
Bukanya baper, cowok itu malah berdecih kearah Salsa.
"Susah banget buat kamu salting," kata gadis itu dengan bibir manyun, selama hidupnya dia tidak pernah melihat Rafael salting.
"Hati gue nggak baperan, nggak kayak hati lo!" sindirnya dengan pedas, bukan membuat Salsa sakit hati malah membuat gadis itu terkekeh.
"Hati ak--"
"Nggak usah di lanjutin. Gue tanya sama lo, buat apa lo lakuin ini semua? Buat narik perhatian gue? Biar gue merasakan kehilangan?" senyuman sinis terbit di wajah Rafael, "nggak mempan, gue tetap nggak rasain apa-apa," bohongnya, padahal seluruh readers tahu jawabannya apa.
"El... Kamu pikir, aku buat drama keluar negeri biar narik perhatian kamu, itu yang kamu pikirin?" tanya Salsa, dia hanya ingin memastikan arah pembicaraan Rafael saat ini.
Rafael memajukan wajahnya, untung saja ada meja sebagai pembatas mereka, sehingga Salsa tidak perlu mundur terlalu jauh.
Dari jarak yang bisa di katakan lumayan dekat ini, mampu membuat jantung Salsa berdetak tidak karuan. Bahkan, Salsa menebak detak jantungnya bisa di dengar oleh Rafael juga, saking ributnya.
Rafael tersenyum sinis lagi, saat Salsa tiba-tiba memegang dadanya itu, gadis itu meneguk salivanya susah payah, ketampanan Rafael makin terpancar di mata Salsa dari jarak yang sangat dekat, membuat gadis itu benar-benar memberikan gelar cowok tertampan untuk Rafael.
"Jauhan dikit, El. Jantung aku nggak nyaman. Kamu nggak denger?" dramatis Salsa.
Raut wajah Rafael langsung berubah, ucapan gamblang gadis itu membuat Rafael kesal.
Ini alasannya tidak ingin berhubungan dengan perempuan. Karna menurut Rafael makhluk bernama perempuan itu sangat ribet.
Rafael menggelengkan kepalanya pelan, lalu kemudian cowok itu duduk di tempatnya. Gadis di depannya seperti gadis yang tidak punya malu, dengan santainya dia berucap seperti tadi.
Salsa menopang dagu di depan Rafael, "El, kamu yakin masih nggak cinta sama aku?" Salsa menghembuskan nafas berat, "saat aku mau pergi ke Jepang, kamu tetap nggak balas perasaan aku. Aku pikir, kamu akan kayak cowok yang di sinetron, yang pernah aku lihat di TV. Di saat pasangannya ingin pergi jauh, dia akan menyesal dan dia akan mengutarakan segala perasaannya. Dan mengatakan jika dia sangat mencintai pasangan nya sampai kapanpun. Dan menunggu nya kembali."
"Pertanyaan nya. Emangnya lo pasangan gue?" Rafael menaik turunkan alisnya membuat Salsa bungkam.
Lalu kemudian senyuman terbit di wajah Salsa. "Masih calon, hehehe." Jujur saja, Salsa seprti bermimpi bisa mengobrol dengan Rafael, meski di selingin dengan ucapan pedas cowok itu, tidak apa bagi Salsa.
Meski seperti ini, Salsa merasakan sikap manis Rafael. Andai saja Cika ada, mungkin gadis itu bertanya, dimana letak manis itu yang di tunjukkan Rafael padanya?
__ADS_1
Salsa melirik jam di pergelangan tangannya, sepuluh menit lagi jam 12 siang. Penerbangan menuju jepang di tunda satu jam. Salsa tidak tahu apa alasannya.
"El... Kita balik ke bandara. Dua puluh menit lagi penerbangan menuju Jepang akan lepas landas," jelas Salsa pada cowok itu. "Sebelum aku pergi, nggak ada yang mau kamu omongin? Siapa tahu aja kamu mau nembak apa. Biar aku punya alasan buat balik kesini lagi," kata Salsa dengan senyuman manisnya.
Rafael memutar bola matanya malas, dia berpikir jika ini hanya trik dari Salsa untuk menarik perhatiannya.
"Cara lo basih tau nggak!"
