ARDIAN

ARDIAN
Fatur dan Rafael


__ADS_3

Ardian tidak paham dengan apa yang Boy katakan barusan. ‘’Menantu?'' beo cowok itu.


''Gue duluan, ada pasien yang harus gue tangani,'' pamit Boy seraya menepuk pundak Ardian, lalu pria itu melenggang pergi meninggalkan Ardian yang masih sibuk dengan pikiran nya.


Ardian menatap punggung Boy, padahal dia pikir Nanda ada di sini,karna dia ingin bertemu dengan gadis itu, dia ingin bertanya apa saja yang mamanya lalukan di rumah Nanda, apakah mamanya sudah tahu kalau mereka hanya pura-pura pacaran? Tapi, melihat Tari di rumah tadi, membuat Ardian berpikir jika mamanya belum tahu jika dia dan Nanda hanya pura-pura pacaran saja.


Ardian melihat kedua sahabatnya sudah keluar dari ruangan Gerald.


''Ar, lo lihat Cika?'' tanya Izam karna Cika belum juga nampak setelah dia pergi bersama dengan Salsa.


‘’Ngapain lu cariin, Cika?'' Rafael menatap Izam dengan tatapan curiga membuat Izam memutar bola matanya malas, lalu Izam memilih duduk di kursi panjang, di ikuti oleh Rafael dan Ardian.


''Lu mikir gue suka sama Cika? Gue nyariin dia bukan berarti gue suka sama dia. Gue udah bilang, belum ada yang bisa gantiin posisi Greta di hati gue,'' cerocos Izam kepada Rafael. ''Lagian, gue nyariin dia karna tujuan dia kesini pasti mau jengukin Gerald, tapi dia malah nggak nongol di sini.''


‘’Mungkin dia malu, karna lo sih langsung nebak kalau Cika suka sama Gerald,'' terang Ardian membuat Izam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


''Ya...Mau gimana lagi, lu 'kan tau, gue orangnya gimana. Lagian, itu sih Cika aneh juga. Masa iya dia harus malu karna ketahuan suka sama Gerald,'' kata Izam lagi membuat Rafael melirik sahabatnya itu.


''Lu sama Cika itu beda. Cika malu kalau orang tau dia suka sama Gerald. Kalau lo nggak malu ngejar cintanya Greta yang udah jelas udah nolak lo.'' Rafael menekan setiap perkataanya dengan mulut pedasnya itu membuat Izam harus berdengus kesal kearah Rafael.


Lagi-lagi mulut pedas cowok itu berhasil membuatnya menahan kesal. Untung saja dia sudah kebal dengan mulut pedas Rafael.


‘’Untung aja gue udah kebal dengan mulut pedas lo itu, Raf,'' gumam Izam membuat Ardian tertawa kecil.


''Jangan baperan,'' kata Ardian.


''Iya-iya.''


''Ethan ini mau datang atau nggak? Kalau nggak kita pulang duluan. Percuma aja kita nungguin dia kalau dia lagi habisin waktu bareng cewek nggak jelas.'' Rafael kembali berdengus, dengan kesal. Sebenarnya dia tidak peduli jika sahabatnya ingin membagi waktunya untuk pacar mereka. Hanya saja, jika untuk Vani membuat Rafael mulai tidak menyukai gadis itu semenjak dia membuat Ethan galau brutal.

__ADS_1


Ardian dan Izam tertawa renyah. Seingat mereka, Rafael tidak pernah gila urusan seperti ini urusan percintaan sahabatnya. Mungkin karna dia sudah tidak respek dengan Vani karna membuat Ethan galau saat itu, membuat Rafael mulia tidak menyukai gadis itu jika berhubungan dengan Ethan.


''Lo budek atau apa sih, Raf? Gue kan udah bilang tadi, Ethan bakalan datang entar malam kalau bukan esok. Apa omongan gue di dalam kurang jelas?'' seloroh Izam yang tidak di gubris oleh Rafael lagi.


