ARDIAN

ARDIAN
Aib


__ADS_3

Kemarin, Ardian ingin menjenguk Nanda. Terlebih lagi saat Salsa megatakan jika Nanda pulang lebih dulu karna sakit.


Namun, Salsa mengatakan padanya untuk tidak kerumah Nanda untuk saat ini, karna gadis itu butuh istirahat.


Ardian saat itu mengangguk paham dengan ucapan Salsa, terlebih lagi mereka tahu masalah keluarga Nanda saat ini.


Malam ini, Kesya tidak tenang. Ucapan Greta di kantin membuat gadis itu kepikiran. Berita panas apa yang bisa menyandingi video viral Greta itu.


''Kesya, tenang. Lo nggak boleh khawatir, karna lo nggak punya aib sebesar itu,'' gumam gadis itu seraya mengingat, jika dia tidak melakukan kesalahan hingga seseorang akan memviralkannya.


''Ahk, sial! Kenapa omongan Greta bikin gue khawatir kayak gini!'' desis Kesya.


Kesya berjalan menuju tempat tidurnya, menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur.


Pikiranya pada Greta sudah teralihkan, pikiran gadis itu saat ini berada pada Ardian, ucapan Ardian saat di dalam kelas terngiang-ngiang dalam pikiran Kesya.


Sudah dia duga, jika selama ini Ardian menyukai Nanda.


‘’Nggak bakalan gue biarin lu, Na. Dapetin Ardian. Ardian cuman milik Gue. Greta aja gue saingi, apa lagi lo,'' desis gadis itu. ''Taik, gue nyesel nerima dia di pertemanan gue, Cika sama Salsa udah mggak berpihak sama gue lagi.''


Gadis itu sibuk dengan pikiranya sendiri.


Kesya bangun dari tempat tidurnya, berjalan keluar kamar. Kesya mendengar keributan dari bawa.


Rupanya mama dan papanya sedang berantem, kepala Kesya semakin pusing. Entah mengapa akhir-akhir ini Kesya sering melihat kedua orang tuanya berantem.


‘’Apa sih yang mereka ributin. Duit banyak, apa lagi coba yang mereka ribut in?'' Kesya memijit pelipisnya.


Tadinya dia ingin turun ke lantai bawa, menemui mamanya. Namun melihat mamanya sedang ribut membuat niat gadis itu terurung.


Jangan sampai Raisa akan meluapkan kemarahannya padanya, jadi lebih baik Kesya menghindar saja.


Gadis itu kembali masuk kedalam kamarnya, lalu mematikan lampu kamar.


''Mending gue tidur,'' gumam gadis itu lalu mulai memejamkan matanya.


***


Pagi haripun tiba, Kesya sudah siap dengan seragam sekolahnya. Dia berjalan menuruni anak tangga. Di meja makan sudah ada Raisa dan Iksan menunggu dirinya.


Kesya menggeser kursi di depan Raisa, lalu tangan gadis itu bergerak mengambil roti. Kesya menyeritkan alisnya, saat melihat pipi mulus milik mamanya itu memar.


''Ma, pipi mama kenapa?'' tanya Kesya.


Raisa tidak menjawab, dia hanya melirik Iksan lalu kemudian Kesya menatap papanya itu.


''Nggak mungkin kalau papa nampar mama,'' ucap gadis itu. Pipi milik Raisa bukan hanya memar di sebelah kanan, tapi juga memar di sebelah kiri.


Kedua pipi wanita itu memerah.


''Pipi sebelah kanan di tampar sama papa.''


Ucapan Raisa sukses membuat Kesya diam, selama ini dia melihat mama dan papanya harmonis. Namun mengapa tiba-tiba papanya menampar Raisa?


''Kalau pipi sebelah kiri, di tampar sama mama teman kamu,'' lanjut Raisa membuat Kesya tidak paham dengan apa yang di katakan oleh Raisa barusan.


''Maksud mama? Teman aku yang mana sih?'' tanya Kesya.


''Nanda.''


Kesya mengepalkan tanganya, gadis itu berpikir jika mama Nanda telah menampar mamanya, karna dia menyiram Nanda dengan es jeruk kemarin di kantin.


‘’Nggak usah dengerin ucapan mama kamu,'' ucap Iksan.


Kesya menyimpulkan, jika papanya menampar Raisa karna berantem dengan mamanya Nanda.


