
Boy menggerutu kesal, mereka semua sudah berada di dalam mobil, hanya menunggu Kesya yang datang. Gadis itu belum balik, padahal sudah pukul 12 malam.
"Lama-lama gue tinggalin tuh anak," gumam Boy seraya menyandarkan kepala nya di sandaran kursi.
Ting...
Ponsel milik Pute bunyi, menandakan adanya pesan masuk.
"Kesya nyuruh kita duluan, dia pulang sama teman nya," kata Pute setelah membaca pesan dari Kesya.
Tanpa basa-basi lagi, Boy langsung membunyikan mobilnya, meninggalkan pasar malam, karna malam semakin larut.
"Perasaan, Kesya nggak punya teman selain kita," kata Puri, sehingga Puri memutar kepalanya melihat Puri di kursi belakang.
"Siapa tahu aja dia dapet temen di dalam," kata Pute.
"Bodoh amat," kata gadis itu lagi membuat Pute menggeleng, padahal gadis itu bertanya dan kembali mengatakan bodoh amatlah.
Motor-motor anak ARIGEL menyusul mereka dari belakang, yang di pimpin oleh sosok cowok bernama Ardian. Hanya kurang satu orang saja, yaitu Gerald.
"Kenapa, Nan?" tanya Pute pelan, melihat Nanda seperti memikirkan banyak hal.
"Gue cuman capek." Iya, dia capek memikirkan semuanya. Rasa-rasanya kepalanya ingin pecah memikirkan ini semua.
Pute mengusap punggung Nanda, dia tahu dan peka. Mengapa teman nya capek. Beban pikiran yang ia pikul membuat nya capek menghadapi masalah ini.
Nanda memejamkan matanya, tiba-tiba saja wajah Ardian muncul dalam pikiran nya, membuat gadis itu membuka matanya.
"Tuh, Ardian," celetuk Pute melihat kearah jendela mobil.
Dan entah sejak kapan motor cowok itu berada di samping mobil.
"Buka aja kaca nya," kata Pute lagi, sehingga tangan gadis itu langsung membuka jendela mobil.
__ADS_1
Hanya mata indah milik Ardian yang terlihat, di balik helm fullface nya. Karna ia tidak menurunkan kaca helm tersebut.
"Tutup kaca mobilnya, sayang. Udara malam nggak baik buat lo!" kata Ardian melirik Nanda, lalu kembali fokus ke depan. Mobil dan motor Ardian masih berdampingan.
Jleb...
Rasanya ada kupu-kupu berterbangan di dalam perut Nanda, mendengar ucapan lantang dari Ardian, sehingga mereka di dalam mobil mendengar nya, terutama Boy yang memutar bola matanya malas.
Puri melotot kan matanya, entah mengapa Ardian yang mengucapkan kata syang, dia yang salting begini?.
Mungkin itu efek, karna cowok itu baru pacaran dengan seseorang. Sehingga bibir Ardian yang mengucapkan kata sayang, begitu unlimited edition.
"Kok gue yang salting sih," ucap Puri dengan kekehan kecil.
Sementara Cika tertegun, lalu kemudian Cika tak bisa menyembunyikan senyum nya, sebagai gadis yang sudah tahu sedikit tentang teman sekolah nya itu.
"Cie," goda Pute, "pipi Nanda merah, Ar. Kayak kepiting rebus!" teriak Pute dengan tawa membuat Ardian tidak bisa menahan senyum di balik helm nya itu.
Gadis itu berusaha menetralkan detak jantung nya. Entah mengapa berdekatan dengan Ardian dekat-dekat ini membuat jantung nya tidak aman.
"Cie, Nanda. Cukuruk!" goda Puri dengan tawanya sementara Cika hanya senyum-senyum saja, "ada yang merah, tapi bukan tomat," lanjut Puri membuat Nanda ingin menghilang saja.
Sejak kapan dia se salting ini? Jika temannya menggodanya.
"Ada yang nggak bisa tidur nanti, mikirin kata sayang yang keluar dari mulut Ardian," celetuk Cika, gadis itu ikut-ikutan menimpal membuat Nanda makin salting.
