
Bell pulang sekolah berbunyi, membuat Arya berjalan cepat menuju belakang sekolah. Dia akan menemui seseorang di sana.
''Greta.'' Arya memanggil Greta, saat melihat itu sedang memandang kedepan.
Greta membalikkan tubuhnya, melihat cowok yang mengalami scandal denganya, hanya saja orang-orang tidak tahu jika itu adalah Arya.
Arya menatap gadis itu, dia melihat bibir Greta terluka, entah karna terbentur meja atau apa, namun Arya bisa melihat bibir gadis itu terluka.
''Buat apa lo manggil gue kesini,'' tanya Greta dengan suasana hati tidak tenang.
Dia memikirkan Ardian, dia yakin Ardian sudah melihat videonya itu. Dan setelah Ardian melihat videonya, cowok itu akan semakin jijik kepadanya.
‘’Gue mau kasi sesuatu,'' balas Arya, seraya mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
''Buat tutup mulut.'' Arya menyerahkan amplop berwarna coklat kepada Greta.
‘’Gue harap, lo nggak bilang sama semua orang, kalau cowok yang berciuman sama lo itu gue,'' jelas Arya. ''Lo tau, kan. Kalau hati gue masih menunggu satu nama cewek, gue nggak mau dia sam—''
‘’Nggak usah banyak ngomong.'' Greta langsung mengambil amplop coklat itu dengan kasar dari tangan Arya.
Gadis itu membuka amplop coklat itu, lalu melihat beberapa lembar uang merah di dalamnya.
Dia menghitung uang itu sebanyak 30 lembar uang merah. Greta menatap datar Arya. ''Ini nggak cukup,'' ucap gadis itu.
''Lo minta tambahannya berapa?'' tanya Arya.
Dia sudah tidak heran lagi, jika Greta itu gadis matre. ''Dua juta,'' balasnya kepada Arya.
''Gue udah nggak ada uang cas, lo sebut aja nomor req lo,'' ucap Arya, lalu Greta mulai menyebutkan beberapa angka nomor rekeningnya.
Ting...
‘’Duitnya udah masuk,'' ucap Arya, bersamaan dengan notif m-bangking masuk di ponsel Greta.
Greta merogoh saku bajunya, membuka ponselnya lalu melihat sejumlah uang masuk di rekeningnya.
Dia meminta kekuranganya dua juta, namun Arya memberikanya tiga juta.
Tanpa mengucapkannya sepatah katapun, gadis itu langsung pergi meninggalkan Arya. Arya melihat punggung Greta sudah pergi menjauh.
Tanpa mereka sadari, sosok gadis melihat Arya dan Greta, dan mendengar seluruh percakapan mereka.
Gadis itu mengusap air matanya, lalu berlari pergi dengan dadah yang memanas, saat mengetahui jika cowok yang berciuman panas dengan Greta adalah sosok Arya.
''Kakak!''
Greta langsung tersentak kaget, saat adiknya yang kelas 6 SD itu membuyarkan lamunanya.
Dia melamun, memikirkan obrolannya dengan Arya di sekolah tadi. Greta ingin curhat dengan ketiga sahabatnya, namun ketiganya kompak hilang bak di telan bumi.
Greta membutuhkan seseorang untuk menjadi pendengarannya, namun ketiga sahabatnya tidak ada. Bahkan, Vani, Yuni dan Naya tidak datang menjenguknya, mempertanyakan bagaiamana kondisinya saat video panas itu tersebar luas.
''Ada apa?'' tanya Greta berjalan menghampiri adiknya di ambang pintu.
‘’Teman kakak ada di luar,'' jawab Pai, membuat senyuman di wajah Greta. Dia pikir, sahabatnya tidak akan datang, namun ternyata pikiranya salah.
Greta membuka pintu kamarnya, lalu berjalan menuju ruangan tamu. Rumahnya memang minimalis, sehingga tidak akan ada drama jika dirinya menuruni anak tangga.
Wajah Greta langsung berubah menjadi datar, saat melihat bukan Vani, Yuni dan Naya. Melainkan anak-anak ARIGEL dan sosok gadis yang sudah bermasalah denganya di kantin.
‘’Buat apa kalian kemari?'' tanya Greta dengan datar kepada ketujuh manusia yang sedang duduk di kursi.
