
Ardian mengambil handuk berwarna putih, lalu cowok itu masuk kedalam kamar mandi. Pagi ini, dia bersemangat untuk ke sekolah, setelah dua hari dia tidak masuk sekolah.
Mungkin karna efek ingin menjemput sang pacar, jadi dia semangat pagi ini ke sekolah.
Ardian mulai menyalakan showershower, lalu membasahi seluruh tubuhnya yang sempurna itu.
Kurang lebih 20 menit mandi, cowok itu keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya itu.
Otot-otot tubuhnya terlihat jelas, bahkan siapapun yang melihat nya akan meneguk salivanya susah payah, tubuh sixpack itu sangat menggiurkan.
Ardian mulai mengeringkan rambut dengan Hair Dryer, selesai mengerikan rambut nya dia mengenakan deodoran mahal nya, lepas itu dia memakai hair tonic di rambutnya. Hair tonic yang ia kenakan tentu saja harganya mahal.
Lepas itu, Ardian mengenakan singlet sebelum mengenakan seragam sekolahnya nya. Lepas memakai seragam sekolah, dia menyemprotkan parfum Chanel Grand Extrait, yang harganya bisa membeli satu motor secara cash.
Parfum mahal wanginya emang beda ya, wkwk.
Setelah siap, cowok itu mengambil tas selempang nya, lalu keluar dari kamar. Bertepatan dengan itu, Fatur juga membuka pintu kamarnya, karna kamar mereka memang saling berhadapan.
Ardian melihat Fatur suda siap dengan seragam sekolah nya, yang sama dengan yang ia kenakan. Yah, hari ini Fatur sudah masuk sekolah, sebenarnya hari-hari kemarin Fatur bisa masuk, tapi cowok itu punya banyak alasan.
Jadi, baru pagi ini Fatur masuk ke sekolah. Duduk di bangku Kelas 12, sebagai kakak kelas.
Fatur menatap Ardian tanpa minta, lalu berjalan lebih dulu.
Ardian hanya mengedikkan kedua bahunya acuh. Ia tahu jelas, jika Fatur masih menganggapnya musuh, bukan seorang adik.
Tidak masalah bagi Ardian, selama cowok itu tidak mengusiknya bersama para sahabat nya.
Ardian menuruni anak tangga, dia melihat Fatur sudah duduk di meja makan, seraya bermain ponsel. Dia yakin, cowok itu ingin sarapan bersama karna papa Ibnu yang mengancam nya. Atau ada hal yang lain?
Ardian menggeser tempat duduk, dia ingin menduduki kursi tersebut, namun niatnya dia urungkan saat mendengar samar-samar suara seseorang.
__ADS_1
Setahunnya, di rumah ini hanya mama nya saja yang perempuan. Penasaran, akhrinya Ardian berjalan menuju sumber suara, di dapur tempat sang mama membuat sarapan pagi mereka.
Ardian melihat punggung seseorang, tengah menemani sang mama menyiapkan serapan untuk mereka.
Ardian merasa tidak asing dengan punggung gadis itu, namun dia lupa.
"Ardian?" sang mama melihat anaknya, "kamu tunggu di meja makan aja, nggak lama lagi mama bawa makanannya. Nggak baik loh, cowok injek dapur."
Kesya tertegun, lalu kemudian gadis itu membalikkan tubuhnya, sehingga tatapan mata Kesya bertemu dengan tatapan mata milik Ardian.
Terkejut? Tentu saja Ardian terkejut, namun dia tetap mempertahankan wajah datar nya itu. Bagaimana bisa Kesya berada di rumah nya.
Ardian berjalan keluar dapur, lalu kembali duduk di meja makan, menatap Fatur sejenak yang masih asik bermain ponsel, lalu cowok itu angkat suara, "lo yang ngajak Kesya kesini." Itu bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.
Fatur menatap balik Ardian, "emang cuman lo yang bisa, ngajakin cewek kesini."
Ardian diam sejenak, "baguslah, kalau lo punya hubungan spesial sama tuh cewek." Ardian tersenyum misterius, dia tidak mengkhawatirkan ini lagi. Karna dua gadis nekad padanya, sudah memiliki pacar.
