangkutan kepada Puri saja.


Izam memutar bola matanya malas, hanya dia saja tanpa tujuan ingin kesini. Sementara Leo sibuk mencari Pute, namun dia tidak melihat gadis itu bersama sahabatnya.


''Pute mana?'' tanya Leo kepada sahabat Pute.


‘’Kerumah sakit anterin Kesya,'' jawab Salsa tanpa mengalihkan pandanganya dari Rafael, sehingga mereka semua tertawa melihat tingkah gadis itu, menatap Rafael begitu bahagia.


‘’Gimana rambut baru Rafael, Sal?'' tanya Izam kepada gadis itu.


''Model rambutnya keren, Rafael makin ganteng. Tiap hari dia emang ganteng, tapi kali ini kegantengan nya berkali-kali lipat,'' jujur gadis itu. Sementara Rafael hanya menatap datar Salsa. Seolah-olah ucapan gadis itu hanya angin lalu saja, yang tidak ada untungnya untuk dirinya.


‘’Gue yang cukur dia, Sal. Harusnya lo ucapin Terimakasih ke gue. Berkat gue, Rafael makin ganteng,'' bangga Izam, karna dirinya yang menata rambut Rafael, mencukur rambut panjang cowok itu membuatnya semakin maskulin.


Ardian kembali menatap Nanda. ''Mau ke kantin?'' tanya Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.


‘’Gue sama mereka,'' jawab Nanda.


‘’Yaudah, kita barengan aja,'' putus Izam dan dibalas anggukan setuju oleh Cika dan Salsa yang paling semangat.


''Ide yang bagus,'' kata Salsa.


Akhirnya, mereka berjalan beriringan menuju kantin, mengisi perut mereka yang sudah kosong saat ini.


''Mulai sekarang, gue bakalan ke kelas lo buat ajakin lo ke kantin,'' kata Ardian tanpa melirik kearah Nanda.


''Nggak usah,'' jawab Nanda.


‘’Terserah gue,'' balas Ardian lagi yang sudah tidak di gubris oleh Nanda lagi.


Ethan selalu menghindari tatapan mata Puri. Karna beritanya mengenai dirinya dan Vani balikan udah tersebar luas.


Apa lagi semalam Vani mengunggah foto mereka di stori ig milik Ethan. Otomatis semalam Puri melihatnya.


''Nggak usah malu,'' kata Puri membuat Ethan diam lalu kemudian cowok itu melirik Puri, mereka saat ini jalan bersaman menuju kantin. ''Gue nggak heran kalau lo balikan sama Vani, karna kalian emang masih saling cinta,'' kata Puri santai.


''Sorry,'' cicit Ethan yang tidak dibalas lagi oleh Puri.


Puri hanya membalasnya dengan senyuman kecil, tapi didalam hatinya sangat sakit, dia berusaha lupa jika dia dan Ethan pernah dekat sebelum cowok itu balikan dengan Vani.


Mereka masuk kedalam kantin, dan menjadi pusat perhatian di kantin ini.


Mereka duduk di kursi paling pojok, tempat anak ARIGEL biasanya makan jika di kantin ini, Izam sisa mencari kursi tiga, karna kursi Gerald kosong yang akan di isi oleh salah satu gadi itu.


‘’Kursinya udah lengkap,'' kata Izam setelah mengambil tiga kursi tambahan.


Salsa memanyunkan bibirnya, dia sudah duduk di kursi milik Rafael tadi, namun cowok itu memilih duduk di kursi Gerald, sehingga kursi Rafael di isi oleh Izam.


Rafael tentu saja menghindari Salsa, gadis itu selalu mendekatinya.


Mereka semua sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Ardian tentunya duduk di dekat Nanda.


''Giliran pesan makanan hari ini siapa?'' tanya Ardian.


''Gue,'' jawab Rafael seraya berdiri dari kursi yang dia duduki. Cowok itu pergi memesan makanan untuk mereka semua.


''Lo mau kemana?'' Cika mencekal tangan Salsa, saat gadis itu ingin beranjak dari kursinya.


''Gue mau bantuin El bawa makanan,'' kata Salsa.


‘’Mendingan lu duduk di sini, Sal. Ada pelayan kantin yang bantuin Rafael bawa makananya. Lo nggak mau 'kan sampai Rafael mempermalukan lo di kantin ini, lo lihat banyak murid-murid di kantin ini,'' nasehat Cika agar Salsa mengurungkan niatnya itu.


