ARDIAN

ARDIAN
Rencana liburan


__ADS_3

Kelima cowok itu langsung menghempaskan bokong mereka diatas kursi masing-masing.


Kursi di depan, tempat Leo dan Gerald duduk sudah di isi oleh Cakra ketua kelas mereka, dia duduk sendiri.


Sementara kursi paling belakang ada anak ARIGEL membentuk kursi lingkaran.


Guru mau menegur? Percuma saja dia menegur, karna kelima anak-anak itu tidak akan mendengar, 'kan nya.


"Guru nggak rapat lagi, 'kan? Percuma doang kalau kita ke sekolah, tapi nggak belajar," celetuk Izam, yang ingin segera naik kelas. Dia sudah bosan ketinggalan kelas, karna mengikuti para sahabat nya.


Sahabat nya juga sudah bertekad, untuk naik kelas tahun ini. Kata ketinggalan kelas akan mereka singkirkan, karna mengikuti sosok Ardian yang mempunyai niat untuk naik kelas, dia sudah tidak ingin ketinggalan kelas lagi.


Mungkin alasannya karna orang tuanya. Atau karna dia ingin lulus bersamaan dengan Nanda?


"Sejak kapan lo nantiin buat naik kelas, Zam," sosor Ethan.


"Kalau ketua kita udah bertekad buat naik kelas. Kita anggotanya juga gitu," balas Izam, sementara Ethan hanya manggut-manggut.


"Gue sampai lupa," ucapnya polos sembari cengengesan.


"Siapa tau aja lo mau ketinggalan sendiri," balas Izam lagi.


"Nggak lah, Zam. Gue yakin nih, emak lo nggak bakalan layangin lo sapu lagi, kalau lo udah naik kelas." Ethan terkekeh.


"Kalau kita udah UAS, kita ngadain libur yuk," timpal Leo membuat Ardian dan Rafael yang sedari tadi diam ikut angkat bicara.


"Boleh tuh," kata Rafael menyetujui saran dari Leo.


"Gimana kalau kita liburan di luar negeri aja," saran Ethan menggebu-gebu, "kita liburan di Belanda. Pasti seruh banget."


Pletak...


Izam langsung menjitak kening Ethan, membuat sang empuh meringis.


"Lo pikir gue kaya raya macam kalian?" dengus Izam, "gue nggak setuju sama saran nih Sethan satu. Lo pikir emak gue kerja kantoran."


"Emak lo emang nggak kerja kantoran, Zam. Tapi sawah emak lo banyak tuh. Empang ikan lo juga banyak, perkebunan emak lo juga ber hektar-hektar. Hasil kebun lo juga kalau panen ngalahin gaji karyawan kantor kali, Zam," celetuk Ethan.


Orang tua Izam adalah petani sukses, dia juga mempunyai empang ikan, setengah tahun baru panen, hasil nya juga tidak main-main. Ada orang juga bekerja di ladang, sawah, tegalan dan kebun milik orang tua Izam.

__ADS_1


Bisa di bayangkan, jika orang tua Izam panen jika berhasil, dia akan menghasilkan banyak uang.


"Ya terus, maksud lo apa?" tanya Izam lagi.


"Lo tinggal jual sawah lo satu, empang lo satu sama tanah perumahan. Itu udah cukup buat jalan-jalan ke Belanda." Rafael menimpali dengan santai tanpa sinis, membuat Izam meringis.


"Nah, kata Rafael benar tuh," kata Leo.


"Enak banget kalau ngomong. Emak gue lebih sayang sawah dari pada gue."


Mereka menertawai Izam.


"Kita liburanĀ  di tempat dekat-dekat saja," kata Ardian setelah para sahabat nya meredahkan tawanya itu.


"Gimana kalau Bali?" saran Izam.


"Lombok aja lah," ini Ethan.


"Gimana kalau liburan di bromo," kata Leo dengan sumringah.


"Ch! Nggak ada yang liburan di bromo. Lo nggak tahu, gunung Bromo sekarang habis kebakaran. Gara-gara foto prewedding," kata Rafael kesal, mengingat jelas berita itu lewat di akun sosmednya, menjadi viral bahkan menjadi bahan pembicaraan netizen Indonesia.


