
Ardian sengaja melihat sekitarnya, guna menghindari kontak mata dari Rafael saat ini.
''Lu pikir gue cemburu, gitu?'' sewot Rafael.
''Dih, yang bilangin lu cemburu siapa, bro?'' sahut Izam seraya menepuk pundak Rafael. ''Ardian cuman nanya, Salsa mana, karna Fatur ada di rumah sakit ini juga,'' jelas Izam dan dibalas anggukan setuju oleh Ardian. ''Lagian....Lo juga yang nanya, ngapain Ardian nyariin Salsa. Giliran udah di jawab, malah sewot.''
''Gue nggak sewot!'' Rafael langsung menghempaskan tangan Izam yang berada di pundak nya. ''Salsa mau jadian sama Fatur gue nggak akan cemburu. Gue nggak suka sama dia, ngapain gue mau cemburu?'' Rafael berkata seraya tersenyum sinis membuat Izam memutar bola matanya malas.
''Yakin?'' tanya Ardian memastikan dan di hadiakan tatapan menusuk dari Rafael.
Rafael jalan lebih dulu meninggalkan Izam dan Rafael, membuat Ardian tersenyum tipis, sementara Izam tertawa keras.
''Eh, Ci. Lu kesini cuman sendirian doang?'' tanya Izam memastikan.
''Salsa lagi di jalan, gue duluan kesini,'' jawab Cika membuat Izam manggut-manggut.
Cika, Izam dan Ardian kembali melangkah, mereka berjalan bersamaan menuju ruangan Gerald.
''Lu rajin banget jengukin, Gerald. Emangnya lu suka sama Gerald?'' tebak Izam membuat Cika menjadi gelagapan, sementara Ardian langsung melirik Cika. Dia bisa melihat gadis itu berusaha menetralkan dirinya, atas apa yang Izam katakan barusan.
Ardian kembali menatap kedepan, berjalan fokus tanpa melihat kanan dan kirinya, namun telinga nya menyimak dengan baik.
''Nggak.''
''Masa sih?'' tanya Izam lagi dengan tidak percaya pada Cika. ‘’Kentara banget tau nggak, lu suka sama Gerald.''
Langkah kaki Cika terhenti, membuat Izam juga ikutan terhenti, otomatis Ardian juga ikutan menghentikan langkah kakinya.
''Gue nggak nyuruh lo buat percaya!''
Izam bersedekap dadah kearah Cika. ''Eh, Cika. Nggak usah sewot kayak Rafael kali. Gue cuman nanya, emang nya salah kalau lu suka sama Gerald? Normal-normal aja'kan kalau lo suka sama Gerald. Mau lu suka atau nggak, kagak usah sewot kalau di tanyain. Kayak mau di bully aja lo, kalau ketahuan suka sama Gerald!'' Izam menghentakkan kaki nya kesal. ''Ayok, Ar. Kita jalan duluan.''
Izam dan Ardian langsung pergi meninggalkan Cika, membuat Cika menatap punggung kedua cowok itu. Lalu kembali mencernah ucapan Izam barusan.
Apa yang di katakan cowok itu emang benar. Tapi, Cika nggak mau sampai orang lain tahu, sahabat nya saja yang tahu membuat Cika menjadi risih, apa lagi jika banyak orang yang tahu.
Gadis itu menghembuskan nafas berat, dia terlalu malu dan takut, jika orang lain tahu jika dirinya menyukai Gerald, bukan hanya suka, tapi gadis itu bahkan mengaguminya.
Ardian melirik Izam, cowok itu masih memanyunkan bibirnya, dia masih kesal dengan Cika yang sewot seperti Rafael.
''Kenapa bisa lo langsung nanya kayak gitu sama, Cika? Emang nya lo pernah lihat dia—''
__ADS_1
''Ar...Kentara banget tahu nggak kalau cewek suka sama cowok. Lo nggak lihat, Cika bahkan datang sendiri kerumah sakit. Lo nggak perhatiin juga, kalau dia hampir sama rajin nya dengan Nanda jengukin Gerald di rumah sakit.'' Izam langsung memotong ucapan Ardian membuat cowok itu tersenyum tipis lalu kemudian manggut-manggut.
