ARDIAN

ARDIAN
Pengen lupa ingatan (Salsa)


__ADS_3

Izam hanya diam saja, sementara Ardian menyimak Rafael dan Fatur saling bertatapan tajam.


''Tanpa lu kasi tau, gue udah tau,'' ketus Rafael membuat Fatur menyungkirkan senyuman tipisnya.


''Nggak usah kegeeran kalau Salsa nangis karna lo. Karna gue udah tau pikiran lo sampai mana. Lo pasti mikir Salsa nangis karna lo!'' desis Fatur membuat Rafael menatap tajam cowok itu.


Karna apa yang di katakan Fatur barusan emang benar, jika dia emang berharap jika Salsa menangis karna ulahnya, ternyata perkiraanya salah.


Diamnya Rafael membuat Fatur tersenyum meremahkan kearah Rafael. Sementara Salsa hanya diam saja, karna Cika selalu menatapnya dengan tatapan intens, melarang gadis itu untuk angkat bicara.


Cika bernafas legah, karna preman pada masa kecil yaitu Fatur, tumbuh menjadi cowok tampan yang sepertinya akan melindungi Salsa.


Jika Fatur pada masa kecil membuat Salsa menangis dengan berbagai cara, kali ini cowok itu menjelma menjadi cowok yang akan melindungi gadis itu dari hinaan pedas Rafael untuk Salsa.


''Hmm..Dari pada ngundang keributan antara Fatur dan Rafael. Lebih baik kita pulang duluan,'' usul Izam kepada kedua sahabatnya.


''Ch, gue nggak akan berantem soal cewek, lo pegang kata-kata gue. Apa lagi kalau ceweknya itu adalah dia.'' Rafael menatap Salsa dengan tatapan remeh membuat hati gadis itu teriris, entah mengapa setiap kali cowok itu angkat bicara, dia selalu menggores luka pada hati Salsa.


Salsa yang sudah kebal dengan ucapan perasa Rafael, hanya tersenyum saja kearah cowok itu. ''Nggak boleh ngomong kayak gitu. Siapa tahu aja, hari ini aku yang ngejar kamu. Tapi besoknya kamu yang ngejar aku.'' Salsa masih tetap kepedean dengan ucapannya membuat Rafael tersenyum meremahkan kearah Salsa.


‘’Nggak akan.'' Rafael menekan setiap perkataanya membuat Izam langsung menarik tangan Rafael untuk segera menjauh dari sini, dia takut kika Fatur naik pitam, begitupun dengan Rafael yang akan mengundang kegaduhan antara Rafael dan Fatur di rumah sakit ini.


Ardian langsung menyusul Izam yang menarik Rafael, sehingga hanya menyisahkan Cika, Salsa dan Fatur saja.


Salsa memanyunkan bibirnya, menatap kepergian Rafael, lalu kemudian gadis itu menatap Fatur.


''Kak Fatur ngomong apa sih tadi. Kak Fatur ngaku kalau kak Fatur yang buat aku nangis. Padahal yang buat aku nangis itu Rafael, bukan kak Fatur.'' Salsa nampak kesal kepada Fatur. ''Kalau yang selalu buat aku nangis pas kecil itu emang kak Fatur, tapi sekarang beda lagi. Aku nangis karna cinta Rafael.''


Cika menghembuskan nafas berat, pikiran Salsa kadang dewas kadang seperti anak yang baru berusia 12 tahun.


Fatur menatap Salsa. ''Yang boleh buat lo nangis cuman gue.'' Fatur menekan setiap perkataanya membuat Salsa melototkan matanya.


''Maksud kamu?'' Salsa tidak paham dan ingin segera paham dengan ucapan Rafael barusan.


''Rafael nggak boleh buat lo nangis, kalau sampai gue tahu dia buat lo nangis, gue nggak akan segan-segan buat dia kembali mendekam di rumah sakit.'' Rafael menekan setiap perkataanya, jangan lupa sorot matanya yang serius membuat Salsa menggelengkan kepalanya.


''Apa-apaan sih kamu. Kak Fatur yang udah buat aku nangis dari kecil. Yang selalu buat aku diam saat kak Fatur buat aku nangis itu Rafael. Sekarang, giliran Rafael yang buat aku nangis.'' Gadis itu berucap lirih, sikap Rafael yang berbeda sekarang membuatnya merindukan Rafael kecil.


Salsa sangat ingat, dimana saat Fatur membuatnya menangis, disitulah Rafael datang seperti penyelamat, karna berhasil membuat Salsa diam saat gadis itu menangis karna Fatur.


