ARDIAN

ARDIAN
Sikap Kesya buat muak


__ADS_3

Pute dan Salsa ikut bergabung dengan Nanda dan Cika. Gadis bernama Pute itu tidak memilih ingin berteman dengan siapa, dia netral. Hanya saja dia kasihan jika Puri dan Kesya hanya berdua saja, sehingga gadis itu memilih meluangkan waktunya untuk bersama Puri dan Kesya.


‘’Gimana keadaan, Kesya?'' tanya Cika kepada Pute, setelah gadis itu duduk di sampingnya, merekan berdua kan memang sebangku.


‘’Sempat pingsan tadi,'' jawab Pute kepada Cika. ''Dia nyariin lu, Ci,'' lanjut Pute.


''Kesya terlalu egois.'' Melirik kearah Pute dengan senyuman tipis. ‘’Kalau Kesya nggak buang jauh-jauh sifat buruknya itu, gue bakalan berhenti berteman sama dia. Gue nggak sampai kena imbasnya.''


Pute menghembuskan nafas berat. ''Gue juga bingung, gue pikir Kesya udah sadar sama kejadian waktu lalu. Malah dia ingu. Kembali memperkeruh suasana, dengan mendatangi Gerald.''


‘’Kesya udah tahu, kali gue bertiga ada sangkut pautnya, mengenai penghapusan video Greta?''tanya Cika dan dibalas anggukan kepala oleh Pute.


''Puri yang kasi tahu,'' jawab gadis itu.


Cika hanya mengangguk kecil saja, dengan apa yang di katakan Puri barusan.


''Na, lu nggak apa-apa, kan?'' tanya Pute, sehingga Nanda memutar sedikit tubuhnya ke belakang, menatap Pute.


‘’Gue nggak apa-apa,'' jawab gadis itu.


‘’Sorry, ya. Gue nggak belain lu pas berantem sama Kesya. Gue sebagai teman bingung,'' keluh Pute membuat Cika menggelengkan kepalanya.


''Nggak apa-apa, gue paham,'' kata Nanda lagi dengan santai.


Kesya tidak sempat masuk belajar pagi ini, karna dia masih mengeluh kepalanya sakit, karna habis berantem dengan Nanda.


Sementara Puri juga tidak ikutan masuk, karna dia yang menjaga Kesya di uks. Pute sempat tidak ingin pergi meninggalkan Puri dan Kesya di uks, namun Kesya mengatakan biar Puri saja yang menjaganya, dia boleh ikut belajar. Karna Kesya tahu jika Pute takut ketinggalan pelajaran, karna di absen dia sudah mempunyai beberapa alpa.


Guru yang mengajar pagi ini masuk kedalam kelas, sehingga suasana kelas yang tadinya ribut berubah menjadi hening, mereka semua fokus dengan apa yang di sampaikan guru tersebut.


ARIGEL....


Ardian dan kelima sahabatnya sedang kumpul di belakang sekolah, mereka sedang membahas mengenai anak VAGOS.


Apa lagi dia tahu acara penata seni akan segera di mulai, hari yang mereka tunggu-tunggu akhirnya hanya menjadi wacana saja, mengenai rencana mereka saat itu.


Tidak mungkin juga mereka menghabisi Fatur, sementara mereka sudah tahu, jika Ardian dan Fatur itu saudara.


''Acara pentas di sekolah gue jadi bingung,'' ucap Leo, membuat kelima sahabatnya langsung menatap cowok itu.


''Lu bingung kenapa?'' tanya Ethan.


‘’Ngapain bingung, acara pentas di sekolah bukan kita yang urus, bukan kita yang pusing atur semuanya, yang pusing anak osis sama ketua osis,'' sahut Izam, seraya melirik Gerald.


''Tinggal datang nonton aja,'' balas Gerald. ‘’Semuanya bakalan di urus sama anak osis,'' lanjutnya.


‘’Bukan itu yang buat gue pusing.''


''Terus apa?'' tanya Ethan dan Izam hampir bersaman, sementara yang lainya menatap Leo dengan penasaran.


''Gue bingung, mau ajakin cewek yang mana, duduk di dekat gue, Pute atau cewek yang lain,'' ucap Leo dengan santai dan berhasil di hadiahi tatapan sangar oleh Ethan dan Izam.


