
‘’Astagah,'' gumam Nanda setelah Ardian melenggang pergi, gadis itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu melangkah masuk kedalam kelas, setelah Ardian pergi dari sini.
Nanda terkejut saat melihat Kesya berada di dalam kelas seorang diri, Nanda pikir baru dia saja datang ke sekolah sepagi ini, ternyata dugaannya salah.
Kesya menatap Nanda dengan tatapan tidak suka. Bisa Nanda lihat tatapan bencin yang terkumpul di pelupuk mata gadis itu untuknya.
Kesya tahu, jika diluar tadi ada Ardian dengan Nanda, hanya saja dia tidak mendengar apa yang Ardian katakan.
Nanda ingin melewati Kesya, namun gadis itu menghalangi jalanya, lalu kemudian mereka kembali beradu tatapan.
‘’Gue mau lewat,'' kata Nanda, agar Kesya tidak menghalangi jalanya.
Nanda menghembuskan nafas berat, saat dia melangkah ke sebelah kiri, Kesya lagi-lagi menghalangi jalanya itu.
''Mau lo apa.''
''Lo tanya mau gue apa? Mau gue banyak dari lo!'' desis Kesya membuat Nanda menatap Kesya tajam.
''Gue nggak pernah ganggu hidup lo, tapi lo selalu cari masalah sama gue,'' balas Nanda dengan datar.
''Lo emang enggak ganggu hidup gue. Tapi lo udah rebut segalanya dari gue!'' Kesya menunjuk wajah Nanda menggunakan jari telunjuknya membuat Nanda langsung menepis gadis itu.
''Jangan tunjuk gue dengan tangan lo itu,'' gertak Nanda. ‘’Seharusnya gue yang ngomong kayak gitu, bukan lo. Karna lo udah rebut papa gue, karna lo sama mama lo itu, udah rebut papa gue. Bukan gue yang merebut—''
Plak...
Kesya langsung menampar pipi Nanda, dengan penuh emosi. Nanda memegang pipihnya yang memanas karna tamparan dari Kesya.
Kamu harus tau, buka hanya Boy kakak kamu, nak. Tapi Kesya kakak kamu juga.
Mengingat ucapan papanya membuat Nanda tersenyum tipis, tadinya dia ingin membalas tamparan dari Kesya, namun dia urungkan niatnya itu, mengingat ucapan papanya, jika Kesya itu adalah kakanya juga.
Nanda melemparkan senyuman untuk Kesya. ''Cepat sadar, Sya. Supaya lo tau, yang perebut di sini gue atau lo,'' kata Nanda. Lalu Nanda melewati Kesya yang masih panas, Bersykur gadis itu tidak menghalangi jalanya lagi.
Gadis itu mendudukkan bokongnya di kursi, menghembuskan nafasnya berat, tamparan dari Kesya sangat perih.
Gadis itu memgambil cermin didalam tasnya, melihat pipinya yang memerah karna tamparan dari Kesya.
''Kalau Boy lihat ini, bisa-bisa dia bakalan cari tau,'' menolog Nanda melihat bekas tamparan Kesya di pipinya, apa lagi kulitnya sangat sensitif.
Perlahan-lahan teman kelas Nanda datang dan mengisi kelas ini, Kesya juga sudah duduk di kursinya, Cika dan ketiga sahabatnya langsung menyapa Nanda lalu duduk di kursi mereka masing-masing.
''Eh, Na. Pipi kamu kok merah,'' tegur Salsa saat melihat pipi Nanda memerah.
Cika, Pute dan Puri langsung berjalan menuju meja Salsa, saat mendengar ucapan Salsa. Mereka menyapa Nanda tadinya, namun mereka tidak menyadari jika pipi gadis itu memerah.
''Nggak apa-apa,'' jawab Nanda.
Puri melihat pipi Nanda dengan jelas, seperti seorang detektif saja.
''Gue nggak ap-apa, Ri. Ini cuman bekas—''
‘’Maksud lo bekas tamparan,'' potong Puri setelah dia berhasil melihat pipi Nanda dengan jelas.
Ucapan Puri barusan membuat sahabatnya menatap gadis itu.
‘’Bekas tamparan gimana maksudnya?'' tanya Pute.