Salsa melihat sekelilingnya, benar saja banyak teman sekolahnya di sini. Jika Rafael mencibirnya di sini, maka dia akan sangat malu pastinya.


Dengan berat hati Salsa kembali memperbaiki duduknya.


''Hmm...''


Izam berdeham, karna meja mereka nampak hening kembali.


''Nanda,'' panggil Izam dengan senyuman merekah diwajah cowok itu, sehingga Nanda melirik gadis itu.


''Napa?'' tanya Nanda.


‘’Gue denger-denger dari Ardian, kalian berduan pacaran.''


''HAH!'' Suara itu adalah suara milik Puri, Cika dan juga Salsa. Membuat para cowok menutup matanya.


Ketiga gadis itu terkejut dengan apa yang Izam katakan barusan.

__ADS_1


''Ini seriusan?'' tanya ketiga gadis itu lagi.


''Tanya Ardian sama Nanda nya langsung,'' ucap Izam sehingga ketiga gadis itu menatap Nanda meminta jawaban, membuat Nanda menjadi gelagapan.


‘’Beneran, Na. Kamu sama Ardian pacaran?'' tanya Salsa menatap Nanda dengan tatapan tanda tanya, agar gadis itu menjawab pertanyaanya.


''Kapan?'' kini Giliran Cika yang bertanya.


''Kok lu nggak bilang-bilang sih. Kalau kalian jadian,'' suara nampak kesal.


''Mungkin Nanda malu mau ngomong sama kalian,'' kata Ardian lalu melirik Nanda, Ardian bisa melihat tatapan gadis itu menyuruhnya untuk diam saja.


Namun Ardian tidak ingin diam, karna dia mau semua orang tau. Kalau dia dan Nanda jadian. Momen ini akan di rayakan oleh Ardian nantinya, sekarang dia dan Nanda tidak perlu berpura-pura pacaran di depan orang tua Ardian lagi.


''Aelah, Na. Nggak usah malu, kayak sama siapa aja. Malahan gue sama yang lain dukun lu sama Ardian. Kalian berdua serasi,'' kata Izam. ''Iya nggak, Than.'' Izam menyenggol lengan Ethan meminta persetujuan cowok itu.


Ethan mengangguk sebagai jawaban. ''Lo kenapa sih, Than. Diam-diam bae, padahal tadi nggak kayak gini. Apa karna ada Puri?'' celetuk Izam lagi.


''Nggak, gue cuman malas ngomong,'' balas Ethan.


''Iyain, deh,'' balas Izam lagi.


Cika, Puri dan Salsa tidak melanjutkan pertanyaanya lagi, mereka akan bertanya saat di kelas nanti.


Tidak butuh waktu lama, Rafael datang membawa nampan berisi makanan di bantu oleh pegawai kantin ini.


''Udah cocok lo jadi pegawai kantin, Raf,'' hina Izam saat Rafael meletakkan makanan pesanan mereka diatas meja.


‘’Gue balikin makanan lo baru tau rasa,'' desis Rafael.


‘’Baperan amat sih, Raf,'' gerutu Izam.


Makanan mereka sudah siap diatas meja, sisa menunggu minuman mereka datang.


''Raf, kok kamu pesanin aku bakso? Aku 'kan pesanya Mie ayam,'' aduh gadis itu saat melihat makanan diatas meja sama semua, yaitu bakso. Karna mereka memesan bakso semua, kecuali Salsa yang memesan mie ayam namun dia tidak melihat mie ayam diatas meja mereka.


''Suka-suka, gue. Gue malas ngomong,'' kata Rafael tanpa melihat kearah Salsa. ''Cuman lo doang yang pesanannya beda, jadi gue malas ngomong dua kali. Kalau lo mau ganti makanan lo itu, silahkan ngantri disana.'' Rafael menunjuk kearah murid-murid sedang mengantri memesan makanan.


Otomatis Salsa melihat kearah yang di tunjuk Rafael, tentu saja dia tidak bisa mengantri sepanjang itu. Bisa-bisa dia kelaparan jika mengantri makanan.


''Yaudah deh,'' gumam gadis itu memilih makan bakso saja, padahal dia ingin memakan Mie ayam.


Minuman mereka datang, Rafael memesan es teh untuk mereka semua.


''Kok punya aku nggak ada tehnya,'' protes Salsa lagi, saat Rafael mulai membagi es teh itu di depan mereka.


''Es nya habis. Kebetulam giliran lo gue kasi, jadinya lo dapat nggak pake es,'' kata Rafael ketus.


