ARDIAN

ARDIAN
Bucin


__ADS_3

Dua minggu berlalu, murid SMA Panca juga sudahmenyelesaikan UAS mereka, semuanya bernafas legah dan hari ini adalah hari penerimaan raport untuk kelas XI dan XII. Semua wali murid datang untuk mengambil rapor anak-anak mereka, yang mengambil rapor Nanda adalah Boy, bukan hanya rapor Nanda saja yang Boy ambil, tapi ada rapor milik Greta dan juga Kesya, dia menjadi wali untuk ketiganya.


Iksan dan Raisa tidak datang mengambil rapor milik anak nya, sudah dua minggu Iksan dan Raisa keluar kota, mereka belum pulang hingga saat ini.


Raisa dan Iksan hanya memberikan selamat anak nya melalui panggil video call. Anak mereka suda naik kelas XII, tidak lama lagi anak nya akan lulus, tinggal selangkah lagi.


"Papa sama mama kapan pulang?" tanya Kesya, dia melihat wajah kedua orang tua nya di layar ponsel nya. Sudah dua minggu ini Raisa dan Iksan belum pulang.


"Papa sama mama akan pulang, kalau perushaan papa di sini udah membaik. Sedikit lagi, kamu yang sabar ya. Ini semua demi masa depan kamu nanti," jawab Raisa membuat Kesya manggut-manggut.


Panggilan video call itu berakhir, Raisa dan Iksan tidak tahu, jika yang mengambil rapor milik Kesya adalah Boy. Kesya juga tidak tahu, mengapa Boy mau menjadi wali nya, mungkin karena pria itu kasian pada diri nya.


Kesya meninggalkan taman sekolah, rasanya sangat hampa, Kesya merasakan hidup nya terlalu monoton.


Kesya menghentikan langkah kaki nya, saat tidak sengaja melihat Nanda berdiam diri di Koridor, pandangan gadis itu lurus kedepan, seperti memikirkan sesuatu.


Kesya bisa melihat, Nanda menghembus kan nafas berat, Kesya paham apa yang membuat Nanda seperti itu, tentu saja Gerald.


"Udah puas khianatin sahabat lo sendiri." Kesya berjalan menghampiri Nanda.


Nanda melirik Kesya yang berdiri di samping nya.


"Gue nggak khianatin Gerald," balas Nanda, tanpa melirik kearah Kesya, karna ia fokus menatap kedepan, melihat teman-teman kelas nya berfoto riah sebelum libur menyambut mereka.


"Udah jelas Gerald cinta sama lo. Tapi lo malah pacaran sama sahabat nya sendiri," sindir Kesya yang tidak di gubris oleh Nanda.


Nanda menatap Kesya, lalu gadis itu berkata, "sampai kapanpun, gue nggak akan lepasin Ardian," ucap Nanda, "kecuali lo kesepian," lanjut nya, "lo nggak akan kesepian, soalnya orang tua masih lengkap." Nanda tersenyum kecil kearah Kesya lalu pergi meninggalkan gadis itu.


Kesya mengepalkan tangannya, "untung lo adik gue!" marah Kesya, mampu membuat langkah kaki Nanda terhenti, Kesya refleks mengucapkan kata tersebut, sekarang ia melihat Nanda membalikkan tubuh nya, menatap diri nya dengan senyuman hangat.

__ADS_1


"Sering-sering manggil gue dengan sebutan adik. Gue senang dengar nya.... Kak." Nanda kembali melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan Kesya yang masih setia mematung di sana.


"Bodoh banget sih gue!" Kesya mengerutuki dirinya sendiri. Saat Nanda sudah semakin menjauh.


Kesya menghembuskan nafasnya perlahan-lahan, dia membenci Nanda namun dia juga tidak bisa bohong, jika dia suka saat Nanda menyebut nya dengan sebutan kak di sertai dengan senyuman tulus gadis itu.


"Nggak akan damai, sebelum lo lepasin Ardian buat gue," gumam Kesya dengan penuh tekad, jika ia tidak akan berdamai dengan manusia bernama Nanda, jika gadis itu tidak melepaskan Ardian untuk dirinya.


