
Bell masuk berbunyi, membuat murid-murid berbondong-bondong masuk kedalam kelas mereka.
Bu Susi wali kelas IPS 1 masuk kedalam kelas, pagi ini dia yang akan mengajar anak wali nya.
"Selamat pagi semua!" sapa Bu Susi dengan senyuman merekah di wajahnya yang sudah menginjak usia 32 tahun ini.
"PAGI, BU!" balas mereka serentak, kecuali anak ARIGEL yang duduk paling belakang.
Meski kursi yang mereka buat itu melingkar, namun mereka masih bisa mengatur diri mereka agar bisa melihat dengan jelas guru menjelaskan.
"Sudah siap untuk belajar?"
"SIAP BU!"
"Baiklah, sebelum ibu memulai pelajaran pagi ini. Ibu akan memperkenalkan kalian murid baru," kata Bu Susi dengan antuias.
"Kenapa terima murid baru, bu? Minggu depan, 'kan, udah UAS," kata salah satu penghuni kelas.
"Ibu juga kurang tahu, tapi pemilik sekolah dan ibu kepala sekolah menyetujui nya. Jadi kita tidak bisa protes," jelas Bu Susi lagi.
"Baiklah, ibu akan panggil murid baru nya," kata bu Susi.
"Silakan masuk," perintah ibu Susi.
Muncul lah sosok cowok dengan wajah tampan itu di depan mereka, dengan pakaian sekolah yang rapih.
Satu kata untuk cowok itu, dia tampan.
"Silahkan perkenalkan nama kamu," kata Bu Susi.
"Perkenalkan, nama saya Veer Arkana. Kalian boleh manggil saya Veer," ucap nya dengan senyuman.
"Ada pertanyaan untuk, Veer?" tanya Bu Susi.
"Silahkan, Izam," ujar Bu Susi lagi, saat Izam angkat tangan.
"Pindahan dari mana?" tanya Izam.
"Kepo banget lo, kayak dora." Rafael memutar bola matanya malas.
"Sirik amat sih," dengus Izam karna mendapatkan protes dari Rafael lagi.
"Saya pindahan dari bandung," jawab nya.
"Ada lagi yang ingin bertanya?" tanya ibu guru itu lagi, menatap anak wali nya satu persatu.
Tatapan mata Veer bertemu dengan mata milik Ardian, membuat Ardian menautkan alisnya. Ia tahu, jika cowok itu menatap nya. Apa mereka saling kenal?
__ADS_1
"Saya bu!"
"Silahkan, Cica.".
" Udah punya pacar belum?" tanya Cica, sehingga tercipta lah tawa didalam kelas.
"Cicak, nggak usah sama murid baru. Mendingan lo sama Izam aja!" teriak Ethan membuat mereka di dalam kelas tertawa.
"Nama gue Cica, bukan Cicak!" kesal gadis itu tanpa melihat kearah sumber suara.
Bu Susi hanya tertawa saja.
"Kalau pertanyaan Cica tadi. Itu terserah dari Veer saja. Dia mau menjawab nya atau tidak," celetuk Ibu Susi.
"Hmmm." Veer lebih dulu berdehem, "gue belum punya pacar," kata Veer membuat anak-anak cewek memekik bahagia, terutama Cica. "Tapi saya lagi mendekati gadis di kelas IPA. Do'akan saja, semoga saya bisa dapat." Kata Veer lalu kembali menatap Ardian.
Ardian mengepalkan tangan nya, dia merasakan jika ucapan cowok itu terarah pada Nanda.
Kenapa dia berpikir begitu? Karna Nanda berada di kelas, di tambah lagi cowok itu menatap nya setelah mengutarakan apa yang ia katakan.
Cica mendesah kecewa, padahal dia baru saja ingin melancarkan aksi pdkt.
"Veer, silakan duduk di dekat Cakra. Dia ketua kelas di sini," tunjuk Bu Susi pada bangku pertama yang di duduki oleh Cakra seorang diri.
"Baik, bu."
"Baiklah, ibu akan mulai pelajaran pagi ini."