''Tanya sama Nanda, gue perhatiin pipinya itu bekas tamparan. Bekas tamparan yang baru saja terjadi.'' Puri sengaja menekan setiap perkataanya seraya melirik Kesya yang duduk di pojok sana, sehingga para sahabat gadis itu melirik Kesya juga, gadis itu tengah asik dengan ponselnya.
‘’Maksud lo, Kesya yang nampar Nanda?'' Cika sengaja mengeraskan suaranya, lalu Kesya menatap kedepan, tatapan mata mantan sahabatnya tertuju padanya.
‘’Jangan protes, Na. Kalau beneran Kesya yang nampar kamu, ini udah keterlaluan banget,'' kata Salsa saat melihat Nanda ingin angkat suara.
''Kalian nggak usah ikut campur urusan gue sama dia.'' Kesya menujuk Nanda.
‘’Jelaslah kita ikut campur, Nanda itu udah jadi bagian dari kita,'' sewot Puri.
''Lo udah nyakitin orang secara fisik, Sya. Lo harus sadar dengan tindakan lo itu,'' timpal Pute membuat Kesya mengepalkan kedua tanganya.
Andai saja asap bisa keluar dari kepalanya, mungkin kepalanya sudah di penuhi dengan asap, saking emosinya gadis itu saat ini.
‘’Gue udah bilang, jangan ikut campur urusan gue sama dia!'' marah Kesya, suara gadis itu naik beberapa oktaf, sehingga seluruh pasang mata terarah pada mereka.
''Udah di bilangin, ini urusan kita juga, karna Nanda udah jadi bagian dari kita,'' desis Puri.
''Apa lo!'' nyolot Puri karna Kesya menatapnya penuh kebencian. ''Lo pikir gue takut sama lo!'' Puri tidak akan takut hanya dengan tatapan mata Kesya saja.
''Kurang ajar lo, Ri! Lo nggak pernah sekurang ajar ini sama gue. Semenjak dia datang, kalian semua udah lancang sama gue!'' Kesya menujuk Puri, Pute, Cika dan juga Salsa. ‘’Pengkhianat kalian! Kalian udah khinatin gue sebagai sahabat kalian, semenjak dia datang!'' Mata Kesya begitu tajam, Nanda bisa melihat kebencian yang sangat dalam untuknya dari Kesya.
''Nggak akan ada yang mau sahabatan sama lo, kalau sikap lo kayak Sethan!'' kelakar Puri.
Pute menahan tawa, kata Sethan yang Puri ucapkan mengingatkannya pada anak ARIGEL, karna mereka memanggil Ethan sahabat mereka dengan sebutan Sethan.
Pute berbisik kearah Puri. ‘’maksud lo Sethan tampan, anak ARIGEL?''
Puri melirik Pute, lalu kemudian matanya kembali menatap Kesya.
‘’Oiya, Sya. Lo sama anak ARIGEL yang bernama Ethan itu sama. Sama-sama Sethan!'' kata Puri pedas.
‘’Tapi lo kayak Rafael, Ri. Bermulut pedas,'' bisik Pute lagi membuat Puri menahan tawa.
''Kurang ajar!''
Plak...
Semua didalam kelas termangu, saat suara tamparan itu menggemah didalam kelas, mereka semua melihat kearah Puri yang di tampar oleh Kesya.
Puri memegang pipihnya yang memanas, menatap Kesya begitu tajam.
Plak...
Plak...
Bukan hanya satu kali, tapi dua kali. Bukan Kesya yang kali ini melempar, melainkan Puri yang menampar Kesya dua kali.
''Jangan main tangan, kalau nggak mau dibalas,'' kata Puri, sementara Kesya memegang pipinya yang sangat panas, wajahnya memerah.
Gadis itu kembali menyerang Puri, dia memjambak rambut Puri, mereka didalam kelas semuanya keluar, kecuali Cika, Salsa, Pute dan Nanda, mereka memilih mundur, melihat Puri dan Kesya saling menjambak satu sama lain.
__ADS_1
Nanda ingin meleraikan kedua gadis itu, namun tanganya langsung di tahan oleh Cika.
‘’Percuma kalau mau meleraikan mereka, nggak akan ada yang kalah. Bisa-bisa lo yang kena juga,'' kata Cika membuat Nanda hanya diam saja.
Kekuatan kedua gadis itu imbang, mereka bisa melihat Puri dan Kesya sama-sama kuat dalam urusan menjambak rambut dan tampar-menampar.
