ARDIAN

ARDIAN
Akan menyingkirkan


__ADS_3

Hening


Tidak ada jawaban dari seberang Telfon, membuat Nanda melihat ponselnya, jaringan baik-baik saja, namun mengapa tidak ada jawaban dari papahnya.


''Pah,'' panggil Nanda, membuat Iksan tersentak kaget. Dia sibuk dengan pikirnya, saat dia kerumah Gina tadi, dia melihat wanita itu baik-baik saja.


''Mamah sakit apa?'' tanya Iksan, meski rasa khawatirnya kepada Gina hanya secuil saja.


Gina jarang sakit, jika mendengar wanita itu sakit merupakan hal yang sangat langkah. Bagaimanapun, Gina masih istrinya. Mereka berdua masih mempunyai ikatan suami istri, karna belum resmi bercerai.


Dia melakukan kebohongan kepada putrinya, putihnya berpikir jika dia masih berada di luar kota. Padahal, dia juga di Jakarta di rumah Raisa, istri barunya.


''Hanya sakit kepala,'' jawab Nanda, seraya berjalan ke balkon kamar miliknya. ''Mungkin mamah rindu sama papah, udah lama papah nggak pulang. Papah belum ke Jakarta melihat rumah baru kita.''


''Pah, papah pulang, ya. Nanda kangen sama papah,'' lanjut gadis itu, membuat Iksan mendongakkan kepalanya.


“Andai kamu tahu, nak.”


Percakapan mereka kembali hening, membuat Nanda menjadi bingung dengan papahnya sendiri aaat ini.

__ADS_1


''Papah kenapa hanya diam? Papah nggak mau pulang. Pah...suruh sekretaris papah saja yang menghandel pekerjaan papah di situ. Biar papah bisa pusing,'' lanjut Nanda dengan penuh harap kepada Iksan.


''Besok papah akan pulang,'' ucap Iksan, setelah beberapa menit berpikir.


Nanda tersenyum bahagia. Dia tidak akan memberitahukan mengenai kepulangan Iksan kepada mamah dan kakaknya, dia ingin membuat kejutan, dengan kedatangan Iksan secara tiba-tiba di rumah.


Nanda dan Iksan mengakhiri panggilan teleponnya.


Nanda pikir, Iksan masih berada di luar kota. Padahal, papahnya sedang di Jakarta di rumah istri barunya.


''Mas,'' panggil Raisa memeluk suaminya dari belakang. ''Besok kamu ingin kerumah istri pertama mu itu?''


Wajah Raisa nampak murung, mendengar jawaban dari suaminya. ''Besok kita ingin ke sekolah Kesya, kamu, kan tau. Jika dia sedang panggilan orang tua.'' Raisa memperingati suaminya dengan lembut.


Iksan menarik nafasnya dalam. ''Raisa, kalaupun aku tidak pulang kerumah istri pertama ku, aku juga tidak akan menghadiri panggilan itu. Kamu, kan, tau kalau Kesya dan anak ku Nanda satu sekolah. Apa jadinya jika anak ku tau kalau aku ke sekolahnya menghadiri surat panggilan orang tua dari Kesya.'' Iksan menjelaskan panjang kali lebar.


''Sampai kapan kamu ingin menutupi ini dari putrimu, Mas? Suatu saat dia akan tau tentang hubungan kita,'' jelas Raisa membuat Iksan berulang kali meraup wajahnya dengan kasar.


''Aku tau, Raisa. Aku butuh mental dan kekuatan yang besar untuk mengatakan ini kepada putriku. Aku tidak ingin dia membenciku, seperti putraku membenci diriku,'' ucapnya dengan senduh.

__ADS_1


Dia mengingat, bagaimana wajah kebencian Boy kepada dirinya.


Iksan pergi meninggalkan Raisa di ruangan tamu.


''Mas,'' panggil Raisa.


''Aku tidak akan membiarkan Gina merebut mu kembali, Mas. Cukup saat itu pasrah dan kalah darinya. Dan sekarang....aku tidak akan membiarkan dia kembali menang. Putriku Kesya juga membutuhkan mu, Mas. Nanda dan Boy waktunya sudah selesai mendapatkan perhatian darimu,'' gumam Raisa.


Besok, dia akan ke sekolah Kesya tanpa Iksan. Karna Iksan akan kerumah Gina, atas permintaan putri kesayanganya itu. Raisa yakin, suatu saat putrinya Iksan akan menyuruh Iksan meninggalkan dirinya.


Maka, sebelum itu terjadi, Raisa akan lebih dulu menyingkirkan keluarga Gina dari suaminya.


***


Oh iya, mau bilang. Jangan lupa mampir di novel teman aku, ceritanya bagus


Cinta&Dendam


__ADS_1


__ADS_2