
Boy terdiam, lalu kemudian dia menyungkirkan senyuman tipisnya. Sementara Gina masih setia memegang wajah anaknya, meminta balasan atas apa yang dia katakan barusan.
''Boy mau menikah, asal mama nurutin dua kemaun Boy,'' kata Boy setelah sekian menit diam.
Tanpa menunggu lama Gina langsung menganguk mengiyakan ucapan anaknya, dia akan memenuhi syarat yang di ajukan anaknya, demi melihat Boy menikah. Karna umur anaknya itu tidak lama lagi memasuki usia 27 tahun, dan Boy belum menikah, apa lagi Gina memperhatikan anaknya itu tidak dekat gadis manapun.
Berulang kali Gina memperkenalkan anaknya dengan anak temanya, namun Boy menolaknya sebelum mereka bertemu, membuat Gina khawatir anaknya tidak akan menikah kelak sebelum dia pergi. Umur tidak ada yang tahu, sebelum pergi Gina ingin melihat salah satu anaknya menikah, tidak mungkin dia menyuruh Nanda untuk menikah lebih dulu, karna gadis itu masih sekolah dan umurnya masih terbilang muda.
''Apa syaratnya, Boy. Mama akan memenuhi syarat yang kamu beri. Asal mama bisa melihat anak mama menikah,'' kata Gina dengan senyuman di wajahnya.
‘’Boy akan menikah sesuai permintaan mama,'' kata pria itu, karna pria itu memang sudah mempunyai niat untuk menikah, tapi tidak secepat ini juga. Tapi karna ini permintaan mamanya, maka Boy akan berusaha. ''Asal mama mau di rawat di rumah sakit dan segera sembuh,'' lanjut pria itu.
Tanpa menunggu lama, Gina langsung mengangguk mengiyakan ucapan anaknya itu, syarat yang tidak terlalu sulit untuk Gina, meski dia tidak suka tinggal di rumah sakit.
''Mama mau, Boy. Apa syarat kedua?'' tanya Gina lagi.
Lebih dulu Boy menarik nafasnya panjang. Lalu kemudian Boy tersenyum. Mencium punggung tangan mamanya lebih dulu, sebelum dia mengatakn syarat kedua. ‘’Boy mau nikah dengan pilihan Boy sendiri. Boy harap, mama akan menerima gadis pilihan Boy sendiri,'' kata Boy menatap manik mata mamanya begitu dalam.
Lagi-lagi Gina mengangguk setuju. ''Apapun pilihan mu, gadis manapun itu, asal kamu menikah Boy. Mama nggak peduli, latar belakang gadis yang akan kamu pilih,'' jujurnya pada Boy menggenggam erat tangan anaknya, lalu kemudian Boy memeluk mamanya.
Boy Bersykur mamanya tidak menuntut, agar Boy menikah dengan gadis yang mamanya pilih.
‘’Besok mama kerumah sakit ya, biar dapat penanganan yang jauh lebih baik,‘’ kata Boy dan dibalas anggukan kepala oleh Gina.
Boy mengusap air matanya, lalu menyuruh mamanya untuk istirahat.
''Mama istirahat, Boy akan nemenin mama di sini,'' kata pria itu tidak ingin meninggalkan mamanya.
''Nggak usah Boy, mama mau sendiri, mama nggak kenapa-napa, kalau mama butuh sesuatu, mama akan nelfon kamu,'' kata Gina.
Pada akhirnya Boy pergi meninggalkan mamanya, dia akan kembali ke kamarnya melewati kamar Nanda, Boy melihat kamar adiknya sudah tertutup, itu artinya Nanda sudah tidur.
Boy mengunci kamanrnya, lalu pria itu mengambil ponselnya. Sekarang jam menunjukkan pukul 2 dini hari, membuat Boy mengurungkan niatnya untuk menelfon seseorang.
__ADS_1
Dia memilih membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, perlahan-lahan dia memejamkan matanya, tak kunjung lama dia langsung tertidur, dengan pikiran yang sibuk memikirkan kesehatan mamanya dan permintaan mamanya yang sudah dia setujui.
Besok, Boy akan bicara empat mata dengan adiknya, Nanda harus tahu dengan cepat, jika dia akan menikah.
