ARDIAN

ARDIAN
Ardian


__ADS_3

Tanpa mereka sadari, ada Boy yang berdecih karna ucapan cowok itu barusan. "Sombong sekali," gumam Boy, dia dengan jelas mendengar ucapan Ardian tadi. Meski yang di ucapkan Ardian adalah sebuah kebenaran, namun tetap saja Boy akan sedikit mencibir.


Ardian tidak bisa menahan senyumannya, melihat gadis itu masih setia menatapnya, meski tidak se intens tadi.


"Nggak usah pacaran, ini udah malam," sahut Boy, membuat Nanda dan Ardian langsung menatap kearah pintu, melihat Boy tengah bersedekap dadah.


Pria itu berjalan kearahnya, dengan ketegasan di wajahnya yang tampan itu. "Dan lo, jangan modus. Mentang-mentang adik gue sakit. Mau cari kesempatan dalam kesempitan. Gue cowok, jadi gue tahu apa yang lo pikirin," cerocos Boy. Hmm, perlu Boy sadari lagi, entah mengapa dia banyak omong jika bersama Ardian. Ada saja yang akan dia katakan, tidak kehabisan bahan.


Ardian hanya mengabaikan ucapan Boy, yang menurutnya tidak penting. Ardian mulai menyuapi Nanda bubur, tanpa membantah gadis itu mulai membuka mulutnya, menerima suapan bubur dari cowok yang meruapakan pacarnya itu.


Dengusan halus keluar dari mulut Boy, hal itu di dengar jelas oleh Nanda. Lalu, gadis itu melirik Boy, wajah masam membuat Nanda tidak bisa menahan senyumannya, melihat wajah masam milik Boy.


"Masam amat tuh muka, bang," celetuk Nanda, seraya mengunyah suapan bubur dari Ardian.


"Jelas, Ra. Seharusnya gue yang suapin lo. Buka sih anak curut ini," kesalnya membuat Nanda tertawa sementara Ardian menahan senyum.


Melihat Boy yang kesal, merupakan hal yang amat langkah. Namun kehadiran Ardian, mampu memporak-porandakan mood Boy.


Jadilah Boy melihat adegan suap-suapan antara sang adik dan pacar. Seumur hidupnya, Boy tidak pernah suap-suapan dengan pacar. Ahk, apa karna selama ini dia sibuk, jadi dia lupa untuk membucin?


"Makan yang banyak, biar badanya berisi," kata Ardian masih setia menyuapi Nanda, sementara Boy masih setia menjadi obat nyamuk.


"Udah, Ar. Gue udah kenyang." Gadis itu menghentikan suapan yang kesekian kalinya dari Ardian, karna dia sudah kenyang.


Ardian langsung menyodorkan air putih untuk Nanda, lalu kemudian dia meneguk nya hingga tandas.


Drt...


Ponsel milik Ardian bergetar, lebih dulu cowok itu melirik ponsel nya. Melihat siapa yang tengah menelfon nya.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Nanda, entah mengapa pertanyaan itu langsung lolos dari mulutnya. Katakan jika dia mulai kepo.


"Rafael," jawab Ardian, membuat Nanda mengangguk, "gue keluar angkat telfon dulu. Jangan lupa istirahat."


"Iya, Ar. Makasih," ucap Nanda dengan senyuman tulus kepada Ardian.


Senyuman dari Nanda, membuat Ardian tidak bisa menyembunyikan senyumannya untuk saat ini.


"Kalau angkat telfon, sekalian nggak usah balik lo!" sewot Boy, mengambil alih tempat duduk Ardian tadi.


Lagi-lagi Ardian hanya masa bodoh, menurutnya ucapan Boy adalah angin lalu.


Ardian langsung keluar dari ruangan Nanda, tanpa membalas ucapan Boy tadi. Membuat pria itu kembali kesal terhadap sosok cowok bernama Ardian itu.


"Kesal mulu," celetuk Nanda.


Boy melirik adiknya, "gue cemburu kali, Ra. Masa anak curut itu ambil alih kewajiban gue sebagai Abang. 'Kan songong amat, masih juga pacar udah main rampas hak gue sebagai abang aja," terang Boy dengan menggebu-gebu. Seperti seorang anak kecil tengah mengadu kepada sang ibu.


"Udah baikan, Ra?" tanya Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh gadis itu. Karna dia mulai tidak se pusing saat masuk kamar mandi di dalam kamarnya.