Rafael yang merasakan perubahan Ardian, langsung melirik cowok itu. "Lo kenapa?" tanya Rafael, meski suara cowok itu pelan, namun sahabat nya mampu mendengar nya, sehingga Leo, Izam dan Ethan menatap Ardian.
"Emangnya Ardian kenapa?" tanya Izam, menyenggol lengan Ethan, dia juga melihat jelas perubahan air wajah cowok itu makin datar.
"Nggak tempe," balas Ethan, lalu Izam menginjak kaki Ethan.
"Sakit, tai!" pekik Ethan tertahan.
"Gue srius nanya."
"Gue nggak tahu. Kenapa lo nggak tanya langsung sama orang nya," greget Ethan.
"Nggak berani." Izam cengegesan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Ada masalah?" tanya Leo, dia merasakan hawa di sekitarnya membuat nya merinding.
Perubahan raut wajah Ardian, mampu membuat mereka takut. Rafael memberikan kode kepada Izam dan Ethan untuk berhenti berdebat.
Kedua cowok itu diam, di berikan tatapan peringatan oleh Rafael.
__ADS_1
"Lo mau kemana, Ar?" Leo menahan tangan Ardian, agar cowok itu pergi.
Mereka tidak tahu, apa yang membuat mood cowok itu rusak.
"Jangan kemana-mana, Ar. Lo nggak mau, 'kan, nilai lo di ibu Susi kosong. Lo udah janji sama diri lo sendiri, kalau tahun ini lo bakalan naik kelas." Rafael berkata panjang kali lebar.
Ucapan Rafael di berikan anggukan setuju oleh Ethan dan Izam. Mereka berdua tidak berani angkat suara sama seperti Rafael dan Leo.
Salah bicara saja, tangan kekar Ardian akan melayang di wajah nya, jika mood cowok itu berantakan, seperti saat ini.
Mereka melihat jelas, tangan Ardian terkepal hebat, urat-urat tangannya terlihat jelas, menadahkan cowok itu menahan amarah.
"Jangan ikutin gue!" tegas Ardian pada sahabat nya, lalu cowok itu melenggang pergi.
Mereka melihat, sebelum Ardian keluar kelas, sahabat nya itu menatap murid baru itu dengan tatapan tajam.
"Mereka saling kenal?" tanya Leo, melihat tatapan tajam Ardian pada murid baru itu.
"Nggak," jawab Rafael.
"Jad gimana, kita susul Ardian atau gimana?" tanya Izam.
"Kalau lo mau lihat Ardian murkah, coba aja lo nggak dengar ucapanya tadi," balas Ethan.
Rafael menyuruh sahabat nya untuk fokus pada pelajaran di depan mereka. Mereka akan menyusul Ardian setelah pelajaran ibu Susi berakhir.
Rafael tahu, kenapa sahabat nya itu melarang mereka untuk mengikuti nya. Karna Ardian tidak mau lagi, jika sahabat nya bolos. Karna mereka sudah bertekad untuk naik kelas dan lulus secepatnya.
Yang Rafael pikir, mengapa Ardian menatap murid baru itu dengan tatapan intimidasi. Rafael tahu, tatapan itu diberikan pada musuh nya.
Itu berarti, murid baru itu musuh Ardian?
Setahu mereka, Ardian tidak punya musuh yang tidak mereka ketahuai. Apa lagi cowok baru itu berasal dari bandung.
Sekitar tiga puluh menit menjelaskan, akhrinya guru itu duduk di tempat duduk nya. Sembari meng absen anak walinya.
Memang dia tidak melihat Ardian keluar kelas.
Hingga tibalah nama Ardian di sebut, namun tidak ada sahutan cowok itu.
"Ardian mana?" tanya Bu Susi melihat kursi belakang, menatap para sahabat Ardian.
"Lagi ke WC bu!" sahut Izam membuat Bu Susi menggelengkan kapalnya pelan. Pasalnya, cowok itu tidak minta izin pada nya untuk keluar kelas.
Bu Susi kembali meng absen murid-murid nya.
"Lama banget sih bell bunyi, gue udah nggak sabar nyamperin Ardian," kata Izam.
__ADS_1
"Emang lo berani." Itu bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan dari Rafael.