ARDIAN

ARDIAN
Masa lalu penuh janji


__ADS_3

Iksan menunggu kehadiran seorang wanita yang sangat dia cintai, sosok wanita yang sudah berpacaran dengannya.


Tidak butuh waktu lama, seorang wanita yang di tunggu Iksan datang juga, wanita cantik itu langsung duduk di depan Iksan.


''Ada hal penting apa, yang ingin kamu katakan, sayang.'' Lebih dulu Raisa mencium pipi kekasihnya itu.


Iksan sungguh tampan, setiap hari dia melihat wajah Iksan. Membuatnya semakin mencintai pria itu.


''Kita makan dulu,'' ucap Iksan.


Raisa hanya mengangguk mengiyakan ucapan kekasihnya itu, meski dia sedikit menaruh gelagat curiga kepada Iksan. Tidak biasanya mereka bertemu dengan wajah Iksan yang begitu masam.


''Kamu kenapa?'' tanya Raisa, seraya menggenggam tangan milik Iksan.


Raisa baru saja lulus dari bangku SMA.


''Sayang, kita jadi'kan nikahnya? Kamu yang bilang sama aku, kalau kamu akan nikahin aku, kalau aku udah tamat SMA,'' ucap Raisa, usianya dengan pria di depanya beda 4 tahun.


Iksan diam, dia tidak tahu harus mengatakan hal ini seperti apa, kepada wanita di depanya yang sangat dia cintai!


''Sayang,'' panggil Raisa, karna Iksan tidak menjawab pertanyaanya. ''Kamu baik-baik aja'kan?''


''Aku baik-baik saja, sayang. Kita makan dulu.'' Akhirnya Raisa mengangguk paham, meski jantungnya saat ini berdetak kencang.


Dia tidak tahu, mengapa perasaanya mengatakan akan ada tangisan yang akan tercipta di hubungannya.


Tidak butuh waktu lama, makanan pesanan mereka datang. Mereka berdua makan dengan khidmat, sekali-kali Raisa menatap wajah Iksan yang tidak seperti biasanya.


‘’Makananya tidak enak?'' tanya Iksan melihat Raisa menyudahi makananya.


''Aku sudah kenyang. Aku akan menunggu kamu selesai makan. Baru cerita apa yang ingin kamu katakan,'' jelas Raisa dan dibalas anggukan kepala oleh Iksan.


Tidak butuh waktu lama, Iksan menyudahi makananya.


Iksan menghembuskan nafas berat, membuat Raisa menjadi takut dengan apa yang ingin Iksan sampaikan saat ini.


Dia berharap, Iksan tidak mengucapkan kata-kata yang akan menjadi mimpi buruk untuk Raisa, dia tidak ingin hidup dalam mimpi buruk itu.


''Aku mau minta maaf sama kamu.''


Deg....


Awalan ucapan Iksan membuat jantung Raisa berdetak kencang, dia menggelengkan kepalanya.


‘’Maksud kamu apa?'' Raisa menuntut jawaban dari Iksan.


''Perusahaan papa di tipu sama rekan bisnisnya,'' sebelum melanjutkan ucapanya, lebih dulu Iksan menggenggam tangan Raisa. ‘’Perusahaan papa bangkrut, yang satu-satunya yang bisa membantu papa adalah tuan Raksa, dengan satu syarat....'' Iksan menggantung ucapanya membuat Raisa penasaran dengan kelanjutan ucapan pria di hadapanya.

__ADS_1


''Dengan syarat apa?'' Raisa menuntut jawaban dari Iksan lagi, sungguh dia tidak bisa menerima jika apa yang dia khawatirkan terjadi.


''Aku dan anaknya di jodohkan.''


Deg....


''Jadi kamu mau mengiyakan permintaan orang tua kamu?'' Raisa marah kepada Iksan.


‘’Hanya itu satu-satunya jalan, agar perumahan papa bisa bangkit seperti dulu lagi, Raisa. Aku nggak tega lihat papa sama mama,'' jelas Iksan.


‘’Tapi aku tidak mau putus,'' ucap Raisa penuh dengan penekanan kepada pria di hadapnya.


''Kamu tenang dulu, Raisa. Ada banyak orang di sini,'' peringat Iksan, karna mereka menatap kearah meja milik Iksan dan Raisa.


''Aku juga tidak mau putus dengan kamu, Raisa. Aku hampir saja gila memikirkan hal ini,'' jelas Iksan kepada Raisa.


''Apa yang harus kamu lakukan? Mengorbankan hubungan kita demi perusahaan papa kamu, begitu?'' cecar Raisa berusah tidak memancing tatapan mata orang lain padanya.


''Aku tidak punya pilihan lain, kecuali menerima perjodohan ini.''


Raisa mengepalkan tanganya. Sungguh, dia tidak menyangka jika Iksan akan mengorbankan hubungannya yang sudah lama demi perusahaan papanya yang bangkrut.


''Tapi aku janji, aku akan kembali ke kamu.'' Iksan menggenggam tangan Raisa, namun wanita itu berusaha menepis tangan Iksan.


''Aku mencintai kamu, Raisa.'' Sungguh, ucapan Iksan bukanlah kebohongan semata, dia benar-benar mencintai Raisa.


Iksan kembali menggenggam tangan Raisa, wanita itu berusaha menepis tangan Iksan, namun Iksan mempertahankannya.


‘’Tidak ada pilihan lain, Raisa.''