''Ci, kalau mereka nggak di pisahkan. Bisa-bisa ada yang celaka,'' kata Nanda lalu kemudian Pute yang melirik gadis itu.
''Ini urusan ketua osis sama antek-anteknya,'' kata Pute tanpa berpikir lebih dulu. Ahk, lebih tepatnya gadis itu lupa.
Nanda dan Cika sama-sama diam, membuat Pute meneguk salivanya susah payah.
Astagah, gue lupa!
''Sorry,'' kata Pute kikuk, ''gue lupa, kalau Gerald lagi di rumah sakit.'' Pute merasa bersalah.
''Nggak papa-papa,'' kata Nanda santai, entah mengapa dia tiba-tiba kepikiran Gerald, serasa dia ingin langsung pergi dari sekolah ini untuk melihat kondisi sahabatnya itu.
Apa lagi. Dia tidak bisa menjenguk Gerald lepas sekolah, karna Boy ingin mengatakan sesuatu padanya.
Murid-murid banyak yang melihat pertengkaran Puri dan Kesya dari luar, bahkan kelas sebelah ikutan juga.
Mereka hanya berani menonton dari luar saja, melihat melalui kaca jendela saat ini.
''BUBAR! BUBAR!''
Suara Dio sang wakil ketua osis menyapa gendang telinga mereka, sehingga murid-murid yang sedang menonton Puri dan Kesya dari luar bubar, dan membukakan jalan untuk Dio dan Nita.
Dio dan Nita langsung masuk kedalam kelas, melihat siapa yang berkahi pagi-pagi begini. Sementara anggota osis lainya tengah membubarkan kelas lain yang menonton dari luar jendela kelas ini.
''PURI! KESYA! BERHENTI!'' teriak Dio agar kedua gadis itu berhenti saling menjambak rambut.
Mereka bisa melihat rambut kedua gadis itu sudah tidak karuan lagi, jauh dari kata rapih karna aktivitas panas kedua gadis cantik itu.
''Osis udah datang, biar mereka yang melakukan pekerjaannya,'' kata Pute melihat Dio dan Nita.
Dio melewati Pute, Cika, Salsa Dan juga Nanda, yanh hanya menonton saja.
‘’Kalian itu teman mereka. Kenapa kalian cuman diam!'' gertak Dio menatap satu-satu gadis itu.
Pute tersenyum kearah Dio. ''Kalau kita yang misahin mereka, kasihan anak osis lainya nggak punya kerjaan,'' kata Pute dengan seulas senyuman diwajah nya.
Nita yang mendengar ucapan gamblang itu ingin sekali mencomot gadis itu. Bagaiamana tidak, jika dia mengatakan hal seperti itu, seolah-olah merendahkan anak osis.
‘’Semogah kalian bisa kerja bagus, tanpa Gerald.'' Kali ini Salsa yang menimpali membuat Nanda melirik gadis.
Salsa tertawa kecil, melihat tatapan Nanda padanya. ''Aku cuman bercanda kok.''
Nita maju untuk melerai Puri dan Kesya yang berkelahi hebat. Nita berusaha melerai antara Kesya dan Puri, dengan cara menarik tangan Kesya agar gadis itu mundur, dan mereka akan terpisah.
‘’Berhenti kalian, kalau nggak, gue bakal—''
''Banyak omong lo!'' Raung Kesya saat Nita menarik tanganya agar dia terlepas dari Puri.
Bruk...
Tubuh Nita terlempar ke belakang, menubruk meja kelas membuat gadis itu langsung meringis kesakitan. Saking emosinya Kesya kepada Nita hingga dia mendorong gadis itu ke belakang.
Dio langsung menghampiri Nita yang terlempar kebelakang. ''Lo nggak apa-apa?'' tanya Dio seraya membantu gadis itu untuk berdiri.
Nita tidak membalas ucapan cowok itu.
‘’Astagah, Ri. Rambut lo jauh lebih berantakan, ketimbang hari kemarin lu berantem sama Vani.'' kata Nanda.
''Nggak papa-papa,'' balas Puri.
Salsa membantu merapikan rambut Puri yang jauh dari kata rapih.
‘’Kepala gue pusing,'' ucap Puri seraya menggelengkan kepalanya, guna menghilangkan sakit kepala akibat jambak-jambakan dengan Kesya.
