
Tubuh yang dulunya kekar, kini terbaring di brankar dengan tubuhnya yang sudah mengurus. Sudah sebulan lebih cowok itu menutup matanya, tidak ada tanda-tanda jika dia akan bangun.
"Jadi gimana?" tanya Raga papi Gerald, dia memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
Saat ini, mereka berdua tengah berada di ruangan Gerald. Jia sudah tahu akan hal ini, jadi tidak ada lagi yang Raga tutupi mengenai kondisi anak mereka.
Karna Jia sudah tahu pasti dari Boy waktu itu, karna dia tidak sengaja mendengar obrolan Nanda dan Boy waktu itu.
Jia tidak membalas ucapan Raga, matanya fokus menatap Gerald diatas brankar rumah sakit ini, sudah sebulan lebih anaknya setia menutup mata.
"Mami sayang 'kan dengan, Gerald?" tanya Raga lagi, sehingga Jia langsung melirik suaminya.
Wanita itu hanya mengangguk saja, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Jadi Mami mau?"
Jia kembali melirik suaminya, dapat Raga lihat, pelupuk mata istrinya sedang tertampung air mata yang siap untuk di keluarkan.
"Mami sayang Gerald, Pih." Suara serak itu langsung menangis, membuat Raga membawa istrinya dalam dekapan.
Dia mengusap rambut Jia, mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Kalau mami belum rela Gerald pergi, maka papi akan mempertahankan Gerald di rumah sakit ini. Tanpa melepaskan alat-alat di tubuh Gerald," kata Raga, membuat Jia semakin terisak.
Wanita itu melepaskan pelukanya, dengan langkah lunglai, wanita itu berjalan menghampiri brankar milik Gerald, di ikuti oleh Raga.
"Gerald," panggil Jia dengan suara bergetar. "Mami sayang sama kamu, mami nggak tahu, gimana mami kedepanya kalau mami ikhlasin kamu pergi." Jia menangis lagi.
Jia menggenggam erat tangan Gerald, tangan yang sudah kurus kering itu, mencium tangan Gerald seakan-akan tidak ingin melepaskannya.
Air mata wanita itu kembali luruh, ia mencium kening Gerald begitu lama, seakan-akan ciuman itu adalah senyuman terakhir untuk anaknya.
"Mama ikhalasin kamu untuk pergi, Rald. Mami ikhlas," bisik Jia di telinga Gerald, mulutnya bergetar mengucapkan kata tersebut, air mata terus-terusan turun.
Bisikan untuk Gerald, di dengar jelas Oleh Raga. Lalu dia mulai memeluk istrinya lagi.
***
Prang...
Gelas yang Nanda pegang jatuh begitu saja, membuat Boy langsung menghampiri Nanda di dapur. Pria itu tengah asik menonton tv, sehingga suara bising dari dapur, membuat nya melangkah cepat.
"Biar gue yang beresin," kata Boy, seraya memungut pecahan gelas dibawa lantai.
__ADS_1
Dia tidak bisa menyuruh bibi, karna sudah tengah malam begini.
"Gerald," gumam Nanda, entah mengapa pikirannya langsung terarah pada sosok sahabatnya, padahal baru saja dia pulang dari rumah sakit, melihat Gerald.
"Lo perlu istirahat, Ra," kata Boy, setelah dia berhasil membersihkan pecahan kaca.
"Bang," panggil Nanda. "Perasaan gue nggak enak bang. Gue rasa, Gerald--"
Boy langsung membawa Nanda dalam pelukanya.
"Jangan di lanjutkan," kata Boy membuat gadis dalam pelukanya menangis.
Nanda tidak tahu, tiba-tiba saja dia berpikir Gerald akan pergi jauh dari pandangnya, membuat nya semakin takut.
"Sembuhin Gerald, Bang," pintah Nanda dalam dekapan Boy.
Boy tidak membalas ucapan Nanda, dia hanya memeluk Nanda dengan erat. Membiarkan adiknya menangis dalam dekapanya.
Boy melepaskan pelukanya, lalu dia memegang kedua pundak adiknya, sehingga dia menatap dengan lekat wajah sang adik.
"Gimanapun Takdir Gerald. Lo harus ikhlas, Ra."
__ADS_1
malam.....Maaf ya, baru upadate lagi. Hp yang biasa tmpt aku nulis novel lagi rusak. Jdi Nulisnya tertunda. Kalian tenang aja, mulai sekarang author bakalan update lagi.
smgah kalian masih setia baca novel ini. Salam sayang dari aku 😘😘😘