
"Katanya mau libur seminggu." Boy nongol di depan pintu kamar Nanda yang terbuka lebar.
Pria itu melihat adiknya sudah siap dengan seragam sekolah nya. Padahal gadis itu mengatakan ingin mengambil libur untuk satu minggu ini.
Nanda langsung melirik kearah pintu, melihat sang kakak menatap nya. Sementara gadis itu memperhatikan penampilan nya di depan cermin.
"Mau aja," jawab Nanda lalu melangkah mengambil tas nya. Tanpa dia beritahu kan pada Boy, jika dia ingin memulai lembaran baru. Dia akan menunggu dengan sabar, semua ini akan berlalu dengan baik.
"Serius? Jadi abang nggak perlu ke sekolah lo, 'kan?" tanya Boy memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.
"Iya, bang." Nanda berjalan keluar kamar, menggandeng tangan Boy untuk turun sarapan bareng.
Mereka hanya sarapan berdua, karna Iksan sudah tidak berkumpul dengannya, dan Gina yang sedang sakit.
"Pulang sekolah, gue boleh, 'kan, jenguk mama?" tanya Nanda seraya memasukkan roti tawar kedalam mulut nya.
"Iya, pulang sekolah lo langsung kerumah sakit aja. Gue udah siapin baju ganti buat lo. Pak Budi juga yang akan nganter," jawab Boy tanpa mengalihkan pandangannya dari nasi goreng yang ia santap pagi ini.
"Nggak usah bang, gue perginya sama Ardian."
Boy menatap adiknya sejenak, lalu kemudian pria itu mengangguk kecil saja.
"Bang, Kesya semalam nggak balik kerumah ini ya?" Meski Nanda sudah tahu jawabannya, dia tetap beratnya. Karna semalam dia menunggu gadis itu pulang.
"Nggak pulang tuh.. Palingan dia balik kerumah nya," jawab Boy acuh.
Nanda bernafas legah, "gue pikir Kesya balik kesini, terus lo usir dia," ejek Nanda membuat Boy memutar bola matanya malas.
"Gue nggak setega itu juga kali, Ra. Usir dia tengah malam. Kalau siang sih bisa aja gue usir dia. Meskipun dia anak dari pelakor itu, gue masih kasih rasa empati sama dia. Sekecil buah jagung," ucap nya membuat Nanda terkekeh.
Dia yakin, sedikit demi sedikit kakak nya akan menerima Kesya juga. Karna bagaiamana pun, Kesya adalah adiknya juga.
Nanda tahu, jika Kesya tidak ingin lahir di dunia ini dengan takdir yang seperti ini. Tapi apa boleh buat, semua ini keinginan kedua orang tuanya sehingga Kesya lahir di dunia ini.
Nanda yakin, jika Kesya itu orang baik. Terlihat jelas saat pertama pertemuan mereka berdua di sekolah.. Meski pembawaan gadis itu angkuh dan selalu nya ingin menang sendiri.
Karna bagaiamana pun, Kesya yang lebih dulu membawa nya ke lingkungan pertemanan nya. Karna gadis itu menyetujui dirinya masuk, maka teman nya yang lain menerima nya dengan senang hati.
__ADS_1
"Lama-lama juga bakal sebesar pohon beringin," kata Nanda lagi.
"Perhatian gue buat lo sepenuhnya, sebagai adik gue yang SAH. Kalau Kesya itu nggak SAH," terang pria itu menekan kata SAH pada adiknya.
"Terserah lo aja bang. Tapi jangan jahat sama Kesya. Ingat, bukan cuman gue adik lo. Kesya juga." Nanda memberikan peringatan pada Boy, sementara pria itu hanya acuh saja.
Oiya, teman-teman Nanda sudah pulang jam 6 tadi. Nanda tidak punya banyak seragam sekolah untuk teman nya pinjam. Jadi, mereka pulang kerumah masing-masing untuk berganti pakaian. Karna pakaian sekolah yang mereka kenakan kemarin sampai sore, jadinya bau lepek, dan harus di ganti dengan seragam cadangan mereka masing-masing.
