
Nanda berlari di koridor rumah sakit, malam ini mereka tidak jadi ke pasar malam, karna mendengar berita Gerald.
Nanda melihat pria dan wanita yang dia kenali, yaitu mami dan papi nya Gerald. Teelihat papi Gerald mengusap rambut istirnya bernama Jia, agar tidak terus-terusan menangis.
''Tante, Jia!'' panggil ku menghampirinya, sehingga wanita itu menatap ku, lalu gadis itu memeluk tubuh milik Jia, sehingga mereka berdua bepelukan.
‘’Tante, Gerald kenapa bisa kecelakaan?'' tanya Nanda, air matanya turun membasahi kedua pipinya.
Ardian bisa melihat keakraban yang tercipta, antara Nanda dan juga maminya Gerald.
‘’Tante juga nggak tahu, tante syok mendengar berita ini.'' Curhat Jia, seraya mengusap air matanya yang begitu deras, keluar dari pelupuk matanya.
''Sampi sekarang, Dokter yang nanganin Gerald belum keluar. Tante takut, kalau terjadi hal-hal buruk kepada Gerald,'' tangis Jia membuat tubuh Nanda melemas.
Bahakan, berita ini lebih membuatnya terpuruk, ketimbang melihat papanya bergandengan tangan dengan wanita lain.
Air mata gadis itu luruh, membasahi kedua pipinya yang cantik itu. Sungguh, kecelakaan Gerald membuatnya susah untuk bernafas.
Raga kembali memeluk istirnya, membawanya kedalam dekapanya, agar istrinya itu sedikit tenang.
''Pi...'' Jia tidak bisa menahan diri agar tidak menangis. Anaknya di dalam sedang berjuang, antara hidup dan mati.
Raga mendongakkan kepalanya, berusaha menahan gejolak hatinya. Dia tidak boleh lemah di depan istrinya, seharusnya dia yang memberikan semangat kepada istrinya itu.
Tangan Nanda bergetar, dia tidak ingin jika hal buruk akan mendatangi sahabatnya itu.
Rald, aku yakin, kamu pasti bisa bertahan, Rald. Aku mohon, demi aku dan demi persahabatan kita. Kamu nggak mau’kan lihat aku sendiri? Nggak ada teman yang aku percayai, kecuali kamu, Rald. Sahabat masa kecil aku. Rald, I Love You. Aku sayang sama kamu.
Air mata Nanda terus-terusan membasuhi kedua pipinya itu, tanganya bergetar, bibirnya sibuk merapalkan doa, agar Gerald di beri keselamatan.
Ardian hanya diam saja, apa lagi saat tahu jika keadaan Gerald kritis.
Ardian juga melihat Nanda menangis, ini pertama kalinya dia melihat gadis itu menangis.
__ADS_1
Padahal. Waktu itu nanda melihat papanya bergandengan tangan dengan wanita lain, namun dia tidak menangis, gadis itu tetap tegar.
Namun berita Gerald, mampu membuat Nanda menjadi gadis rapuh, dia melihat gadis itu menangis dengan air mata begitu deras.
‘’Sekarang gue tahu, apa artinya persahabatan, nggak seharusnya gue hadir di tengah-tengah mereka,'' gumam Ardian dengan lirih, ''seharusnya gue biarin Gerald memperjuangkan cintanya kepada sahabtanya, itu. Gue hanya benalu. Maafin gue, Rald. Nggak seharusnya gue simpan perasaan kepada gadis yang lo suka.''
Keeempat sahabat Ardian datang, mereka semua memasang wajah cemas, saat mendapatkan kabar mengenai Gerald kecelakaan.
‘’Gimana kondisi, Gerald?'' tanya Leo dengan rasa khawatir kepada Ardian, keempat sahabatnya menunggu Ardian menjawab pertanyaan yang baru saja di layangkan oleh Leo.
‘’Dokter yang nanganin Gerald belum keluar,'' jawab Ardian. ''Kita sama-sama berdoa. Semogah Gerald baik-baik saja.''
Leo menyandarkan tubuhnya di gembok, memejamkan matanya, berita mengenai Gerald sungguh membuatnya menjadi dejavu.
Gerald itu lihai memainkan gas motor, ini pertama kalinya Gerald mengalami kecelakaan bermotor. Ini takdir untuk Gerald.
