ARDIAN

ARDIAN
Cewek lampu merah


__ADS_3

Ardian menuruni anak tangga, dengan tas sekolah yang dia sampirkan di bahunya, cowok itu sudah rapih dan wangi siap untuk ke sekolah.


Tari tersenyum melihat kedatangan anak semata wayangnya di meja makan. ''Yang di tunggu-tunggu akhirnya datang,'' celetuk Tari, seraya mengambilkan makanan untuk anak dan suaminya.


Mereka bertiga makan dengan khidmat di meja makan, sekali-kali Tari melirik Ardian yang nampak murung.


''Ar, kamu kenapa? Mama lihat, kamu seperti punya banyak masalah,'' tanya Tari, sehingga Ibnu melirik kearah putranya itu.


Ardian lebih dulu menyelesaikan makanya, sebelum menjawab pertanyaan dari mamanya itu.


Jujur saja, Ardian belum memberitahukan mamanya mengenai Gerald yang sudah seminggu lebih, di rawat di rumah sakit.


''Gerald kecelakaan,'' ucap Ardian membuat pergerakan tangan Ibnu yang mengunyah makananya terhenti.


''Kenapa bisa?'' panik Tari, sebagai orang tua Ardian yang sudah akrab dengan sahabat anaknya.

__ADS_1


Ardian menarik nafanya panjang, sebelum menceritakan kejadiannya pada kedua orang tuanya. ‘’Gerald nabrak mobil, Ma.'' Kurang lebih, itu yang Ardian ketahui mengenai penyebab kecelakaan sahabatnya itu. ‘’Udah seminggu lebih Gerald kecelakaan, udah seminggu lebih juga Gerald di rumah sakit dan di nyatakan koma,'' lanjut Ardian membuat Tari menutup mulutnya, dia terkejut mengenai musibah yang menimpah Gerald.


Tari mengenal betul Gerald, sosok sahabat Ardian yang dinginya kelewatan.


''Kenapa kamu baru ngomong ini, Ar. Ini Gerald udah seminggu lebih kecelakaan, tapi kamu ngomong baru sekarang,'' kilah Tari yang hanya dibalas ucapan maaf oleh Ardian saja.


‘’Gerald di rawat di rumah sakit mana?'' tanya Ibnu, dia dan Tari akan menjenguk Gerald nanti.


Ardian mulai memberitahukan rumah sakit, tempat Gerald di rawat. Lalu kemudian cowok itu pamit pada kedua orang tuanya untuk segera ke sekolah.


‘’Tindik yang selalu kamu pake mana?'' tanya Ibnu, saat Ardian mencium punggung tanganya, tanpa sengaja netra matanya melihat telinga Ardian tanpa menggunakan tindik, yang selalu anak itu gunakan.


''Lagi malas pakenya,'' jawab Ardian sekenanya lalu melenggang pergi meninggalkan kedua orang tuanya, setelah dia pamit untuk ke sekolah.


Ibnu dan Iksan saling bertatapan.

__ADS_1


''Nanti aja mikirnya, sekarang kita harus kerumah sakit,'' ajak Tari seraya berdiri dari kursi, Tari menaiki anak tangga untuk segera berganti pakaian.


Ardian menyalakan mesin mobilnya, untuk segera menuju sekolah. Pagi ini, dia berinisiatif ke sekolah tidak menggunakan mobil, karna dia malas.


Sepanjang perjalanan, Ardian selalu saja menghembuskan nafas berat. Entahlah, mengapa pikiranya selalu terarah pada satu gadis, yaitu Nanda.


Mulutnya mengatakan dia ikhlas, jika Nanda bersama dengan Nanda. Namun hatinya? Jangan tanyakan lagi, dia berusaha menyamakan antara hati dan mulutnya, namun tetap saja jawabanya beda.


''****!'' Ardian memukul stir mobilnya, mobil yang dia kenakan berjalan lambat, karna lampu lalu lintas brubah merah.


Ardian berulang kali mengumpat, karna jalan begitu macet. Andai saja dia menggunakan motor, dia bisa menyelip para pengendara lainya. Penyesalan selalu datang belakangan.


Ardian melihat kesamping kirinya, guna menghilangkan suntuknya.


Deg

__ADS_1


Ardian melihat Nanda didalam mobil, mobil yang mengantar gadis itu berdampingan dengan mobil milik Ardian, gadis itu mengunyah permen karet dengan tatapan yang sulit dia tebak.


Sudah berulang kali Ardian bertemu Nanda di lampu merah, namun kali ini dia tidak menggunakan mobil. ‘’Cewek lampu merah,'' suara Ardian kali ini nampak lirih, dia menjuluki gadis itu gadis lampu merah saat itu.


__ADS_2