ARDIAN

ARDIAN
Perasaan sederas hujan


__ADS_3

Baru saja Rafael ingin memejamkan matanya, namun pesan singkat dari sahabatnya membuatnya langsung bangun dari tempat tidurnya.


Hujan yang hanya sesaat tadi, mampu membuatnya di serang rasa kantuk. Namun, saat mendapatkan pesan dari sahabatnya, rasa kantuk itu langsung hilang di telan bumi.


Rafael tidak peduli, jika kedua orang tuanya sedang keluar kota malam ini. Dia harus keluar untuk mencari keberadaan Dika bersama para sahabatnya.


Terlebih dahulu Rafael membasuhi wajahnya, lalu mengambil jaket kebangganya bertuliskan 'ARIGEL'


Rafael mengambil kunci motor dan helmnya. Lalu matanya melirik kearah balkon kamar Salsa sejenak, balkon kamar gadis itu masih gelap. Tidak ingin membuang waktu banyak, Rafael langsung menutup pintu kamarnya untuk segera menuruni anak tangga.


Cowok yang terkenal dengan mulut pedas itu, memakai jaketnya seraya menuruni anak tangga.


Ting...


Pesan masuk, sehingga Rafael menghentikan langkah kakinya di anak tangga, dia membaca pesan dari sahabatnya jika mereka menunggunya di tempat biasa.


Rafael kembali melanjutkan langkah kakinya, menuju pintu utama.


Pintu utama di buka, sehingga Rafael bisa melihat sosok gadis cantik yang selama ini mengejarnya.


Salsa yang merasa pintu terbuka, mengangkat kepalanya.


Deg


Jantungnya berdetak tak karuan, saat melihat siapa yang berada di ambang pintu utama, dia adalah Rafael.


Cowok itu menatap Salsa dengan tatapan yang sulit di artikan Salsa. Mereka berdua beradu tatapan, bisa Rafael lihat, jika gadis itu sedari tadi di situ.


Terlihat dari baju dan rambutnya yang basah kuyup. Wajah gadis itu sedikit pucat, bibirnya yang pucat dan bergetar.


''El...'' Salsa memanggil Rafael dengan mulut bergetar, cowok itu masih menatap Salsa dengan tatapan dingin.


Rafael melangkah mendekati Salsa, menatap gadis itu dari bawah sampai atas.


Rafael tersenyum sinis. ''Otak lo dimana sih?'' tanya Rafael dengan sinis kepada gadis itu.


Dia tidak peduli dengan kondisi Salsa. ''Otak itu di pake, bukan cuman jadi pajangan doang,'' lanjutnya dengan intonasi sinis kepada gadis di hadapanya.


Rafael bersedekap dadah, dengan jaraknya dengan Salsa lumayan dekat. ''Atau lo sengaja main hujan-hujanan di sini, supaya gue datang bawain lo payung, kayak gitu yang lo inginkan, kan?'' sergahnya kepada Salsa.


''Nggak, El,'' protes Salsa. Sungguh, ucapan Rafael tadi tidak benar. Dia tidak menginginkan Rafael keluar untuk memberikanya perhatian, lalu memberikanya payung.


Dia hanya suka berteriak jika dia mencintai Rafael, dibawah derasnya hujan. Kebetulan saja, hujan turun saat dia masih berada di lingkungan rumah Rafael.

__ADS_1


Rafael tersenyum remeh kearah Salsa. ''Mau sebesar apapun rasa suka lo sama gue. Kalau gue nggak suka sama lo, tetap aja, lo cuman jatuh cinta dengan sendirinya,'' ucap Rafael.


''Lebih baik lo cari cowok lain. Mau secantik apapun lo, tetap aja gue nggak tertarik sama kecantikan yang lo punya,'' terang Rafael.


''El...Gue suka sama kamu sejak kita kecil,'' ucap Salsa, dengan bibir bergetar menahan dingin di sekujur tubuhnya.


''Dan gue juga, nggak suka sama lo sejak kita kecil. Mau berapa kali gue bilangin sama lo, kalau gue nggak punya perasaan sama lo!'' sergah Rafael.


''Meski sedikit?'' tanya Salsa.


''Perasaan gue ke lo, itu nggak ada,'' balas Rafael.


''El, apa kurangnya aku? Sampai kamu nggak mau sama aku. Sampai-sampai kamu terlihat jijik kalau aku di dekat kamu,'' cercah Salsa.


Mereka berdua masih setia memberikan tatapan. Dengan Salsa menatap Rafael dengan tatapan cinta sementara cowok itu sebaliknya.


