
Satu minggu berlalu...
Sudah satu minggu ini Gerald masuk rumah sakit. Dan sudah satu minggu ini pula Dokter tidak menemukan tanda-tanda jika Gerald akan segera bangun.
Semua berharap Gerald bangun, namun dokter belum juga memberikan kabar, jika Gerald akan segera sadar dari komanya.
Jia, mami Gerald sudah satu minggu ini dia jarang makan. Bahkan wanita itu sering melamun dan terus-terusan memanggil nama Gerald.
Dokter Boy juga sudah tahu, jika Gerald sudah tidak punya harapan lagi untuk hiudp, hanya ada alat-alat khusus di tubuh cowok itu membuatnya masih bernafas kecil.
Di pastikan, jika alat itu di lepas maka Gerald akan benar-benar pergi. Dokter yang sudah tahu sebenarnya hanya pasrah saja, karna orang yang mereka rawat ini dalam bahasa medis sudah tidak ada lagi.
Namun, Raga selalu menyuruh para dokter untuk merawat anaknya, tetap memasang alat itu pada tubuh Gerald, meskipun alat itu tidak akan membuat Gerald kembali membuka mata.
Dokter Boy saat ini memeriksa kondisi Gerald bersama dengan dokter Ivan. Boy menghembuskan nafas berat, tanpa terasa bulir air matanya turun membasahi kedua pipinya.
Tanganya mengusap kepala Gerald yang sudah botak habis. Yah, para dokter sudah memangkas rambut Gerald, karna rambutnya tidak bisa di biarkan tumbuh karna luka pada kepala Gerald begitu dahsyat, jika rambutnya tidak di botak, makas sisa-sisa darah akan tetap membasahi rambutnya menciptakan bau amis dan kering karna darah.
Raga hanya pasrah saja saat dokter Boy 4 hari yang lalu mengatakan, jika rambut milik anaknya akan dipotong tanpa sisa, demi kebaikan Gerald, Raga hanya mengangguk saja karna ini demi kebaikan anaknya.
''Sejak kapan?'' tanya Boy, mengusap air matanya. Baru satu minggu Gerald di rawat di rumah sakit, tubuh cowok itu sudah sangat kurus.
Dokter Ivan yang paham dengan pertanyaan Boy langsung menjawab. ''Sejak dia di larikan di rumah sakit, Boy. Aku sudah katakan pada papanya Gerald, kalau anak nya sudah tidak ada, sejak dia dibawa kerumah sakit. Aku sudah mengatakan juga, anaknya sudah pergi di saat perjalanan kerumah sakit,'' jelas dokter ivan. ‘’Dia menyuruh aku untuk menyembunyikan ini, terutama kepada istirinya. Dia menyuruh aku tetap menberikan penanganan intensif kepada anaknya. Karna dia yakin, anaknya akan bangun karna bantuan alat khusus di rumah sakit ini,'' lanjut Ivan, membuat Boy tidak bisa menahan air matanya.
''Sama saja kita nyiksa Gerald di sini, Van. Dia sudah tidak ada, bantuan alat-alat pada tubunya tidak akan mungkin buat dia membuka mata lagi,'' kata Boy dengan lirih, pria itu menatap wajah tenang milik Gerald, matanya yang indah itu sudah terpejam.
Ivan menghembuskan nafas berat. ''Aku bingung, Boy. Dua hari yang lalu. Aku sampaikan hal ini pada orang tua Gerald. Tapi dia tetap maksa buat rawat anaknya di rumah sakit ini. Dia menyuruh aku untuk tidak. melepaskan alat ini pada tubuh anaknya, Boy. Gue nggak habis pikir, sampai kapan alat ini akan melekat pada tubuh anaknya. Alat yang kita pasang, nggak akan buat dia membuka matanya. Aku udah jelasin semuanya, namun dia tetap kekeh, agar anaknya di rawat di sini.'' Ivan menjelaskan panjang kali lebar kepada dokter Boy, yang usianya hanya beda beberapa bulan saja.
''Mungkin kamu bisa membicarakan hal ini kepada orang tuanya, supaya dia bisa melepaskan anaknya,'' ucap Ivan, seraya menatap tubuh kurus milik Gerald. ''Aku kasihan sama anaknya, Boy. Jiwanya udah mau pergi, tapi kita menahannya,'' lanjut Ivan dengan suara bergetar.
''Nanti aku bujuk orang tuanya, Semogah saja dia bisa merelakan Gerald,'' ucap Boy seraya tersenyum miris melihat wajah tampan milik Gerald yang terpejam begitu indah. ''Aku juga mikir, Van. Kalau adik aku sampai tahu ini, dia makin sedih. Masalah keluarga buat dia terluka, aku yakin dia makin tersiksa jika mengetahui hal ini,'' lanjut Boy dengan suara berat.
