
Puri sekarang sudah berada di ruangan kepala sekolah, saat ini dia sedang duduk berdampingan dengan papanya Kesya, yaitu Iksan.
Iksan menatap Puri yang sudah pasti dia kenali, karna gadis itu hampir setiap minggu kerumah bersama dengan sahabatnya yang lain untuk mengajak Kesya keluar, melihat mereka yang begitu sangat dekat membuat Iksan masih tidak percaya jika mereka berantem.
Puri hanya diam saja saat di tatap datar oleh Iksan, dia sudah tebak jika pria itu tidak menyangka jika mereka sampai berkelahi besar seperti ini.
''Puri, kamu sudah kenal pak Iksan 'kan. Dia orang tua Kesya,'' kata kepala sekolah dan dibalas anggukan kepala oleh Puri.
''Iya, Bu. Saya sudah kenal,'' kata gadis itu membuat Kepala sekolah tersebut menganggut.
‘’Beliau mau bertemu kamu,'' kata kepala sekolah lagi.
Tanpa basah-basih lagi, Iksan langsung mengutarakan apa yang ingin dia katakan, karna gadis yang membuat anaknya masuk rumah sakit sudah ada di sini.
''Saya mau, dia di keluarkan dari sekolah ini.''
Deg..
Jangtung Puri berdetak kencang, saat Iksan dengan lantang meminta kepada kepala sekolah untuk mengeluarkan dirinya dari sekolah ini.
Puri tau, jika pria di sampingnya mempunyai kekuasaan dan wewenang di sekolah ini. Kepala sekolah bahkan bungkam mendengar permintaan pria di hadapanya yang merupakan orang tua Kesya.
''Mungkin kita bisa membicarakan secara kekeluargaan soal ini pak. Bapak belum tau alasan Puri kenapa melakukan ini kepada anak bapak,'' kata kepala sekolah. ''Tolong pertimbangkan lagi permintaan bapak,'' lanjut kepala sekolah lagi.
''Apapun alasanya, saya tidak terima. Dia sudah melakukan tindakan kekerasan kepada anak saya. Sampai anak saya masuk rumah sakit karna perbuatan dia!'' Iksan kekeh pada pendiriannya untuk mengeluarkan Puri dari sekolah ini.
‘’Baiklah,'' pasrah kepala sekolah membuat Puri mengepalkan tanganya. Kepala sekolah juga tidak punya pilihan lain. Selain karna Iksan mempunyai wewenang di sini, perbuatan Puri juga sudah keterlaluan.
Puri dan kepala sekolah saling bertatapan satu sama lain. Kepala sekolah itu memperbaiki kacamatanya lebih dulu.
''Maafkan ibu. Dengan terpaksa ibu mengatakan, jika kami di—''
''Puri nggak salah! Nggak boleh ada yang ngeluarin dia di sekolah ini!''
Ucapan kepala sekolah terpotong, dia melihat Nanda dan Ardian berjalan kearahnya.
''Ara,'' gumam Iksan, dia tidak menyangka jika dia bertemu anaknya di sini.
Nanda hanya menatap papanya sejenak, lalu kemudian kembali menatap kepala sekolah.
‘’Kepala sekolah nggak boleh keluarin Puri dari sekolah ini,'' kata gadis itu membuat Iksan menggeleng.
''Ara, kamu tidak tau masalahnya. Kamu tidak tau, kakak kamu Kesya masuk rumah sakit, karna perbuatan dia. Kamu jangan belain dia, suatu saat dia akan memperlakukan kamu sama seperti Kesya,'' jelas Iksan panjang kali lebar kepada anaknya itu.
''Ara tau, Pa. Kalau Kesya saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Bahkan, Ara lihat dia berantem dengan Puri di depan mata kepala Ara sendiri,'' kata Nanda membuat Iksan diam. ''Papa nggak bisa bilang, kalau Ara nggak tau semuanya.''
''Ara...Kamu tidak tau, gara-gara dia, kakak kamu masuk kerumah sakit,'' kata Iksan lagi membuat Nanda menarik nafasnya panjang.