Sekarang, Salsa menangis karna ulah Rafael, Padhal cowok itu selalu membuatnya tenang jika dia menangis. Sekarang sumber sedihnya adalah Rafael.


''Gue nggak akan biarin Rafael rebut hak gue dari kecil.'' Fatur menekan setiap perkataanya membuat Salsa semakin bingung, apa lagi cowok itu mengatakan hak Fatur sejak kecil.


Emang apa hak Fatur sejak mereka kecil?


‘’Hak kamu apa?'' tanya Salsa lagi.


''Hak aku buat kamu nangis. Itu bukan hak Rafael. Lo harus ingat itu.'' Fatur menekan setiap perkataanya lalu pergi meninggalkan Salsa dan Cika di koridor rumah sakit.


Fatur melenggang pergi, membuat Cika menjadi melongo sendiri dengan ucapan Fatur barusan.


Salsa menggelengkan kepalanya, sementara Cika tersenyum penuh arti. Sekarang Cika tahu, cowok itu ingin melindungi Salsa dari ucapan kecik dari Rafael yang sangat menyelikit itu.


''Ci....'' Salsa memanggil Cika membuat gadis itu meliriknya.


''Gue setuju sama Fatur. Jadi lo nggak usah protes.''


Cika langsung menarik tangan Salsa untuk segera ke ruangan Gerald menjenguk cowok itu.


‘’Bukanya jelasin secara detail ke aku, kok kamu malah bilang setuju. Emangnya kamu mau sahabat sekaligus sepupu kamu ini harus nangis karna Fatur lagi? Seharusnya kamu ngertiin aku, udah capek aku di buat nangis Fatur dari kecil. Dan sekarang cowok itu kembali dan mau buat aku nangis kayak dulu lagi? Aku nggak akan terima!'' protes Salsa seraya memanyunkan bibirnya membuat Cika mendengus kesal.


‘’Cara orang beda-beda mencintai orang yang dia cintai.''


Deg....


Jantung Salsa berdetak tidak karuan, saat Cika mengatakan hal tersebut.


''Jadi, maksud kamu, Kak Fatur suka sama aku? Gitu maksud kamu?'' Salsa menuntut jawaban dari Cika, membuat gadis itu menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


''Apa tindakan Fatur tadi masih kurang? Dia itu cinta sama lo, Sal. Cara dia nunjukin itu beda.'' Cika menjelaskannya kepada Salsa membuat gadis itu diam.


Apa iya, cowok yang selalu buat aku nangis dari kecil, suka sama aku? Masa iya sih kak Fatur suka sama aku? Kalau ucapan Cika sampai benar, kak Fatur suka sama aku. Aku bakalan kasi pelajaran buat kak Fatur, siapa suruh selalu buat aku nangis.


Salsa hanya membatin saja, seraya memikirkan apa yang akan dia lakukan kepada Fatur, jika terbukti cowok itu menyukai dirinya.


Hitung-hitung Salsa ingin membalas perbuatan Fatur saat mereka kecil, karna saat itu Salsa hanya bisa menangis tanpa ingin melawan, karna dia hanya gadis cengeng saat itu, tidak berani pada Fatur, karna cowok itu sangat menyeramkan.


Cika yang melihat Salsa senyum-senyum seperti orang gila kembali menggandeng tangan gadis itu. Mereka berdua kembali melanjutkan langkah kakinya untuk menuju ruangan Gerald di rawat.


''Ci,'' panggil Salsa.


''Hmmm.'' Cika hanya membalasnya dengan deheman saja.


‘’Menurut kamu, gantengan Rafael atau Fatur.''


Cika menghentikan langkah kakinya, baru kali ini Salsa berani membandingkan cowok yang dia sukai dengan cowok lain. Biasnya, gadis itu tidak mau, karna Rafael nggak ada sainganya untuk mendapat kan hatinya.


Namun kali ini, detik ini, gadis itu membandingkan Rafael dengan Fatur.


''Lo nggak salah'kan bandingin Rafael sama Fatur?'' Lebih dulu Cika memastikannya kepada Salsa, mungkin saja gadis itu sedang tremor.


Salsa menggeleng sebagai jawaban, membuat Cika diam sejenak, lalu kemudian dia menjawab pertanyaan dari Salsa.


''Kalau menurut gue, gantengan Fatur,'' jawab Cika, padahal gadis itu ingin mengatakan jika Fatur dan Rafael sama-sama ganteng, yang menjadi nilai plus Rafael, dia mampu memikat lawan bicaranya menggunakan tatapan matanya yang mengintimidasi lawan bicaranya.


