
Nanda masih tidak bergeming mendengar ucapan cowok di depan nya. Dia pikir, Kesya balik kerumah nya. Namun ternyata dugaan nya itu salah ternyata.
Tapi pertanyaan dalam benak gadis itu, bagaiamana bisa Kesya tinggal di rumah cowok di depan nya? Sementara ia tahu jelas, jika semalam mereka bersamaan pulang dari pasar malam.
Apa cowok itu menjemput Kesya di pasar malam? Tapi kenapa harus membawa nya pulang dan sampai menginap.
Setahunya, Ardian tidak menyukai Kesya berdekatan dengan nya. Namun mengapa dia membawa Kesya kerumah nya?
"Hmmm." Nanda berdehem, meminimalisir degup jantung nya saat ini.
"Gue pikir, Kesya balik kerumah nya. Karna semalam dia emang nggak balik kerumah gue lagi," jelas Nanda dengan suara berat nya..
Dia cemburu? Entahlah, dia belum tahu.
Ardian tersenyum, lalu melepaskan cekalan tangannya dari gadis nya, "gue tahu, kalau lo cemburu," ujar cowok itu dengan santai, seringai tipis ia terbitkan membuat Nanda terpojok.
"Lo tenang aja, bukan gue yang ajak Kesya kerumah," jelas Ardian menatap kedepan. "Tapi.... Fatur yang bawa dia kerumah."
Deg...
Nanda langsung melotot kan matanya, nyaris bola matanya keluar. Saking syok nya mendengar ucapan Ardian barusan.
Ardian tidak mungkin bohong, 'kan? Sejak kapan Kesya dekat dengan Fatur? Setahu Nanda, cowok itu hanya menyukai sahabat masa kecilnya. Yaps, siapa lagi kalau bukan Salsa. Meski Fatur sudah tau gadis itu sudah milik Rafael, dia tetap menunggu Salsa.
Fatur ini, mencari sumber patah hati saja.
"Gue tahu lo kaget," kata Ardian lagi dengan santai, "gue juga kaget pas lihat Kesya semalam tinggal di rumah. Udah pasti dia pulang nya sama Fatur. Apa lagi semalam Fatur juga di pasar malam, gue juga lihat dia deketan sama Kesya," jelasnya lagi membuat Nanda masih diam.
Apa benar Kesya mulai menjauh?
Nanda menggelengkan kepala nya, tidak semudah itu Kesya akan menyerah. Apa lagi saat mengingat obrolan nya dengan Kesya di dapur malam itu. Gadis itu masih teguh pada pendiriannya untuk mendapatkan Ardian.
Meski dia sudah tahu, jika dirinya sudah berpacaran dengan cowok itu. Namun dengan terang-terangan Kesya menantang semuanya.
__ADS_1
Nanda masih ingat jelas, Kesya memberikan nya syarat untuk damai. Yaitu dia memutuskan Ardian untuk dirinya. Tentu saja Nanda menolak itu.
"Belum pasti juga, 'kan, kalau mereka dekat. Bisa aja Fatur nolongin Kesya," kata Nanda lagi. Dia masih tidak yakin, jika Fatur dan Kesya dekat. Dia tahu sendiri, obsesi gadis itu pada Ardian.
"Kita lihat aja nanti," kata Ardian acuh. "Lo duluan turun nya, bentar lagi jam masuk. Gue mau kumpul sama sahabat gue dulu."
"Ok."
Ardian kembli mencekal tangan Nanda, membuat gadis itu lama-lama menjadi emosi dengan Ardian.
"Apa lagi sih, Ar. Hobi banget deh cekal tangan gue," gemasnya membuat Ardian tertawa.
Melihat tawa Ardian membuat nya tertegun. Jarang-jarang cowok itu tersenyum sampai tertawa seperti ini.
"Gue cuman mau kasi lo ini." Ardian mengambil sesuatu di kursi belakang.
Dia memberikan paper bag pada gadis itu, lalu Nanda melihat isi di dalam nya.
"Jangan lupa di makan pas istirahat. Jangan keseringan makan di kantin. Makanan di kantin nggak terjamin higenis," ucapnya membuat Nanda tersenyum kecil.
