ARDIAN

ARDIAN
Apa mereka keluarga?


__ADS_3

Ting...


Ponsel milik Rafael bunyi, menandakan adanya pesan masuk. Cowok itu membaca pesan yang di kirim oleh Ardian.


"Lo nggak bawa Hp?" tanya Rafael melirik kearah Nanda, membuat gadis itu langsung mengangguk mengiyakan ucapan Rafael.


"Hp gue di dalam kelas," jawab Nanda.


"Yang kirim pesan Ardian, ya?" tebak Ethan dan Izam, dan dibalas anggukan oleh cowok itu.


"Dia nanyain Nanda," kata Rafael, karna Ardian mengirim kan nya pesan, bertanya mengenai gadis itu.


"Bilang aja, Nanda aman sama kita," jelas Izam.


"Tanpa lo kasi tahu, gue udah tahu," cetus Rafael pada sahabat nya itu.


"Ciri-ciri orang yang nggak mau di kasi masukan," gumam Izam.


"Kalau lo udah balik ke kelas, mendingan langsung cek hp lo itu. Ardian  nyariin lo," kata Leo dan dibalas anggukan setuju oleh sahabat nya.


"Nan, waktu Ardian nembak lo. Dia sp sweet nggak ngomong nya?" tanya Izam kepo.


"So sweet nggak?" kini Ethan yang angkat suara juga, "ceritain dong. Kita kepo nih, mau tahu gimana caranya Ardian nembak lo." Ethan sangat kepo, sama dengan Izam.


"Kalau kalian penasaran tinggal tanya sama Ardian langsung." Rafael kembali angkat suara  membuat Ethan dan Izam bersaman memutar bola matan nya malas.


Nanda bingung, tidak mungkin juga dia mengatakan yang sebenar nya. Karna hubungan nya di mulai saat mereka bertemu di jalan trotoar.


"Nan... "  Perkataan Izam tidak terteruskan.


Tring...


Bell pulang sekolah berbunyi, Nanda dengan gerakan cepat pergi meninggalkan mereka, setelah pamit dengan buru -buru.


"Yuk cabut!" ajak Leo, lalu ketiga sahabatnya berdiri dari lantai yang mereka duduki.

__ADS_1


Ke empat cowok tampan itu berjalan menuju parkiran sekolah. Untung saja mereka membawa tas saat menghampiri Nanda, jadi tidak ada drama menuju  kelas hanya untuk mengambil tas.


"Lo mau kemana, Than?" tanya Leo, yang melihat Ethan mengambil langkah berbeda dengan nya.


"Gue mau ke kelas Puri, gue sama dia pulang bareng!" Ethan melambaikan tangannya sok manis kearah sahabat nya, lalu cowok itu menghilang di belokan  menuju kelas Puri.


"Pacaran mulu." Izam mencibir, meskipun Ethan sudah tidak ada di sini lagi.


"Makanya, cari pacar sana," celetuk Leo.


"Entar gue cari, kalau gue udah move on sama calon istrinya orang." Kalian sudah paham, 'kan, siapa yang di maksud oleh sih Izam ini.


"Udah dibilang lo sama Cika aja," timpal Rafael.


Ketiga cowok itu sudah berada di parkiran.


"Nggak akan woy! Kalau gue pacaran sama sih Cika. Udah pasti hidup gue bakalan monoton banget. Dia setiap waktu baca buku. Lo nggak lihat, waktu ke pasar malam aja, dia masih sempat bawa buku sampai baca tuh buku di pasar malam." Izam masih ingat jelas, saat Cika membacaba buku dengan serius, padahal mereka lagi di pasar malam.


Izam sampai heran, kenapa gadis itu sangat gemar membaca buku, tidak tahu tempat dan situasi.


"Ini nih, ciri-ciri cowok goblok. Di kasi cewek pinter, malah ngelunjak. Kalau lo pacaran sama Cika, lo yang untung dapet cewek pintar. Sementara Cika yang rugi dapat cowok, yang punya otak kagak di pake!" Rafael kembali mencibir, seraya memakai helm fullfenya itu.


Pasal nya, cowok itu yang mengatakan lebih baik dia pacaran dengan Cika saja. Dan lihat juga, cowok itu yang menghina nya juga.