Hanya saja, Cika mengurungkan niatnya itu, dia tidak mau jika Salsa semakin klepek-kelok dengan Rafael. Sih cowok mulut pedas sama gadis manapun itu, baik laki-laki maupun perempuan, sahabatnya saja sering Rafael siram dengan omongan cabenya itu.


‘’Seriusan?'' tanya Salsa memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Cika.


''Mata kamu kayaknya yang bermasalah deh, Ci. Aku lihat-lihat ya. Rafael itu jauh lebih unggul dari kak Fatur,'' kata Salsa seraya tersenyum tipis, lalu dia kembali melangkahkan kakinya berjalan, dan di dikuti oleh Cika.


''Mata lo yang bermasalah,'' balas Cika, entah mengapa jika menyangkut Rafael dan Salsa membuat gadis yang banyak diam itu, jadi banyak bicara, saking greget nya dengan sepupunya itu.


''Mata aku udah di penuhi sama mukanya, El,'' balas Salsa seraya tertawa kecil.


Salsa tertawa hambar dengan ucapan Cika barusan. ‘’Segitu buruknya aku dimata, El? Sampai-sampai kamu bisa tahu, kalau aku di mata Rafael itu buruk,'' lirih Salsa, meski kenyataanya seperti itu.


‘’Dari tindakan cowok aja kita sebagai perempuan udah tau, Sal. Emangnya lo pernah rasain sikap baik Rafael ke lo?'' tanya Cika dan dibalas gelengan kepala oleh Salsa, karna memang selama mereka beranjak dewasa, Rafael tidak pernah bersikap baik kepadanya, cowok itu selalu menjatuhkan harapanya itu. ''Udah tau Rafael nggak pernah bersikap baik sama lo. Tapi lo masing nungguin Feedback dari Rafael. Suka sama orang boleh, Sal. Asal jangan kayak gini juga. Nggak ada salahnya lo suka sama Rafael duluan, gue juga kayak gitu sama Gerald, gue yang suka Gerald duluan. Kita sama, Sal. Sama-sama suka cowok duluan. Bedanya gue sama lo itu, lo rela kejar Rafael yang jelas-jelas udah nolak lu berulang kali. Tapi tetap aja lo nungguin Feedback baik dari dia.'' Cika mengoceh panjang kali lebar, saking gregetnya dia dengan perasaan suka Salsa kepada Rafael.


Salsa menghentikan langkah kakinya, beberapa langkah lagi mereka sudah sampai di depan pintu ruangan Gerald.


Cika dan Salsa saling bertatapan, Cika bisa melihat mata Salsa memerah, sebentar lagi gadis itu akan menangis. Cika bicara tanpa menggunakan rem, mungkin saja ucapanya itu membuat hati Salsa terluka.


''Gue minta maaf, kalau ucapan gue barusan udah buat lu sakit hati. Gue peduli sama lo sebagai sepupu gue. Gue nggak terima aja, kalau Rafael lindas harga diri lo, Sal. Gue peduli sama lo.''


''Ci...'' Salsa langsung memeluk Cika, membuat Cika menahan air matanya, lalu dia membalas pelukan dari Salsa.


''Aku nggak tahu, kenapa perasaan aku udah stuk sama satu orang,'' kata Salsa masih setia memeluk Cika.


Ucapan Cika barusan tidak membuatnya sakit hati, malahan dia bahagia karna Cika peduli padanya, meski berulang kali membuat gadis itu greget dengannya.


''Perjalanan kita masih panjang, Sal. Rasanya nggak srek aja, kalau cinta lo stuk sama satu orang aja. Lo harus tahu, masih ada orang di luar sana yang suka dan cinta dengan lo dengan tulus. Orang yang nggak akan rendahin lo kayak Rafael. Emangnya lo mau, suatu saat lo sama Rafael, tapi dia nggak cinta sama lo sama sekali?'' tanya Cika lagi dan dibalas gelengan kepala oleh Salsa.


Karna Salsa bukan hanya menginginkan raganya Rafael, namun dia juga menginginkan cinta cowok itu.


''Lo harus ingat kata-kata gue, Sal. Cinta laki-laki itu harus besar dari cinta perempuan. Kalau laki-lakinya udah bilang nggak mau lagi, maka hubungan itu akan kandas. Beda lagi sama perempuan, mereka bakalan luluh lagi sama sih cowok dengan sikap manis yang dia tunjukin, dan dia bakalan berusaha dapat perempuan yang dia cintai lagi, agar mereka nggak pisah. Beda lagi ceritanya. Kalau cinta cewek lebih besar daripada cinta sih cowok.'' Cika kembali menasihati gadis yang ada dalam dekapanya itu. Sementara Salsa hanya menangis saja, dia mendengar dengan seksama ucapan Cika.