***


Kesya memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah, dia ke sekolah hanya sendiri saja, karna Pute dan Puri berangkat menggunakan kendaraan mereka masing-masing.


Kesya menyeritkan alisnya, saat melihat beberapa teman sekolanya sedang berkumpul di parkiran, jangan lupa tatapan mata mereka tertuju pada mobilnya.


Kesya memakai tasnya, membuka pintu mobil. Baru saja gadis itu membuka pintu mobilnya dan menginjakkan kakinya dibawa tanah, suara riuh langsung menyambut telinga Kesya.


''Huuu! Dasar anak pelakor!''


Kesya menutup wajahnya, karna mereka menyerangnya menggunakan telur yang sangat busuk.


‘’Kurang ajar kalian!'' Baju sekolah dan rambut gadis itu sudah dipenuhi dengan telur busuk.


‘’Anak pelakor kayak lo nggak pantas sekolah di sini!''


Kata pelakor itu membuat Kesya mengepalkan tanganya, ada apa lagi ini?


Bahkan, gadis itu ingin muntah dengan baunya sendiri di penuhi dengan telur busuk, rambutnya sudah lepek karna telur busuk menerpah tubuh dan rambutnya.


Seluruh orang-orang di parkiran sekolah meneriaki dirinya dan melemparinya dengan telur busuk di sertai dengan teriakan anak pelakor.

__ADS_1


''Eh, Kesya. Lo itu anak pelakor. Lo sama aja kayak mama lo! Udah rebut Kebahagian orang!''


‘’Nggak mau gue berteman sama anak pelakor!''


‘’Dasar anak haram!''


‘’Mamanya tebar pesona sama suami orang, makanya dia bisa lahir di dunia ini!''


''Yaiyalah, kalau mamanya nggak centil, dia nggak akan ada di dunia ini!''


''Hati-hati! Nyokapnya aja pelakor. Jangan sampai anaknya juga nanti jadi pelakor!''


Kesya mengepalkan tanganya, dia masih belum mengerti. Siapa pwlakor? Mereka mengatakn jika mamanya seorang pelakor, sementara dia adalah anak haram.


''Kesya!'' Puri dan Pute menutup mulutnya terkejut melihat kondisi Kesya yang tidak karuan.


Kedua gadis itu langsung menghampiri Kesya, seragam sekolahnya sudah di penuhi dengan telur busuk.


''Mau-Mau aja ya kalian berteman sama anak pelakor kayak dia!'' cibir salah satu dari mereka yang melempar Kesya dengan telur busuk.


‘’Tinggalin aja, jangan sampe kita ketularan. Atau jangan smapai mamanya bakalan goda papa kita lagi.'' Mereka semua mencibir Kesya lalu pergi dari parkiran sekolah, setelah mereka melempar telur busuk itu pada Kesya.


Puri tidak peduli, kalau bau Kesya saat ini membuatnya ingin muntah. Dia membawa gadis itu menuju papan mading, tempat yang di suruh kan Greta saat mereka di kantin.


‘’Kurang ajar!'' Kesya dengan penuh kemarahan mencabut poster wajah dan papanya, jangan lupa fotonya juga terpasang jelas di sana, dengan tulisan anak pelakor dan anak haram.


Gadis itu juga terkejut, saat melihat foto pernikahan papanya dengan wanita lain, foto itu sudah sangat lama, dan ada bebarapa foto mamanya memakai pakaian tidak layak. Bisa di katakan status mamanya berubah saat menikah dengan Iksan.


Deg…


Jantung Kesya berdetak kencang. Saat melihat ada foto Nanda dan foto milik dokter Boy di sampingannya.


Jangan lupa. Tertulis anak yang tersakiti dan juga istri tersakiti demi anak haram dan sang pelakor.


Kesya susah berpikir, saat imi dia dalam kondisi apa.


“Gue sama Nanda saudara?” guman Kesya Masih dengan pikiran berkecamuk.


Kesya ingin menjambak rambutnya. Dia sudah di kenal sebagai anak pelakor. Mereka semua percaya akan hal itu, karna adanya Boy yang lebih tua dari dirinya.


''Nggak mungkin!'' teriak Kesya mencabut seluruh foto itu.


''Sya, lo baru tahu, kalau lo sama Nanda saudara?'' tanya Pute.


Kesya menatap Puri, tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Puri barusan.