''Puri nggak salah, Pa. Puri belaian Ara, karna Kesya selalu gangguin Ara di sekolah. Papa nggak lihat. Karna perbuatan Kesya, pipi aku sampai memar karna tamparan dari Kesya.'' Nanda memperlihatkan bekas tamparan yang diberikan Kesya tadi pagi.
''Papa nggak tau, sarapan pagi Ara itu tamparan dari Kesya, yang sering papa belah. Kesya egois sama Ara, Pa. Ara berusaha berdamai dengan kondisi sekarang, tapi Kesya selalu mengungkit nya dan menyalahkan Ara karna kebahagianya yang Ara rebut, dia pikir Ara yang rebut papa dari kesya.'' Nanda menjelaskan panjang kali lebar. ‘’Tanya sama Kesya, jangan gangguin Ara lagi, Pa. Puri sampai belain Ara dari Kesya, karna Ara hanya diam.''
Iksan diam, dia tidak menyangka jika alurnya akan seperti ini.
‘’Kepala sekolah nggak boleh keluarin Puri dari sekolah ini. Karna ini semua bukan kesalahan Puri sepenuhnya.'' Nanda menarik tangan Puri keluar dari sini.
''Ara,'' panggil Iksan, seraya mengejar anaknya itu.
Sementara kepala sekolah menghembuskan nafas berat, setelah kepergian mereka. Kepala sekolah baru sadar, jika ada satu makhluk hidup yang masih di sini.
''Ardian, kenapa kamu masih tinggal di sini?'' tanya kepala membuat Ardian menatap kepala sekolah itu dengan lekat.
''Ibu tau siapa papa saya 'kan?'' Ardian mengingatkan kepada kepala sekolah, siapa papanya.
Kepala sekolah itu mengangguk mengiyakan ucapan Ardian. Tentu saja dia mengenal pak Ibnu.
''Jadi ibu juga tau, kalau papa saya JAUH lebih berkuasa di sekolah ini ketimbang papanya Kesya,'' kata Ardian lagi dan dibalas anggukan kepala sekolah. Kata 'Jauh' begitu di tekan oleh Ardian, membuat kepala sekolah tidak tau apa tujuan anak pemilik sekolah itu mengatakan hal ini padanya.
Ardian bersedekap dadah di depan kepala sekolah.
''Saya mau, kepala sekolah mengeluarkan Kesya dari sekolah ini,'' tegas Ardian membuat kepala sekolah langsung melongo dengan ucapan Ardian. ''Satu lagi, Nanda sudah melarang ibu untuk mengeluarkan temanya dari sekolah ini. Jadi, dengarkan apa yang di katakan Nanda, jangan keluarkan Puri dari sekolah ini.''
''Ardian...'' Kepala sekolah tidak tau harus berkata apa lagi, anak itu sedang bermain wewenang di sekolah ini.
''Mana mungkin ibu mengeluarkan Kesya. Nanda dan Kesya itu saudara, ibu tidak akan mau!'' bantah kepala sekolah. ''Lagian, permintaan kamu sangat aneh. Ibu tidak akan mengeluarkan Kesya maupun Puri.''
''Ibu harus mengeluarkan Kesya dari sekolah ini, kalau tidak, mama saya akan datang ke sekolah ini dan mencibir ibu. Karna ibu tidak becus menjadi kepala sekolah, gara-gara tidak mengeluarkan Kesya dari sekolah ini, yang sudah menampar Nanda.'' Ardian berkata begitu dingin kepada kepala sekolah. Kekeh pada pendirinya kepada kepala sekolah untuk mengeluarkan Kesya dari sekolah ini.
''Mama kamu tidak suka ikut campur urusan sekolah,'' bantah kepala sekolah membuat Ardian berdesis.
‘’Tapi kali ini beda. Kalau mama saya tau, murid yang menampar Nanda tidak di keluarkan dari sekolah ini, maka mama saya akan datang ke sekolah menemui ibu,'' ucap Ardian lagi.
