
"Hmmm." Nita berdehem membuat ketiga cowok itu menatap kearah Nita, mereka sampai lupa dengan keberadaan Nita di sini.
"Napa lo manggil, Leo?" tanya Izam bersedekap dadah, menatap Nita dengan tatapan menyipit.
"Gue cuman mau ngomong serius sama Leo," kata Nita membuat Ethan menaikkan alisnya sebelah. "Ada yang mau gue omongin sama lo." Nita menatap Leo.
"Tinggal ngomong doang di sini, emang lo kira kita ember bocor," dumel Izam.
"Ini bersifat pribadi," balas Nita lagi.
"Buset, sok penting amat lo!" dengus Ethan.
Leo menatap kedua sahabatnya, "mendingan lo berdua duluan susul Rafael, entar gue susul," kata Leo, dan akhirnya kedua sahabatnya meninggalkan Leo di depan pintu kelas.
Leo menatap Nita, tidak biasanya gadis itu menyapa dirinya di tambah lagi ada yang ingin dia katakan, membuat Leo penasaran dengan gadis di depanya.
"Mau ngomong apa?" tanya Leo, air wajahnya begitu serius menatap Nita.
Lebi dulu, Nita melihat sekelilingnya, takut-takut jika ada yang mendengar obrolanya dengan Leo.
"Kita ngomongnya pas pulang sekolah aja, gue takut kalau sampai ada yang dengar," ucap Nita karna melihat sekelilingnya lumayan ramai. "Gue tunggu lo di roftop sekolah,"
__ADS_1
"Kalau lo mau nanya kondisi Gerald nggak usah cari tempat. Emangnya salah sekretaris osis nanyain kondisi Ketua osis?" kata Leo dengan suara sangat santai. "Kondisi Gerald tetap sama, nggak ada perubahan sama sekali," lanjut Leo.
"Gue duluan," pamit Leo, melenggang melewati gadis di depanya itu.
"Gue bukan mau bahas, Gerald. Soal kondisi Gerald gue juga udah tahu," jelas Nita sukses membuat langkah kaki Leo terhenti dengan ucapan gadis itu barusan. Jika bukan menanyai Gerald, lantas apa?
Nita membalikkan tubuhnya dia melihat Leo masih membelakanginya, beberapa detik kemudian cowok itu membalikkan tubuhnya sehingga mereka berdua saling beradu pandang, raut wajah Nita sungguh membuat Leo susah menebak apa yang ingin gadis itu katakan.
Seingatnya, dia tidak mempunyai urusan dengan gadis satu kelasnya itu, memang Leo playboy namun cowok itu tidak pernah menggoda Nita, karna alasan yang tidak penting untuk Leo katakan.
"Terus, lo mau ngomong apa?" tanya Leo mulai penasaran, dia pikir gadis itu ingin menanyakan kondisi Gerald, namun ternyata dugaanya salah.
Mereka berdua beradu pandang, "gue udah bilang, kita bahasnya pulang skolah. Hal penting yang mau gue omongin ke lo," jelas Nita lagi. Gadisitu lebih dulu menarik nafasnya panjang, sebelum melanjutkan ucapanya, "ini tentang gue sama lo." Lepas mengatakan hal tersebut, Nita langsung masuk kedalam kelas, meningglakan Leo yang masih berdiri di tempatnya.
Leo berjalan melewati lapangan sekolah, karna langkah kakinya dia bawa menuju gudang belakang sekolah, karna ketiga sahabatnya ada di sana. Seharusnya mereka berjalan ke kantin saja untuk menghilangkan rasa lapar, karna sejujurnya Leo malas ke belakang gudang sekolah.
Leo tengah berada di gudang sekolah, cowok tampan itu menggelengkan kepalanya melihat ketiga sahabatnya tengah merokok dengan gaya nakal mereka. Izam duduk di kursi yang sudah setengah usam berhadapan dengan Ethan, menyembulkan asap rokoknya di wajah milik Ethan, membuat cowok itu berdengus kasar..
Lalu Leo melirik Rafael, cowok itu tengah menyandarkan tubuhnya di tembok putih, menyesap rokoknya dalam-dalam, seakan-akan beban pikiran yang dia keluarkan dari asap rokoknya, wajahnya Rafael juga tertebak, jika cowok itu mempunyai masalah pribadi yang enggan untuk dia beritahukan kepada sahabtnya.
"Tangkap, Le." Izam melemparkan bungkusan rokoknya kepada Leo, dengan sigap cowok itu menangkapnya. "Ngerokok bareng, biar ketahuan bareng-bareng," lanjut Izam seraya cengengesan kearah Leo.
__ADS_1
"Bebas ajalah, karna Gerald sekarang nggak ada di sekolah ini. Jadi kita bisa lawan osis." Ethan menaik nurunkan alisnya pada sahabatny, "karna selama di lingkungan sekolah ini, kita jarang ngerokok, karna kita ngehargai sahabat kita, Gerald," lanjut Ethan dengan nada santai.
"Lo benar juga,"balas Izam seraya manggut-manggut.
"Lo pikir anak osis lain bakalan diam?" ujar Leo, dudul di kursi kosong dekat dari Rafael, cowok itu membuka bungkus rokok yang di lempar Izam tadi, "gue yakin, bentar lagi anak osis beserta wakil ketua osis ciduk ita disini.:
"Gue sih nggak masalah kalau cuman Dio doang, kecuali sama Gerald, beda lagi ceritanya,'' celetuk Ethan, karna selama ini mereka menghargai osis karna sahabatnya Gerald.
Leo mulai membakar rokoknya, lalu melirik Rafael yang masih menatap lurus ke depan, "ada masalah lagi sama nyokap sama bokap lo?" tanya Leo, karna dia tahu Rafael sering kali berselisih dengan kedua orang tuanya, sehingga cowok itu lebih betah tinggal di markas ketimbang rumahnya sendiri.
Rafael menghembuskan nafas berat, dapat di dengar jelas oleh ketiga sahabatnya itu. Mereka bertiga fokus menatap Rafael, karna sepertinya cowok itu ingin mengatakan sesuatu. Lebih dulu Rafael menatap ketiga sahabatnya yang sedang menatapnya serius, lalu dia membuang puntung rokoknya.
"Kalau gue bilang, gue sensi kayak gini gara-gara Salsa, apa lo percaya?" tanya Rafael tanpa minat, seraya menatap ketiga sahabtnya itu.
Ethan dan Izam saling pandang, seakan-akan mereka berkomunikasi melalui mata mereka, sementara Leo tersenyum tipis, sebagai cowok yang sudah berpengalaman mengenai kepekaan perasaan.
"Gue bingung, mau bilang percaya tapi nggak juga, mau gue bilang nggak percaya nggak juga. Jadi gue bingung sih," kata Izam dan dibalas anggukan setuju oleh Ethan, karna sejujurnya mereka tidak percaya perasaan Rafael terhadap sosok gadis bernama Salsa.
"Ch! lo bertele-tele kasi jawaban lo. Ini nih, kalau otak isinya kosong," hina Rafael membuat Izam memanyunkan bibirnya.
"Nyesel gue berpartisipasi!" kata Izam sementara Ethan menahan tawa.
__ADS_1
"Kalau gue percaya," jawab Leo sangat santai.