"El... Aku serius. Aku nggak bohong. Aku beneran pergi ke Jepang. Aku juga nggak mau. Tapi mama sama papa aku maksa aku." Tidak ada raut bercanda di wajah Salsa. Senyum yang tadi melekat di wajahnya di ganti dengan air wajah serius. "Aku serius, El. Apa-apa tentang aku selalu kamu anggap permainan. Begitupun dengan perasaan aku."
"Gue--"
Drt...
Ponsel milik Salsa bergetar diatas meja, sehingga Rafael bisa melihat nama yang tertera di layar ponsel nya. Yang menelfon gadis itu adalah Cika.
"Aku angkat dulu."
"Lo dimana? 20 menit lagi pesawat yang ngantar lo ke Jepang lepas landas, Sal. Lo mau di tinggalin?!" Suara itu bukan milik Cika, melainkan suara milik Puri.
"Iya, ini aku udah mau siap-siap ke tempat tadi," ujar Salsa seraya melirik Rafael yang tidak begeming sama sekali.
"Eh, lo masih sama Rafael 'kan?" tanya Puri penasaran di ujung telfon.
"Iya, aku sama Rafael."
Puri langsung mengalihkan panggilan, dari telfon WA menuju video call. Salsa langsung menggeser ikon berwarna hijau itu, membuat ketiga gadis di dalam layar ponsel itu menatap Salsa.
"Rafael mana, Sal?" tanya Pute, sehingga Salsa langsung mengarahkan kamera ponsel nya kearah Rafael.
Mereka bertiga melihat jelas wajah judes Rafael, membuat Puri tertawa renyah sementara Pute geleng-geleng kepala.
"Antar Salsa balik kesini," perintah Cika pada Rafael.
__ADS_1
"Tanpa lo minta!"
"Gue nanya baik-baik. Nggak usah nyolot deh lo, Raf!"
Tut...
Salsa langsung mematikan sambungan telfonnya, dia tidak mau jika sepupunya itu adu bacot dengan Rafael.
Rafael kembali menatap Salsa, dengan tatapan yang sulit di artikan, "lo beneran pergi?" Suara milik Rafael sudah tidak se nyolot tadi. Suara cowok itu pelan, namun masih mampu di dengar Salsa.
Salsa tersenyum hangat pada Rafael, "aku nggak bercanda, El. Aku udah bilang dari tadi." Lagi-lagi Rafael hanya diam. Ia pikir, ini akal-akalan dari Salsa dan juga para sahabatnya.
"Ayok, El. Kita balik ke bandara. Aku nggak mau sampai ketinggalan pesawat. Mama sama papa bakalan marah kalau aku batal ke Jepang hari ini." Salsa berdiri dari kursi yang ia duduki, mengajak Rafael untuk balik ke bandara.
Rafael masih diam di tempat duduknya, "El... Ayok."
Rafael menatap Salsa yang sudah pergi, tengah menunggu dirinya yang masih duduk dengan pikiran bercabang keman-mana.
"Duduk dulu," perintah Rafael, sehingga Salsa langsung duduk. Masih ada waktu 15 menit, lagian jarak cafe ini ke bandara hanya memerlukan waktu 2 menit berjalan kaki.
"Mau ngomong apa?" goda Salsa membuat Rafael menghembuskan nafas berat, bukan waktunya untuk ia emosi.
Dia sedikit syok mendengar jika gadis itu akan benar-benar pergi, ia pikir ini hanya rencana saja.
"Ngomong sebelum lambat, El. Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. I Love you more," ucap Salsa menggebu-gebu. "Ini ucapan terakhir aku ke kamu, sebelum aku pergi. Karna aku nggak tahu lagi, kapan aku bisa ngomong secara langsung kayak gini lagi." Salsa menatap Rafael senduh. "Aku sayang kamu, El."
Rafael mengeluarkan kotak berwarna merah di kantong celananya, tanpa basa basi cowok itu membuka isi kotak itu membuat Salsa melotot.
Sejak kapan Rafael membeli cincin?
Rafael meraih tangan Salsa, "hari ini, gue ngikat lo pake cincin ini. Sejauh apapun lo pergi, lo bakalan balik ke gue." Rafael langsung memasang cincin di jari manis Salsa.
Apa ini mimpi indah?
__ADS_1