‘’Untung aja kamu yang ngambilin makananya, kalau enggak mood makan aku hancur,'' dramatis gadis itu membuat Rafael memutar bola matanya malas.


''Yuk, makan!'' heboh Puri.


Mereka baru saja ingin memasukkan makanan kedalam mulutnya, tiba-tiba seseorang menghampiri meja mereka.


‘’Sayang, aku sama sahabat aku boleh gabung nggak?''


Izam, Rafael, Leo dan Ardian menatap malas kearah gadis itu bersama antek-anteknya.


Puri tersenyum kecut melihat Vani, mereka baru saja ingin makan, namun Vani dan sahabatnya datang.


''Gue nggak berharap sama cowok lu juga. Lo pikir cuman Ethan cowok ganteng di sekolah ini? Ada yang lebih ganteng dari Ethan,'' kesal Puri.


''Gue lupa bilangin sama kamu sayang, kalau yang jadi saksi kita balikan itu Puri. Kamu masih ingat'kan kemarin, kamu ajak aku balikan di depan pintu kelas aku. Saat itu, Puri ada di sana. Dia dengar kamu ajak aku balikan terus kita pelukan,'' kata Vani lagi membuat Ethan langsung melihat kearah gadis itu.


Dia tidak tahu jika Puri ada di sana, dan melihat apa yang dia lakukan dan katakan pada Vani.


''Lo pikir gue cemburu!'' Sewot Puri.


‘’Santai aja kali, Vani cuman ingetin lo doang, jangan ganggu Ethan lagi. Karna mereka berdua udah balikan,''sahut salah satu teman Vani bernama Yuni.


''Mendingan lo diam, nggak ada yang nyuruh lo nyahut. Sejak kapan gue gangguin Ethan. Jangan pada asal ngomong!'' Balas Puri lagi.


''Lo—''


''Diam!'' bentak Ardian membuat mereka semua menjadi kicep, suara dingin Ardian langsung menyapa gendang telinga mereka, bahkan mulut Vani menjadi kakuh juga.


Hening, sekarang tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun.


Rafael tersenyum sinis, melihat Vani dan antek-anteknya jadi takut. Tatapan tajam Ardian membuat gadis itu menjadi takut.


''Kalian udah pada ganggu orang yang mau makan,'' kata Leo. ''Kalau mau gabung sisa gabung aja, nggak usah banyak drama,'' lanjut Leo santai.


‘’Aku ngomong sama Ardian dulu,'' kata Ethan melihat pacarnya itu mengangguk.


''Ar, mereka boleh gabung'kan?'' tanya Ethan membuat Ardian menatap Ethan. Andai saja bukan Ethan, dari tadi Ardian akan mengusir ketiga gadis itu dari sini.


''Vani, mendingan kita duduk di sana aja. Nggak usah gabung sama anak ARIGEL. Gue takut,'' cicit Naya yang ketakukan melihat Ardian, apa lagi cowok itu membentak mereka semua.


Vani melirik Naya dan Yuni. ‘’Diam,'' bisik Vani.


Kedua sahabatnya mengangguk mengiyakan ucapan Vani.


Ardian melirik Nanda lebih dulu, membuat Nanda menaikkan alisnya sebelah. Ngapain Ardian lihatin gue?


''Mereka boleh duduk di sini?'' Nanda melotokan matanya, dia tidak habis pikir mengapa Ardian meminta persetujuan darinya.


''Boleh, ngapain nggak boleh. Mereka cuman mau gabung makan doang,'' kata Nanda Kikuk, dia tidak enak saja pada yang lain.


Ethan tersenyum pada Nanda, karna gadis itu mengiyakan ucapan Ardian.


''Mereka boleh duduk di sini, asal mulut mereka tertutup rapat,'' peringat Ardian kepada gadis itu.


‘’Kamu dengarkan omongan Ardian?'' tanya Ethan dan dibalas anggukan paham oleh ketiga gadis itu.


Leo menggeser kursinya, agar kursi milik Vani berdekatan dengan kursi milik Ethan. Yuni dan Naya memgambil kursi kosong untuk segera duduk.


Makanan ketiga gadis itu datang, membuat mereka langsung makan dengan hening, karna mereka takut bersuara, bahkan Rafael yang bermulut pedas ikutan diam juga.


Mereka menikmati makanan mereka, sekali-kali Rafael melirik Salsa yang makan, makanan yang tak sesuai dengan pesanannya.


