
Nanda melototkan matanya, saat Ardian mengucapkan kata tersebut. Dia menggelengkan kepala membuat senyuman di wajah Ardian semakin devil.
''Maksud lo apa sih!'' cercah gadis itu membuat Ardian memundurkan langkah kakinya.
‘’Bukanya itu, balasan yang lo tunggu dari gue?'' tanya balik Ardian dengan santai, membuat Nanda menatap tajam Ardian.
Sekarang dia tau, maksud cowok itu apa.
''Nggak usah lo bahas! Itu cuman sebuah permainan. Karna gue kalah, gue di kasi tantangan,'' gerundel Nanda kepada Ardian.
''Tapi...Bagi gue, itu bukan sebuah permainan,'' balas Ardian dengan santai membuat jantungnya berdetak tak karuan dengan ucapan Ardian.
''Gue kesini, mau minta sama lo balikin, Dika!'' Nanda mengalihkan pembicaranya, karna tujuannya kesini menemui Ardian, membebaskan Dika.
‘’Maksud lo?'' tanya Ardian pura-pura tidak tau.
Nanda mengatur nafasnya, lalu merogoh saku celananya, di situasi seperti ini, dia butuh permen karet, untuk menghilangkan kegugupannya saat ini.
‘’Nggak usah pura-pura nggak tau lo!'' balas Nanda lagi, seraya mengunyah permen karetnya.
Gadis itu lucu dimata Ardian, meski wajahnya seperti antagonis.
__ADS_1
‘’Balikin Dika, atau nggak....'' Nanda menjedah ucapanya.
''Atau nggak apa?'' tantang Ardian kepada gadis cantik itu.
‘’Gue bakalan laporin lo ke polisi,'' ancam gadis itu.
‘’Hahahha!'' Ardian malah tertawa keras.
Tari dan Ibnu dari atas balkon kamar saling bertatapan, ini pertama kalihya anaknya itu bercanda dengan seorang gadis.
''Pah...'' panggil Tari, tanpa mengalihkan pandanganya dari kedua anak muda itu, di depan gerbang rumahnya.
‘’Emangnya lo punya bukti kalau gue yang culik Dika?'' tantang Ardian dengan santai, membuat Nanda menjadi bungkam.
‘’Gue bisa aja laporin lo, pencemaran nama baik!'' ancam balik Ardian, membuat Nanda menatapnya dengan tatapan permusuhan.
''Ingat, ya, Preman. Cuman lo yang punya niatan buat nyulik Dika. Lo juga yang bilang sama gue!'' pekik gadis itu.
Ardian kembali tertawa, membuat cowok itu semakin tampan.
''Ingat, ya, nggak ada untungnya lo culik Dika. Lagian...Bukan dia yang salah. Ngapain lo nyulik dia!'' beber Nanda.
__ADS_1
''Mending lo habisin permen karet lo itu, baru masuk kedalam rumah gue,'' ajak Ardian dengan seringai di wajahnya.
''Ck! Gue kesini bukan buat bertamu!'' balas Nanda.
‘’Seharusnya lo Bersykur, lo perempuan pertama yang gue ajak masuk kerumah gue,'' ucap Ardian lagi membuat Nanda menatapnya dengan tatapan jengah.
''Ardian!'' Suara lembut itu, menyapa gendang telinga milik Nanda dan Ardian.
Nanda bisa melihat wanita cantik dan anggun itu menghampiri dirinya dan Ardian. Nanda bisa menebak, jika wanita itu adalah mamah Ardian, Sepertinya usia mamahnya dengan mamah Ardian tidak jauh berbeda.
Tari tersenyum lembut kearah Nanda, membuat gadis itu membalasnya dengan senyuman.
Hatinya tidak karuan, namun melihat senyuman tulus Tari membuatnya membalas senyuman wanita itu.
Tari sempat terkejut, saat Ardian menyuruh Nanda masuk kedalam rumahnya. Ini hal yang pertama kalinya Ardian lakukan kepada seorang gadis.
Selama hidupnya, Tari tidak pernah melihat anaknya dekat dengan gadis manapun. Anaknya itu selalu menolak dan Tari juga Ibnu, tidak pernah melihat Ardian mengajak cewek kerumah mereka. Padahal, Tari menginginkan anaknya itu membawa pacarnya kerumahnya, dan memperkenalkannya kepada kedua orang tuanya. Tari menginginkan, Ardian mempunyai pacar, agar dia bisa mengajak pacar anaknya untuk buat kue bareng.
''Kamu termasuk gadis beruntung, ini pertama kalinya anak saya ajak seorang gadis.''
__ADS_1