ARDIAN

ARDIAN
Papa minta maaf


__ADS_3

“Mama!”


“Papa!”


Kesya langsung memanggil mama dan papanya, padahal dia baru saja membuka pintu rumah. Dadah gadis itu masih bergemuruh, teriakan para teman-teman sekolahnya mengatai dirinya anak haram dan pelakor masih terngiang-ngiang dalam benaknya.


''Kesya, kamu kenapa?''


‘’Astagah, Kesya? Kamu kenapa sayang?'' Raisa terkejut melihat kondisi anaknya sudah tidak karuan lagi.


Bau telur busuk itu masuk kedalam indra penciuman, kondisi anaknya jauh dari kata baik-baik saja.


Seragam sekolahnya sudah di penuhi dengan telur busuk, yang siapapun yang menciumnya akan muntah.


''Bilang sama mama! Siapa yang lakuin ini sama kamu!'' Raisa marah, karna melihat kondisi anaknya itu.


''Ini semua karna perbuatan, mama!'' bentak Kesya kepada Raisa.


''Ap—''


‘’Mereka bilangin aku anak haram, Ma!'' Tangis Kesya pecah, membuat Raisa langsung terdiam dengan ucapan anaknya barusan.


''Sya...''


''Bilang sama Kesya, Ma! Kalau omongan teman-teman sekolah Kesya itu salah! Kesya bukan anak haram! Kesya bukan anak dari perebut suami orang‘kan, Ma?'' tanya gadis itu dengan tangisnya yang menggelegar didalam rumah.


‘’Jawab, Ma!'' Kesya menuntut jawaban dari Raisa, karna wanita itu hanya diam.


''Kesya di bully, Ma. Anak mama di bully sama anak-anak di sekolah. Mereka semua yang lakuin ke aku, Ma.''


''Lebih baik kamu ke kamar, bersihkan badan kamu,'' ucap Raisa, guna mengalihkan pembicaranya dengan Kesya.


Kesya menatap mamanya dengan tatapan dalam. ''Bilang sama Kesya, Ma. Kalau aku bukan anak pela—''


''Mama bilang bersihkan badan kamu, Kesya!'' bentak Raisa membuat Kesya langsung pergi meninggalkan Raisa.


Raisa menghembuskan nafasnya berat, lalu wanita itu mendudukkan tubuhnya di kursi sofa, memijit pelipisnya. Dia tidak boleh tinggal diam, bisa-bisa Kesya akan mendapatkan bully an lebih parah dari ini, jika dia tidak bertindak.


''Aku harus Telfon mas, Iksan,'' gumam Raisa, seraya menekan nomor ponsel Iksan, suaminya pamit padanya karna ada urusan kantor mendadak, padahal Iksan pergi menemui Gina, istri pertamanya.

__ADS_1


Sudah tiga kali Raisa menelfon Iksan, namun pria itu tidak mengangkat Telfon, ''baiklah, aku akan menunggu Mas, Iksan. Sampai pulang.''


***


''Gina, aku mohon. Bukain mas, pintu.'' Sedari tadi Iksan mengetuk pintu rumah Gina, namun tidak ada tanda-tanda jika penghuni rumah akan membukakan dirinya pintu.


''Aku tahu, kamu ada di dalam. Mas cuman mau ngomong sama kamu, Gina.''


''Nggak usah di bukain pintu, Ma,'' ucap Boy, pria itu mensejajarkan tubuhnya dengan Gina di anak tangga. ''Kalau mama bukain papa pintu, maka Boy akan berikan papa pelajaran. Memang Boy mau kasi pelajaran untuk papa, tapi bukan di depan mama.”


Gina tentu saja tidak akan membukakan Iksan pintu, dia tidak mau jika keributan seperti kemarin akan tercipta. Cukup dadahnya sakit, melihat anaknya di tampar oleh orang lain.


''Papa bakalan pergi kalau dia sudah capek,'' ucap Boy dengan santai. ''Mama nggak usah khawatir sama pria yang udah sia-siakan mama,'' lanjutnya.


''Iya, Boy. Mama paham kok,'' ucap Gina. Maafkan aku mas. Sudah tidak ada yang bisa kita bicarakan apalagi sampai ingin memperbaiki. Kejadian kemarin sudah menjawab semuanya, jika Mas Iksan lebih mementingkan Raisa ketimbang aku. Mas Iksan sudah nampar aku, dan istri mas Iksan menampar pipi anak kita.