"Namanya juga musibah, nggak ada yang tahu," Leo membela sedikit. "Gue nggak tahu soal ini, gue nggak aktif di sosmed."


"Iya, karna lu bucin di game bareng Pute," cibir Izam.


"Tunggu dulu, Le. Kemarin Nita ngomong apa sama lo. Kita penasaran nih," kata Izam bertopng dagu, dia penasaran apa yang Nita obrolkan dengan Leo.


"Masalah bisnis orang tua. Kalian, 'kan tahu. Orang tue gue kerja sama orang tua Nita," jawab Leo berusaha santai. Dia tidak akan membagi hal ini pada temannya, karna menurut nya tidak penting. Apa lagi mereka tahu, jika ia dan Pute sangat dekat. Leo sudah memantapkan hatinya untuk gadis bernama Pute.


"Apa urusannya sama lo berdua?" tanya Ethan penasaran, membuat Leo harus berpikir alasan dulu.


Sial sekali bukan, punya sahabat cerewet seperti Izam dan Ethan.


"Pada kepo sama urusan orang aja lo," sinis Rafael.


"Iya nih, nggak penting juga," kata Leo santai, dia bersyukur karna mulut Rafael mampu membuat Izam dan Ethan diam, dan mengumpat dalam hati. "Lebih baik kita bahas, liburan kita habis UAS. Minggu depan, 'kan, kita udah UAS. Kita tentuin dari sekarang mau kemana," kata Leo membuat mereka kembali fokus pada obrolan mereka tadi.


"Bali aja, gimana?" tanya Ardian menatap satu persatu sahabat nya.

__ADS_1


"SETUJU!" ucap mereka serentak.


Yah, habis UAS mereka akan berencana liburan ke BALI.


***


Greta menghembuskan nafas berat, sudah satu jam lebih kepergian sang mama keluar negeri, untuk melakukan terapi.


"Makanannya di makan, Gre. Entar makanannya dingin," kata Boy dengan lembut.


Mereka saat ini berada di kantin rumah sakit.


Sebenarnya, Greta meminta pada Boy untuk mengikuti sang mama. Namun Boy melarang nya, karna Greta sedang sekolah, di tambah lagi minggu depan dia sudah UAS. Bukan waktu sebentar mama Greta berobat diluar negeri.


Greta mengaduk bakso nya, sudah 10 menit gadis itu mengaduk makannya.


"Kamu fokus buat UAS minggu depan aja. Kalau kondisi mama udah baikan, kita bakalan nikah. Habis itu, kita jenguk mama kamu. Gimana?" Boy berkata begitu santai membuat Greta meremang.


Gadis itu sudah setuju dengan permintaan Gina. Jika mereka akan menikah setelah dirinya habis UAS.


"Gimana, Greta?" tanya Boy karna gadis itu masih diam.


"Baik. Saya mau." Greta memaksakan dirinya tersenyum.


"Yaudah makan makanan nya," kata Boy lagi, lalu kemudian gadis itu mengangguk.


Greta mulai memasukkan bakso milik nya kedalam mulut. Memaksa dirinya untuk makan. Karna kasihan Boy, pria itu tidak makan jika dirinya tidak makan juga.


Keduanya menikmati makanan nya. Banyak pasang mata menatap mereka di kantin ini. Mereka iri? Tentu saja.


Apa lagi tangan seseorang sedari tadi terkepal hebat, saat melihat Boy perhatian pada gadis di depan nya.


Tidak jauh dari tempat Greta dan Boy duduk, ada Dokter Sasa yang mengepalkan tangan nya, sehingga urat-urat tangannya terlihat.


"Kenapa gue bisa kalah sama bocah SMA?" wanita itu menghembuskan nafas berat. "Entah apa kurangnya gue di mata dokter Boy. Kenapa dia lebih milih bocah SMA."


Matanya masih setia menatap Greta dan Boy yang menikmati makanan nya. Sasa lihat, Boy berulang kali mencuri pandang kearah Greta yang tengah makan.


Itu sudah jadi bukti, jika Boy mencintai gadis itu. Suatu kenyataan yang sulit di Terima.

__ADS_1


__ADS_2