''Kak, Pai mau buatkan teh untun teman-teman kakak, tapi gula di dapur habis,'' ucap Pai dengan lusuh.
Membuat Nanda meremas ujung bajunya.
__ADS_1
''Nggak usa,'' ketus Greta kepada Pai.
‘’Tapi, kak...''
''Pai, sekarang kamu balik ke kamar kamu. Kakak mau bicara sama mereka,'' ucap Greta kepada adiknya agar Pai segera pergi dari sini.
''Iya, kak,'' ucap anak itu dengan lesuh.
''Maaf kakak-kakak. Pai nggak buatin kalian minuman, gulanya habis,'' ucap anak itu polos kepada mereka.
Mereka tidak bisa menyembunyikan senyuman bercampur perih itu.
''Nggak apa-apa, dek,'' ucap Nanda dengan senyuman kepada Pai.
''Pai...''
''Iya, kak. Pai bakalan balik ke kamar.'' Anak itu langsung pergi meninggalkan ruangan tamu.
''Gue mau lo ikut kita kerumah sakit,'' ucap Gerald dengan dingin, membuat senyuman sinis tercipta di wajah gadis itu.
''Kalau kalian kesini, cuman buat nyuruh gue jenguk cewek sialan itu! Lebih baik kalin pulang!'' usir Greta dengan menunjuk kearah pintu.
''Nggak usah ribet lo,'' desis Rafael kepada Greta.
''Kata-kata itu pantas buat kalian,'' balas Greta.
''Cih. Kita nggak bakalan kesini kalau ini bukan kemauan Gerald,'' sungut Rafael.
‘’Nyusahin banget sih lo jadi cewek,'' lanjut Rafael, membuat Greta mengepalkan tanganya.
‘’Raf, gue minta kali ini lo diam aja,'' mohon Izam kepada Rafael. Omongan Rafael sangat menyakitkan jika di teruskan. ‘’Demi gue,'' lanjut Izam membuat Rafael mau tidak mau harus diam.
''Kita emang nggak kenal, tapi gue prihatin sama lo,'' ucap Nanda seraya tersenyum tulus kepada Greta.
Entah mengapa ada perasan bersalah dalam dirinya, melihat Greta seperti ini. Dia yakin, gadis didepanya itu gadis baik-baik. Hanya keadaan saja yang membuatnya brutal.
‘’Seharusnya lo berterimakasih, karna orang yang nggak akrab sama lo, bisa prihatin,‘’ucap Nanda dengan bijak, membuat Greta membuang wajahnya ke samping.
''Mana sahabat lo itu? Mereka nggak datang, kan. Kalau mereka benar-benar sahabat lo, mereka bakalan datang kesini,'' sinis Rafael.
‘’Raf.'' Kali ini Ardian yang menegur cowok itu. Meskipun Ardian tidak menyukai Greta, namun rasa kasihan masih ada dalam dirinya.
Akhirnya, Rafael menutup mulutnya rapat-rapat.
‘’Gue keluar, gue nggak mau sampai mulut gue kebablasan lagi,'' pamit Rafael meninggalkan mereka disana.
‘’Mendingan lo ikut kita kerumah sakit,'' ucap Ardian datar, menatap Greta dengan tatapan datar itu.
Greta nampak berpikir, ini bisa menjadi peluang untuknya mendekati Ardian, namun karna dia masih punya rasa malu, dia tidak mendekati cowok itu dulu.
Bahkan, Greta sangat ingin tidak menampakkan wajahnya di depan Ardian, setelah kejadian memalukan ini viral.
''Ada kita Disini, Gre. Kita tahu, lo sepenuhnya nggak salah,'' ucap Izam sebagai cowok yang selalu menunggu balasan cinta Greta.
Meski dia tahu mengenai video itu, rasa cintanya tidak luntur untuk Greta. Sudah jelas bukan, perasaan yang Izam punya untuk Greta itu benar-benar tulus.
Hanya saja Greta tidak membuka hati untuknya, karna gadis itu jatuh cinta kepada Ardian. Gadis mana sih yang tidak ingin dengan bersanding dengan Ardian.
''Gue nggak bisa ikut kalian,'' tolak Greta. Untung saja Rafael sudha keluar, jika cowok itu masih ada, mereka yakin Rafael akan kembali mengoreksi ucapan Greta barusan.