‘’Gue kira pusing apa,'' cetus Izam.


''Kenapa lo nggak mau sama Pute sih, Le. Dia, cantik, baik, kurang apa lagi coba?'' Ethan berkata seraya menggelengkan kepalanya pelan.


''Bukan Pute yang kurang apanya, tapi dia yang nggak Bersyukur,'' sindir Rafael dengan mulut pedasnya membuat mereka terkekeh.


''Lebih-lebih orang yang ngomong, udah di kasi spek bidadari kayak Salsa, malah di anggurin.'' Ardian mendelik kearah Rafalw, membuat cowok itu diam seribu bahasa.


Tawa mereka makin pecah, jarang-jarang loh Rafael kena skakmat begini. ''Ini nih di bilang, nggak bercermin dulu sebelum ngomong,'' ucap Izam dengan tawanya.


''Setuju gue sama lo, Zam,'' ucap Ethan memberikan tanda setuju dengan apa yang Izam katakan barusan.


‘’Gue minta persetujuan lo kali,'' ucap Izam membuat tawa di wajah Ethan luntur, cowok itu menatap Izam dengan tatapan datar.


''Taik lo!''


Ardian hanya tersenyum saja melihat para sahabatnya, jika mau di pikir-pikir, sahabatnya itu beruntung dalam cinta.


Bagaiamana tidak, jika cowok sejudes Rafael di kejar mati-matian oleh cintanya Salsa, namun cowok itu hanya abai saja.


Dia tidak peduli dengan perasaan gadis yang dia sukai, dia tidak membalasnya. Apa lagi Leo, dia di apit beberapa gadis cantik, terutam Pute, meski Pute tidak menampakkan jika dia menyukai Leo, namun dari gelagat cewek itu membuat mereka yakin, jika Pute menganggap Leo bukan sekedar teman mabar saja.


Sementara Izam? Sepertinya cinta cowok itu bertepuk sebelah tangan, karna mereka tahu, Greta hanya menyukai Ardian saja, namun Ardian tidak menyukai Greta, jika sampai Ardian menyukai balik Greta, sudah di pastikan Izam akan galau secara brutal.


Kalau sih Ethan, cowok manis itu hanya setia pada Vani dan sangat bucin pada gadis itu. Namun, karna suatu masalah, kedua sijoli itu putus membuat Ethan menjadi galau brutal, bayangkan saja hubungan bertahun mereka jalani harus putus. Hingga sekarang, Ethan menutup hatinya untuk gadis manapun,lebih tepatnya lagi, dia mati rasa sama cewek lain, karna Vani.


Kalau Gerald? Mungkin cowok itu akan menikmati kesendiriannya, setelah dia mendapatkan penolakan dari Nanda, sahabat kecilnya sekaligus orang yang dia cintai. Meski ada yang mengaguminya dan menyukainya, yaitu Nita dan Cika tentunya, namun cintanya hanya untuk Nanda, Nanda tidak menrima cintanya maka Gerald akan menikmati kesendirian ini, sampai waktunya berakhir.


Sementara Ardian? Dia masih bingung dengan perasaanya untuk saat ini kepada Nanda, entah karna suatu ketertarikan saja dengan gadis itu, sehingga Ardian berani menagatan suka pada gadis itu. Apa lagi Ardian begitu tertantang mendapatkan gadis itu. Setelah dia mengalami beberapa kali penolakan, yang menbuat Ardian masih tidak menyangka saat ini, dia menyukai gadis yang sama dengan Gerald.


Gerald mengangkat Telfon dari Dio, jika meraka sedang berkumpul di ruangan osis, ada yang mereka bahas secara mendadak.


‘’Gue duluan dulu, ada rapat osis yang harus gue selesain,'' pamit Gerald kepada kelima sahabatnya itu.


''Semangat, Rald. Jangn letih menjadi pengurus yang baik di sekolah ini,'' ucap Izam dengan tawa kecilnya, kepada sahabatnya itu yang menyandang gelar sebagai ketua osis tampan dan dingin, menjadi ketua osis kayangan guru-guru dan adik kelas maupun kakak kelas yang mengagumi sosok ketua osis itu.