''Gue sih suka sama, Cika.''
Ardian langsung menatap Izam, membuat Izam langsung tahu tatapan Ardian itu apa.
‘’Nggak usah salah paham deh, Ar. Gue bilang kayak gitu, gue suka aja kalau Cika sikap nya yang cuek datar sama Gerald yang dingin nya kelewatan. Biar kalau mereka pacaran, biar bisa adu mekanik. Bisa-bisa kalau mereka pacaran, nggak ada percakapan antara mereka berdua.'' Izam bercerita di sertai dengan tawa kecil nya, membuat Ardian langsung menjitak kening milik Izam.
''Apa sih, Ar. Sakit tau nggak!''
''Lo kebanyakan asumsi tau nggak. Mana mungkin Cika suka sama Gerald,‘’ protes Ardian. ''Cewek yang berani suka sama Gerald, adalah cewek yang udah siap nerima penolakan dari Gerald.'' Ardian tersenyum tipis, lalu kemudian melanjutkan ucapan nya. ‘’Kecuali, Nanda. Karna Nanda emang cinta masa kecil nya Gerald. Nggak akan ada yang bisa geser kedudukan Nanda di hati Gerald.''
''Ini dia yang buat gue salut sama Cika. Dia nggak peduli kalau ada cewek yang lebih dulu Gerald sukai. Mungkin prinsip Cika sama kayak lo,'' kata Izam membuat Ardian menaikkan alisnya sebelah. Bingung dengan prinsip yang sama yang Izam katakan.
‘’Maksud lo?'' tanya Ardian yang masih bingung.
''Nggak mudah menyerah dengan apa yang dia inginkan. Sebelum dia benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan,'' jawab Izam. ''Jalan cinta sama Cika kayaknya beda tipis deh, Ar.''
Ucapan Izam sukses membuat Ardian berpikir.
Kalau benar Cika suka sama Gerald. Itu berarti gue sama Cika, suka sama orang yang udah seseorang di dalam hati nya.
Ardian hanya bisa membatin, seraya berpikir keras.
''Emang nya lo udah tahu nanda nggak suka sama lo?'' tanya Izam lagi.
''Berulang kali gue tembak dia, nggak ada respon baik dari Nanda. Dia benar-benar nggak suka sama gue, dan nggak kasi gue celah buat masuk kedalam hati nya. Padahal nyokap gue udah suka banget sama dia, Zam. Bahkan, orang tua gue pikir, gue sama Nanda udah pacaran.'' Ardian menghembuskan nafas berat. ''Gue akan nunggu dia, nanda cewek pertama yang buat gue jatuh sejatuh nya. Nggak apa-apa kalau dia mau pacaran sama siapapun, asal yang nikahin dia itu gue.'' Ardian berkata begitu yakin membuat Izam salut dengan ucapan sahabat nya itu.
Sekarang Izam tahu, kalau Ardian menyukai Nanda dengan tulus, bukan hanya karna rasa pensaran saja sahabatnya menyukai Nanda.
''Gue dukung lo sama Nanda, Ar. Asal saingan lo jangan Gerald. Kalau saingan lo emang Gerald, gue nggak akan dukung lo maupun Gerald. Karna kalian berdua adalah sahabat gue yang paling baik. Siapapun yang dapetin Nanda nanti, gue cuman minta salah satu dari kalian jangan down. Terutama lo, Ar. Kalau Nanda lebih milih sahabat nya, lo jangan berkecil hati.'' Nasehat Izam membuat Ardian manggut-manggut.
‘’Tumben lu bijak,'' ejek Ardian membuat Izam tertawa.
''Satu lagi, Ar,'' kata Izam.
Kedua cowok itu menghentikan langkah kaki nya, karna mereka sudah sampai di ruangan Gerald.
''Apa?'' tanya Ardian pensaran.
‘’Sini.'' Izam memanggil Ardian, agar cwok itu mendekati nya. Lalu kemudian Izam berbisik di telinga Ardian, membuat cowok itu langsung menegang. ‘’Siapa tahu Tuhan adil antara lo sama Gerald. Siapa tahu aja yang pacaran sama Nanda adalah Gerald, tapi suatu saat lo yang bakalan jadi suaminya.''