Mereka semua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, sudah hampir satu jam mereka menunggu, namun dokter yang menangani Gerald belum keluar.
Dokter yang menagani Gerald di ugd keluar, membuat mereka semua bangkit, untuk mempertanyakan kondisi Gerald.
Dokter itu menghembuskan nafas berat.
''Pasien di nyatakan koma.''
Deg....
Jia jatuh pingsan, untung saja Raga dengan sigap menangkap tubuh istirnya itu.
🦋
Nanda menatap jendela kaca yang berada di depanya. Dari balik kaca, dia melihat Gerald terbaring koma di dalam, cowok itu di tetapkan di ruangan ICU dengan peralatan khusus untuk menunjangnya.
Di tetapkan di ruangan ICU dengan penanganan khusus, karna cowok itu di nyatakan koma, setelah dia kecelakaan motor menabrak truk besar.
__ADS_1
Nanda tersenyum getir, melihat dari jendela saja dia meringis melihat bebarapa alat di pasang di tubuh milik Gerald. Tentunya itu akan sangat sakit, namun saat ini Gerald koma, mungkin dia tidak akan merasakan sakit pada tubuhnya, karna beberapa alat terpasang di tubuh sahabatnya.
''Cepat sadar, Rald. Aku butuh kamu. Kamu adalah sahabat, sekaligus hidup ku,'' gumam gadis itu dengan lirih, memegang jendela kaca, berharap Gerald akan segera bangun.
Dari semalam Nanda tidak pulang, gadis itu setia berada di rumah sakit, menunggu Gerald sampai sadar, meskipun dokter sudah mnegatakan, jika Gerald tidak akan sadar dalam waktu dekat.
Namun Nanda yakin, jika Gerald akan sadar dan melihat dirinya.
Kelima sahabat Gerald juga semalam tinggal, baru pagi ini mereka pulang untuk menbersihkan tubuh mereka, lalu kembali kerumah sakit.
Berita mengenai Gerald yang kecelakaan hingga koma, sudah tersebar luas di sekolah, mereka turut bersedih atas apa yang menimpa sosok ketua osis yang dingin itu.
Pulang sekolah nanti, beberapa teman sekolah Gerald akan datang, meskipun mereka tidak akan masuk, hanya melihatnya dari jendela kaca saja, karna para dokter dan perawat melarang untuk masuk, hanya kedua orang tua Gerald saja yang masuk, itupun hanya beberapa menit saja, karna berada di ruangan ICU lama-lama tidak akan baik.
''Om,'' panggil Nanda, saat melihat Raga yang tiba-tiba berada di sampingnya, menatap kedalam ruangan yang di tempati Gerald sekarang.
Raga tersenyum kearah Nanda. ‘’Gerald pasti bertahan, dia anak yang kuat. Apalagi dia pernah mengatakan, dia akan tetap selalu ada, untuk satu gadis yang sangat dia cintai di masa kecilnya.''
Mendengar ucapan Raga membuat hati Nanda terenyah, dia tahu siapa yang di maksud Raga saat ini, tak lain dan tak bukan adalah dirinya.
Hanya dirinya saja yang merupakan teman masa kecil Gerald.
Raga mengusap rambut Nanda. ''Om yakin, kamu sudah tahu siapa yang Om maksud,'' ucap Raga membuat Nanda mengangguk kecil.
''Doakan yang terbaik untuk Gerald,'' lanjut Raga. Dia tersenyum miris, kalah mengingat percakapanya dengan dokter semalam.
Dokter yang menangani Gerald mengatakan, jika Gerald bukan koma, melainkan anaknya itu sudah tidak ada. Hanya saja, Raga menyuruh dokter menyembunyikan ini semua pada semua orang, terutama istrinya Jia.
Gerald yang di dalam sudah tidak ada, hanya ada alat-alat yang membuatnya bernafas kecil, jika oksigen dan alat-alat itu di lepaskan, sudah di pastikan Gerald sudah tidak ada.
Pertanyaanya, apakah dia akan menyuruh dokter itu memasangkan alat itu pada anaknya, meski dia sudah tahu kenyataan ini.
Raga terus berdoa, Semogah ada keajaiban untuk anaknya, Gerald.
__ADS_1