
Sedari tadi Ardian menatap ponselnya, berharap ada pesan atau telfon masuk, dari seseorang yang dia tunggu. Dia pikir, dengan bertemu Nanda kemarin akan membuat gadis itu mengabarinya. Namun, dugaanya salah. Karna sampai sekarang, ponsel gadis itu belum juga aktif. Chat WA masih ceklis 1.
Ardian bergegas cepat, mengambil jaket kebanggaan nya diatas tempat tidur, lalu cowok tampan itu memakainya lalu keluar kamar.
Ardian menuruni anak tangga, malam ini dia akan kerumah Nanda.
"Mau kemana, Ar?" tanya Tari, melihat putranya yang baru pulang dari tempat nongkrong, ingin pergi kembli.
Tari dan Ibnu sedang menonton TV, jam di dinding juga baru menujukan pukul 8 malam.
"Mau ke rumah Nanda, Ma," jawab Ardian, membawa langkah kakinya menuju Tari dan Ibnu.
Tari nampak gembira mendengar nama Nanda. "Kapan-kapan ajak Nanda kesini lagi, Ar. Mama kangen sama dia. Mama ajakin dia buat kue resep mama yang baru," ujar Tari antusias, sementara Ibnu hanya menggeleng kecil saja.
"Iya, Ma. Kalau kondisi Nanda udah baikan kayak dulu. Pasti Ardian ngajakin Nanda kesini lagi," kata Ardian seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Tari dan Ibnu paham, karna Ardian sudah menceritakan hubungan antara Gerald dan Nanda, jika mereka sahabat sejak kecil. Namun, Ardian tidak mengatakan jika salah satunya menyimpan rasa. Ardian menceritakan jika Nanda tidak baik-baik saja, ke sekolah saja dia jarang, semenjak sahabatnya itu masuk rumah sakit.
Ardian langsung melenggang pergi meninggalkan Ibnu dan Tari, dia langsung melajukan motornya menuju rumah Nanda.
Tidak butuh waktu lama, Ardian sudah sampai di depan gerbang rumah Nanda, yang menjulang tinggi.
Satpam membukakan Ardian pintu gerbang. Lalu motor milik Ardian langsung masuk ke pekarangan rumah Nanda.
Ardian melepaskan helm fullfecnya, lalu berjalan menuju pintu utama.
Ardian menekan bell rumah, tidak butuh waktu lama Bibi yang bekerja di rumah ini membuka pintu.
"Silahkan masuk." Bibi langsung mempersilahkan Ardian untuk masuk.
Bibi berjalan menuju kamar Nanda, menyampaikan jika salah satu temanya ada dibawa.
Tok... Tok... Tok.
"Masuk aja, Bi. Pintunya nggak kekunci," sahut Nanda dari dalam, dengan suara kecilnya.
__ADS_1
Bibi langsung masuk, setelah mendapatkan izin untuk masuk. Bibi melihat sekeliling kamar Nanda nampak berantakan, kamar yang dulunya selalu bersih, akhir-akhir ini sering berantakan, seiring berjalannya waktu.
Bibi tersenyum tipis, melihat Nanda duduk di sofa singel, matanya menatap keluar jendela kamar, dengan memeluk tubuhnya itu. Rambutnya yang lumayan panjang tidak teratur, seperti sudah seminggu tidak di sisir.
"Kenapa, Bi?" tanya Nanda, tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela.
"Teman non Nanda, ada dibawa," kata Bibi.
"Suruh masuk ke kamar," perintah Nanda tanpa berpikir dua kali. Lalu Bibi hanya mengangguk kecil lalu pamit keluar.
Saat keluar dari kamar Nanda, Bibi terkejut melihat Ardian di depan pintu kamar Nanda, dengan sorot matanya yang sangat tajam, di tambah lagi wajahnya yang datar tanpa senyuman.
Bibi langsung menyuruh Ardian masuk, sesuai perintah Nanda tadi. Bibi langsung pergi, dengan Ardian yang melangkah masuk kedalam kamar Nanda.
Ardian tertegun, melihat kamar Nanda yang lumayan berantakan. Boneka raksasa tergeletak dibawa lantai, dengan perut boneka yang sudah koyak.