"Dasar bocah curut!" kesal Boy, lalu dia menekan sesuatu, sehingga kaca mobil di samping Nanda tertutup. Membuat Puri dan Pute tidak terima, sementara Cika hanya tertawa saja.
"Kak Boy, kenapa jendelanya di tutup sih. Padahal mau lihat Ardian sama Nanda. Biar ada tontonan gratis," protes Puri dengan cemberut.
"Iya nih kak Boy. Lagi asik-asiknya malah di kasi halangan," tambah Pute yang se frekuensi dengan Puri.
"Bahaya." Hanya kata itu saja yang Boy katakan. Boy bisa melihat jelas Nanda, untuk pertama kalinya dia melihat Nanda salting, dan itu sangat menggemaskan di mata Boy.
__ADS_1
Jarang-jarang loh adiknya itu salting. Terakhir Boy lihat Nanda salting, saat Gerald mencium jidat gadis itu saat lulus SMP, dan itu sukses membuat Boy geleng-geleng, karna Gerald begitu lancang. Untung saja hanya jidat, bagaimana jika....
Boy melirik gadis di samping nya, Greta tidak bergeming saat teman-teman Nanda sedikit heboh, karna Ardian.
Tapi Boy melihat jelas, Greta mencengkram ujung bajunya. Dan itu sudah menjawab semuanya.
Boy geleng-geleng, entah mengapa cowok bernama Ardian itu di kelilingi cewek-cewek cantik, salah satunya Greta dan Kesya, dan yang menjadi pacar cowok itu adalah adiknya.
Greta sampai menggigit bibir bawanya, itu lolos dari penglihatan Boy. Jujur saja, ucapan manis yang keluar dari mulut Ardian, sangatlah langkah. Greta tahu itu, karna ia sudah lama mengenal cowok itu.
Untuk pertama kalinya, Greta mendengar cowok itu berkata manis pada pacarnya.
Selama ini ia dan Kesya bersaing mendapatkan Ardian. Namun kalah dengan sosok anak baru yang membuat Ardian jatuh hati padanya.
Ucapan manis Ardian sangat Greta inginkan sejak dulu, berkhayal jika cowok itu bisa ia dapatkan suatu saat. Namun dugaannya salah, mendapatkan Ardian tidak semudah ia bayangkan.
Ardian itu ibarat jarum kecil, di tengah-tengah jerami sulit untuk di dapatkan, namun Nanda berhasil mendapatkan jarum di tumpukan jerami tersebut.
Motor Ardian sudah tidak berada di samping mobil, cowok itu sudah berada di belakang bersama sahabat nya.
"Cie." Pute mencolek perut gadis itu membuat Nanda hanya senyum-senyum saja. "Kalau anak ARIGEL pada denger, mungkin bakalan heboh," lanjut Pute dan dibalas anggukan setuju oleh Puri dan Cika juga ikutan mengangguk setuju dengan perkataan Pute barusan.
"Pasti nih, Izam bakalan bilang. 'Cie, mas pacar nya Nanda bisa ngomong sayang'. Pasti Izam ngomong gitu," timpal Puri dengan tawa senang.
Rasanya sangat senang menggoda Nanda, gadis yang terlihat cuek dengan sosok Ardian. Padahal banyak cewek diluar sana menginginkan Ardian, namun Nanda pemenangnya.
"Nggak usah di godain, Nanda nggak akan bisa tidur entar malam," timpal Cika membuat mereka tertawa lagi.
Nanda hanya membuang muka ke samping. Dia tidak bisa mengelak ucapan teman-temanya saat ini.
Kenapa coba Ardian ngomong begitu? Kan dia jadi malu di rayu oleh tiga teman nya. Kalau Salsa ada, gadis itu bicara banyak..
"Sumpah ya, Nan. Lo cewek beruntung dapetin Ardian. Lo tau kan banyak cewek di sekolah maupun di luar sekolah mengidamkan mas pacar lo itu," kata Puri dan dibalas anggukan setuju oleh Pute. "Apa lagi lo tahu, Greta sama Kesya juga suka sama Ardian." Lanjut Puri dengan suara pelan, hanya mereka saja yang mendengar nya.
__ADS_1