Gerald langsung pergi meninggalkan sahabtanya, kelima sahabatnya itu masih setia di belakang sekolah, karna pagi ini guru yang mengajar sedang berhalangan untuk masuk.


***


''Gerald.''


Pergerakan tangan Gerald yang ingin membuka ruangan osis tertunda, karna panggilan dari gadis yang dia kenal, siapa kalau bukan Nita, sekretaris osis.


Gerald menaikkan alisnya sebelah, tanda ada apa?


‘’Kemarin gue nungguin lo sampai magrib,'' ucap gadis itu membuat Gerald mengembuskan nafas berat.


‘’Kemarin, kan gue bilang. Kalau gue lagi di rumah sakit. Gue udah ngirimin lo pesan, kalau gue nggak bisa antar lu balik. Lagian, gue udah nyuruh Dio buat antar lo balik. Tapi lo malah nolak,'' jelas Gerald kepada gadis itu.


''Tapi lo udah janji, lo nggak kasihan sama gue, nungguin lo sampai magrib,‘' ucap Nita menggebu-gebu.


''Gue nggak pernah janji buat anterin lu balik, gue cuman ngangguk. Andai gue janji sama lo, gue bakalan usahain datang, apapun kendalanya.'' Baru kali ini Gerald bicara panjang kali lebar pada Nita, yang membahas diluar tugas osis.

__ADS_1


''Gue nggak merasa bersalah, karna gue udah ngirim lu pesan, tapi lo ngotot nungguin gue. Gue juga udah nyuruh Dio anter lu balik, tapi lo nggak mau.'' Sekali lagi Gerald memperjelas pada Nita.


Sebelum membuka ruangan osis, cowok itu kembali berkata, membalikkan tubuhnya sehingga dia bertatapan dengan Nita.


''Satu lagi, jangan pernah berharap lebih.'' Gerald menekan setiap perkataanya dengan wajah dinginya, serta sorot mata yang dingin untuk Nita.


Dia sungguh tahu gelagat gadis seperti Nita, dia mencoba mendekati dirinya, sementara di dalam hatinya, hanya ada satu nama, yaitu Nanda Raisa Arabela.


Penolakan gadis itu bukan berarti Gerald harus mencari gadis lain, untuk menghilangkan rasa sesak di dalam hatinya.


Dan gadis bernama Nita ingin menerobos msuk kedalam hatinya, tentu saja Gerald tidak memberi celah sedikitpun kepada gadis itu, baik gadis manapun itu.


Dihatinya tetap abadi nama sahabtanya itu.


Gerald ikut bergabung bersama dengan Dio, tidak lama itu Nita ikutan masuk.


‘’Laporan kemarin mana?'' tanya Gerald kepada Nita, sikapnya masih seperti biasa, tenang. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa dengan Nita di luar tadi. Hanya saja, cowok itu semakin dingin kepada Nita. Membuat gadis itu semakin jauh untuk meraih cinta Gerald.


Nita meletakkan map diatas meja, ''semua laporanya udah ada di dalam,‘' kata Nita.


Gerald mengecek laporan itu, dia selalu memuji cara penyusunan Nita, namun dia harus berhenti untuk itu, karna gadis itu menyalah artikan maksudnya.


‘’Ok.''


Nita tersneyum kecut, biasanya Gerald akan memuji cara kerjanya, melihat Gerald yang semakin dingin membuat Nita menjadi sedih.


Itu semua tidak luput dari penglihatan Dio.


''Kemarin lu pulang sama siapa?'' tanya Dio dengan suara pelan.


Nita tidak menjawab pertanyaan dari Dio, membuat cowok itu hanya kikuk, karna Nita tidak membalas ucapanya.


Untung saja hanya dia bertanya dengan pelan, hampir saja dia malu bukan kepayang.


''Lu mau kemana, Nit. Rapat belum selesai,'' panggil Dio yang tidak di gubris oleh Nita.


''Rald, kayaknya sih Nita marah sama lo, deh. Gara-gara lu batal anterin dia pulang,'' celetuk Dio kepada Gerald.


Wajar saja jika Nita menjatuhkan hatinya untuk Gerald, gadis mana yang tidak jatuh cinta pada sosok cowok berjiwa kepemimpinan seperti Gerald.