''Emang keras kepala,'' gumam Ethan yang sedari tadi hanya diam.
Sementara Leo sibuk dengan gamenya, karna Pute sedari tadi merengek untuk mabar denganya.
''Kenapa?'' tanya Nanda.
__ADS_1
''Nggak ada yang nemenin adik gue,'' jelas Greta.
‘’Mama sama papa lo, kan ada. Biar mereka aja dulu yang jagain adik lu,'' ucap Ethan.
''Yang dibilang sama Ethan benar,'' sahut Leo tanpa mengalihkan pandanganya dari ponselnya.
Greta tidak membalas ucapan mereka lagi, dia menyuruh mereka untuk menunggunya. Terlebih dahulu Greta masuk kedalam kamar adiknya.
Rupanya Pai belum tidur, karna dia masih sibuk dengan gambarannya.
''Kakak,'' panggil Pai saat melihat kakanya ada di sini.
''Pai, lu di sini tungguin gue sampai pulang. Kakak mau jenguk teman kakak yang sakit,'' ucap Greta.
''Atau kakak manggil tetangga sbelah buat nemenin Pai?'' tanya Greta dan dibalas gelengan kepala oleh anak itu.
''Pai Disini aja, kak.''
Setelah berbincang-bincang dengan Pai, gadis itu langsung keluar kamar.
Ethan mengajak mereka untuk segara pergi, karna mereka akan kerumah sakit.
''Lu mau naik mobil atau motor?'' tanya Izam kepada Greta.
‘’Di mobil siapa aja?'' tanyanya dengan datar.
''Ada gue, Ethan, Nanda sama Gerald,'' jawab Izam. ''Yang naik motor ada Leo, Ardian dan Rafael.''
''Siapa tau aja lu mau bareng sama Ardian,'' ucap cowok itu seraya tersneyum tipis kearah Greta.
Untung saja Ardian tidak ada, jadi dia tidak memprotes ucapan cowok itu barusan.
''Lo naik mobil aja sama kita,'' sahut Nanda.
''Ini udah malam, cuaca malam hari nggak baik buat kesehatan,'' lanjutnya.
Greta tidak membalas ucapan Nanda, gadis itu langsung membuaka pintu mobil di kursi tengah.
‘’Zam, lo didepan yah sama Gerald,'' ucap Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Izam.
Izam duduk di depan berdampingan dengan Gerald, sementara di kursi tengah ada Nanda dan Greta, di kursi belakang ada Izam.
Gerald langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah minimalis milik Greta, sementara dibelakang mereka di ikuti oleh tiga motor milik anak ARIGEL.
Didalam mobil tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun, Izam dan Ethan yang cerewe tiba-tiba saja diam saat Greta ikut dengan mereka.
''Nan,'' panggil Izam untuk memecahkan keheningan didalam mobil ini, rasanya sangat horor jika mereka hanya diam-diam saja sepanjang perjalanan.
''Kenapa?'' balas gadis itu.
''Bagi permen karet lo dong,'' ucap Izam. ''Siapa tau aja kegugupan gue hilang kayak lo,'' ucapnya seraya tertawa kecil membuat Nanda memutar bola matanya malas.
Nanda langsung saja merogoh tasnya, mengambil permen karet untuk Izam.
‘’Gue juga, minta,'' sahut Ethan dari belakang.
Nanda mulai memberikan permen karet untuk Izam dan Ethan.
''Lo nggak mau, Rald?'' tanya Izam dan dibalas gelengan kepala cowok itu.
‘’Coba aja dulu. Siapa tau aja hati lo langsung meleleh saat makan nih permen karet.'' Tanpa menunggu aba-aba, Izam langsung memasukkan permen karet itu kedalam mulut Gerald.
Gerald mau tidak mau harus membuka mulutnya, menbuat Ethan yang berada dibekang mereka terkekeh.
Nanda hanya mengalengkan kepalnya, ''lo mau?'' Nanda menawarkan permen karet kepada Greta.
__ADS_1
Tanpa menjawab, gadis itu langsung mengambilnya dari tangan Nanda, Greta sedikit rileks saat mengunyah permen karet tersebut.
Suasana hatinya sedikit tenang, hanya sedikit saja. Tapi setidaknya mengurangi sekecil biji jagung.