***
Saat ini Raga, papinya Gerald berada di ruangan dokter Boy, mereka berdua saling berhadapan dengan meja yang membatasi mereka.
''Om,'' panggil Boy. ''Om udah tahu'kan, kalau Gerald itu....''
Raut wajah milik Rara memerah, menahan tangis. Sehingga Boy tidak jadi meneruskan ucapanya.
''Om udah tahu,'' jawab Raga dengan suara bergetar hebat.
''Om...Apa om Raga nggak mau lepasin Gerald?'' Lebih dulu, Boy menarik nafasnya panjang, sebelum melanjutkan ucapanya. ‘’Kasihan Gerald, om,'' lanjut Boy, dia berbicara pada Raga dengan suara lirih.
''Jiwanya udah mau pergi, tapi kita malah menahannya. Kita udah nyiksa Gerald, om. Biarkan Gerald pergi, meskipun ini berat. Percuma saja kita menahannya di sini, dia nggak akan membuka matanya lagi. Kecuali Allah yang berkehendak.'' Boy bahkan kembali menitihkan air matanya, mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak turun.
Sementara Raga menundukkan kepalnya, menangis tertahan namun suaranya masih bisa di dengarkan oleh Boy.
''Om tidak tahu, apa yang harus om katakan pada istri om.'' Tangis Raga begitu pilu. ‘’Sudah satu minggu ini dia jarang makan, dia hanya makan satu sendok saja. Dia menginginkan Gerald untuk bangun. Andai dia tahu, Gerald sudah tidak ada, om tidak tahu bagaiamana kondisi Jia sekarang, dia akan semakin tersiksa, om takut jika hal ini membuatnya menjadi stres,'' kata Raga panjang kali lebar masih dengan air mata yang menetes. ''Om....Sudah ikhlas ingin melepaskan alat-alat itu dari tubuh Gerald, dan mencoba untuk melepaskan anak om untuk selamanya. Tapi om nggak bisa jika kembali mengingat istri om, dia akan histeris jika alat yang di pasang pada tubuh Gerald akan di cabut.''
Boy menghembuskan nafas berat, ini sangat sulit!
''Om mohon, biarkan alat itu terpasang pada tubuh Gerald. Om tidak tega melihat Jia....''
''Sampai kapan om?'' tanya Boy membuat Raga menarik nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan anak sahabatnya.
‘’Biarkan alat itu terpasang selama satu bulan ini, jika sudah satu bulan Gerald tidak membuka matanya, maka om akan terima semuanya.'' Raga menjelskan panjang kali lebar, dia ikhlas jika nantinya dia tidak melihat senyuman istrinya lagi, dia ikhlas jika tubuh milik Jia akan semakin kurus karna ini, dia ikhlas jika nantinya Jia banyak melamun. Atau hal yang lebih menyerang Jia, yaitu stres.
Memikirkan itu saja membuat Raga tidak tahu, apakah dia bisa menjalani hidupnya dengan semangat. Dia akan kehilangan Gerald untuk selamanya dan kehilangan Jia yang dulu.
Boy akhirnya mengangguk, dia akan menunggu satu bulan, untuk melepaskan alat itu pada tubuh milik Gerald.
__ADS_1
Boy menidurkan tubuhnya diatas sofa, setelah Raga pergi dari ruanganya.
''Ra, gue juga bingung mau ngomong apa sama lo. Kalau lo tahu ini, sahabat lo udah nggak ada,'' gumam Boy seraya memejamkan matanya.
***
Rasanya, beberapa hari ini, percuma saja Nanda ke sekolah. Ya, karna semenjak Gerald belum sadarkan diri, gadis itu banyak melamun, tidak mendengarkan guru saat menjelskan, tidak konsentrasi di dalam kelas. Lebih banyak melamun, didalam kelas.
Buktinya saja, saat ini guru sedang menjelskan di depan, namun gadis itu hanya melamun saja. Dia memang di sekolah, namun pikiranya berada pada rumah sakit, dia menunggu berita mengenai Gerald di sampaikan oleh kakaknya, Boy. Namun sampai saat ini, Nanda tidak mendpatakan kabar baik dari Boy.
‘’Nanda!'' Guru yang mengajar di kelas memanggil nama gadis itu. Bagaimana tidak, jika gadis itu sedari tadi hanya melamun saja.
''Na,'' panggil Salsa. Namun gadis itu tidak bergeming juga, membuat Salsa langsung menyenggol lengan gadis itu, membuatnya tersentak kaget.
Nanda melirik Salsa, lalu berkata. ''Kenapa?'' tanya gadis itu dengan suara lesuh.
''Fokus, Na. Dari tadi guru di depan negur kamu,'' ucap Salsa, sehingga Nanda langsung menatap kedepan.
