
"SAH!!!"
Itu adalah suara milik Izam dan Ethan yang terlalu bersemangat mengucapkan kata sah.
Boy langsung mencium kening milik Greta, membuat gadis itu memejamkan matanya. Ini pertama kalinya seseorang mencium kening nya dengan penuh cinta, Greta dapat rasakan itu, karna setiap laki-laki yang yang mencium nya penuh dengan nafsu tentu nya, namun berbeda dengan pria yang baru saja menjadi suaminya beberapa menit ini.
Gina tersenyum hangat melihat anak sulung nya akhirnya menikah juga, meski dalam keadaan terdesak begini. Penghulu yang menikahkan mereka pamit pulang setelah Boy memberikan amplop sebagai bentuk tanda terimakasih nya.
Didalam ruangan Gina, hanya ada Ardian dan ke empat sahabat nya, ada Nanda juga, hanya mereka saja. Entah mengapa Boy mengajak Ardian dan sahabat nya untuk menyaksikan pernikahannya ini. Mungkin pria itu mempunyai alasan tertentu.
Sementara Izam berusaha tertawa melihat gadis yang selama ini ia incar, telah menjadi istri orang lain, sudah tidak ada celah lagi untuk nya.
Air mata Nanda menetes, saat Boy menatap nya dalam lalu pria itu tersenyum kearah adik nya.
Boy mendekati Nanda lalu ia membawa adik nya kedalam pelukan nya itu. "Jangan nangis," kata Boy, tangan kekar nya itu setia memeluk tubuh adik nya.
Ethan dan Izam terharu melihat kedekatan mereka. Anak ARIGEL pamit keluar menyisakan Boy, Nanda, Gina dan juga Greta dalam ruangan tersebut.
"Bang Boy nggak sepenuhnya lagi buat gue sama Mama." Nanda melepaskan pelukan nya, mengusap air mata nya.
Akhirnya, pernikahan itu terjadi dan Boy telah melepaskan masa lajang nya sebelum berumur 27 tahun itu.
"Bang Boy udah milik Greta sepenuhnya." Lanjut Nanda seraya menatap Greta yang masih berdiam diri, mungkin gadis itu masih mencernah, jika ia sudah mejadi seorang istri di usianya yang masih muda ini.
"Gue nggak akan lepas tanggung jawab gue sebagai abang, Ra. Lo tetap gue prioritasin sama Mama," balas Boy.
Nanda kembali memeluk Boy, "tetap utamain istri, bang. Mama pernah ngomong kayak gitu ke lo. Jangan lupa itu, istri adalah prioritas pertama," kata Nanda lagi di tengah-tengah pelukan nya dengan saudara nya itu.
"Iya, Ra." Boy hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Boy dan Nanda menghampiri sang mama yang masih setia berbaring di brankar, Nanda memeluk Gina dengan isakan kecil lolos dari bibir mungilnya itu.
"Cepat sembuh, Ma. Bang Boy udah wujutin keinginan Mama," kata Nanda.
Gina mengusap rambut Nanda, "iya sayang, do'ain Mama biar bisa sehat kayak dulu. Jangan sedih, Mama ikutan sedih kalau lihat Ara nangis kayak gini," kata Gina lagi, mengusap rambut panjang anak nya dengan penuh kasih sayang.
"Ara udah makan?" tanya Gina dan dibalas gelengan kepala oleh gadis itu.
"Makan ya, ajak Ardian makan juga," kata Gina lembut.
"Yaudah, Ara pergi makan dulu ya Ma." Nanda mencium pipi Gina dengan penuh kasih sayang.
"Makan yang banyak, badan kamu kurusan gitu, harus rajin makan," kata Gina lagi dengan tawa kecilnya yang terlihat menyakitkan di mata Nanda.
"Iya, Ma." Nanda melangkah untuk segera keluar, "bang, jagain mama," lanjut gadis itu lalu benar-benar pergi meninggalkan ruangan milik Gina, menyisakan mereka bertiga didalam sana.