Lalu netra tajam cowok itu melihat sosok gadis yang dia cari. Dia tengah duduk di sofa dengan menatap kosong kedepan, memeluk tubuhnya sendiri. Rambut gadis itu lumayan berantakan membuat Ardian seperti melihat Nanda versi lain. Karna biasanya, dia melihat rambut gadis itu tertata rapih.
Nanda belum menyadari kedatangan Ardian, sementara cowok itu melangkah mendekati Nanda.
"Apa kabar."
Dua kata yang Ardian ucapkan, mampu membuat Nanda tertegun. Jantungnya seakan ingin melompat, mendengar suara datar milik Ardian.
Dengan gerakan slow motion, Nanda melihat kearah Ardian. Menatap cowok jangkung itu dengan tatapan yang sulit dia tebak.
Dengan wajah datar, Ardian melihat bawah mata Nanda yang menghitam, seperti seseorang yang tidak pernah tidur.
Kondisi gadis itu jauh dari kata baik-baik saja. Dari mana saja dirinya, baru tahu akan hal ini? Jika Nanda memang se prihatin ini.
Ardian masih setia berdiri, menatap Nanda dengan tatapan datar. "Lo nyiksa diri lo sendiri," kata Ardian lagi, raut wajah cowok itu tetap datar, suaranya bahkan sangat dingin, membuat Nanda tersentak kaget, suara Ardian yang dingin melebihi dinginnya suara milik sahabatnya.
Nanda menggelengkan kepalanya pelan, entah mengapa dia membandingkan antara sahabat dan sosok cowok tampan di depannya.
Ardian menundukkan tubuhnya, agar Nanda tidak perlu mendongak kearah nya.
__ADS_1
Mata mereka berdua beradu. "Apa kabar?" tanya Ardian lagi. Meski dia sudah tahu jawabnya, dia tetap bertanya pada gadis di depannya.
Ardian bisa melihat dengan jelas, mata Nanda memerah menahan tangis.
"Jangan nyiksa diri lo sendiri. Gue--"
"Kabar gue nggak baik. Seperti yang lo lihat sekarang," potong Nanda dengan suara pelan. Untung saja Ardian mendengarnya jelas.
Ardian menggengam tangan Nanda, membuat gadis itu lagi-lagi tersentak kaget.
"Lo kesepian?"
Jleb...
Ucapan Ardian sukses membuat Nanda membatu, lalu gadis itu membuang wajahnya ke samping, tidak ingin menatap Ardian.
"Gue ada buat lo. Gue bakalan isi hari-hari lo mulai hari ini. Mungkin, akan beda dengan hari-hari yang Gerald isi buat lo." Ardian menjeda ucapannya, membuat Nanda melirik cowok itu dengan intens. "Gue bakalan buat lo nyaman. Itu janji gue buat lo." Ardian masih setia menggengam tangan Nanda.
"Kalau lo butuh sesuatu, hubungin gue. Kalau lo butuh teman curhat, teman cerita, telfon gue. Gue bakalan usahain selalu buat lo. Gue bakalan denger keluh kesah lo. Anggap gue teman cerita lo yang berstatus pacar," lanjut Ardian tanpa melepaskan tatapannya dari Nanda.
"Lo serius sama gue?" tanya Nanda, membuat Ardian mengangguk yakin.
"Gue serius sama lo. Terserah kalau lo nggak percaya sama keseriusan gue ke lo." Ardian melepaskan tangannya lalu berdiri tegak, membuat Nanda kembali mendongak kearah cowok itu, karna posisinya tidak dia ubah sama sekali.
Ardian mengacak rambut Nanda, membuat gadis itu kembali mematung.
"Udah berapa lo nggak keramas?" tanya Ardian seraya menaikkan alisnya sebelah, membuat cowok itu makin tampan di mata Nanda.
"Dua," jawab Nanda.
"Rambut lo juga berantakan, di kamar lo yang besar ini, nggak ada sisir?" ejek Ardian meski dengan raut wajahnya yang masih datar.
"Hmm!"
Seseorang berdehem, membuat Nanda dan Ardian melirik ke asal suara. Di pintu kamar ada sosok pria bernama Boy menatap Ardian dan nanda.
__ADS_1
"Awas aja lo macam-macam sama adik gue," kata Boy bersedekap dadah kearah Ardian.
"Namanya orang pacaran," jawab Ardian santai membuat Boy dan Nanda sontak melotot kan matanya.