Usia pernikahannya akan berakhir sampai sini, andai saja kejadian kemarin tidak terjadi. Mungkin Gina mau-mau saja jika Iksan datang untuk memperbaiki semuanya, dengan syarat dia meninggalkan wanita itu.


Namun, kejadian kemarin membuat pikiran Gina terbuka. Jika bukan dirinya yang di bela oleh suaminya itu,


Rasa sakit pada tamparan di pipinya itu, tidak ada apa-apanya ketimbang melihat anaknya di tampar di depan mata kepalanya sendiri.


''Izinkan aku bertemu sama Ara, Gina. Jika kamu sudah tidak ingin bicara dengan, Mas. Mas cuman mau minta maaf sama, Nanda. Itu saja!''


Dari balkon kamar, Nanda mendengar suara Iksan memanggil mereka di depan pintu, namun tidak ada satupun yang membukakannya pintu.


''Gina! Aku mohon. Aku mau ketemu Ara!''


Tanpa terasa, air mata gadis itu turun di pipihnya, ‘’buat apa papa mau nemuin, Ara? Papa sendiri yang udah milih jalan ini,'' lirih gadis itu.


***


Sudah hampir satu jam, Iksan berada di depan pintu rumah Gina. Belum ada tanda-tanda jika orang di dalam akan membukakannya pintu.


Nanda melihat wajahnya di depan cermin besar, kantung matanya begitu hitam, matanya yang sayu, karna semalam gadis itu tidak tidur.


''Pa, lihat wajah anak yang papa bohongi?'' Nanda bicara di depan cermin, rasa sakit yang di torehkan Iksan padanya, tidak akan sembuh begitu saja.


''Ara!''

__ADS_1


Nanda terkejut dengan suara itu. Dengan cepat gadis itu berjalan menuju balkon kamarnya, melihat kearah bawah, rupanya Iksan berada di bawa.


Iksan dari bawa menatap anaknya itu.


''Ra, maafin papa, Nak,'' ucap Iksan kepada anaknya itu.


Nanda menghembuskan nafas berat, dia tidak boleh lemah, kepada orang yang sudah menyakiti hatinya berkeping-keping.


''Apa dengan minta maaf, papa bisa sembuhin hati anak papa dan istri papa?''


''Papa sendiri yang udah milih jalan ini!''


''Papa minta maaf. Kamu sudah tahu'kan jika papa dan mama kamu menikah karna perjodohan?'' teriak Iksan dari bawa.


‘’Seharusnya mama kamu sudah cerita mengenai ini, Ra. Jadi papa mohon, jangan benci papa!''


Dari atas, Nanda mencengkeram pagar pembatas balkon.


‘’Lebih baik papa pulang!'' usir Nanda dari atas, wajahnya dia buang ke samping saat mengusir Iksan.


Gadis itu tidak memasang raut wajah sedih, karna dia tidak mau orang yang menyakitinya melihat kesedihannya.


''Kamu harus tau ini dari papa. Kesya adalah kakak kamu!''


Nanda semakin mencengkam erat pagar pembatas balkon kamar, saat Iksan menyatakan jika Kesya adalah kakaknya.


Itu berarti?


''Mama kamu mengetahui semuanya, Ra. Papa harap, kamu tidak membenci papa, dan menerima kehadiran Kesya sebagai kakak kamu. Kamu harus ingat, bukan hanya Boy kakak kamu, tapi ada Kesya juga nak,'' ucap Iksan dengan senyum getir.


Itu adalah kenyataan.


Nanda dan Kesya hanya beda beberapa minggu saja.


Raisa merupakan cintanya Iksan, mereka berdua pernah berjanji akan menikah. Namun kalah, kedua orang tua Iksan menjodohkan dirinya dengan Gina, sehingga Iksan dengan terpaksa menerimanya, karna saat itu keluarganya mengalami kebangkrutan, hanya kelurga Gina saja yang bisa membantunya, dengan syarat Iksan dan Gina di jodohkan.


Saat itu. Raisa tidak terima. Karna mereka berpacaran sudah lama, usianya dan Iksan hanya beda 4 tahun saja.


Saat itu Raisa mengizinkan Iksan untuk menikah, karna Iksan berjanji pada Raisa akan menikahi Raisa jika kondisi perusahaan sudah baik.

__ADS_1



__ADS_2