''Gue nggak suka sama cewek yang ngejar gue duluan,'' jelas Rafael. ''Dan satu lagi, gue nggak mau pacaran sama gadis manapun. Perempuan itu makhluk Tuhan yang mempunyai tipu daya muslihat. Laki-laki akan lemah karna perempuan.''


''El...''


''Kalau gue suka sama lo, nggak bakalan gue ajak lo pacaran. Kalau perlu gue langsung nikahin lo. Tanpa kata pacaran.'' Rafael memotong ucapan Salsa.


''Kalaupun itu gue suka sama lo,'' lanjutnya.


Rafael langsung pergi meninggalkan Salsa, menuju motornya. Malam ini dia akan keluar, dan mungkin saja dia tidak tinggal di rumahnya.


Rafael menghentikan langkah kakinya, menatap gadis itu kembali.


''Kamu tahu, hujannya tadi deras,'' ucap Salsa dengan senyuman. Rafael tidak mengeluarkan sepatah katapun. ‘’Hujanya deras, sederas perhatian aku ke kamu, yang tidak pernah kamu gubris.''


Rafael hanya memberikan senyuman sinis, seperti biasa, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya menuju motornya.


Entah mengapa Salsa tidak mencegah Rafael, mungkin karna tenaganya terkuras.


Rafael sudah pergi meninggalkan Salsa yang masih setia berdiri di sana.


''Sampai kapan kamu nolak aku, El?'' gumam Salsa dengan senyuman kecut. ''Aku harap, perasaan kamu ke aku akan ada suatu saat nanti. Aku bakalan nungguin kamu, sampai aku benar-benar menyerah untuk mendapatkan kamu.''


🦋


Cika dan Nanda masih setia mengikuti motor anak ARIGEL. dengan menjaga jarak tentunya. Cika sedikit khawatir jika salah satu anak ARIGEL mengenal mobilnya.


‘’Sebenarnya meraka mau kemana sih,'' gumam Nanda, seraya mengambil permen karet dari saku celananya.

__ADS_1


''Lo nanya sama siapa?'' tanya Cika, tanpa mengalihkan pandanganya dari depan.


Takut-takut jika dia kehilangan jejak anak ARIGEL.


Nanda melirik Cika. ''Sama diri gue sendiri,'' balas Nanda dengan tawa kecilnya.


''Ci, kalau dia tahu kita ngikutin mereka. Apa anak ARIGEL bakalan marah?'' tanya Nanda.


‘’Pake nanya lagi,'' ucap Cika, seraya menggeleng kecil.


Nanda tertawa kecil, sepertinya pertanyaanya itu kurang penting untuk spek seperti Cika.


Leo sengaja melambatkan motornya, membiarkan sahabatnya melajukan motornya lebih dulu.


Dari kaca spion motor, Leo melihat mobil seseorang tengah mengikutinya dari belakang.


''Mobilnya nggak asing,'' gumam Leo.


''Kayaknya salah satu dari mereka tahu, kalau kita ngikutin mereka,'' ucap Cika. Dia melihat motor salah satu anak ARIGEL tertinggal jauh.


Cika tidak bisa memastikan siapa dia, karna jaket mereka sama, modif motornya juga sama.


''Jadi gimana?'' tanya Nanda.


''Kita potong jalan,'' ucap Cika, membelokkan mobilnya di salah lorong depan, dia sedikit tahu tempat ini.


‘’Pikiran gue salah,'' menolog Leo, setelah melihat mobil yang dia curigai membelokkan mobilnya.


Leo melajukan motornya, untuk segera mengajar sahabatnya, gara-gara mobil yang dia curigai mengikuti mereka, membuatnya hrus tertinggal.


''Kita lewat hutan?'' tanya Nanda, melihat sekelilingnya di kelilingi pepohonan rimbun.


''Namanya juga potong jalan,'' balas Cika.


Segerombolan anak muda langsung menutup matanya, saat lampu mobil menyeroti mereka.


''Sial!'' decak Cika.


Cika dan Nanda saling berpandangan, melihat di depan ada segerombolan anak muda sedang nongkrong.


''Sejak kapan di sini menjadi tempat nongkrong,'' decak Cika.


Setahunya. Disini tidak ada markas, meski dia melewati jalan ini 6 bulan yang lalu.

__ADS_1


''Periksa, siapa tau saja dia mata-mata!'' perintah salah satu dari sgerombolan anak muda itu. Bisa di katakan dia adalah ketua.



__ADS_2