‘’Rambut lo banyak yang rontok, Ri,'' tegur Salsa.
‘’Atau lo mau minum obat? Biar gue keluar beli,'' tawar Cika.
''Nggak usah. Entar pusingnya hilang.''
Bruk...
Seluruh tatapan langsung terarah pada Kesya, gadis itu jatuh pingsan dibawa lantai, padahal yang mengeluh sakit kepala adalah Puri. Namun gadis itu yang tumbang.
‘’Kesya.''
Meski mereka membenci Kesya, melihat Kesya pingsan masih ada rasa khwatir yang terpancar diwajah mereka semua.
Nanda dengan cepat menghampiri Kesya, begitupun dengan temanya yang lain, kecuali Puri yang memilih untuk duduk saja, karna kepalanya yang sakit.
Dio dengan cekatan mengangkat tubuh Kesya untuk segera ke uks. Di ikuti oleh yang lainya.
''Ri, kamu nggak mau ikut?'' tanya Salsa dan dibalas gelengan kepala oleh Puri.
‘’Kalian aja, gue malas. Kepala gue juga sakit,'' keluh gadis itu.
''Yaudah, kamu tungguin aku di sini. Biar aku ambilin kamu koyo,'' kata Salsa dan dibalas anggukan kepala oleh Salsa.
''Puri,'' teman kelas Puri masuk kedalam kelas, setelah kepergian para sahabatnya.
''Napa?'' tanya Puri malas, karna sakit di kepalanya lumayan mengurus energinya, untung saja dia tidak pingsan seperti Kesya.
''Lo dipanggil sama kepala sekolah. Berita lo sama Kesya lagi berantem, udah tersebar di sekolah ini,'' kata temannya itu membuat Puri memutar bola matanya malas.
''Puri nggak bisa pergi dulu. Bilangin sama kepala sekolah, kalau kepalanya lagi sakit,'' sahut Salsa yang baru masuk kedalam kelas, seraya membawa koyo untuk Puri.
Salsa langsung memakaikan Puri koyo tersebut, agar rasa sakit di kepalanya berkurang.
‘’Nggak usah, gue bakalan keruangan kepala sekolah,'' kata Puri setelah Salsa menempelkan Koyo untuknya.
''Aku temenin,'' kata Salsa lalu kedua gadis itu berjalan keluar kelas untuk segera keruangan kepala sekolah memenuhi panggilan dari penguasa sekolah.
***
__ADS_1
Anak PMR yang bertugas di uks, tengah menangani Kesya, sudah sepuluh menitan mereka membawa Kesya tapi gadis itu tak kunjung bangun dari pingsanya.
Nanda masih setia merapikan rambut Kesya, rambut gadis itu banyak juga yang rontok, sama seperti Puri.
''Kak, kak Kesya nya nggak bangun. Kita perlu bawa dia kerumah sakit,'' kata adik kelas mereka yang bertugas di uks. ''Karna bekas jahitan pada kepalanya terbuka kembali, luka yang ada di kepala kak Kesya belum sembuh total,'' jelas gadis itu membuat Nanda, Pute dan Cika saling bertatapan.
Mereka baru ingat, jika Kesya lebih dulu mendapatkan luka pada kepalanya, karna perkelahiannya dengan Greta waktu itu, dengan Greta melemparkan vas bunga itu diatas kepala Kesya.
''Jadi gimana, kak?'' tanya gadis itu lagi.
''Kita bawa kerumah sakit,'' ucap Nanda membuat Nanda keluar dari uks bersama yang lainya.
‘’Yang mau nelfon tante Raisa siapa?'' tanya Cika, tidak mungkin jika dia yang menelfon Raisa. Mamanya Kesya, memberitahukan hal ini, jika Kesya pingsan dan segera dbawa kerumah sakit.
''Gue aja,'' kata Nanda sehingga Cika dan Pute melihat gadis itu.
''Jangan, entar tante Raisa mikir kalau lo yang buat anaknya sampai kayak gini. Bisa-bisa dia bakalan ngerecokin lo lagi, dan nyalin keluarga lo, Na. Biar gue yang nelfon tante Raisa,'' kata Pute lalu dibalas anggukan setuju oleh Cika.
Nanda mengangguk, meskipun Pute yang menelfon Raisa. Nanda berpikir jika tetap saja dirinya yang akan di salahkan.