Dio saja sebagai laki-laki, kagum dengan cara kerja cowok itu, sehingga kepala sekolah memberikanya kepercayan lebih.


Bell istirahat berbunyi, sehingga Nanda, Salsa, Cika dan Pute membereskan buku-bukunya untuk segera keluar kelas mengisi perutanya.


''Nggak mau ikutan ke kantin, Put?'' tanya Nanda, karna gadis itu memperbaiki duduknya, seraya mengambil ponselnya dalam tas.


Tadinya Cika ingin ikut ke kantin dengan temanya, hanya saja niatnya terurung karna Leo mengirimkanya pesan wa, untuk mabar bareng.


''Nggak, deh. Gue mau mabar sama Leo,'' ucap gadis itu dengan senyuman merekah di wajahnya yang cantik itu.


‘’Jangan sampai mau jatuh pada pesona, Leo. Lo, kan tahu dia Playboy,'' peringat Cika kepada Pute.


‘’Nggaklah, gue cuman nganggap Leo sebagai teman mabar, nggak lebih,'' elak Pute, meski yang dia katakan barusan sebuah kebohangan, karna seiring berjalanya waktu, gadis itu jatuh cinta kepada Leo.


Dia sudah tahu watak Leo, namun tetap saja gadis itu menaruh perasaan untuk Leo. Gadis siapa yang mau menolak pesona Leo? Dia baik, ramah, dan selalu menebarkan senyuman hangat kepada siapapun, sehingga banyak gadis jatuh hati padnaya, salah satunya adalah Pute. Hanya satu kekurangan Leo, cowok itu sangat Playboy, meski sudah banyak gadis mengetahui cowok itu Playboy, tetap saja mereka menaruh harapan pada cowok itu.


Nanda memesan makanan, sementara Cika dan Salsa mencari tempat duduk yang kosong.


Kedua gadis itu sudah mendapatkan meja kosong, sehingga keduanya langsung duduk, seraya menunggu kedatangan Nanda membawa makanan pesanan mereka.


Tidak butuh waktu lama, gadis itu datang membawa nampan berisi makanan lalu dia letakkan nampan itu diatas meja.


''Mie ayam nggak ada,'' ucap Nanda, kepada Salsa.


''Iya, deh,'' ucap Salsa.


Mereka bertiga makan dengan khidmat, seraya bercanda kecil, sehingga ketiga gadis itu tidak sadar jika Kesya menatap mereka dengan tatapan nyalang, jangan lupa tangan gadis itu terkepal hebat.


Kesya membenci gadis bernama Nanda, dia mengutuk gadis itu.


Kesya ke kantin seorang diri, tanpa Puri. Karna gadis itu lagi ke toilet untuk membuang air kecil.


Dadah milik Kesya bergemuruh, ingin sekali dia memberikan pelajaran yang lebih kepada Nanda.


‘’Gue nggak peduli lagi!'' Gadis itu berdesis, lalu berjalan menuju meja tempat ketiga gadis itu makan.


Kesya mengambil minuman sisa dari salah satu meja, lalu dia kembali berjalan menuju meja tempat Nanda, Cika dan Salsa.


‘’Gue pesan minum dulu,'' pamit Cika kepada Nanda dan Salsa.


''Ok.''


Setelah kepergian Cika memesan minuman, Salsa pamit menuju toilet yang berada di kantin ini, tiba-tiba saja perutnya sakit, sehingga di meja hanya tersisa Nanda saja.


BYUR...


Es jeruk berhasil Kesya tumpahkan dikepala Nanda, sehingga gadis itu memejamkan matanya.


Dia tahu siapa pelakunya, tentu saja pelakunya itu Kesya.


Nanda berdiri dari tempat duduknya, menatap Kesya dengan tatapan nyalang. Apa gadis itu tidak kapok dengan kondisinya yang sekarang.


''Kurang ajar lo, Na!'' Kesya ingin menampar Nanda, namun tanganya langsung di cekal oleh sosok gadis yang beberapa hari ini tidak ke sekolah, karna scandal videonya itu.


Kesya menatap tajam Greta, gadis itu muncul seperti jalangkung.


‘’Lepasin tangan gue!''


Greta melepaskan tangan Kesya dengan kasar.