''Ardian. Kamu jangan ngada-ngada kalau ngom—''
''Perlu ibu ketahui, mama saya menyanyangi Nanda seperti anaknya sendiri, karna saya dengan Nanda itu pacaran. Kalau berita ini sampai di telinga mama saya, calon menantunya di perlakukan kasar dan pelakunya tidak di keluarkan dari sekolah ini. Maka....Ibu siap-siap di ganti menjadi kepala sekolah menjadi Tukan kebun sekolah.'' Ardian tersenyum devil kearah kepala sekolah lalu pergi dari sana.
Membuat bahu kepala sekolah itu merosot.
***
''Ra, tungguin papa!'' panggil Nanda membuat langkah kaki Nanda tehenti yang ingin ke kelas bersama dengan Puri.
''Gue duluan,'' pamit Puri pada Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.
''Mau nyalahin siapa, Pa?'' tanya Nanda setelah papahnya sudah mendekatinya.
‘’Apa Pipi kamu sakit?'' tanya Iksan dan dibalas gelengan kepala oleh Nanda.
‘’Lebih sakit ucapan Kesya ke aku, Pa. daripada tamparan ini,'' kata Nanda seraya menghembuskan nafas berat.
''Papa minta maaf, papa nggak tau kejadian yang sebenarnya,'' kata Iksan lagi.
‘’Mendingan papa balik kerumah sakit, kasihan Kesya kalau sampai dia bangun, dia nggak lihat papa di sina,'' ucap Nanda. ''Kesya lebih membutuhkan papa daripada aku.'' Lepas mengucapkan kata itu, Nanda langsung melenggang pergi meninggalkan Iksan, membuat pria itu menghembuskan nafas berat melihat punggung anaknya yang sudah menjauh.
__ADS_1
Iksan membalikkan tubuhnya, dia terkejut melihat sosok cowok yang berada di ruangan kepala sekolah tadi, bersama dengan Nanda, sekarang cwok itu berada di belakangnya.
''Kamu siapa?'' tanya Iksan penuh selidik, apa lagi dia melihat cowok itu dekat dengan anaknya.
Dari tampanya saja membuat Iksan berpikir jika anak itu tidak beres, pakaian yang di keluarkan jauh dari kata rapih, mengisahkan kesan badboy pada anak itu.
''Om yakin mau tau saya siapa?'' Bukanya menjawab, Ardian malah balik bertanya kepada Iksan.
''Dasar anak kurang ajar,'' gumam Iksan lalu pergi meninggalkan Ardian.
''Saya adalah pacar anak om, Nanda Bella,'' kata Ardian membuat langkah kaki Iksan terhenti.
Dia membalikkan tubuhnya bertatapan dengan Ardian.
''Kamu yakin pacarnya?'' tanya Iksan tersenyum remeh kepada Ardian. ''Nama anak saya saja, tidak lengkap kamu katakan,'' Iksan tersenyum meremahkan membuat Ardian tersenyum devil kearah Iksan.
''Kalau Raisa itu selingkuhan, om. Jadi saya malas menyebutnya, jadi saya hanya mengatakan Nanda Bella. Sayang sekali, nama pacar saya ada unsur pelakornya,'' gumam Ardian secara dramatis membuat Iksan mengepalkan tanganya.
''Kenapa? Apa saya salah lagi?'' Kini giliran Ardian tersenyum meremahkan.
Iksan langsung pergi meninggalkan Ardian dengan keadaan emosi, anak SMA mampu membuat darahnya mendidih.
Ardian tertawa kecil melihat punggung Iksan yang sudah menjauh. ''Mulai sekarang, nggak akan ada yang boleh nyakitin Nanda, pacar gue. Kalau perlu, Om Iksan yang selalu buat Nanda nangis, terhempaskan dalam hidup Nanda,'' menolog Ardian seorang diri.
Ardian membalikkan tubuhnya untuk segera ke kelasnya, namun dia langsung tersentak kaget saat melihat Nanda, yang entah sejak kapan gadis itu ada di sini.
‘’Ngomong apa lo sama papa?'' tanya Nanda.
‘’Gimana lo bisa tau?'' tanya balik Ardian.
‘’Dari jendelas kelas,'' jawab Nanda membuat Ardian mengangguk kecil, itu berarti Nanda tidak mendengarkan ucapanya tadi.
''Ikut gue.'' Ardian menarik tangan Nanda menuju uks.