Dalam satu tarikan nafas Puri menjelaskannya kepada Kesya, membuat gadis itu memejamkan matanya. Dia tidak di beritahukan oleh orang tuanya mengenai ini.


''Yang buat gue heran, siapa yang nyebarin ini semua? Pas itu cuman ada kita sama anak ARIGEL,'' gumam Pute.


''Gue tahu siapa,'' gumam Kesya.


''Emangnya siapa?'' tanya Pute dan Puri hampir bersmaan.


Gadis itu membalikkan tubuhnya ingin menghampiri Greta. Dia baru ingat, kemarin gadis itu menyuruhnya untuk cek mading karna ada berita panas yang lebih pans dari video gadis itu.


Saat membalikkan tubuhnya, gadis itu sudah melihat Greta bersedekap dadah kearahnya, jangan lupa senyuman di wajahnya terpancar.


‘’Lebih panas bukan, dari video gue yang viral itu?'' Greta mengelilingi tubuh Kesya.


''Duh, lu bau banget. Di lempar sama siapa?'' Ejek Greta seraya menutup hidungnya, karna bau telur busuk itu sangat menganggu.


‘’Pengen muntah gue,'' sinis gadis itu.


‘’Gimana rasanya tercipta sebagai anak pelakor? Mobil yang lu beli pake duit bokapnya, Nanda kan? Bangga banget sih,'' tawanya pada Greta.


''Lo diam!'' Greta menunjuk wajah Puri saat gadis itu ingin angkat bicara. ''Ini urusan gue sama Kesya. Balas dendam yang baru bisa gue balas sekarang.''


Greta kembali menatap tajam Kesya. ‘’Gimana pembalas gue, Sya? Masih mau gue tambahin, kalau lo itu sebenarnya aib yang harus di tutupi bukan di pamer,'' sinis Greta.


‘’Lo tahu, lo tercipta karna hubungan haram!''


''Diam lo!''


''Kita pergi, Sya!'' Pute menarik tangan Kesya pergi dari hadapan Greta, jangan sampai gadis itu kembali beradu.


‘’Lepasin! Gue mau pulang!'' Akhirnya Pute melepaskan tangan Kesya, membiarkan gadis itu pergi.


Banyak pasang mata menatap Kesya dengan tatapan jijik. Gadis itu akan pulang kerumuhanya meminta penjelasan kepada Iksan dan Raisa.


‘’Wah, itu Kesya kenapa?'' Tanya Leo penasaran kepada sahabatnya, melihat kondisi Kesya yang sangat menjijikkan untuk dilihat.


Kesya melewati Ardian dan sahabatnya, membuat anak ARIGEL bersamaan menutup hidung mereka, karna Kesya melewatinya.


''Ini yang di maksud sama Greta kemarin, berita panas. Kesya di bulli sama teman sekolah kita sendiri, kalau dia itu anak haram, karna tercipta dari hubungan suami yang sudah beristri.'' Ujar Rafael.


''Yang nyebarin siapa?'' tanya Ardian dengan penasran, ‘’nggak mungkin juga kalau ada diantara kita.''

__ADS_1


‘’Greta,'' ucap Rafael membuat mereka semua terdiam.


‘’Wktu itu kan Greta nggak ada,'' ucap Izam.


''Apa lo tahu, kan kalau Greta mengintip,'' ucap Rafael lagi.


''Awas aja lo, Gre,'' gumam Kesya dengan penuh amarah.


Kesya langsung melajukan mobilnya untuk segera pulang kerumah, di sepanjang perjalanan Kesya selalu mengerutuki dua nama, yaitu nama Nanda dan Greta.


Hampir saja gadis itu menabrak pejalan kaki yang ingin menyeberang, lampu merah namun gadis itu tetap menerobos nya.


Untung saja polisi lalu lintas tidak ada pagi ini. Air mata gadis itu turun di pipihnya, dia tidak menyangka jika hal ini akan terjadi pada dirinya sendiri.


''Gue benci semua ini!'' geram Kesya memukul stir mobilnya begitu kuat.


Gadis itu muntah di dalam mobil, bau busuk telur itu membuatnya baru muntah sekarang. Matanya memerah bercampur dengan rasa amarahnya saat ini.


''Nggak bakalan gue biarin lu bahagia, Na.''


***


“Mama yakin mau ngirim ini pake kurir?'' tanya Boy memastikan jika surat perceraian itu akan dia kirim pada Iksan, melalui kurir. Pria itu sendiri yang akan menandatanganinya.