Banyak penghuni kantin menyaksikan mereka, terutama Nanda. Baju gadis itu sudah basah kuyup, bahkan baju dalam yang dia kenakan terekspos jelas.


Ardian datang, menutupi tubuh Nanda jaket kebangganya itu.


Nanda meneguk salivanya susah payah, saat matanya dengan mata Ardian bertemu.

__ADS_1


''Dasar gila!'' desis Ardian kepada Kesya, lalu pergi meninggalkan kantin, membawa Nanda menuju toilet.


Ini yang kedua kalinya Nanda mendapatkan siraman di kantin, pertama dia mendpatakan siraman dari Greta dan yang kedua dia mendapatkan serangan dari Kesya, yang membuat Nanda terkejut karna Greta datang menyelamatkan pipihnya itu, dari tangan Kesya.


Para murid-murid yang makan di kantin, menatap Nanda dan Kesya satu sam lain, padahal mereka temenan kenapa menjadi musuhan seperti ini.


Leo, Rafael, Ethan dan juga Izam, menatap Greta dan Kesya, seraya bersedekap dadah, dua gadis terkenal di sekolah ini.


Greta semakin di kenal karna videonya yang viral itu, sementara Kesya semakin di kenal karna ulah Greta memecahkan vas bunga di kepalanya, sehingga gadis itu langsung di larikan di rumah sakit.


‘’Belum puas cari masalah sama gue?'' ejek Greta kepada gadis itu. ''Sampai-sampai teman lo sendiri lo buat basah kuyup,'' lanjut gadis itu, membuat nafas milik Kesya semakin tedengar jelas.


''Atau....Vas bunga yang gue pecahin ke lo belum cukup?''


Ucapan Greta, membuat Kesya ingin mencakar wajah Greta saat ini. Dia tidak bisa untuk saat ini, karna kondisinya masih lama apa lagi fisik Greta dari dirinya.


Kesya langsung pergi meninggalkan Greta, namun ucapan gadis itu sukses membuat Kesya menghentikan langkah kakinya itu.


''Besok pagi, jangan lupa periksa mading, tempat lo majang foto ciuman gue di sana,'' ucap Greta, sementara Kesya belum mengerti dengan ucapan gadis itu. ‘’Karna di sana, ada berita panas, bahkan lebih panas dari video gue yang lo buat Viral.''


***


Ardian menunggu Nanda keluar dari bilik toilet, cowok itu baru saja datang di ruangan koperasi untuk membeli seragam baru untuk Nanda.


Ceklek.


Pintu toilet di buka, sehingga Nanda menyeritkan alisnya, melihat ada Ardian di sini. Dia pikir cowok itu sudah pergi dari sini.


Gerald menghentikan langkah kakinya, dia bersembunyi di balik tembok, saat melihat Nanda dan Ardian.


Cowok itu tidak ada di tempat kejadian saat Kesya kembali berulah pada Nanda, padahal baru-baru saja mereka adu jambakan rambut di parkiran sekolah.


''Ngapain lo masih di sini?'' tanya Nanda, Gerald mendengar jelas Nanda mengajukan pertanyaan pada cowok itu.


''Nggak pintar ngucapin Terimaksih?'' tanya Ardian membuat Nanda menarik nafasnya panjang.


''Thanks.'' Mood gadis itu tidak baik-baik saja, moodnya pagi ini semakin berantakan karna Kesya.


Rasa sakit di kepalanya belum hilang, dan sekarang Kesya menumpahkan es jeruk pada tubuhnya.


Ardian mengangguk, dia bisa melihat wajah gadis itu nampak letih. Ardian juga tahu, jika Kesya dan gadis di hadapanya bersaudara, hanya saja Ardian berpikir, jika Kesya belum tahu hal ini, atau belum ada yang memberitahukannya.


''Gue duluan.'' Nanda langsung pergi meninggalkan Ardian, melewati cowok bernama Gerald yang tidak dia lihat, jika cowok itu sembunyi.


Ardian tersenyum tipis melihat punggung Nanda yang sudah menjauh, lalu cowok itu ikutan keluar.


Ardian dengan cepat menuju kantin, karna dia tahu para sahabatnya sudah menunggu dirinya.


''Lama bener lo, Ar. Makanan kita udah mau habis nih,'' celetuk Izam kepada Ardian, karna cowok itu baru saja datang.