"Baguslah."


"Oiya, bang. Mama nggak tahu 'kan kalau gue ada di sini juga?" Nanda memastikan perasaannya. Dia berharap, Boy tidak mengatakan pada sang mama.


Dia tidak mau, kesehatan mama nya makin terganggu, karna dirinya yang tengah sakit ringan.


"Nggak, Ra. Karna gue tau, lo nggak mau mama sampai tahu," ucap Boy, wajah yang tadinya kesal, berubah menjadi senduh, "cepat sembuh ya, Ra. Gue nggak kuat lihat dua perempuan yang gue sayang di hidup gue, lagi terbaring sakit."


"Iya, bang. Gue nggak sakit keras kok bang. Lo nggak dengar kata dokter Ivan tadi, kalau gue cuman perlu istirahat," jelas Nanda, karna yang di katakan dokter Ivan memang seperti itu.

__ADS_1


Boy langsung memeluk adiknya, entah mengapa hatinya sensitif melihat adiknya sakit seperti ini. Di tambah lagi kedekatan Nanda dan Ardian terlihat jelas, membuatnya makin sensitif saja.


Kenapa harus Ardian? Itu yang di pikirkan Boy. Mengapa adiknya menjalin hubungan dengan cowok bad boy sejuta kenakalan, cowok datar, irit ngomong. Seperti setiap ucapannya berbayar jika dia harus bicara. Di tambah lagi, hampir selalu membuat kesal dirinya saat berdekatan dengan Ardian.


Argh! Rasanya, Boy tidak rela melihat adiknya pacaran dengan Ardian.


"Kenapa lo, bang?" tanya Nanda seraya menaikkan alisnya sebelah. Boy hanya diam saja, mereka berdua masih setia berpelukan. Lebih tepatnya, Nanda yang memeluk Boy erat, seperti dia yang mengambil peran sang kakak.


"Gue cemburu, Ra," kata Boy dengan suara kecil, suara lirih yang sangat tertahan itu.


"Lo cemburu sama siapa? Apa Greta kembali dekat sama Ardian?"


"Bukanlah," mendengar nama Ardian membuat Boy kembali bete. Perlu dia ingat lagi, jika Greta itu mencintai sosok cowok yang membuatnya setiap saat kesal, jika mereka sedang berdekatan.


"Terus sama diapa?" tanya Nanda, sehingga Boy mendongak kearah Nanda, sehingga pandangan mereka berdua bertemu.


Boy melihat jelas wajah pucat adiknya, meski tidak sepucat saat pertama kali gadis itu di larikan kerumah sakit.


Nanda menunggu jawaban dari Boy. Karna wajah Boy sangat tidak enak untuk di pandang jika dalam keadaan cemburu.


"Lama amat sih jawabnya," kata Nanda lagi.


"Gue cemburu sama curut itu, Ra. Itu anak berhasil buat darah gue beku. Dia berhasil ngambil lo dari gue. Gue nggak mau. Kalau sampai posisi gue sampai tersingkirkan gara-gara tuh curut. Gue nggak rela, Ra. Kalau lo bakalan manja sama tuh anak, mulai bergantung sama dia, bukan sama gue lagi. Ada yang hilang dari hidup gue, kalau diambil alih sama tuh anak curut!" Boy begitu sangat menggebu-gebu menjelaskannya dengan panjang kali lebar.


Nanda tidak bisa menahan tawanya, melihat Boy cemburu pada Ardian karna dirinya.


"Gue serius, Ra. Gue cemburu tau nggak. Kenapa sih lo harus pacaran sama tuh curut. Kayak nggak ada cowok lain aja. Lo nggak rasa, deketan sama tuh anak hawanya berubah nggak enak. Omongnya juga irit, buat gue makin sensitif tau nggak, Ra!" Boy melepaskan pelukanya, dia ngambek kepada Nanda karna dia sudah begitu serius bercerita namun di anggap lelucon oleh gadis itu.


"Abang gue yang udah tua, nggak boleh ngambek. Nggak cocok sama umur lo!" canda Nanda seraya memegang kedua pipi Boy dengan gemas membuat Boy melotot kan matanya.

__ADS_1


Jangan lupa komen ya, biar author semangat update. Kalian tau nggak, setiap kalian komen. Itu smangat untuk author untuk update. Mksih ya, jgn lupa tinggalin komen dan like 😘😘author sayang readers yg aktif heheh.


__ADS_2