Rafael menaikkan alisnya sebelah, tatkala melihat tatapan benci Naya untuk Salsa.

__ADS_1


Mereka berdua musuhan?


Rafael hanya membatin, melihat Naya menatap Salsa dengan tatapan benci, Salsa saja yang tidak sadar dengan tatapan gadis itu padanya.


Tatapan mata Rafael dan Naya bertemu, lalu Rafael menyungkirkan senyuman devil kearah Naya, senyuman yang menyeramkan menurut Naya, membuat Naya jadi gelagapan dengan senyuman menyeramkan Rafael.


Tang...


Sendok gadis itu jatuh di lantai, saking gelagapan nya gadis itu.


''Lo kenapa si?'' bisik Vani melihat gelagat Naya seperti sedang melihat setan.


‘’Gue nggak apa-apa. Kalian lanjutin makanya aja, gue udah kenyang. Gue balik ke kelas dulu,'' pamit Naya seraya meninggalkan mereka semua.


Mereka semua melanjutkan makanya. Kepergian Naya tidak membuat aktivitas mereka terhenti.


Leo menyungkirkan senyuman penuh arti, semua sedang menikmati makananya, beda dengan Leo yang sedari tadi memperhatikan Rafael yang menatap Salsa diam-diam.


Jangan lupa, Leo tau juga mengapa Naya sampai takut, karna tatapan Rafael, kepada gadis itu, karna Naya menatap Salsa dengan tatapan tajam.


Makanan Leo telah habis, lalu cowok itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Seraya tersenyum tipis melihat tingkah Rafael tadi.


''Vi, kita balik ke kelas yuk,'' ajak Yuni setelah melihat makanan Vani sudah habis di mangkuknya. Dia mengajak gadis itu balik ke kelas karna Yuni serasa membeku di kelilingi anak-anak ARIGEL di meja ini.


‘’Kenapa?'' tanya Vani pelan. Dia tidak mau jika Ardian kembali menegur mereka berisik. Bisa-bisa cowok menendang mereka semua.


‘’Entar gue bilang.''


Vani akhirnya pamit kepada Ethan untuk pergi lebih dulu.


''Apasih, Yun!'' kata Vani karna Yuni menarik tangannya begitu kuat.


Mereka sudah berada di dalam kelas, tidak ada Naya didalam kelas.


‘’Gue harap, lo nggak ajak gue sama Naya lagi nongkrong sama anak ARIGEL. Lo nggak lihat gue sama Naya, tertekan banget tau nggak,'' kata Yuni membuat Vani memutar bola matanya malas.


''Hei, kita harus dekat sama anak ARIGEL biar kita di segani di sekolah ini. Lo nggak lihat, Nanda sama Cika, Pute, Puri dan Salsa itu dekat sama anak ARIGEL. Masa kita nggak bisa dekat sama anak ARIGEL,'' sosor Vani lagi.


‘’Gue takut berdekatan sama anak ARIGEL, lo sih nggak terlalu takut karna ada Ethan yang bakalan belain lo nanti,'' balas Yuni lagi.


‘’Intinya kita harus deketin anak ARIGEL, jangan sampai mereka duluan,'' putus Vani.


''Mereka udah duluan, Vi. Tanpa lo jelasin mereka udah dekat sama anak ARIGEL duluan,'' kata Yuni lagi.


''Lo lupa, kalau gue punya pacar anak ARIGEL, gue pacarnya Ethan. Lo tahu 'kan Ethan itu anak ARIGEL. Jadi, kita bisa masuk juga,'' kata Vani lagi membuat Yuni tertawa.


''Gue tau, Vi. Kalau lo punya pacar anak ARIGEL. Tapi perlo lo ketahui ketuanya itu Ardian, dia yang paling di segani. Andai aja lo pacaran sama Ardian, lo bisa bawa kita masuk. Lo nggak dengar sendiri, Ethan minta izin sama Ardian karna kita mau gabung sama mereka,'' jelas Yuni lagi agar Vani paham dengan kata-katanya itu.


''Intinya kita bakalan masuk!'' kekeh Vani lalu berjalan masuk kedalam kelasnya, duduk di kursinya dengan kekesalan.


‘’Keras kepala banget sih, Vani,'' dumel Yuni.


Yuni melihat Naya yang berjalan menuju kelas. ''Lo dari mana?'' tanya Yuni melihat Naya baru ingin masuk kedalam kelas, padahal gadis itu pamit lebih dulu dari mereka.