Apa yang di katakan Cika barusan emang benar, Salsa membenarkan ucapan gadis itu, jika Cika emang cewek bijak.


Salsa melapaskan pelukanya, lalu mengusap air matanya dengan kasar. Mulutnya kaku, ucapan Cika semuanya masuk kedalam relung hatinya.


Dia tidak tau harus seperti apa lagi, apakah melupakan cintanya atau lanjut?


''Semenjak aku kenal, El. Aku udah nggak tertarik sama cowok lain,'' kata gadis itu seraya tersenyum dengan sisa air matanya itu.


‘’Rafael udah buat aku jatuh cinta berulang kali, sampai-sampai aku harus introspeksi diri, apa kurangnya aku di mata El, sampai-sampai dia nolak aku segitunya.'' Salsa mengusap air matanya lagi, sebelum melanjutkan ucapanya. ''Kamu nyuruh aju lupain Rafael, setiap aku pulang kerumah, aku selalu ngomong di depan cermin, kalau aku harus lupain cinta aku ke Rafael. Sebelum tidur aku ngomong di depan cermin, bakalan lupain perasaan aku ke Rafael, Ci. Tapi saat aku bangun, aku lupa sama ucapan aku di depan cermin. Kalau aku udah punya niatan buat lupain perasaan aku ke Rafael, aku ke sekolah aja setiap lihat Rafael, seakan-akan aku lupa ingatan, dengan janji aku sama diri aku sendiri untuk lupain Rafael.''


Salsa mengusap air matanya, dia bercerita pada Cika, tanpa terasa air matanya jatuh di pelupuk matanya.

__ADS_1


‘’Setiap aku ketemu Rafael, aku selalu ingat Rafael kecil. Segitu cintanya aku sama Rafael, Ci.'' Salsa tidak kuasa menahan air matanya, gadis itu menghembuskan nafas berat. Di sertai dengan isakan tangisnya.


Cika menjadi ibah melihat Salsa seperti ini, lalu dia membawa gadis itu dalam pelukanya, sesama perempuan dia akan tahu bagaiamaan sakitnya.


Salsa menangis dalam pelukan Cika.


''Andai aja ada peri kayak di tv-tv, yang akan ngabulin permintaan seseorang. Aku bakalan minta untuk lupa ingatan saja. Aku pengen lupa ingatan aja, supaya aku bisa lupa Rafael, kalau cara yang lain nggak bisa. Mungkin dengan cara lupa ingatan akan bisa.''


Salsa terus-terusan mengeluarkan unek-uneknya, di sertai dengan isakan tangisnya di dalam pelukan Cika, membuat Cika mengusap punggung sahabatnya itu.


Setelah beberapa menit Salsa meredahkan tangisnya, dia berhenti menangis karna orang-orang yang lewat di koridor ini menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya.


Setelah itu, kedua gadis itu melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan Gerald, meraka berdua akan ke ruangan Gerald.


***


Malam haripun tiba, Salsa berjalan menuju balkon kamarnya, dia menatap bintang-bintang diatas langit, seraya tersenyum tipis.


Dia memikirkan setiap ucapan Cika yang keluar di rumah sakit tadi, perlu Salsa akui, jika ucapan Cika emang benar, tidak ada yang salah dari ucapan gadis itu.


‘’El,'' menolog Salsa seorang diri, matanya fokus menatap bintang-bintang diatas langit dari balkon kamarnya itu. ''Lihat aku dong, hehehe. Bilang sama aku, apa yang nggak kamu sukain dari aku. Sampai-sampai kamu nggak selera itu terima aku jadi pacar kamu. Iya, aku tahu kalau kamu itu paling anti sama cewek. Masa iya, aku teman masa kecil kamu ini, kamu nggak mau dekat juga. Aku tulus cinta sama kamu, El.'' Salsa terus-terusan bermonolog seorang diri, seraya menatap langit diatas sana.


''Andai peri itu benar-benar ada. Aku bakalan ikhlas minta sama peri, untuk lupa ingatan. Agar aku bisa lupain cinta aku ke kamu. Biar aku lupa, kalau aku secinta itu ke kamu, El. Aku suka kok kalau ngejar cinta kamu. Tapi aku kadang mikir juga, kamu pasti udah muak sama aku,'' lirih Salsa, air matanya jatuh di pelupuk matanya, namun dengan cepat Salsa mengusap air matanya. ''Ap kamu ikhlas El, kalau suatu saat aku lupa ingatan. Terus aku lupain kamu. Atau kamu malah makin senang karna nggak ada lagi perempuan yang keras kepala seperti aku. Nggak ada lagi perempuan yang buat kamu muak.''