Boy dan Nanda menikmati sarapannya pagi ini, di selingi dengan pembahasan kecil mengenai Kesya, yang jujur saja membuat Boy kesal, jika nama Kesya masuk ke dalam indra pendengarannya.
Ting...
Bell rumah berbunyi, membuat sang bibi membuka pintu.
"Mau jemput Nanda ya?" tebak sang bibi pada Ardian dan dibalas anggukan kecil oleh cowok itu.
"Silakan masuk dulu, biar bibi manggilin Nanda nya dulu." Bibi mempersilahkan Ardian untuk masuk lebih dulu kedalam rumah.
"Nggak usah, bi. Biar saya tunggu di sini," tolak nya, lalu berjalan menuju kursi yang tersedia di teras rumah megah ini.
"Siapa Bi?" tanya Boy, seraya mengusap bibir nya dengan tisu, mengakhiri makan nya dengan secangkir susu hangat.
"Ardian ada diluar," kata Bibi.
"Yaudah bang, gue pamit ke sekolah dulu." Nanda beranjak dari kursi nya, mencium punggung tangan Boy lalu berlalu meninggalkan sang kakak.
Nanda berjalan menghampiri Ardian. "Yuk."
Ardian berdiri lalu berjalan berdampingan dengan gadis itu.
"Lo nggak bawa motor?" tanya Nanda melihat mobil mewah Ardian terparkir di depan gerbang rumah.
"Gue bawa ke bengkel," jawabnya lalu membukakan Nanda pintu mobil.
Nanda hanya mengangguk kecil, lalu masuk kedalam mobil.
Ardian langsung melajukan mobilnya menuju sekolah. Dia sudah menghubungi para sahabatnya, jika pagi ini dia berangkat dengan Nanda menggunakan mobil, sehingga menyuruh sang sahabat untuk duluan saja tanpa menunggu nya.
__ADS_1
Wangi parfum Ardian selalu saja sukses membuat Nanda larut. Dia tahu wangi parfum itu. Parfum yang tidak semuanya orang bisa beli.
"Kenapa? Gue bau ya?" tanya Ardian seraya mencium tubuh nya, "padahal gue udah semprot seragam gue pake parfum mahal."
"Lo wangi, nggak bau."
Ardian tersenyum tipis, "lo suka wangi parfum harga puluhan juta ini?" Ardian tertawa kecil. Parfum puluhan juta ya, memang benar sih jika produk chanel itu sudah tidak di ragukan kualitas dan juga harganya.
Nanda hanya menggeleng menanggapi ucapan Ardian.
"Pulang sekolah lo punya kegiatan?" tanya Nanda setelah beberapa menit mereka terdiam.
Ardian melirik gadis cantik yang duduk di sebelah nya, lalu menjawab, "nggak ada. Palingan nongkrong sama teman yang lain di markas," jawab nya lalu kembali fokus ke depan. "Emang kenapa? Mau gue temenin ke suatu tempat? Bilang aja, gue suka di repotin sama pacar gue sendiri." Tak lupa pula Ardian memberikan senyuman manis membuat Nanda melirik keluar jendela, membuat muka karna malu.
"Jadi gimana? Mau gue anter kemana?" tanya Ardian lagi, karna Nanda hanya diam. "Gue serius ngomong nya."
"Gue mau kerumah sakit jenguk mama. Kalau lo sibuk, gue bisa telfon pak Bud--"
"Nggak. Gue nggak sibuk!" potong Ardian cepat membuat Nanda tersentak kaget.
"Sorry," katanya dengan santai, menyadari kesalahannya.
Mobil milik Ardian memasuki gerbang sekolah. Murid-murid yang melihat nya sudah tidak asing lagi dengan mobil mewah yang di kendarai Ardian.
Mobil cowok itu langsung terpakir di area parkiran. Jarang-jarang Ardian mengenakan mobil ke sekolah.
"Gue turun duluan, ya." Nanda bersiap membuka pintu mobil, namun tangannya langsung di cegat oleh Ardian.
"Kenapa?" tanya Nanda.
"Semalam, Kesya tinggal di rumah gue."
Deg...
Jantung Nanda berdetak tidak karuan...
Kenapa rasanya semenyakitkan ini?
__ADS_1