***
Tumben-tumbenan Boy mengantar Nanda ke sekolah. Nanda melirik Boy yang tangan fokus menyetir mobil.
''Nggak kerumah sakit lu, bang?'' tanya Nanda dan dibalas gelengan kepala oleh Boy.
‘’Entar malam gue masuk,'' jawab Boy membuat Nanda manggut-manggut.
Tidak butuh waktu lama, Boy sudah sampai di depan gerbang sekolah milik Nanda. Gadis menyalami tangan Boy, lalu bersiap untuk turun.
''Ra,'' panggil Boy membuat Nanda menghentikan pergerakan tanganya membuka pintu mobil.
Nanda melirik Boy, menaikkan alisnya sebelah, tanda ada apa?
‘’Pulang sekolah lo nggak kemana-mana'kan?'' tanya Boy memastikan.
‘’Tapi gue mau kerumah sakit,'' kata Nanda, dia memang tidak ingin kemana-mana dengan temanya, namun dia akan kerumah sakit. Apa lagi Boy sendiri yang mengatakan kemarin, besok dia boleh menjenguk Gerald selepas pulang sekolah.
‘’Kerumah sakitnya pending dulu, gue mau ngomong serius sama lu,'' kata Boy serius, Nanda bisa melihat keseriusan Boy ingin bicara padanya.
''Kapan?''
‘’Pulang sekolah, gue bakalan jemput lo lagi,'' jelas Boy dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.
Gadis itu langsung turun dari mobil, lalu berjalan masuk kedalam, lepas itu Boy langsung memutar mobilnya untuk segera pulang.
Nanda berjalan di koridor sekolah, namun tanganya langsung di cekal oleh seseorang, dia tersentak kaget lalu kemudian dia membalikkan tubuhnya.
Dia melihat sosok cowok yang baru semalam menjadi pacarnya, ''pagi, pacar,'' sapa Ardian membuat Nanda menaikkan aslinya sebelah.
__ADS_1
Ardian memberikan sesuatu kepada Nanda, yaitu permen karet. Karna dia tahu gadis itu menyukai permen karet.
Nanda tersenyum tipis, lalu kemudian dia mengambil permen karet itu.
‘’Ada-ada aja,'' gumam Nanda, agak lain sih sapaan Ardian padanya pagi ini. Gadis itu melanjutkan langkah kakinya, membuat Ardian mengejar gadis itu, lalu kemudian mensejajarkan langkah kakinya.
‘’Gue nyapa lo,'' ketus Ardian yang tidak mendapatkan balasan dari Nanda.
Nanda melirik Ardian, mereka berdua berjalan koridor, tatapannya bertemu, lalu kemudian Nanda menatap kedepan lagi.
''Sapaan lo aneh tau nggak,'' balas Nanda.
‘’Aneh gimana? Kita udah pacaran, jadi nggak salah dong kalau gue nyapa lo dengan ucapan selamat pagi,'' kata Ardian.
‘’Kata-kata lo yang terakhir,'' balas Nanda.
''Yang pacar?''
Nanda mengangguk mengiyakan.
‘’Menurut gue nggak aneh, kita bebas mau bilang apa aja sama pacar sendiri,'' terang Ardian membuat langkah kaki Nanda terhenti, otomatis langkah kaki Ardian juga terhenti.
‘’Kenapa berhenti?'' tanya Ardian.
Nanda menarik nafasnya panjang. ''Kita emang pacaran, Ar. Tapi lo nggak lupa 'kan, kenapa gue nerima lo jadi pacar gue?'' Nanda kembali mengingatkan ardian membuat cowok itu tertawa kecil.
‘’Gue nggak lupa, itu adalah kata-kata yang udah gue hapal. Lo pacaran sama gue, lo nerima gue karna memenuhi—''
‘’Nggak usah di terusin,'' kata Nanda memotong ucapan ardian, lalu kemudian dia melangkahkan kakinya.
''Gue emang nggak salah ngincer cewek,'' kata Ardian yang tidak di gubris oleh Nanda lagi.
''Ngapain lo masih di sini? Kelas lo tuh di sebelah,'' kata Nanda, karna cowok itu masih di sini, Nanda sudah smpai di depan pintu kelas.
__ADS_1
''Semangat belajarnya, pacar.''