ARDIAN

ARDIAN
Menculik


__ADS_3

Izam menggandeng tangan Ethan, seraya melihat sekelilingnya sebelum membuka knop pintu kamar vvip di hadapan mereka.


Terlebih dahulu, Izam melirik Ethan yang masih menatap kosong saja.


''Than,'' panggil Izam, sehingga Ethan langsung melirik cowok itu.


''Kita lagi jalanin tugas dari Ardian, jangan sampai kita gagal. Lo tau, kan, Ardian itu orangnya gimana?'' peringat Izam kepada sahabatnya itu.


Huft


Hembusan nafas berat keluar dari mulut Ethan. Dia sungguh tidak bisa melakukan apa-apa sejak putus dengan Vani.


Bahkan, dia belum pernah makan membuat tenaganya semakin turun.


''Lo boleh balik kedalam mobil, biar gue sendiri yang kerja tugas ini!'' kesal Izam.


“Ini semua gara-gara Vani tolol, dia udah buat Sahabat gue kayak gini!”


''Gue ikut,'' ucapanya dengan lesuh.


''Fokus, urusan Vani urusan belakangan. Sekarang kita kerjain dulu tugas yang udah di kasi Ardian,'' terang Izam dan dibalas anggukan kepala oleh Ethan.


''Ok.''


Izam langsung membuka knop pintu kamar Dika. Izam langsung menghampiri Dika sementara Ethan menutup pintu.


Mata Dika terbelalak kaget saat melihat ada anak ARIGEL didalam ruangannya. ''Mau ngapain lo?''


Izam mengeluarkan suntikan dari saku celananya membuat Dika menggeleng lemah, dia tidak tau obat apa di dalam suntikan itu.


''Tol—''


Belum sempat Dika meneruskan ucapanya, Ethan langsung membekap mulut cowok itu.


''Buruan, Zam,'' ucap Ethan masih dengan suara lesuh.


Izam mengangguk. ''Lo sih salah cari teman, seharusnya teman-teman anak VAGOS jagain lo Disini. Nggak ngebiarin lo sendiri.''


Izam langsung menyuntik punggung Dika, membuat cowok itu perlahan-lahan menutup matanya.


Perkataan Izam tadi masih terdengar jelas oleh Dika.


''Itu obat apa?'' tanya Ethan.


''Cuman obat tidur, dikasi sama dokter Boy,'' jawab Izam.


''Dika sudah pingsan.'' Izam memberitahukan pada teman-temanya melalui sambungan earphone miliknya.


Tok..


Suara ketukan pintu membuat Izam dan Ethan melihat kearah pintu. Mereka berdua saling memberi kode.

__ADS_1


''Buka pintunya, ini gue Rafael!'' desis Rafael dari sambungan earphone.


Izam bernafas legah, dia pikir suster atau dokter lain yang datang.


Ceklek.


Izam membuka pintu, dia melihat Rafael membawa kursi roda, bukan hanya Rafael saja, ada dokter Boy yang ikut.


''Kalian hanya memberikan obat tidur, kan?'' tanya Boy memastikan kepada sahabat Gerald.


''Iya, bang.''


Dokter Boy mengangguk, sementara Rafael mengangkat tubuh Dika diatas kursi roda.


Boy kasihan melihat Dika, apa lagi saat adiknya mengatakan jika Dika hanya anak yatim piatu saja.


Nanda sudah menceritakan secara detail kepada Boy, mengenai mengapa Dika sampai seperti ini.


''Biar gue yang dorong, nanti orang-orang curiga.''


Dokter Boy mulai mendorong kursi roda Dika.


''Andai ada jalan segampang ini, nggak usah susun rencana,'' gumam Izam membuat Rafael menyiku cowok itu.


''Lo pikir dokter Boy mau nyuntik tuh anak?'' Rafel, lalu melenggang pergi mengikuti Ethan dan Boy yang sudah pergi lebih dulu.


‘’Dokter Boy!'' salah satu rekan Boy memanggilnya, sehingga dia menghentikan langkah kakinya.


''Tidur,'' jawab Boy santai lalu melanjutkan langkah kakinya mendorong Dika.


Mereka Sudah sampai di mobil Ardian. Gerald, Ardian dan Leo sudah berada di dalam mobil. Izam dan Leo langsung mengangkat tubuh Dika masuk kedalam mobil.


