
Nanda keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Ardian yang sudah tertidur, dengan wajah yang sedikit memar, karna bekas tonjokan dari perkelahian nya di sekolah tadi.
"Liatin aja terus, Ra," celetuk Boy membuat Nanda tersentak kaget, dia tidak tahu sejak kapan Boy ada di dekat mama nya, menyuapi Gina makanan.
Gina tertawa kecil, "kayak kamu nggak gitu aja, Boy," kata Mama Gina membuat Boy hanya tertawa pelan.
Nanda berjalan menghampiri Boy, untung saja dia sudah wangi, tidak sebau dan sekucel tadi.
"Bang, gue tinggal di sini ya. Jagain mama," kata Nanda membuat Boy nampak berpikir, "entar malam minggu, besok nggak ke sekolah juga," jelas nya.
"Tap--"
"Biarin Ara jagain mama di sini. Tapi Ara harus janji ya sama mama. Minggu pagi kamu harus pulang untuk belajar, minggu depan, 'kan kamu UAS." Gina memotong ucapan Boy.
"Iya, Ma." Nanda membalas nya dengan senyuman merekah.
Boy kembali menyuapi Gina makanan, lalu kemudian Nanda meminta alih, agar dia yang menyuapi sang mama.
"Ara udah makan?" tanya Gina, saat menerima suapan terakhir dari anak gadis nya.
"Belum, Ma," jawab nya, lalu menuntun Gina untuk minum.
"Makan dulu, Ra. Entar kamu sakit," kata Gina menatap anak nya lekat-lekat.
"Iya, Ma. Kalau Ardian udah bangun, aku bakalan ngajak dia sekalian makan," jelas nya pada Gina.
"Ardian doang yang di ajak, gue nggak gitu?"
Nanda melirik Boy, "tinggal ikut aja, bang. Apa susah nya coba," balas Nanda acuh.
"Beda kali, Ra. Kalau di ajakin langsung," jelas nya tak mau kalah oleh adik nya.
Nanda tidak menggubris ucapan Boy lagi, menurut nya tidak penting untuk membalas ucapan nya itu.
__ADS_1
"Ra," panggil Boy.
"Apa?" tanya nya.
"Nggak jadi. Gue mau ketemu dokter Ivan dulu." Boy berdiri dari kursi sofa yang ia duduki, lalu berjalan keluar kamar untuk mengangkat telfon dari dokter Ivan.
Nanda melihat punggung kokoh Boy yang sudah berlalu pergi, lalu dia kembali menatap sang mama.
"Ma, mama kenapa?!" Nanda panik melihat mama nya memegang kepalanya seraya meringis pelan, seakan-akan menahan ringisan yang hebat itu, agar tidak terlalu terdengar.
"Mama cuman pusing, Ra. Ambilin mama obat di atas nakas," kata Gina sembari memegang kepala nya yang tiba-tiba sakit.
Penyakit kepala yang datang mendadak, membuat nya kehilangan keseimbangan. Dia tidak ingin melihat anak nya khawatir pada nya, sehingga Gina hanya meringis kecil saja.
Nanda dengan cepat mengambil obat diatas nakas, lalu menuntun sang mama untuk minum obat.
Uhuk... Uhuk... Uhuk.
"MAMA!!!!"
"Jangan sakit, Ma!" tangis nya pecah kala melihat wajah mama nya makin pucat.
Ardian berlari kencang untuk memanggil dokter, melihat Nanda menangis membuat nya ngilu sendiri, dia tahu gadis itu panik melihat mama nya batuk mengeluarkan banyak darah.
"Mama, hiks.. "
Nanda mengusap sudut bibir Gina menggunakan tisu, baru saja mereka bercanda mamanya tiba-tiba sakit kepala di sertai batuk darah.
"Mama nggak kenapa-napa, Ra." Gina berkata pelan, dia merasa bersalah membuat putri nya kembali menangis. Dia sudah banyak melihat air mata itu menetes dari mata nya yang indah.