Fatur menatap Ardian tidak suka, sementara Ardian mempertahankan senyum nya pada Fatur, "gue bakalan rayain ini. Lo mau minta apa sama gue? Bakalan gue kasi sebagai wujud kebahagiaan gue," celetuk Ardian membuat Fatur mengeram.
Apa Ardian begitu bahagia? Padahal dia tidak punya hubungan apa-apa dengan Kesya. Dia hanya malas mengantar gadis itu pulang, jadinya dia membawa Kesya kesini saja.
Ardian ingin merayakan kedekatan Fatur dengan Kesya. Karna apa? Karna dia bersyukur, dua gadis nekad padanya akan mempunyai pasangan masing-masing. Sudah tidak ada yang akan menganggu hubungan nya dengan Nanda kelak.
"Yaudah kalau lo nggak mau. Gue udah baik nawarin lo," kata Ardian lagi bersamaan dengan Tari membawa sarapan untuk nya, di susul oleh Kesya membawa nampan berisi minuman.
Gadis itu tidak mengenakan seragam sekolah sama seperti Fatur. Gadis itu memakai celana kain dan baju pemberian Tari, celana yang tentunya masih baru.
Fatur diam sejenak, kenapa dia tidak mengajukan permintaan saja? Toh, dia juga tidak punya hubungan apa-apa dengan Kesya, apa lagi sampai pdkt. Di hatinya masih stay nama Salsa, meskipun dia tahu gadis itu sudah di ikat oleh sosok cowok bernama Rafael.
"Gue mau, lo--"
__ADS_1
Ucapan Fatur langsung di hentikan oleh Ardian.
"Jangan aneh-aneh permintaan lo." Ardian memberikan peringatan pada Fatur, seraya mengambil nasi goreng dan juga telur omlet buatan mama Tari. Sementara Kesya duduk di dekat Tari.
Tari penasaran, apa yang kedua anak nya itu bicarakan.
Suasana hati Ardian pagi ini makin membaik. Melihat Fatur dekat dengan Kesya membuat cowok itu tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya sumringah nya pagi ini.
Kesya sedari tadi memperhatikan wajah bersinar Ardian. Pertama kalinya dia melihat Ardian menampilkan raut wajah datar. Apa yang membuat cowok itu senang?
"Kamu mau makan apa, Sya? Biar tante ambilin," kata Tari mengabaikan kedua putranya yang sedang bersitatap.
"Biar saya yang ambil aja, tan," kata Kesya dengan tidak enak hati. Di perlakuan begitu baik mama Ardian membuat Kesya makin menginginkan cowok itu.
"Gue mau, satu bulan ini. Lo jadi asisten pribadi gue." Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya Fatur mempunyai ide.
Kapan lagi coba, memerintah ketua ARIGEL? Sejak dulu, Fatur ingin membuat Ardian tunduk padanya.
Senyuman jenaka terbit di wajah Fatur, melihat wajah Ardian mengeras.
Sementara Kesya fokus pada Fatur dan Ardian. Dia penasaran, apa yang mereka obrolkan, hingga membuat Fatur menyuruh Ardian menjadi asisten pribadinya selama satu bulan.
Ardian meminum secangkir susu di dekat nya, lepas itu sudut bibir nya terangkan membentuk senyuman tipis, itu semua dapat di tangkap oleh Fatur.
"Gue mau-mau aja jadi asisten lo selama satu bulan penuh," ucap Ardian pelan, lalu kemudian cowok itu memajukan tubuhnya berbisik di telinga Fatur, membuat cowok itu membeku, lalu kemudian Fatur mengepalkan tangannya.
Ardian langsung memundurkan tubuhnya, dengan senyuman kemenangan.
"Sialan lo!" desis Fatur.
"Jadi gimana, Brother? Kapan lagi lo bisa merintahin ketua ARIGEL kalau bukan sekarang. Mumpung pagi ini mood gue baik. Kalau nggak baik, gue bakalan tarik kata-kata gue," kata Ardian dengan nada santai.
__ADS_1