ARDIAN

ARDIAN
Lo nggak capek tiduran terus?


__ADS_3

Membuka handel pintu, di ruangan yang di tempati Gina di rawat, gadis cantik itu dengan cepat memeluk Gina, saat senyuman mamanya menyambut kedatanganya bersama Boy.


''Ara nggak tau, kalau mama sakit keras,'' kata Nanda dengan bibir bergetar.


Gina menggeleng, seraya mengusap rambut milik putrinya itu.


''Mama nggak sakit keras kok, Ra. Kamu nggak lihat mama baik-baik aja?'' balas Gina, ''mungkin kamu pikir, mama sakit keras karna mama di rumah sakit. Sebenarnya sih, mama bisa aja di rawat di rumah. Tapi kamu tau, kalau kakak kamu, keras kepala,'' sindir Gina, seraya melirik Boy, sedangkan pria itu hanya mengedikkan kedua bahunya, lalu duduk di kursi dekat bansal Gina.


''Mama serius 'kan?'' tanya Nanda memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Gina, meski Nanda sedikit tidak percaya, karna dia melihat wajah mama nya itu pucat, di hiasi senyuman dan dibalut bedak.


Perawat yang menjaga Gina sejak Boy keluar, telah berlalu pergi, karna tugas mereka menjaga Gina sudah selesai saat ini.


''Ara bakalan tinggal di sini, nemenin mama,'' kata Nanda, seraya mendudukkan bokongnya diatas kursi.


''Iya, deh, Ra,'' kata Gina.


''Mau jagain mama atau Gerald?'' canda Boy membuat Nanda langsung melirik Boy.


''Astagah, gue sampai lupa, gue belum jengukin Gerald,'' ucap Nanda, seraya menepuk jidatnya itu. ''Ma, Ara mau jengukin Gerald dulu ya,'' pamit Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Gina.

__ADS_1


Nanda berlalu pergi, barulah Boy mendekati mamanya itu.


“Ma,” panggil Boy, sebelum dia bicara apa yang ingin dia sampaikan kepada mamanya itu.


“Udah nentuin?” tanya Gina dan dibalas anggukan mantap oleh Boy.


''Mama nggak masalah 'kan, sama siapapun Boy menikah?'' tanya Boy memastikan lagi, dia ingin mendengar jawaban dari mamanya lagi.


''Iya, Boy,'' jawab wanita itu.


Boy menggenggam tangan Gina. Membuat Gina penasaran dengan siapa anak sulungnya itu akan menikah. Karna Gina tau, anaknya itu tidak dekat dengan gadis manapun itu.


''Siapa?'' tanya Gina penasaran.


Sebelum melanjutkan ucapanya, dan menjawab pertanyaan Gina, lebih dulu Boy menarik nafasnya panjang.


''Boy akan menikah dengan Greta, teman sekolanya Ara, Ma.''


***

__ADS_1


Nanda langsung menghampiri kedua orang tua Gerald, kedua orang tua Gerald berbincang-bincang serius, melihat kedatangan Nanda membuat Raga dan Jia menghentikan obrolannya dengan dokter Ivan.


Dokter Ivan pamit meninggalkan mereka.


''Tante.'' Nanda langsung memeluk tubuh Jia, lalu Jia mengusap rambut Nanda.


''Gimana kondisi mama kamu? Tante baru tau tadi pagi, kalau mama kamu masuk rumah sakit,'' ucapa Jia, pagi tadi dia menjenguk Gina di ruanganyah, hanya sebentar saja.


‘’Mama baik-baik aja,'' jawab Nanda.


''Om, tante. Gimana kondisi Gerald?'' tanya Nanda, dia berharap ada berita yang menghangatkan hatinya.


Jia dan Raga saling berpandangan, ''Masih tetap sama,'' kini Raga yang menjawab pertanyaan Nanda, membuat gadis itu menghembuskan nafas berat.


Nanda pamit kepada Jia dan raga untuk masuk kedalam ruangan Gerald, dia merindukan sahabatnya itu.


Nanda menutup pintu ruangan Gerald, lalu kemudian melangkahkan kakinya mendekati bansal.


‘’Rald...Lo nggak capek tiduran terus?'' Pertanyaan itu keluar dari mulut Nanda, dia masih melihat mata indah itu tertutup dengan damai.

__ADS_1


__ADS_2