***
Puri sudah berada di ruangan kepala sekolah. Sementara Salsa menunggu diluar, karna hanya Puri saja yang di izinkan untuk masuk.
Saat ini, Puri sudah duduk di depan kepala sekolah, dengan meja yang menjadi jadi diantara murid dan kepala sekolah itu.
Lebih dulu kepala sekolah memperbaiki kacamatanya, lalu menatap Puri. Tentu saja dia tidak asing dengan murid di depanya ini.
Kepala sekolah itu juga melihat Puri mengenakan koyo. Sudah di tebak bukan jika kepala gadis itu sakit, karna saling menjambak satu sama lain.
''Puri, kamu tahu kenapa ibu memanggil kamu kesini?'' Lebih dulu kepala sekolah itu bertanya kepada gadis di depanya.
''Iya, bu,'' jawab Puri, karna dia sudah tau jelas, mengapa kepala sekolah memanggilnya kesini, karna dia dan Kesya berantem.
‘’Kenapa kamu berantem dengan sahabat kamu sendiri, Puri? Kemarin-kemarin ibu mendapatkan kabar kalau kamu dan Vani berantem di kantin, kalian juga saling menjambak rambut, sama seperti yang kamu lakukan dengan Kesya. Hari itu, ibu tidak memanggil mu, karna ibu lagi sibuk. Andai saja Gerald ada, mungkin ibu tidak mengurus ini semua,'' curhat kepala sekolah itu. Sudah satu bulan lebih Gerald menutup matanya, sudah satu bulan lebih pula kepala sekolah yang menangani murid bandel di sekolah ini.
Kenapa tidak memanggil guru Bk? Jika dia menyerahkan ini pada guru BK, maka murid-murid yang membuat kesalahan tidak segan-segan dia hukum berat.
Sehingga Gerald yang selalu mengambil alih, dan sekarang kepala sekolah.
‘’Kenapa kamu berantem dengan sahabat kamu sendiri, Puri?'' tanya kepala sekolah, sehingga Puri langsung membuang wajahnya.
''Dia bukan sahabat saya lagi, bu,'' terang Puri yang tidak mengakui jika Kesya itu adalah sahabatnya.
Jawaban dari Puri membuat kepala sekolah menghembuskan nafas berat. Dia yakin, jika gadis itu bermaslah dengan Kesya, sehingga mereka berantem.
Kepala sekolah saja tidak menyangka, saat mendpatakan laporan jika Puri dan Kesya berantem. Karna kepala sekolah mengenal baik keenam gadis itu, termasuk Nanda. Apa lagi Kesya dan Puri yang sangat dekat, apa lagi gadis itu duduk berdua di kelas.
''Kamu jangan egois sama sahabat kamu sendiri, Puri. Kamu lupa, kamu dan Kesya itu sahabat yang sangat dekat. Bahkan, kamu yang lebih dekat dengan Kesya ketimbang sahabat kamu yang lain. Kamu yang satu bangku dengan Kesya di dalam kelas, kamu yang selalu mendukung Kesya hal apapun yang ingin dia lakukan,'' kepala sekolah mengingatkan gadis cantik itu. ‘’Tapi kenapa sekarang kalian yang berantem,'' lanjut kepala sekolah dengan menghembuskan nafas berat.
‘’Bukan saya yang egois, bu. Tapi Kesya,'' protes Puri.
Kepala sekolah tersenyum tipis. ''Kamu sudah tau dari dulu, kalau Kesya itu egois. Tapi kamu selalu mendukung apa yang ingin dia lakukan. Tapi untuk sekarang ini, kamu yang egois Puri. Karna kamu berantem dengan sahabat kamu sndiri.''
Puri menatap kepala sekolah di depan. Dia berpikir jika kepala sekolah itu tengah membelah Kesya, padahal sudah Puri jelaskan, jika Kesya yang egois.
''Saya sudah muak dengan sikapnya bu,'' jelas Puri lagi.
''Saya sudah tidak menganggap sahabat saya lagi,'' jelas Puri lagi, yang tidak menganggap Kesya sebagai sahabatnya lagi.
‘’Baiklah, ibu tidak akan ikut campur dengan urusan kalian. Ibu hanya memperingati kamu,'' kata kepala sekolah seraya memperbaiki kacamatanya itu.