‘’Gue mau balik ke kelas, bentar lagi guru yang ngajar bakalan datang,'' Nanda meminta agar Ardiam melepaskan tanganya.
''Gue yang bakalan ngomong sama gurunya,'' kata Ardian tanpa melepaskan tangan Nanda.
Dari kelas seberang, Leo, Ethan, Rafael dan Izam tidak menyangka melihat Ardian menggandeng tangan Nanda menuju uks, tanpa melihat sekeliling mereka, jika saat ini mereka menjadi sorotan.
‘’Lepasin, Ar. Lo nggak lihat mereka liatin kita,'' tegur Nanda agar melepaskan tanganya itu.
''Dia punya mata, kita nggak bisa nyuruh mereka buat hilangin mata mereka, demi nggak lihat kita. Jadi wajar, kalau mereka merhatiin kita.''
''Tapi gue risih jadi pusat perhatian,'' balas Nanda.
''Lo yang kepedean,'' ucap Ardian membuat Nanda diam.
Apa benar dia kepedean?
Ardian berhasil membawa Nanda masuk kedalam uks, cowok itu menyuruh Nanda untuk diam diatas bansal.
''Kak, biar kami yang bantu. Kakak butuh apa?'' adik kelas yang bertugas menjaga uks menghampiri Ardian.
Ardian yang sedang mencari sesuatu menghentikan pergerakan tanganya.
''Iya, kak. Aku bisa ban—''
‘’Mendingan lo diam, itu udah membantu,'' dingin Ardian kembali melanjutkan pergerakan tanganya membuat adik kelasnya menjadi kikuk dengan ucapan ardian barusan.
Sementara Nanda yang mendengarnya dengan jelas melototkan matanya, dia tidak menyangka jika Ardian akan berkata seperti itu.
Ucapan cowok itu bisa saja menyakiti hati seseorang, Nanda melihat adik kelas yang bertugas di uks ini kembali ke tempatnya, Nanda bisa melihat gadis itu sangat malu.
Ardian langsung menghampiri Nanda, setelah dia tidak membawa apa-apa. Terus, apa yang cowok itu cari tadi?
‘’Gue udah nelfon Izam buat bawa Air hangat sama handuk kecil, buat kompres pipi lo yang merah,'' kata Ardian, karna dia bisa membaca sorot mata gadis itu, karna dia tidak membawa apa-apa.
“Handuk kecil ada di sana, biar gue ambil.” Tangan Nanda kembali di cekal oleh Ardian.
“Gue tau, disana ada handuk, tapi itu nggak steril buat pipi lo itu,” jelas Ardian membuat Nanda diam.
Gadis itu memilih duduk kembali. Dia menunggu Izam saja datang membawa pesanan Ardian.
“Lama-lama. Mulut lo pedas kayak Rafael,” kata Nanda membuat Ardian tertawa kecil.
“Karna gue suruh tuh cewek buat diam?” tanya Ardian memastikan dan dibalas angguka kepala oleh Nanda.
“Gue baru tau, kalau pipi lo merah karna tamparan dari Kesya,” kata Ardian. “Gue pikir, yang lo pake itu sejenis make up yang bisa buat pipi lo merona, ternyata dugaan gue salah,” kata Ardian membuat Nanda melotokan matanya. Dia tidak menyangka saja jika Ardian mengira jika yang dia kenakan itu bagian dari make up. “Pantas aja gue mikir, kok lu pake cuman di pipi sebelah. Ternyata Kesya namparnya cuman sebelah,” lanjut Ardian dengan senyuman mengejek pada gadis itu membuat Nanda mendengus kesal.
Dia pikir Ardian akan prihatin dengan apa yang menimpanya, ternyata cowok itu malah mengejeknya.
“Tapi lo tenang aja, gue udah nyuruh kepala sekolah buat ngeluarin Kesya dari sekolah ini.” ucap Ardian santai, kini giliran Nanda yang tertawa dengan apa yang Ardian katakan barusan.
Ardian menaikkan alisnya sebelah melihat Nanda tertawa. Pasalnya tidak ada yang lucu, tapi gadis itu tertawa. padahal, dia serius dengan omonganya barusan.