***


Nanda langsung masuk kedalam mobil, dia duduk di belakang karna di depan sudah ada Greta, mereka akan menuju rumah sakit, namun seseorang langsung mengetuk kaca mobil Nanda. Nanda langsung menekan tombol untuk membuka kaca mobil, muncul lah wajah tampan milik Ardian.


"Bareng sama gue yuk," ajak Ardian dengan senyuman tampan yang memabukkan setiap kaum hawa.


"Nggak gue kasi izin. Bahaya kalau naik motor," sahut Boy.


"Gue pelan-pelan bawa motor nya," balas Ardian. "Kalau gue sama Nanda, lo bisa berduaan sama calon istri lo." Jelas Ardian membuat Boy nampak berpikir sejenak.


"Iya, bang. Gue ke rumah sakit bareng Ardian aja." Nanda turun dari mobil milik Boy, menyisakan Boy dan Greta saja di dalam mobil.


"Jangan ngebut-ngebut bawa motor nya, jagain adik gue," peringat Boy dan hanya dibalas anggukan kecil oleh Ardian, lalu cowok itu melangkah menuju motor nya.


Mobil milik Boy langsung meninggalkan sekolah, setelah mengambil tiga rapor gadis yang ia kenal.


"Udah siap?" tanya Boy di tengah perjalanan mereka.


"Siap nggak siap, saya harus siap," jawab Greta. Ya, mereka akan menikah di rumah sakit, tempat Gina di rawat.


Tidak ada perubahan untuk kesehatan Gina, wanita itu masih stay di rumah sakit.

__ADS_1


"Kalau kita udah menikah, kita akan jenguk mama kamu yang sedang terapi diluar negeri." Boy kembali mengingatkan janji nya pada Greta, dia akan menepati janji nya itu.


"Mama dokter Boy gimana?" tanya balik Greta, karna ia tahu kondisi Gina saat ini.


"Kita nggak lama di sana. Mama akan ngerti," ujar Boy dan hanya dibalas anggukan kecil oleh gadis itu.


Greta memalingkan wajahnya kluar jendela, kemarin dia melihat wajah berseri milik sang mama di panggil video call. Mama Greta masih menjalankan terapi, sehingga dia belum bisa pulang untuk saat ini, maka mereka yang akan menjenguk mama Greta yang tengah berobat.


Ardian memasang kan Nanda helm dengan senyuman yang tak pernah pupus. Nanda perhatikan, dua minggu belakangan ini Ardian banyak tersenyum.


"Senyum-senyum mulu," tegur Nanda dengan tawa kecil nya, kejadian dua minggu lalu mampu membuat hati nya lega, dia sadar jika ia benar-benar menyukai Ardian, sehingga perasaan itu merasa legah, saat dua minggu lalu dia mengatakan perasaannya pada Ardian.


"Ini semua karna lo. Gue nggak akan lupa momen dua minggu yang lalu," goda Ardian membuat pipi Nanda memerah.


"Apa sih," balas Nanda membuat Ardian terkekeh.


"Jangan salting, gue makin cinta kalau lo salting kayak gini," kata Ardian, entah sejak kapan cowok itu pandai ngegombal kayak gini.


"Gue mau salting tiap hari, biar lo makin sayang," balas Nanda tak ingin kalah membuat Ardian langsung menoel pipi gadis itu.


Jadi begini ya rasanya jatuh cinta. Ardian merasa jika ia cowok paling beruntung mendapatkan Nanda.


"Pacaran mulu! Entar dokter Boy marah lo lambat nganterin Nanda kerumah sakit!" teriak Izam yang datang bersama sahabat nya.


Ardian memutar bola matanya malas, "ngerusak momen aja lo!" desis Ardian lalu cowok itu memakai helm nya.


Leo, Rafael dan Ethan tertawa. Sementara Izam hanya berdengus kesal.


"Gue duluan," kata Ardian seraya menyalakan mesin motornya.

__ADS_1


"Gue sama Ardian duluan," pamit Nanda dan dibalas anggukan keempat cowok itu.


"Hati-hati!"


__ADS_2