Nanda menggeleng lemah, dalam keadaan seperti ini. Gina masih mengatakan jika dia baik-baik saja.
Sekarang Nanda tidak percaya, jika mama nya hanya sakit biasa.
__ADS_1
Boy dan Ivan datang tergesa-gesa, Ivan dengan cepat langsung memeriksa kondisi Gina, sementara Boy menenangkan adik nya yang menangis, lalu membawa gadis itu keluar dari ruangan Gina, karna sang mama tengah di periksa.
Boy juga kaget, Tiba-tiba sakit mama nya kambuh lagi. Padahal dua hari ini, sakit kepala dan batuk darah sudah tidak ia rasakan lagi. Dan penyakit itu datang tiba-tiba, dan adanya Nanda di sana, membuat gadis itu panik.
"Tenang, Ra. Mama bakalan nambah sakit kalau lihat kamu nangis kayak gini." Boy berkata tegas pada adiknya, pria itu jika dalam mode serius membuat siapapun akan salut melihat nya. Apa lagi dia berperan sangat baik sebagai kakak yang menenangkan sang adik.
"Bang Boy kenapa nyembunyiin ini semua dari gue, Bang! Mama nggak baik-baik aja, 'kan?!" Nanda berharap begitu, namun melihat mama nya sakit tiba-tiba, membuat nya ragu jika mama nya baik-baik saja.
"Apa yang gue sembunyiin dari lo, Ra. Mama baik-baik aja!" Nanda memukul dadah bidang tersebut, balasan dari Boy tidak sesuai dengan apa yang barusan ia lihat.
"Lo bohong, bang! Kenapa lo selalu nyembunyiin hal besar dari gue. Apa karna gue nggak sedewasa lo. Jadi lo nyembunyiin ini semua!" gadis itu terisak, membuat Boy langsung membawa adik nya kedalam dekapan nya.
"Maafin gue, Ra." Suara Boy merendah, mengusap rambut adik nya. "Maafin gue, ya. Gue sayang sama lo, Ra. Gue nggak mau kesedihan nguasain lo." Nada suaranya tersirat penyesalan.
Nanda tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya bisa menangis, menumpahkan rasa sakit nya dengan cara menangis.
Apa lagi yang bisa ia lakukan, selain menangis?
"Lo selalu nyembunyiin hal besar dari gue, bang. Tanpa lo pikir, sesuatu yang lo sembunyiin bakalan gue tahu. Tapi lo selalu nyembunyiin. Seakan-akan gue nggak berhak tahu semuanya!" Gadis itu masih terisak. Siapapun yang mendengar tangis nya akan pilu.
"Maafin gue, Ra." Hanya kata maaf yang bisa Boy katakan.
Boy mencium puncak kepala adiknya, "kita do'ain mama, semoga mama cepat sembuh dari penyakit nya."
Nanda menatap mata Boy yang memerah, dia tahu jika kakak nya tengah menahan tangis saat ini.
Boy tersenyum getir, mengusap air mata sang adik yang masih menganak sungai, mata cantik yang menatap nya putus asa..
"Bang... "
"Gue juga sedih, Ra. Gue sakit, tapi gue berusaha tegar demi lo, Ra. Di saat mama sakit, gue yang bakalan kuatin lo. Kalau gue larut dalam kesedihan gue, siapa yang bakalan kuatin lo, Ra?" jelas Boy dengan suara bergetar hebat. "Pundak gue selalu kokoh buat lo, Ra. Pundak yang bakalan buat lo bersandar. Gue nggak boleh lemah." Boy tersenyum, lalu Nanda kembali memeluk Boy.
"Setidaknya kita tanggung bareng-bareng, bang. Jangan tanggung semuanya sendiri. Ada gue bang." Nanda memeluk erat tubuh kokoh itu.
__ADS_1
"Sekali lagi maafin gue, ya." Boy mengacak rambut Nanda dengan gemas.
"Jadi, mama sakit apa bang?"