Salsa tidak bisa menahan tangisnya, dia menangis di saksikan dengan bintang-bintang diatas langit sana.


''Peri, tolong datang. Kabulin permintaan aku. Mungkin ucapan Cika benar, kalau aku harusan kasihan sama El juga. Mungkin dia udah capek sama aku juga,'' menolog gadis itu lagi. ''El...Love You.'' Salsa tersenyum getir seraya menatap balkon kamar Rafael dari depan.


Karna dia emang tetangga dengan orang tua Rafael, bahkan balkon kamar gadis itu berhadapan dengan balkon kamar milik Rafael.


''Mungkin aku adalah perempuan yang benar-benar cinta sama kamu. Kamu nggak akan temui perempuan kayak aku heheh.'' Gadis Itu mengoceh seraya tertawa kecil, dia begitu kepedean dengan ucapanya sendiri. ''Mungkin juga, aku perempuan yang Paling cantik yang ngusik kehidupan kamu. Dan mungkin juga, aku perempuan yang tahan banting dengan ucapan kamu. Aku nggak lelah El. Buat cinta sama kamu. Karna segitu tulusnya aku cinta sama kamu. Saking tulusnya aku cinta kamu, sampai-sampai aku bodoh.''


Salsa menghembuskan nafas berat, andaikan saja Peri itu nyata, dia akan meminta pada peri untuk lupa ingatan saja.


Salsa melihat kedepan, sudah hampir satu bulan kedua orang tua Rafael belum juga balik. Dia sedang mengurus pekerjanya hingga menciptakan waktu selama ini.


Amanah kedua orang tua Rafael juga tidak dia terapkan, karna selama kedua orang tua Rafael, cowok itu pulang ke rumah hanya bisa di itung jari saja, saking jarangnya dia pulang kerumah, karna menurutnya markas adalah tempat ternyamannya bukan rumah.


Salsa ingin melangkah kakinya menuju tempat tidur. Namun langsung dia urungkan, karna mendengar suara deruman motor Rafael memasuki pekarangan rumah.


Salsa melihat Rafael dari atas balkon kamarnya, dia melihat cowok itu melepaskan helm fullfecnya. Melihat Rafael pulang saja membuat Salsa sudah sesenang ini.


Salsa tidak menyangka, karna mata Rafael langsung melihat kearah balkon kamarnya, membuat gadis itu kegirangan karna mata Rafael dengan matanya saling bertatapan.


Sudah di katakan jika ini bukan kata sengaja, karna mata mereka tidak akan bertemu kalau saja Rafael tidak melihat kearah balkon kamar Salsa.


Dengan senyuman melekat di wajah Salsa, gadis itu melambaikan tanganya kepada Rafael.


''El,'' panggil Salsa masih setia melambaikan tanganya pada Rafael, jangan lupa wajahnya di penuhi dengan senyuman kegirangan saat ini.


Mata keduanya masih saling beradu, Rafael bisa melihat kesenangan yang tercipta di wajah gadis itu. Hanya saja, Rafael masih mempertahankan wajah datarnya itu.


“Sial, gue ketahuan. Bisa-bisa dia semakin kegeeran.'' Rafael mengumpat, dia tidak tahu jika gadis itu berada di balkon kamarnya, andai Rafael tahu, dia tidak akan mendongak kearah balkon kamar gadis itu.


Salsa masih setia dengan senyumanya yang bahagia, meski Rafael tidak membalas senyuman gadis itu.


Rafael langsung masuk kedalam rumahnya, membuat Salsa memanyunkan bibirnya, karna Salsa langsung masuk kedalam rumahnya, membuat gadis itu lesuh seketika.


“Tapi seenggaknya, Rafael pulang,'' gumam gadis itu dengan senang.


Rafael langsung mendudukkan bokongnya diatas sofa, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa seraya memejamkan matanya.


Senyuman salsa yang begitu kegirangan terngiang-ngiang dalam benak Rafael. Dia tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. ''Dia senyum kegirangan, kayak nyambut suami pulang kerja,'' menolog gadis itu dengan senyuman kecilnya.


Rafael bangun dari sofa yang dia duduki, berjalan menaiki anak tangga untuk segera menuju kamarnya.


Rafael langsung menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur, seraya menatap langit-langit kamarnya.


Rafael mulai memejamkan matanya untuk segera tidur, smentara Salsa masih setia berada di balkon kamarnya, menunggu Rafael muncul di balkon kamarnya, karna dia tahu Rafael akan menyibakkan gorden kamarnya lebih dulu sebelum dia tidur. Lama menunggu membuat Salsa jadi lesu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2