__ADS_1
***
Salsa turun dari taxi yang mengantar nya kerumah sakit. Sebenaranya dia ingin istirahat di rumah nya dulu, namun melihat Cika menelfon nya dan menyuruhnya langusng kerumah sakit sekarang. Membuat gadis itu mengurungkan niat nya untuk istirahat. Karna Cika sahabat nya sekaligus sepupu nya itu minta tolong padanya.
Sebagai orang baik, tentu saja Salsa langsung gercep kerumah sakiti.
Salsa melihat Cika sedang menunggu nya di loby rumah sakit, dia langsung menghampiri gadis itu.
Dia sudah tahu akar masalah Cika, mengapa dia meminta untuk di temani, karna dia malu untuk masuk keruangan Gerald seorang diri dan bertemu dengan anak ARIGEL, saat Izam mengajukan pertanyaan seperti tadi, dan berani meng-skak diri nya membuat Cika menjadi malu.
''Yuk.'' Cika langsung menggandeng tangan Salsa untuk segera berjalan.
Kedua gadis itu berjalan di koridor rumah sakit, seraya mengobrol kecil. ‘’Jadi, Izam sama Ardian udah tahu kalau kamu suka Gerald?'' tanya Salsa memastikan, karna saat Cika menelfon dia tidak terlalu mendengar nya dengan jelas.
Cika mengangguk mengiyakan ucapan Salsa. ''Terus, respon mereka gimana? Mereka kaget atau malah ngejekin kamu?'' lanjut Salsa lagi.
''Kayak nya sih mereka dukung-dukung aja kalau gue suka sama Gerald. Tapi gue malah bantah ucapan Izam, kalau sebenarnya gue nggak suka sama Gerald,'' jawab Cika membuat Salsa menepuk jidat nya sendiri.
‘’Kenapa malah ngelak sih, Ci. Kan respon mereka baik ke kamu.''
''Gue nggak mau orang lain tahu, kalau gue suka sama Gerald. Meskipun itu sahabatnya Gerald sekalian,'' balas Cika, dia menyukai Gerald namun dia tidak ingin seperti sahabat nya memperlihatkan kepada orang-orang kalau dia menyukai Gerald.
''Iya-iya.''
Mereka berdua sudah sampai di depan ruangan Gerald, kedua gadis itu melihat ada Rafael, Izam dan Ardian, cowok itu menunggu kedua orang tua Gerald keluar dari ruangan Gerald, lalu mereka akan masuk.
''Mau kemana lo?'' Cika langsung mencekal tangan Salsa, saat gadis itu ingin melangkah pergi. Cika tahu jika Salsa ingin menghampiri Rafael, namun dia tetap bertanya.
''Aku mau nyamperin El. Udah beberapa ini aku nggak ngobrol sama dia,'' kata Salsa, agar Cika melapskan tangan nya.
''Emangnya lu pernah ngobrol sama Rafael? Perasaan cuman lu doang yang ngomong sama Rafael, tapi itu cowok nggak respon lo sama sekali. Palingan mulut lemes nya itu hina-hina lo lagi. Gue nggak terima,'' peringat Cika kepada Salsa membuat gadis itu memanyunkan bibir nya.
''Nggak usah di perjelas, Ci. Tapi aku serius, aku benar-benar kangen sama El,'' kata Salsa dengan memelas, agar Cika ingin melepaskan diri nya.
‘’Sorry, gue datang telat.''
Mereka semua langsung melihat ke asal suara, mulut Cika terbuka melihat Ethan datang bersama dengan Vani.
Sementara Cika memejamkan matanya, dia tidak tahu mengapa anak ARIGEL pada mereshakn para sahabat nya.
''Kok kamu datang sama Vani? Bukan nya kalian udah putus?'' Salsa melontarkan pertanyaan membuat Vani langsung memeluk lengan Ethan.
__ADS_1
''Gue sama Ethan balikan, emamg kenapa?''