Greta berjalan kearah Gina, mencium punggung tangan Gina seraya tersenyum kikuk.
"Makasih udah nerima anak saya," kata Gina dengan lembut, "maafin ya, kalau cara anak saya buat kamu berpikir keras. Menikah di usia muda. Tante bisa jamin, kalau Boy anak tante anak yang sangat baik."
"Nggak apa-apa, Tan. Seharusnya Greta yang berterimakasih, karena dokter Boy nerima Greta, padahal masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik dari Greta," ujar Greta. Seharusnya dia yang beruntung, bukan Boy yang beruntung mendapatkan nya.
"Jalani semuanya dengan baik ya. Kalau ada masalah di omongin baik-baik dengan kepala dingin. Jangan pernah bosan dengan pasangan kita. Karna ibadah yang panjang adalah pernikahan." Gina menitihkan air matanya, seraya menatap Boy dan Greta secara bergantian.
Dia tidak mau, jika pernikahan anak nya gagal seperti diri nya. Mengingat rumah tangga nya yang sudah tidak bisa di pertahankan lagi membuat Gina kecewa pada diri nya sendiri.
Gina mengambil tangan Boy lalu menyatukan tangan Boy dengan Greta. "Mama harap dan berdoa, rumah tangga kalian nggak akan kayak Mama. Gagal mempertahankan rumah tangga. Mama mau, kalian setia dan menua bersama dengan kesetiaan. Kesetiaan yang paling utama," kata Gina seraya menitihkan air matanya.
Boy langsung memeluk sang mama, "Boy janji Ma, Boy nggak akan ikutin jejak Papa. Boy janji, akan setia sama pasangan Boy."
__ADS_1
***
Saat ini Nanda tengah berada di kantin rumah sakit, bersama dengan Ardian dan juga para sahabat cowok itu makan di sini.
Mereka tengah duduk dengan kesibukan masing-masing. Rafael sibuk dengan ponsel nya membalas pesan dari Salsa, tidak terasa sudah hampir sebulan ini Rafael tidak melihat wajah cantik itu, selama itu pula tidak ada gadis yang berani terang-terangan mengejar nya.
Ethan dan Izam tengah memesan makanan untuk mereka berenam.
"Salsa udah balas pesan lo?" tanya Leo seraya memasukkan ponselnya kedalam saku baju nya, setelah membalas pesan dari gadis yang bernama Pute itu.
"Belum," jawab Rafael santai, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel nya, membuka pesan lama nya dengan Salsa. Ralat, maksudnya hanya Salsa saja waktu itu mengirimkan kan nya pesan, sementara ia hanya cuek-cuek bebek saja.
"Mungkin Salsa lagi sibuk, lo tau sendiri, 'kan, dia lagi kursus bahasa Jepang juga di sana," jelas Leo membuat Rafael hanya manggut-manggut saja.
Sedari tadi Ardian memperhatikan wajah gadis yang duduk di samping nya, berulang kali gadis itu menghembuskan nafas berat yang di dengar jelas oleh Ardian.
"Jangan terlalu di pikirin, entar lo sakit. Gue nggak mau lihat orang yang gue sayang sakit," celetuk Ardian.
Nanda melirik Ardian, lalu tersenyum tipis.
"Mikirin apa? Sini cerita sama gue," lanjut Ardian.
"Biasa, Ar. Gue mikirin kondisi Mama. Mama kelihatannya baik-baik aja. Tapi bisa aja dia nipu gue biar dia kelihatan baik-baik buat di pandang," jelas Nanda.
Leo dan Rafael memperhatikan keduanya, mulai dari Ardian yang ngomong seperti bukan Ardian pada biasanya saja.
Siapapun perempuan yang di perlakuan dengan baik akan bahagia, merasa nyaman dan terlindungi. Itulah yah mereka tangkap dari sikap Ardian kepada Nanda.
"Bisa so sweet juga," celetuk Rafael pelan pada Leo, hanya mereka berdua saja yang mendengar nya.
__ADS_1