“Emangnya lo siapa?” tanya Nanda dengan tawa menghiasi wajahnya itu.
Gadis itu meredahkan tawanya. Takut yang lain di uks ini terganggu.
“Lo masih tanya gue ini siapa? Gue pacar lo,” Sosor Ardian membuat Nanda memutar bola matanya.
“Jawaban yang diluar prediksi BMKG,” gumam Nanda.
“Gue tanya ke lo, emangnya lo siapa nyuruh kepala sekolah keluarin Kesya dari sekolah? Lo nggak tau papa gue?”
Ardian menatap Nanda datar. ''Buat apa gue cari tau papa lo? Yang ada, papa lo bakalan cari tau gue, kalau Kesya dikeluarkan dari sekolah ini,'' kata Ardian ketus membuat Nanda menghembuskan Nafa berat.
''Lo nggak akan bisa ngeluarin Kesya. Papa gue donatur di seko—''
''Papa lo donatur di sekolah ini, papa gue yang pemilik sekolah ini.''
Jleb...
__ADS_1
Ucapan Ardian sukses membuat Nanda bungkam. Bahkan, Nanda tidak mampu mengucapkan sepatah katapun saat ini.
Nanda melirik Ardian kembali, rasanya dia tidak percaya jika Ardian adalah anak pemilik sekolah ini.
''Lo tenang aja, Kesya bakalan di keluarkan dari sekolah ini,'' kata Ardian membuat Nanda menggeleng kuat.
''Jan—''
Ceklek.
Pintu uks dibuka oleh Izam, Nanda pikir hanya Izam saja yang datang, ternyata dugaannya salah. Karna Ethan, Leo dan Rafael juga ada di sini.
Rafael yang membawa air hangat, Izam yang membawa handuk kecil.
''Ini, Ar. Di jamin steril kok,'' kata Izam menyerahkan handuk kecil itu pada Ardian.
''Air lo juga, di pastikan air steril langsung dari pergunungan,'' kata Rafael meletakkan air hangat itu diatas meja.
''Maksud lo apa langsung dari pegunungan?'' tanya Izam kepada Rafael.
''Ini nih, kalau orang jarang nonton iklan. Jadinya dia tidak tau,'' timpal Ethan membuat Izam berdesis.
''Lo diam aja, Mendingan lo pergi bucin sana sama Vani,'' cibir Izam pada Ethan membuat Leo tertawa.
''Kok lu bawa-bawa nama Vani,'' kesal cowok itu, karna tiba-tiba saja Ethan membawa nama Vani sekarang ini dalam percakapan mereka.
‘’Mulut gue, bukan mulut lo. Lagiannnn, yang gue bilang itu benar, lo 'kan dari dulu bucin ama Vani,'' kata Izam lagi.
''Itu dulu, beda lagi sekarang,'' desis Ethan.
‘’Kenapa? Malu pamer kebucinan dan ujung-ujungnya putus?'' Izam bersedekap dadah dan membuat Ethan langsung menginjak kaki cowok itu.
''Awkh!'' ringis Izam.
''Rasain lo! Gue sumpahin lo bakalan lebih bucin dari gue entar, kalau lo punya pacar!'' geram Ethan lagi.
''AMINNNN!'' sahut Rafael dan Leo mengaminkan paling keras membuat Izam ingin menghajar wajah tampan milik sahabatnya itu.
''Jnck!'' gerutu Izam.
Nanda hanya diam menyimak pertikaian mereka di dalam uks. Bahkan, penjaga uks memilih diam untuk tidak menegur mereka karna tentunya mereka takut dengan mereka semua.
‘’Ngapain kalian masih di situ?'' tanya Ardian pada ke empat sahabatnya.
‘’Nungguin lo lah, Ar!'' balas Izam.
''Nggak usah, Mendingan kalian pergi,'' usir Ardian.
''Lupa daratan kalau lagi mau bucin!'' cibir Izam.
''Maklumin aja, namanya juga pertama kali mau bucin,'' timpal Ethan.
''Nggak usah ganggu privasi orang,‘’ tegur Leo dengan halus membuat Ardian menepuk pundak Leo.
