ARDIAN

ARDIAN
Mengikuti Gerald


__ADS_3

Drt...


Ponsel milik Gerald bergetar, membuat cowok itu pamit untuk mengangkat Telfon dari Ethan lebih dulu.


Nanda memandang punggung Gerald, yang menjauhinya hanya untuk mengangkat Telfon. Nanda bergerak mengikuti Gerald, dia yakin jika sahabatnya Gerald menelfonya mengenai Dika.


Siapa tau aja gue bisa Lepasin Dika dari mereka.


Nanda terus membatin. Seraya bersembunyi di balik dinding. Tempat Gerald sedang mengangkat Telfon.


‘’Bagaimana bisa mereka masuk ke markas!''


Nanda sudah mendengar suara milik Gerald.


Gerald menghembuskan nafas beratnya.


''Dika psti di culik sama anak VAGOS!'' ucap Gerald di seberang Telfon.


Nanda melototkan matanya, seperti bola matanya ingin menggelinding keluar.


Gimana bisa Dika di culik? Ardian sama sahabatnya, kan udah culik Dika. Kenapa Dika di culik sama orang lain lagi? Ini gimana sih! Apa banyak yang mengincar Dika?


''Lo tunggu gue. Gue segara kesana.''


Tut...


Lepas itu Gerald mematikan ponselnya, dengan cepat Nanda pergi dari tempat persembunyiannya, dia segera menuju tempatnya tadi makan kue bersama dengan Gerald.

__ADS_1


''Dapat Telfon dari siapa?'' tanya Nanda, padahal dia sudah tau. Jika Gerald menrima panggilan dari salah satu sahabatnya.


''Ethan,'' jawab Gerald, ''gue pamit dulu, Ra. Ada urusan mendadak di markas, nggak bisa gue tinggalin.''


''Oh...Ok. Hati-hati,'' ucap Nanda seraya ingin mengantar Gerald sampai depan pintu rumah.


''Iya, Ra.'' Gerald mengusap rambut Nanda, lalu melenggang keluar dari rumah milik Nanda.


Gerald mulai menyalakan motornya untuk segera ke markas, dengan cepat Nanda menelfon Cika.


Yah, karna pak Budi tidak ada yang bisa mengantarnya. Maka Nanda akan minta tolong kepada Cika saja.


Semogah gadis tomboi itu mau mengantarnya, Nanda akan mengikuti Gerald.


Setelah menekan nomor Cika, gadis itu langsung mengangkatnya. Dengan cepat-cepat Nanda mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan.


''Ok, Nan. Lo tinggal cari cara agar bisa keluar,'' gumam gadis itu kepada dirinya sendiri.


Dia berpikir, alasan apa yang akan dia gunakan untuk keluar bersama Cika.


‘’Assalamualaikum!''


Nanda tersentak kaget, melihat Boy masuk kedalam rumah. Tumben-tumbenan kakaknya itu cepat pulang.


''Kenapa lu?'' tanya Boy.


Nanda tersenyum, dia sudah tau, alasan apa yang akan dia pakai untuk keluar. Untung saja Boy pulang cepat.

__ADS_1


''Tumben pulang cepat,'' ucap Nanda.


Boy mendudukkan bokongnya di sofa, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa empuk milik mamahnya.


''Kenapa kamu gue pulang cepat? Lu nggak suka, Hah?''


Nanda menghentakkan kakinya, kakaknya itu sangat menyebalkan juga.


''Karna bang Boy udah pulang, itu tandanya ada yang nemenin mamah malam ini di rumah,'' ucap Nanda dengan senyuman, membuat Boy menaikkan alisnya sebelah.


''Maksud lo, Ra, apa?'' tanya Boy tidak paham.


‘’Gini, teman baru gue namanya Cika mau jemput gue buat tinggal di rumahnya. Mamahnya lagi keluar negeri, jadi dia takut tinggal di rumahnya,'' jelas Nanda.


‘’Kenapa bukan lu aja yang ngajak dia tinggal di sini?'' tanya Boy.


Pip...


Suara klakson mobil Cika dari luar, membuat Nanda berdiri dari kursi sofa yang dia duduki.


''Nggak bisa, bang. Karna Cika udah ada di luar.'' Nanda dengan cepat mengambil tasnya, lalu mengambil ponselnya diatas meja.


''Ummmach!'' Nanda mencium pipih milik Boy.


''Ara pergi dulu, bang. Jagain mamah. Bilang kalauAra lagi nemenin teman Ara!''


__ADS_1


__ADS_2