"Iyain deh, yang nggak di izinin makan di kantin tiap hari," goda Nanda. Dia tahu, Ardian setiap ke sekolah membawa bekal, karna Tari melarang nya jajan di kantin sekolah. Wanita itu selalu membuat kan Ardian kotak bekal ke sekolah.
Namun, Ardian yang batu tetap saja makan di kantin. Tapi tidak sesering yang lain. Lebih tepatnya lagi, cowok itu ke kantin tiap hari bersama sahabat nya, dan membawa bekal buatan Tari di sana untuk di santap.
"Pasti lo tahu dari Izam, 'kan?" tebak Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.
"Gue duluan, lepasin tangan lo," kata Nanda lagi, Ardian melepaskan cekalan tangan nya agar gadis itu turun.
"Semangat belajar nya," kata Ardian.
"Lo juga." Lepas itu Nanda menutup pintu mobil.
Ardian menatap wajahnya di kaca mobil, dari rumah hingga sepanjang jalan, dia tidak berhenti untuk tersenyum.
__ADS_1
"Mabuk cinta ya?" menolog Ardian pada diri nya sendiri, lalu kemudian ia tertawa renyah.
Cowok itu lantas turun dari mobil, menghampiri ke empat sahabat nya...
"Mobil udah parkir dari tadi, baru nyamperin kita," kata Izam, dia tidak berani blak-blakan. Takut-takut jika cowok itu tiba-tiba menonjok wajah nya.
"Biasalah, cipika-cipiki dulu," celetuk Leo yang membuat Izam dan Ethan tertawa.
"Ho... Gue sampai nggak lihat Nanda turun dari mobil lo. Pantas aja lo lama nyamperin kita di sini," goda Ethan.
"Biasalah, nyari asupan gizi dulu," timpal Leo lagi dan dibalas pletakan oleh Ardian.
"Kayak lo nggak pernah aja," ujar Ardian membuat sahabat nya pada tertawa.
"Nasib LDR gimana, nggak bisa rasain cipika-cipiki, seperti yang Leo bilang tadi," sahut Rafael yang sedari tadi hanya menyimak saja.
Izam memutar bola matanya malas, "itu karna lo sia-siain Salsa pas di sini. Giliran udah LDR malah di cariin. Ngapain sih nggak pacaran dari dulu. Ngajak anak orang pacaran pas lagi ke Jepang. Kalau dari dulu lo nerima Salsa, pasti lo udah rasain apa yang di rasain sama Leo, Ardian sama nih Sethan satu." Jelas Izam panjang kali lebar. "Lo bisa rasain, gimana rasanya di sayang, di manja, di elus-elus, di cium."
"Nah, gue setuju sama omongan Izam barusan. Lo emang sahabat kita yang aneh, Raf," timpal Ethan.
"Ck. Emangnya lo pernah rasain apa yang lo sebutin tadi?" sinis Rafael pada Izam membuat Izam menghentakkan kakinya kesal. Memang sih dia belum pernah merasakan itu.
Leo dan Ethan tertawa keras, memang Izam se antusias itu Izam berkata. Padahal mereka saja belum pernah melihat Izam dekat dengan cewek lain, kecuali Greta. Itupun Greta selalu menolaknya dengan kasar, di tambah lagi mereka tahu sebuah kenyataan, jika Greta dan Boy akan segera menikah.
"Kita ke kelas." Ardian jalan lebih dulu. Memasang wajah datar, dengan tangan dia masukkan ke dalam saku celananya, membuat nya semakin keren saja.
Seperti biasa, jika mereka berjalan di Koridor sekolah. Maka pusat perhatian akan tertuju pada anak-anak ARIGEL. Paling mencolok diantara murid yang lain.
Ardian masih mendengar jelas, Ethan masih mengejek Izam sampai membuat cowok itu kesal.
"Makanya, cari cewek lain. Sekarang lo nggak bisa deketin Greta lagi. Kalau lo sampai nekat. Siap-siap lo di gibeng sama dokter Boy," kata Ethan sok menasehati sahabat nya yang di rundung patah hati.
"Lebih baik lo sama Cika. Kelihatan nya kalian cocok," celetuk Rafael.
__ADS_1