‘’Makanan lo aja kali yang mau habis, makanan kita masih pada banyak,'' cibir Rafael kepada Izam, sehingga cowok itu memanyunkan bibirnya.


Leo hanya terkekeh, sementara Ethan mulai menikmati makananya, Izam kembali memesan makanan, karna kurang enak aja kalau makananya sudah habis, para sahabatnya masih makan.


''Gerald mana?'' tanya Ardian, dia baru ngeh kau cowok itu tidak ada di sini.


''Biasa, ketua osis. Sibuk,'' ucap Leo dan dibalas anggukan setuju oleh yang lainya.


Mereka kembali menikmati makananyaa, di sertai dengan obrolan kecil.


''Ar, lo lihat tadi, kan. Gimana Greta nahan tangan Kesya, nggak jadi nampar sih Nanda,'' ucap Ethan, yang mengingat dimana Greta datang menahan tangan Kesya.


''Iya,'' jawab Ardian, seraya mengunyah makananya.


''Apa mungkin dia udah sadar?'' gumam Leo.


‘’Semogah aja, biar gue makin cinta sama Greta,'' ucap Izam, yang merupakan cowok yang suka dengan Greta dari lama.


‘’Gue rasa enggak,'' ucap Rafael, sehingga ke empat sahabtanya meliriknya.


''Kalian nggak dengar apa tuli sih? Greta kasi peringatan sama Kesya, buat ke mading besok pagi. Katanya sih ada berita panas. Bahkan cewek itu bilang, berita ini lebih panas ketimbang videonya yang viral itu,'' kata Rafael, masih mengingat jelas ucapan Greta tadi.


‘’Telinga lo tajam bener, Raf. Gue aja nggak dengar jelas apa yang dibilang Greta tadi,'' ucap Ethan.


''Mulut sama telinga dia, kan sama-sama tajam,'' timpal Izam membuat mereka berlima tertawa.


''Gue jadi penasaran, berita panas apa besok pagi, yang di bilang sama Greta,'' ucap Leo dengan rasa penasaran.


Mereka pensaran, pembalasan apa yang akan di berikan Greta kepada Kesya. Tentu Greta tidak akan diam. Saat tahu jika Kesya yang menyebar videonya itu.


‘’Besok pagi kita lihat,'' ucap Rafael dengan senyuman kecil di wajahnya. Sepertinya Kesya akan di kelilingi musuh-musuh yang brutal seperti Greta, dan cerdas seperti Nanda.


Cika dan Salsa menunggu Nanda balik dari toilet, dia baru tahu jika gadis itu berantem lagi dengan Kesya. Sama seperti pertama, Kesya yang memulainya duluan. Membuat Cika lama-lama muak dengan sikap Kesya itu.


''Itu Nanda!'' tunjuk Salsa kepada gadis yang sedang berjalan kearah mereka, karna kedua gadis itu menunggu Nanda di ambang pintu.


Tadinya, Cika dan Salsa ingin menghampiri Nanda ke toilet, namun teman kelasnya mengatakan jika Nanda bersama dengan Ardian.


Kedua gadis itu langsung menghampiri Nanda.


''Na, lo nggak apa-apa, kan?'' tanya Cika dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.


‘’Gue nggak apa-apa.''


‘’Tapi muka kamu pucat, Nan,'' ucap Salsa.


‘’Benar-benar sih, Kesya. Gue muak dengan sikap dia!'' Cika ingin pergi meninggalkan Salsa dan Nanda untuk mendatangi Kesya.


''Lo mau kemana?'' tanya Nanda, seraya mencekal pergelangan tangan milik Cika.


''Gue mau nyamperin, Kesya,'' ucap gadis itu.


‘’Nggak usah, kalau kesabaran gue udah habis, gue bakalan kasi dia pelajaran,'' ucap Nanda dengan yakin.


Gadis itu masih menghargai Kesya sedikit, karna bagaimanapun gadis itu sudah menerimanya dengan baik, saat pertama kali dia menginjakkan kaki di sekolah ini.

__ADS_1


Nanda tidak menganggap jika Kesya itu saudara. Baginya, Kesya adalah aih besar yang papanya punya, yang seharusnya di tutupi.


__ADS_2