Ardian melirik jam di pergelangan tanganya, ‘’kita pamit sama orang tua Gerald, baru kita balik ke markas,'' ajak Ardian dan dibalas anggukan kepala oleh kedua sahabatnya.


Mereka bertiga berdiri dari kursi yang dia duduki, lalu berjalan menuju ruangan Gerald, lebih dulu Ardian mengetuk ruangan Gerald, setelah mendapatkan izin dari dalam, ketiga cowok itu langsung masuk.


''Tante, om. Kita bertiga mau pamit pulang dulu. Pulang sekolah kita bakalan kesini lagi,'' kata Izam membuat Raga diam sejenak lalu kemudian mengangguk mengiyakan ucapan anak itu.


''Kalian hati-hati pulangnya. Jangan ngebut-ngebut,'' peringat Raga saat ketiga anak itu menyalaminya bersama Jia.


''Iya, Om.''


Ketiga cowok itu pamit juga pada Gerald, meski dia tahu tidak akan mendapatkan respon dari cowok itu.


Ketiga cowok itu langsung pergi meninggalkan ruangan Gerald, mereka akan segera pulang.


Ketiga cowok itu berjalan di koridor rumah sakit, mereka kembali bertemu dengan Cika dan Salsa di koridor ini, membuat ketiga cwok itu menghentikan langkah kakinya.


''El,'' panggil Salsa.


Rafael menaikkan alisnya sebelah, melihat mata Salsa yang memerah, seperti gadis yang baru habis menangis saja.


''Lo habis nangis?'' Pertanyaan itu langsung di lontarkan Rafael pada Salsa, sontak saja Izam dan Ardian melirik cowok itu.


Rafael fokus pada Salsa, dia memperhatikan mata gadis itu yang memerah.


''Ketahuan deh kalau habis nangis, padahal aku udah cuci muka,'' kata Salsa seraya cengengesan membuat Cika melototkan matanya pada Salsa.

__ADS_1


Sengaja dia membawa gadis itu mencari tempat untuk menangis, agar Rafael tidak makin besar kepala, karna Salsa menangisi cowok itu. Namun ujung-ujungnya, Salsa membuat pengakuan sendiri?


Cika menginjak kaki Salsa, agar gadis itu berhenti bicara yang akan membuat Rafael makin keren.


''Ci, kaki kamu nginjak kaki aku. Sakit tahu,'' keluh Salsa membuat ketiga cowok itu sontak melihat kearah bawa, benar saja Cika sedang menginjak kaki Salsa, memberikan kode pada gadis itu.


''Sal, lo itu....'' Cika hanya menghembuskan nafas berat, dia tidak bisa meneruskan perkataanya lagi.


Percuma saja dia membawa Salsa pergi menjauh menangis, ujung-ujungnya dia jujur pada Rafael kalau dia habis nangis.


''Hehehe, lo nangis kenapa, Sal? Karna cowok sok ganteng ini?'' tanya Izam dengan matanya menatap Rafael membuat cowok itu menatap Izam dengan tatapan malas.


Salsa melirik Cika, membuatnya meneguk saivanya susah payah, karna gadis itu menatapnya dengan tatapan tajam, setajam silet.


''Hmmm.'' Salsa lebih dulu berdehem, kalau sampai dia salah bicara, maka siap-siap Cika akan menerkamnya di sini.


Sementara Rafael menunggu jawaban dari Salsa, dia penasaran kenapa cewek itu menangis. Rafael sih menebak, jika pasti Salsa menangis karna omonganya itu.


''Aku nangis karna....''


‘’Gue yang buat Salsa nangis!''


Sontak saja mereka melihat keasal suara.


''Fatur balik lagi?'' gumam Izam melihat Fatur masih berada di sekitar rumah sakit ini. Mereka pikir, cowok itu sudah pergi meninggalkan rumah sakit saat dia hampir berantem dengan Rafael karna Salsa.


Rafael dan Fatur saling memberikan tatapan tajam satu sama lain, lalu kemudian Fatur tersenyum menyeringai kearah Rafael.


''Lo tahu'kan, sejak kecil gue suka buat Salsa nangis.''

__ADS_1


__ADS_2