''Iya,'' jawab Gina, seraya memasukkan surat itu kedalam maps.


‘’Biar Boy aja yang antar, Ma,'' pintah Boy.


''Nggak usah, mama udah Telfon mas kurirnya untuk kesini,'' ucap Gina membuat Boy berdengus.


‘’Yaudha.''


Boy pergi meninggalkan kamar milik Gina, pria itu masuk kedalam kamarnya sendiri. Mengambil ponselnya dan membuka Instagram.


Yang membuat Boy terkejut adalah, saat dia membuka ig berita mengenai papa, istri keduanya viral.


Boy bergedik ngeri melihat potret milik Kesya di sebar luaskan oleh penggunaan Instagram, dengan caption anak haram.


‘’Siapa yang nyebarin semuanya?'' gumam Boy. ''Apa Ara? Nggak mungkin juga kalau dia.''


Boy menyimpan ponselnya diatas nakas, lalu tersenyum sinis. ''Aib mereka udah kebuka sama orang lain. Gue janji, habis ini gue bakalan buat papa, pelakor dan anak kesayanganya itu menderita,'' gumam Boy.


Tok..Tok..Tok


Pintu kamar Boy di ketuk, membuat pria itu langsung menyuruh mamanya untuk masuk, karna dia yakin yang mengetuk pintu kamarnya adalah Gina.


‘’Kenapa, Ma? Apa mama berubah pikiran, biar Boy yang antar suratnya,'' ucap Boy membuat Gina menggelengkan kepalanya.


‘’Udha di antar sama mas kurir,'' ucap Gina membuat Boy memanyunkan bibirnya.


''Kayak anak kecil saja.'' Gina sengaja tidak memberikan izin Boy mengantar surat itu, karna dia yakin, jika anaknya yang mengantar surat perceraian itu, maka Iksan dan Boy akan beradu kembali. Entah itu aduh tamparan, omongan atau yang lainya. Itu semua yang di hindari oleh Gina.


''Kita yakin mau liburan dalam kondisi kayak gini?'' tanya Gina dan dibalas anggukan kepala oleh Boy.


''Boy udah minta cuti selama satu minggu, masa iya harus di batalin. Kita harus rayain perceraian mama sama papa,'' ucap Boy membuat Gina langsung mencomot bibir anaknya itu dengan tanganya.


‘’Ma, Boy sengaja ngajak mama sama Nanda buat liburan di luar negeri, biar pikiran mama, Boy sama Nanda bisa tenang dari masalah ini. Kita tinggali Indonesia beberapa hari aja,'' ucap Boy membuat Gina tertawa pelan dengan ucapan anaknya barusan.


''Kita mau kemana?'' tanya Gina, karna Boy hanya mengatakn ingin jalan-jalan, namun belum mengatakan negara apa yang akan mereka kunjungi.


‘’Swiss,'' ucap Boy. ''Mama sama Nanda pengen banget kan kesana,'' lanjut Boy dan dibalas anggukan kepala oleh Gina.


Mereka berdua bepelukan, negara tersebut adalah negara yang ingin Gina kunjungi saat bersama Iksan. Mereka akan pergi kesana tanpa Iksan.


Gina pergi meninggalkan Boy, karna dia ingin ke taman untuk menyiram seluruh tanamannya, guna menghilangkan juga pikiranya yang terus-terusan memikirkan Iksan.


''Kamu pasti bisa,'' guma wanita itu pada dirinya sendiri.


Kurir mengetuk pintu rumah Iksan, pria itu sendiri yang membuka pintunya, karna pagi ini dia tidak ke kantor karna pikiranya yang berkecamuk mengenai masalah ini.


''Ada apa ya, Mas?'' tanya Iksan kepada kurir itu.


‘’Ada paket untuk bapak,'' ucap Kurir itu.


''Dari siapa?'' tanya Iksan.


‘’Dari bu Gina.''


Kurir itu langsung menyerahkan amplop itu kepada Iksan.


‘'Saya pamit dulu,'' pamitnya dan dibalas anggukan kepala oleh Iksan.


Pria itu membuka amplop utu, dia penasaran apa yang di kirim oleh Gina.


Deg..i


Jantung pria itu berdetak kencang, saat membaca isi surat itu.

__ADS_1


''Surat perceraian.'' Yang harus dia tanda tangani.


__ADS_2