''Rald, lo udah matiin cctv, kan?'' tanya Boy memastikan.


''Ok, gue nggak mau Ara sampai tau kalau gue ikutan.''


Lepas itu, Boy meninggalkan merekan. Tentu saja Ardian mendengar dengan seksama ucapan Gerald dan Boy.


“Lagi-lagi, Ara, ada hubungan apa dokter Boy sama Nanda?”


Ardian bisa melihat di raut wajah Boy, takut jika masalah ini di tau oleh adiknya karna dia ikut serta membantu mereka.


Gerald mulai menjalankan mobilnya untuk segera menuju markas mereka.


''Itu cewek angkuh ngamuk nggak ya, kalau tau orang yang dia tolong hilang,'' ucap Izam seraya melirik wajah Dika.


''Nggak akan,'' timpal Leo. ''Bisa aja, kan, cewek permen karet itu beranggapan, kalau nih cowok udah keluar dari rumah sakit, di jemput sama kelurga mereka.''


Mereka hanya mengangguk, sementara Ardian hanya tersenyum tipis.


Didalam mobil tidak ada yang angkat suara, hingga suara ponsel dari salah satu dari mereka, yang memecahkan keheningan.

__ADS_1


Ting


Ponsel Rafael bunyi, menandakan adanya pesan masuk.


Rafael melihat, nomor yang tidak pernah dia sv mengirimkanya pesan.


“El, gimana kue buatan aku? Enak, kan? Kamu suka?”


“Balas pesan aku kalau kamu suka sama kue kacang yang aku bawa.”


“El, kamu nggak buangkan, kue yang aku kasi ke kamu?”


“Aku sedih kalau kamu sampai buang kue itu.”


Rafael menonaktifkan ponselnya, pesan dari Salsa sungguh membuatnya risih.


Sementara Salsa langsung membuang ponselnya diatas tempat tidur, saat pesan wa nya hanya di baca oleh Rafael, tanpa dibalas.


Saat pesan terakhir yang dia kirim, wa Rafael ceklis satu. Salsa tau, jika Rafael menonaktifkan ponselnya.


''Gue nggak ikut kalian ke markas dulu,'' ucap Rafael seraya melirik jam di pergelangan tanganya, sudah jam 11 malam.


''Kenapa?'' tanya Izam, mewakili mereka semua.


''Bokap sama nyokap gue suruh pulang, mungkin ada hal penting yang mau mereka omongin,'' ucap Rafael dan dibalas anggukkan kepala oleh mereka.


Gerald melajukan mobilnya menuju rumah Rafael malam ini, sementara mereka akan tinggal di markas malam ini.


Salsa berjalan di balkon kamarnya, melihat rumah mewah di depan sana. Yah, rumahnya dengan rumah Rafael berdekatan.


Bahkan, balkon kamarnya berhadapan dengan balkon kamar Rafael. Salsa mendongakkan kepalanya melihat awan yang terang di hiasi oleh bintang-bintang dan bulan.


''El,'' Salsa menyebut nama Rafael masih setia melihat bintang-bintang diatas langit, ''Aku ganggu nggak sih buat kamu.''


Air matanya jatuh di pipihnya yang sedikit gembul, dia mengusap air matanya. ''Kamu nggak tau, perasaan aku ke kamu sebesar apa. Yang kamu tau cuman aku suka kamu.''


''Aku kurang apa lagi, El,'' menolog gadis itu lagi, lalu dia tersenyum getir saat mengingat ucapan Rafael siang tadi di cafe Ethan, jika dirinya kurang malu.


''Kapan kamu bisa lirik aku sebagai perempuan yang kamu suka, El.''


''El...Aku cinta sama kamu. Aku nggak bisa suka sama cowok lain lagi, kecuali sama kamu.''


Salsa langsung melihat kebawah, dia melihat mobil yang tidak asing di matanya singgah di depan pagar rumah Rafael.


Lalu Salsa melihat Rafael turun dari mobil tersebut. Dan barulah gadis itu sadar, jika itu adalah mobil milik Ardian.


Salsa melihat Rafael memasuki rumahnya, Rafael sangat jarang pulang kerumahnya, membuat Salsa merasa sedikit heran melihat Rafael pulang.


Senyuman terbit di wajah cantiknya.


''Semogah aja Rafael ke balkon kamarnya,'' harap gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2