ARDIAN

ARDIAN
Kalau Boy tahu


__ADS_3

Ethan dan Izam datang membawa makanan pesanan mereka. Kedua cowok itu langsung meletakkan makanan pesanan sahabat nya diatas meja.


"Lama amat," datar Rafael seraya mengambil makanan yang ia pesan dari Izam.


"Tinggal ambil aja, Raf. Kita nih ngantri makanan nya," gerutu Izam, bukannya berterimakasih cowok itu malah mengeluh pada nya, seharusnya dia yang mengeluh harus ngantri makanan di kantin rumah sakit.


"Buruan di makan, entar makannya dingin," kata Leo.


"Gitu aja ribet," ujar Ardian seraya mengambil kan makanan pesanan Nanda.


"Makan aja, Zam. Tubuh lo butuh makanan buat terima kenyataan, kalau Greta udah milik orang lain. Udah jadi istri dokter Boy." Ethan ikut menimpali membuat Izam menatap horor cowok itu.


"Gue udah move on ya," bohong nya, padahal dia baru berusaha ingin move on dari gadis yang ia incar itu.


Mereka berenam makan dengan khidmat, tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun, mereka fokus dengan makanan mereka masing-masing.


"Makanannya kenapa nggak di habisin?" tanya Ardian melihat Nanda telah mengakhiri makanan nya, padahal nasi ayam gadis itu masih lumayan banyak.


"Gue udah kenyang, Ar," balas Nanda.

__ADS_1


"Habisin, lo nggak lihat badan lo makin kurus, kayak orang nggak pernah makna," terang Ardian pada gadis itu.


"Eh, Ar, sejak kapan mulut lo ketularan sama mulut nya Rafael?" celetuk Izam dengan tawa kecil nya, mulut nya setia mengunyah makanan.


"Nggak usah nyahut, entar lo keselek. Kita juga yang repot," timpal Ethan.


"Terserah gue," nyolot Izam, dan berakhir lah mereka adu mulut di meja, seluruh pasang mata di kantin menatap kearah meja mereka, meja mereka lah yang paling mencolok diantara meja lain nya.


Rafael memutar bola matanya malas, melihat perdebatan Ethan dan Izam, padahal mereka berdua tadi kompak saat memesan makanan.


Leo hanya menggelengkan kepala nya pelan, sembari tersenyum kecil, rasanya ada yang kurang jika Izam dan Ethan tidak berdebat, tapi jika mereka hanya berdua saja mereka akan kompak.


"Pakai baju sekolah?" tanya balik Nanda, pasal nya mereka mengenakan baju sekolah saat ini, belum ganti pakain sekolah.


"Mau pulang ganti baju dulu?"


"Nggak usah, pake baju sekolah aja. Entar gue pakein cardigan," jelas Nanda.


Ardian melanjutkan lebih dulu makan nya, sebelum keluar jalan bareng Nanda.

__ADS_1


Setelah makan, Ardian pamit pada sahabat nya, menyuruh mereka untuk pulang lebih dulu, karna ia ingin keluar dengan Nanda.


Ardian langsung melenggang pergi meninggalkan para sahabat nya, berjalan menelusuri koridor rumah sakit hingga mereka berdua berpapasan dengan Greta di Koridor.


"Lo mau kemana?" tanya Nanda kepada Greta, membuat langkah kaki gadis itu terhenti.


Bukannya menjawab, Greta malah menatap Ardian, membuat Ardian menatap tajam ke arah Greta yang berani menatap diri nya dengan terang-terangan.


"Nggak usah lihatin gue kayak gitu," kata Ardian, andai Greta bukan istri Boy mungkin dia akan berkata lebih kasar dari ini.


"Ar," tegur Nanda.


Ardian menghembuskan nafas berat, lalu kemudian cowok itu menarik tangan Nanda melewati Greta.


"Jangan ngomong kayak gitu sama Greta," kata Nanda, setelah mereka sampai di parkiran.


"Gue nggak ngomong apa-apa," balas Ardian.


"Jangan sampai bang Boy tahu, kalau lo kasar ngomong nya sama Greta. Bisa di tendang lo."

__ADS_1


__ADS_2