"Lama-lama gue santet juga lo, Raf!" kesal Izam, sementara Rafael hanya mengedikkan bahunya acuh, lalu berlalu pergi meninggalkan parkiran dan juga kedua sahabat nya.


Sementara Leo hanya menyimak, sembari tertawa anggun.


Leo dan Izam juga berlalu pergi, mereka Tidak menunggu Ethan karna mereka tahu, cowok itu akan jalan-jalan bersama pacar baru nya itu.


Izam dan Leo mengikuti Rafael yang berbincang -bincang dengan seseorang di dalam mobil. Mereka tahu, siapa pemilik mobil mewah itu. Mobil yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah.


"Udah bolos sekolah, malah nangkring di sini," celetuk Izam setelah membuka kaca helm nya, melihat sosok Ardian di dalam mobil. Wajah cowok itu sudah tidak memerah seperti tadi, mungkin karna sudah di obati, jadi memar di wajah Ardian sudah tidak terlalu memerah.


Meski memar bekas adu jotos, namun tidak mengurangi kadar ketampanan cowok itu. Malah makin keren jika perhatikan dan membuat pasang mata tertarik.

__ADS_1


"Mau jemput Nanda gue. Baru anterin dia kerumah sakit," jelas Ardian seraya mengecek ponsel nya, Nanda sudah membalas pesan nya dan menyuruh nya menunggu sebentar.


Sudah tahu, 'kan, Ardian tidak suka di buat menunggu. Namun kalau yang satu ini, dia mau-mau saja.


"Bukannya istirahat habis berantem." Leo menggelengkan kepala nya pelan, "kekuatan seorang cewek emang beda."


"Namanya juga cinta, Le," celetuk Izam.


"Kayak berpengalaman aja lo soal cinta. Selama lo naik SMA, lo belum pernah pacaran. Gara-gara ngejar sih Greta. Yang ujung -ujungnya jadi calon istri orang!" Rafael kembali memberikan asupan bergizi untuk sahabat nya.


"Raf... Mulut lo minta di jahit," kesal nya membuat Rafael hanya tersenyum mengejek saja menanggapi nya.


"Kalian cuman bertiga, Ethan mana?" tanya Ardian, dia baru sadar jika Ethan tidak ada di sini.


"Biasa, mau pacaran dulu," jawab Izam membuat Ardian manggut-manggut..


"Entar malam kumpul di markas, kalian berempat harus datang. Awas kalau nggak!" Ardian memberikan sedikit ancaman untuk para sahabat nya. Padahal, tanpa ancaman para sahabat nya akan datang, apa lagi atas perintah Ardian.. "Ada yang mau gue omongin. Ini penting." Ya, Ardian akan mengatakan kondisi yang sebenar nya mengenai Gerald.


Dia tidak ingin menyembunyikan hal besar ini kepada sahabat nya. Cukup dia menyembunyikan nya kepada Nanda.


"Penting banget kayaknya," tebak Leo, melihat raut wajah Ardian berubah sangat serius.


Ardian hanya mengangguk kecil saja, membuat sahabat nya saling melirik satu sama lain.


Mereka bertiga yakin, jika yang ingin Ardian katakan, mengenai masalah nya dengan sosok anak baru itu.


"Jadi lo mau kerumah sakit nganterin Nanda?" tanya Rafael.


"Iya, kalian boleh pergi duluan. Entar malam ketemu di markas," ucap Ardian membuat sahabat nya mengangguk paham.


Ketiga nya berlalu pergi meninggalkan Ardian, atas perintah cowok itu menyuruhnya jalan duluan....


Huft..


Ardian menghembuskan nafas berat, sahabatnya akan syok jika mendengar kondisi mengenai sahabat mereka, Gerald.

__ADS_1


Adrian bingung, harus percaya atau tidak kenyataan ini. Dia merasa, kedatangan Veer di sekolah ini ada sangkut paut nya dengan kematian Gerald.


"Apa mereka keluarga?" gumam Ardian, "terus Veer datang buat balas dendam?" Itu hanya teori yang di keluarkan oleh Ardian, belum tentu benar dan belum tentu salah.


__ADS_2