
Pukul delapan malam...
Nanda dan Boy tengah bersantai di ruangan keluarga, mereka sedang bercerita mengenai kondisi mama Gina.
Malam ini Boy tidak kerumah sakit, dia sudah memutuskan dua perawat untuk menjaga sang mama, dan menitipkan ini semua pada dokter Ivan.
"Bang, besok lo sibuk?" tanya Nanda seraya memasukkan pisang goreng ke dalam mulutnya.
Boy tengah tengkurap dibawa karpet dengan laptop berlogo apel yang menemaninya.
"Kenapa emang?" tanya Boy tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Gue mau lo ke sekolah gue, bang. Mintain gue izin buat seminggu kedepan."
Boy berhenti mengetik di laptop, ia langsung melirik adiknya, "lo nggak mau ke sekolah. Kenapa, Ra? Lo masih nggak enak badan?"
Nanda langsung menggeleng, "gue cuman pengen di rumah sakit bareng mama seminggu ini, bang. Gue belum mau ke sekolah dulu. Cuman seminggu doang," kata gadis itu, seraya membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Seminggu nggak ke sekolah, nggak buat gue bodoh, bang," lanjut gadis itu.
"Ok, besok gue ke sekolah lo."
Nanda tersenyum senang, "makasih abang Boy. Gue sayang sama lo," katanya dengan tawa kecilnya.
Kondisi gadis itu sudah membaik, wajahnya sudah cerah, tidak pucat lagi.
"Gue ke kamar dulu, mau tidur. Jangan tidur larut malam, bang. Jaga kesehatan." Perhatianya pada sang kakak, gadis itu mencium pipi Boy sekilas lalu melenggang pergi meninggalkan Boy, yang masih berkutat dengan laptopnya.
"Iya, Ra." Boy tersenyum melihat punggung Nanda yang semakin menjauh.
Boy kembali melanjutkan aktifitasnya, sejam lagi dia akan mengakhiri pekerjaan nya untuk segera tidur.
Nanda membuka pintu kamar, merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia melirik ponselnya diatas nakas, sudah tiga hari ponsel miliknya mati.
Pasti ada banyak pesan yang akan dia temui di ponselnya, terutama pesan dari para teman-temanya.
Tangan gadis itu bergerak mengambil ponselnya. Lalu kemudian dia menyalakan benda tersebut.
__ADS_1
Berbagai macam pesan masuk dari ponsel Nanda, gadis itu melihat pesan yang di kirim dari Ardian, Puri, Cika dan Salsa.
Sambil rebahan gadis itu membuka WA, group kelas yang begitu ribut hingga ada ribuan pesan.
Lalu mata Nanda membaca pesan yang di kirim Cika siang tadi, lalu mata gadis itu melotot saat membaca pesan dari Cika.
Tak lupa pula, Cika mengirim kan foto mereka di bandara. Nanda membaca pesan dari Cika jika Salsa akan pindah ke Jepang dan siang tadi gadis itu berangkat.
"Ya ampun," suara gadis itu cemas.
Nanda menyesal tidak mengaktifkan ponsel nya, hingga berita sepenting ini tidak ia tahu.
Meski baru beberapa bulan berteman, mereka adalah teman baik menurut gadis itu. Apa lagi Salsa yang lemah lembut membuat gadis itu merasa bersalah, karna tidak sempat mengantar Salsa ke bandara.
"Maafin gue, Sal." Suara gadis itu tersirat penyesalan.
Tangan lentik Nanda begerak mengirim pesan untuk teman-temanya, tak lupa pula ia mengucapkan kata maaf.
Lepas mengirim pesan, gadis itu memejamkan matanya.
Ting...
"Pulang sekolah gue sama yang lain ke rumah lo."
Itu adalah pesan dari Cika, Nanda langsung membalas pesan teman nya. Rasa kantuk mulai mengerang nya lalu ia mulai tertidur.
Nafasnya berhembus beraturan, tidur nya malam ini akan nyenyak, karna ia begitu letih. Rasa letih yang membuat nya mengantuk.
***
Cika dan Puri tengah menunggu Pute di perkiraan sekolah, karna Gadis itu belum memunculkan batang hidung nya.