''Lo emang sahabat gue yang normal, yang lainya otak mereka koslet,'' kata Ardian membuat Ethan berdengus kesal, Izam memanyunkan bibirnya dan Rafael memutar bola matanya malas.
Ke empat sahabat Ardian sudah pergi, cowok itu mengambil handuk lalu menyelupakanya di air hangat.
''Sini,'' Ardian mulia mengompres pipi milik Nanda, sementara gadis itu hanya diam saja, Ardian mengompres pipinya dengan hati-hati.
''Lo nggak ngelawan saat Kesya nampar lo?'' tanya Ardian dan dibalas gelengan kepala oleh Nanda. ‘’Pantas aja Puri maju, ternyata lo cuman diam.''
''Kesya saudara gue.''
''Lo takut sama, Kesya?'' Nanda menatap Ardian sehingga keduanya saling beradu pandangan, dalam jarak yang sangat dekat seperti ini, membuat Nanda bisa melihat lekuk wajah milik Ardian yang nyaris sempurna, bulu matanya yang lentik, hidung mancung, bola matanya yang indah jika di tatap. Siapapun yang menatapnya akan jatuh cinta pada bola mata Ardian di sertai wajahnya yang tampan itu.
''Gue nggak takut,'' kata Nanda ketus, lalu mengalihkan pandangnya dari Ardian, agar dia tidak menatap cowok itu yang tidak baik untuk jantungnya.
''Terusssss?'' tanya Ardian lagi, seraya meletakkan handuk dan air hangat itu diatas meja, karna dia sudah mengompres pipi milik Nanda.
‘’Kesya kakak gue juga,'' jelas Nanda membuat Ardian tersenyum tipis dengan jawaban gadis itu.
‘’Emangnya Kesya nganggap lo adiknya?'' Sosor Ardian yang sudah tidak di gubris Nanda lagi.
Nanda langsung turun dari bansal yang dia duduki, berjalan keluar uks di ikuti oleh Ardian.
Ardian menyamahi langkah kaki milik Nanda untuk segera ke kelas. Mengantar gadis itu sampai ambang pintu kelas, untung saja guru yang mengajar siang ini belum masuk.
''Na, kamu dari mana aja sih,'' kata Salsa menghampiri Nanda di ambang pintu, pasalnya gadis itu tidak mengatakan dia ingin pergi kemana.
''Habis ke uks,'' jawaba Nanda.
''Hah, kamu sakit?'' tanya Salsa dan dibalas gelengan kepala oleh Nanda.
''Gue ngomores pipi gue yang merah,'' jawab Nanda dan dibalas gelengan kepala oleh Salsa.
''Yaudah, aku tungguin kamu di dalam,'' pamit Salsa melenggang pergi meninggalkan Nanda dan juga Ardian.
''Gue masuk kelas dulu,'' pamit Nanda, kemudian Ardian kembali mencekal tangan gadis itu membuat Nanda menghembuskan nafas berat. Dia membalikkan tubuhnya dan bersedekap dadah kepada Ardian.
‘’Hobi banget sih cekal tangan orang!'' dengus Nanda, gadis itu tidak bisa menghitung sudah berapa kali Ardian mencekal tanganya itu.
Ardian tertawa kecil, membuat cowok itu semakin tampan jika tertawa.
‘’Sorry,'' kata Ardian.
Ardian meredahkan tawanya, menatap Nanda dengan tatapan serius membuat gadis itu menjadi kikuk.
''Apa sih?'' kata Nanda yang mulai risih dengan tatapan tajam cowok itu.
''Kalau lo punya masalah, langsung tanya ke gue, biar gue yang turun tangan,'' peringat Ardian membuat Nanda melototkan matanya. ''Lo itu pacar gue, udah seharusnya gue—'' Nanda langsung menyumbat mulut Ardian menggunakan tanganya, membuat cowok itu tidak meneruskan ucapanya.
''Diam, lo nggak lihat yang lain lihat kita,'' peringat Nanda, karna temanya di dalam kelas menatapnya dengan tatapan gemes.
__ADS_1
Nanda langsung melepaskan tanganya pada mulut Ardian.
''Kalau mau nyumpal mulut gue pake bibir lo aja. Nggak usah pake tangan!''