‘’Toilet,'' jawabnya dengan santai lalu melenggang masuk kedalam kelas di ikuti oleh Yuni.


***


Kedua orang tua Kesya mondar-mandir di depan ruangan ugd, anaknya sedang di tangani di dalam.


Lagi-lagi anaknya Kesya masuk kerumah sakit karna berantem dengan temanya. Waktu itu Kesya masuk kerumah sakit karna ulah Greta, sekarang karna ulah Puri lagi.


''Mana Puri anak kurang ajar itu!'' Raisa bertanya dengan suara tinggi terhadap Pute.


''Di sekolah,'' jawab Pute membuat Raisa mengepalkan tanganya, dia tidak menyangka jika sahabat anaknya melakukan ini kepada Kesya, padahal Raisa bisa melihat Puri dan Kesya itu begitu dekat ketimbang sahabat Kesya yang lain.


''Mama mau kemana?'' tanya Iksan yang melihat istrinya itu ingin pergi, sementara dokter yang menangani anaknya belum juga keluar.


''Aku mau ke sekolah Kesya, Mas. Aku mau suruh kepala sekolah berikan hukuman yang pantas untuk Puri. Kalau perlu anak itu di keluarkan saja dari sekolah,'' marah Raisa membuat Iksan menggeleng pelan.


''Kamu di sini tunggu Kesya, kalau Kesya sudah bangun, dia akan mencari kamu,'' jelas Iksan pada Raisa.


''Jadi, kamu mau biarin anak itu tenang, dia sudah membuat anak kita masuk rumah sakit. Ini yang kedua kalinya Kesya masuk rumah sakit mas!''


''Raisa, tenang!'' gertak Iksan lagi. ‘’Mas suruh kamu di sini, aku yang akan ke sekolah Kesya,'' putus Iksan lalu pergi meninggalkan Raisa.


Raisa tidak percaya jika suaminya akan bisa menyelesaikan masalah ini.


Iksan langsung melajukan mobilnya menuju sekolah, dia akan menemui kepala sekolah atas apa yang menimpa anaknya itu.


Satpam membuka pintu gerbang, saat Iksan membuka kaca jendela mobilnya, dan satpam melihat wajah milik Iksan.


Tentu saja satpam itu mengenalnya, Iksan adalah salah satu donatur di sekolah ini.


Para guru-guru yang sekolah di tempat Kesya dan Nanda, sudah tahu jika Nanda dan Kesya saudara.


Iksan lebih dulu memarkirkan mobilnya, lalu turun. Pria itu menuruni mobilnya melangkahkan kakinya menuju ruangan kepala sekolah.


Iksan sudah menelfon kepala sekolah untuk bertemu.


Tok...Tok...Tok


Iksan mengetuk rungan kepala sekolah.


‘’Masuk!''


Setelah mendapatkan perintah, Iksan baru masuk. Dia sudah melihat kepala sedang menunggu kedatanganya.


Iksan dan kepala sekolah saling berjabat tangan.


''Silahkan duduk pak Iksan, saya turut sedih atas apa yang menimpa Kesya anak bapak,'' jelas kepala sekolah.


Dia sudah tahu jika Kesya masuk rumah sakit, karna perkelahiannya dengan Puri. Iksan hanya mengangguk sebagai jawaban.


‘’Terimaksih. Tujuan saya kesini untuk meminta keadilan atas apa yang menimpa anak saya. Tentu kepala sekolah sudah tahu, kalau ini sudah termasuk tindakkan kekerasan terhadap anak saya. Sudah dua kali anak saya masuk rumah sakit, karna murid di sekolah ini,'' terang Iksan membuat kepala sekolah mengangguk paham atas apa yang di katakan Iksan.


''Saya mengerti pak. Sepenuhnya bukan salah murid tersebut yang membuat anak bapak celaka. Karna mereka mempunyai masalah yang tidak kita ketahui, pak,'' jelas kepala sekolah itu.


Iksan menghembuskan nafas berat. ''Saya mau anak yang membuat anak saya masuk rumah sakit, di panggil kesini. Saya ingin bertemu denganya,'' perintah Iksan.


''Baik, Pak.''

__ADS_1


Sekarang adalah jam istirahat, tidak mungkin jika Puri ada di dalam kelas, sudah pasti gadis itu tengah berada di kantin bersama para sahabatanya.


Lalu kepala sekolah menelfon pemilik kantin, agar menyuruh Puri keruanganya sekarang juga.


__ADS_2