Kepala sekolah membuka laci mejanya, lalu memberikan amplop berwarna putih untuk Puri.
Kepala sekolah menyerahkan amplop itu, lalu kemudian memberikanya pada Puri. Puri membuka isi amplop itu, surat scorsing selama satu minggu langsung diberikan padanya, setelah dia membaca surat itu.
Puri menatap kepala sekolah. ''Cuman saya yang dapat?'' tanya Puri memastikan dan dibalas gelengan kepala oleh kepala sekolah.
Puri mengangguk kecil, setidaknya kepala sekolah adil padanya, bukan hanya dirinya yang diberikan surat scorsing tapi Kesya juga.
Puri menyalami tangan kepala sekolah, lalu pamit keluar dari ruangan kepala sekolah.
Salsa langsung berdiri dari kursi yang dia duduki, setelah melihat Puri keluar dari ruangan kepala sekolah.
Salsa melihat Puri memegang amplop berwana putih. ''Ini apa?'' tanya Salsa seraya mengambil amplop berwarna putih itu, lalu kemudian gadis itu membaca isi amplop itu.
''Kamu di scorsing?'' tanya Salsa tidak percaya, jika sahabatnya akan di scorsing.
Puri mengangguk sebagai jawaban. Membuat Salsa langsung memeluk Puri. ''Kurang lagi dong,'' kata Salsa membuat Puri tertawa renyah.
''Mau gimana lagi. Ini udah ketetapan dari kepala sekola,'' kata Puri seraya pergi bersama Salsa meninggalkan tempat tadi.
Ada baiknya juga kalau gue di scorsing. Biar gue nggak lihat Sethana sama Vani. Benar-benar bikin gue gedek sama sikap Ethan.
Puri hanya membatin saja.
''Oiya, Ri. Kesya di larikan kerumah sakit,'' kata Salsa membuat langkah kaki gadis itu terhenti.
‘’Separah itu?'' tanya Puri karna Kesya sampai masuk rumah sakit karna perkelahian mereka. Sementara dirinya hanya sakit kepala saja karna saling menjambak satu sama lain.
''Kamu masih ingat 'kan, pas itu Kesya sama Greta pernah berantem gara-gara video Greta yang viral,'' Salsa kembali mengingatkan Puri.
''Iya, gue masih ingat.''
''Kamu masih ingat bukan, kalau waktu itu Greta pecahin vas bunga diatas kepala Kesya. Mungkin luka itu kembali terbuka, setelah kamu sama Kesya berantem. Apa lagi saling jambak-jambakan,'' jelas Salsa membuat Puri manggut-manggut.
Gue lupa, andai gue ingat. Mungkin gue tampar Kesya berulang kali aja.
Kedua gadis itu melanjutkan langkah kakinya menuju kelas, didalam kelas sudah ada guru yang mengajar, mereka berdua langsung masuk kedalam kelas setelah guru mengizinkannya untuk segara masuk kedalam kelas untuk ikut belajar.
‘’Pute mana?'' tanya Puri karna tidak melihat Pute di sini.
''Antar Kesya kerumah sakit,'' jawab Cika dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu.
Guru mulai kembali menerangkan pelajaran pagi ini, semua fokus kedepan melihat guru menjelaskan.
Kecuali Nanda, gadis itu tidak fokus, dia memikirkan Kesya saat ini. Bukan apanya, dia tidak mau mama Kesya sampai menyalahkan dirinya dan ujung-ujungnya wanita itu membawa mamanya.
Nanda menghembuskan nafas berat, membuat Salsa langsung melirik Nanda. ‘’Mikirin, Kesya?'' tanya Salsa, karna bagaiaman pun, Nanda dan Kesya itu saudara satu papa.
__ADS_1
Nanda melirik Salsa, '' gue khawatir aja, jangan sampai mamanya Kesya nyalahin mama gue lagi,'' kata Nanda. ''Pasti mama Kesya bakalan nyalin gue. Gue sih nggak masalah kalau dia nyalahin gue, tapi gue nggak mau kalau mama Kesya nyalahin mama,'' lanjut Nanda membuat Kesya manggut-manggut.
‘’Suatu saat mamanya Kesya bakalan berubah, dan nggak akan nyalahin segala sesuatu yang menimpa anaknya ke kalau,'' kata Salsa membuat Nanda tersenyum saja.