
Nanda melihat Ardian sedang menatapnya, dia tidak tahu apakah dirinya yang di tunggu atau yang lain. Nanda melanjutkan langkah kakinya.
''Tungguin siapa?'' tanya Nanda, gadis itu sudah mengganti pakainya, baju sekolahnya sudah dia simpan didalam tasnya.
‘’Nungguin cewek yang lagi nanya,'' ucap Ardian membuat Nanda menyungkirkan senyuman tipisnya.
‘’Kenapa lo ninggalin gue? Lo yang ngajak gue kerumah sakit, malah lo pergi duluan. Mana lo nitip gue sama sahabat-sahabat lo, kayak titipan aja gue. Andai gue tahu lo udah pergi duluan, gue pergi sama teman-teman gue,'' oceh Nanda membuat Ardian menyungkirkan senyuman tipisnya pada gadis itu.
''Yaudah, gue bakalan anter lu pulang nanti,'' ucap Ardian membuat Nanda menggeleng, ‘’kenapa?'' tanya Ardian melihat Nanda menggeleng.
''Gue nginap di rumah sakit,'' ucap Nanda dan dibalas anggukan kepala kecil oleh Ardian.
Mereka melangkahkan kakinya segera keruangan Gerald, sekali-kali Ardian melirik Nanda.
''Sesayang itu lu yah, sama Gerald,'' ucap Ardian tanpa melirik Nanda.
__ADS_1
Nanda tersenyum tipis. ''Gerald itu sahabat gue, dia hidup gue, Ar. Gue nggak tahu, kalau dia nggak bangun, mungkin gue nggak bisa jalanin hidup gue dengan penuh senyuman,'' ucap Nanda panjang kali lebar. ‘’Gerald itu segalanya buat gue, gue udah sayang sama dia, seperti gue sayang kakak gue, Boy.''
Ardian mengangguk paham, mereka berdua berjalan beriringan menuju ruangan Gerald. ''Terus, kenapa lo nolak cinta sahabat lo sendiri.'' Tidak sampai di situ, Ardian kembali bertanya kepada Nanda, membuat gadis menghentikan langkah kakinya.
Otomatis, Ardian juga menghentikan langkah kakinya, melirik Nanda yang sedang menatapnya. ''Lo nggak bakalan ngerti,'' ucap Nanda membuat Ardian tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.
‘’Seharusnya lo bangga di cintai begitu hebat sama Gerald,'' ucap Ardian. ''Gue emang bukan sahabat Gerald dari kecil, tapi gue bisa rasain apa yang di rasaian Gerald. Mencintai gadis yang menolaknya itu sakit,'' lanjut Ardian.
Nanda tidak membalas ucapan Ardian, dia kembali melanjutkan langkah kakinya di ikuti oleh Ardian.
Sementara Rafael dan Leo sedang berada di dalam, menjenguk Gerald. Karna kedua orang tua Gerald memberitahukan, gantian yang masuk kedalam ruangan Gerald.
''Nggak tahu, tapi kayaknya lagi nenangin diri deh,'' ucap Cika membuat Nanda menaikkan alisnya sebelah.
''Karna Leo, dia bilang kalau Pute itu bukan seleranya,'' sahut Salsa membuat Nanda menjadi diam.
__ADS_1
Gadis itu tidak melanjutkan pertanyaanya lagi.
''Kalau Rafael sama Leo udah keluar, giliran lo lagi sama Ardian, Nan,'' ucap Salsa dan dibalas gelengan kepala oleh Nanda.
''Gue mau sendiri, gue juga mau terakhir yang masuk, biar gue lama didalam nemenin, Gerald,'' ucap Nanda membuat Salsa mengangguk paham kepada gadis itu.
Ucapan Nanda membuat Ardian tersenyum sangat tipis. Gue harus terima ini, karna Nanda cuman milik Gerald.
Rafael dan Leo sudah keluar dari ruangan Gerald, kini giliran Salsa dan Cika yang masuk.
''Kamu nggak mau masuk dulu, Nan?'' tanya Salsa dan dibalas gelengan kepala oleh Nanda.
''Kalian masuk aja duluan,'' ucap Nanda dan akhirnya keduan temanya itu masuk kedalam ruangan milik Gerald.
Sebenarnya, Cika tidak bisa masuk kedalam namun Salsa memaksanya untuk masuk kedalam melihat keadaan Gerald.
__ADS_1