"Ci," panggil Puri.
"Apa?" tanya gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.
"Jangan baca buku mulu. Lo harus lihat itu." Puri dengan kesal merampas buku sahabatnya.
__ADS_1
"Apa sih, Ri."
"Tuh." Tunjuk Puri menggunakan dagunya, sehingga Cika langsung melirik kearah yang di tunjuk Puri.
Cika menaikkan alisnya sebelah, saat melihat Nita menarik tangan Leo, Cika yakin mereka sedang berjalan menuju roftop.
"Kesal banget gue sama anak ARIGEL. Mereka pada hobi nyakitin hati cewek. Leo juga nggak tahu banget jaga perasaan Pute. Emang mereka nggak pacaran, tapi setidaknya jangan ngebet teman sekelasnya juga," dumel Puri. "Diantara anak ARIGEL, cuman Gerald sama Ardian doang yang normal soal perasaan. Yang lainya mines."
Ocehan Puri seperti rel kereta api di telinga Cika.
"Mereka deket?" tanya Cika entah pada siapa. Punggung Leo dan Nita sudah hilang.
Puri melirik Cika. "Nggak tahu, baru kali ini gue lihat mereka deket. Lebih tepatnya lagi Nita yang narik-narik Leo," jelasnya pada Cika. "Eh, bentar. Bukannya Nita sukan nya sama Gerald?"
Cika dan Puri saling bertatapan.
"Lo 'kan tahu, Leo playboy," kata Cika santai lalu mengambil bukunya dari tangan Puri. "Jadi nggak usah kaget."
"Gue tahu kalau itu. Tapi selama ini, mereka nggak deket. Gue juga nggak pernah lihat Leo godain Nita," ujar Puri. "Apa Nita yang godain Leo?" tebaknya.
"Bodoh amat," balas Cika. Gadis itu melirik jam di pergelangan tangannya, sudah sepuluh menit mereka di sini, Pute tak kunjung muncul, "lama banget tuh anak," gerutunya.
"Cika, ihk. Kita nggak boleh bodoh amat. Lo lupa, kalau Leo sama Pute itu lagi deket. Emangnya lo mau sahabat kita di php in sama anak ARIGEL lagi? Cukup gue doang yang di php in. Kalau Pute jangan, gue nggak rela," cerocos Puri panjang kali lebar.
"Kita harus gimana?" tanya balik Cika. "Gue yakin sama Pute, kalau dia nggak akan bodoh soal beginian," jelas Cika lagi. "Yang jelas, Pute lebih berotak soal perasaan."
Puri menghentakkan kakinya, "Cika... Lo nggak tahu gimana tololnya orang kalau udah jatuh cinta. Lo sih nggak tahu rasanya jatuh cinta," gemasnya pada Cika.
Ia tahu sahabatnya itu terakhir pacaran saat SMP. Dan sampai sekarang Cika tidak pernah pacaran lagi. Tapi, gadis itu tengan menyukai seseorang, siapa lagi kalau bukan Gerald. Tapi gadis itu masih bersikap bodo amat, dengan perasaannya.
"Makanya, kalau jatuh cinta otaknya dibawa juga." Cika memutar bola matanya malas.
"Pokoknya kita harus kasi tahu Pute soal ini." Puri begitu menggebu-gebu ingin mengatakan hal ini pada Pute, jika ia melihat Nita sih OSIS itu menarik Leo entah kemana, namun Cika tahu jika mereka tengah ke rooftop.
Cika menutup bukunya, saat melihat mobil Pute sudah muncul, bertepatan dengan bell sekolah yang bunyi.
Seperti biasa, gadis itu tampil cantik dengan rambut yang ia gerai. Pute tersenyum kearah kedua sahabatnya lalu berjalan menghampiri nya.
__ADS_1
"Udah lama nunggunya?" tanya Pute dengan tawa kecilnya menghampiri sahabatnya.
"Lama lah, Put. Sampai-sampai Cika namatin satu buku pelajaran gara-gara nungguin lo." Seloroh nya. "Kaki gue juga pegel tau nggak."