''Kamu tega sama aku. Kamu lebih men—''


''Apa kamu ingin hidup susah dengan aku?'' pernyataan yang di lontarkan Iksan, sukses membuat Raisa diam.


''Kamu tidak mau'kan? Aku juga tidak akan menikahi kamu mengajaknya mu susah, Raisa. Apa lagi kamu tahu perusahaan papa sudah jatuh ke dasar jurang. Kalau kita menikah, maka perusahaan papa tidak akan di selamatkan pak Raksa,'' jelas Iksan, sementara Raisa masih saja diam.


Dia tidak tahu harus membalasnya seperti apa.


Dia memang mau menikah dengan Iksan, namun dia tidak ingin di ajak susah. Cukup hidupnya bersama keluarganya yang susah. Dia menginginkan pernikahan yang akan memanjakan dirinya dengan harta berlimpah.


Namun jika papanya Iksan bangkrut, maka kesenangan yang di mimpikan Raisa selama ini akan menjadi mimpi semata.


''Apa yang ingin kamu lakukan?'' Setelah sekian lama, akhirnya Raisa angkat bicara membuat Iksan tersenyum tipis.


Dia tahu, Raisa tidak ingin hidup susah. Apa lagi Raisa sudah menceritakan impiannya, jika dia menikah dia ingin hidup bergelimang harta, dan Iksan menyanggupinya itu. Waktu perusahaan papanya belum bangkrut seperti ini.


''Aku akan menerima perjodohan ini, jika nanti perusahaan papa sudah kembali normal, aku akan bercerai dengan anak pak Raksa,'' ujar Iksan.

__ADS_1


''Kamu yakin dengan ucapan kamu itu?'' Raisa menyungkirkan senyuman sinisnya kepada Iksan, sesungguhnya dia tidak akan percaya mengenai ini.


''Aku yakin, Raisa. Aku hanya mencintai kamu. Aku menerima kamu apa adanya,'' jelas Iksan.


‘’Bagaiamana jika pak Raksa tidak mengizinkan kamu untuk bercerai dengan anaknya? Jika kamu bercerai, dia akan marah. Dan bisa jadi perusahaan papa kamu akan di buat bangkrut.''


''Itu tidak akan terjadi. Karna pak Raksa sudah sakit,'' ucap Iksan membuat Raisa diam.


Lalu wanita itu kembali mengajukan pertanyaan. ''Bagaiamana jika kamu akan jatuh cinta kepada wanita yang kamu nikahi?''


‘’Tidak akan, aku hanya mencintaimu. Aku berjanji dengan kamu, setelah perusahaan papa kembali, aku akan menikahi kamu. Itu janjiku ke kamu,'' ucap Iksan dengan sungguh-sungguh.


''Aku percaya. Kalau kamu tidak akan membuktikan ucapan kamu, aku sendiri yang akan turun tangan, merebut kamu.''


Mereka berdua bercakap-cakap sampai pulang.


Hanya saja, waktu mereka membuat kesepakatan. Iksan tidak mengatakan, jika pak Raksa menginginkan seorang cucu saat mereka menikah.


Saat itu, Iksan menyanggupinya, demi perusahaan papanya dan wanita yang dia cintai.


Pernikahannya dengan Gina saya itu di meriahkan begitu megah. Satu bulan selesai mereka menikah, Gina hamil anak pertama.


Gina melahirkan, maka lahirlah sosok anak laki-laki yang di berikan nama Boy. Entah mengapa, mengapa kehadiran Boy di tengah rumah tangganya, membuat Iksan tidak tega harus meninggalkan Gina.


Sudah tiga bulan kehadiran Boy di tengah-tengah kelurga mereka, Gina juga sudah tahu jika suaminya mempunyai seorang pacar dan suatu saat mereka akan bersama. Pak Raksa meninggal saat itu. Membuat iksan tidak tega meninggalkan Gina apa lagi mereka sudah di karunia seorang anak.


Hingga saat itu, Iksan memutuskan berhubungan gelap dengan Raisa, beberapa tahun mereka berhungan gelap, dari Boy kecil hingga anaknya itu beranjak dewasa. Raisa dengan Iksan menjalani hubungan gelap itu.


Raisa tidak mempedulikan janji mereka saya itu,yang penting Iksan selalu memberinya kemewahan dan waktu.


Hubungan gelap mereka seiring berjalanya waktu, membuat Raisa hamil. Yang mengharuskan Iksan menikahi Raisa dengan siri.


Hingga saat itu, Iksan kembali kerumahnya, Gina memberikan kabar bahagia jika dia juga tengah hamil. Membuat Iksan menjadi diam seribu bahasa.


Pip....


Suara klakson mobil dari belakang, membuat Iksan sadar dari lamunanya, dia langsung melajukan mobilnya untuk segera pulang.


Dia mengingat momen beberapa tahun yang lalu. Jujur saja, Iksan lebih mencintai Raisa ketimbang Gina, karna bagaimanapun Raisa adalah wanita yang sedari dulu bersmanya.


Namun, Gina adalah wanita yang berhasil memberikanya dua anak. Perempuan dan laki-laki.


Iksan sudah pulang dari rumah Gina, tidak ada yang membukakannya pintu, hingga akhirnya Iksan memutuskan untuk pulang.


Suara mesin mobil Iksan memasuki pekarangan rumah, membuat Raisa yang sedari tadi menunggu kedatangan suaminya langsung berdiri dari kursi sofa yang dia duduki.


__ADS_1


__ADS_2