Dapat guru itu lihat, kantung mata gadis itu hitam. Matanya begitu sayu, wajahnya nampak lesuh seperti gadis yang mempunyai banyk beban.
''Maaf, bu,'' ucap Nanda. Sudah dia katakan, percuma saja dia ke sekolah, jika ujung-ujungnya akan seperti ini lagi.
Guru itu menggelengkan kepalnya. ''Kamu sakit?'' tanya guru itu, sehingga seluruh tatapan mata tertujuh pada Nanda.
''Nggak, bu,'' jawabnya. Meski dia menjawab tidak. Namun guru itu menebak jika muridnya itu tidak baik-baik saja.
Apa lagi berita mengenai papa Nanda firal di sekolah ini. Bahkan, Kesya belum juga ke sekolah, sudah satu minggu lebih gadis itu tidak ke sekolah.
''Salsa, kamu temenin teman kamu ke uks. Suruh dia istirahat di sana,'' perintah ibu guru dan dibalas anggukan kepala oleh Salsa.
Gadis itu berdiri dari kursi yang dia duduki, lalu menarik tangan Nanda keluar dari kelas. Nanda hanya pasrah saja melihat Salsa menarik tangannya keluar dari kelas.
Di dalam uks, hanya ada dia dan juga Nanda.
''Nggak bisa,'' balas Nanda dengan lesuh membuat Salsa menggelengkan kepalnya.
Nanda sudah duduk diatas brankar, kakinya dia ayun-ayunkan.
''Lo tahu, Sal. Berita sahabat gue buat gue lebih sakit, ketimbang berita papa gue sama wanita lain.''
Salsa mengusap punggung Nanda. ''Kamu yang sabar, aku yakin Gerald bakalan bangun, dia akan biarin sahabat masa kecilnya ini sendiri.'' Salsa menggenggam tangan Nanda. ‘’Pulang sekolah, kita jenguk Gerald. Siapa tahu aja, dia bisa dengerin kamu ngomong,'' lanjut Salsa dengan cengengesan membuat Nanda tersenyum tipis.
Tok...Tok...Tok
Pintu uks di ketuk, Salsa langsung berjalan menuju pintu untuk segera membuka pintu uks.
Ceklek.
Salsa membuka pintu uks, rupanya yang datang adalah Ardian.
''Kamu sakit?'' tanya Salsa, melihat ada Ardian di sini. Tumben-tumbenan cowok itu ke uks.
‘’Nanda mana?'' bukanya menjawab, Ardian malah balik bertanya.
''Ada di dalam,'' jawab Salsa, sehingga Ardian langsung masuk. Dia melihat kaki Nanda lalu membuka gorden uks.
Mata Nanda dan Ardian beradu, ucapan Ardian di di rumah sakit beberapa hari yang lalu membuat Nanda mengingatnya kembali. Dia masih ingat jelas, apa yang Ardian katakan padanya.
Salsa lebih dulu memberikan ruang untuk Ardian dan Nanda.
''Buat lo.'' Ardian memberikan permen karet sebanyak lima permen karet. ''Siapa tahu aja, permen karet ini buat lo jadi kuat lagi,'' lanjut Ardian dengan senyuman tipis, setipis tisu.
__ADS_1
''Thanks,'' ucap Nanda, seraya mengambil permen karet itu.
Ardiam hanya mengangguk kecil. Nanda mulai membuka permen karet yang di berikan Ardian, sudah beberapa hari ini permen karet tidak menyentuh lidahnya.
‘’Pulang sekolah, gue sama teman gue mau kerumah sakit jenguk Gerald. Siapa tahu aja lo mau ikut,'' Ardian memberikan tawaran kepada Nanda. ''Siapa tahu aja, angin kota Jakarta bisa buat pikiran lo lebih dingin lagi.''
Nanda berpikir sejenak, mungkin dengan naik motor dia sediki lupa ini.
''Ok,'' ucap Nanda mengiyakan ucapan Ardian.
''Gue duluan, gue kesini cuman mau kasi lo permen karet. Karna gue tahu, lo pasti butuh itu.'' Ardian langsung melenggang pergi meninggalkan Nanda.
Salsa kembali masuk, setelah Ardian pergi.
''Kamu mau bareng sama mereka, Na?'' tanya Salsa tidak sengaja mendengar obrolan mereka yang ini.
''Iya, nggak apa-apa'kan? Siapa tahu aja naik motor bisa buat pikiran gue sedikit segar,'' balas Nanda, seraya mengingat perkataan Ardian tadi.
''Iya, nggak apa-apa kok. Biar aku sama yang lainya naik mobil,'' kata Salsa dan dibalas anggukan kecil oleh Nanda.
***
Bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid telah berhamburan dari kelas untuk segera pulang. Cika dan kedua sahabatnya berjalan menuju uks, dengan tas Salsa dan Nanda berada di tanganya.
Puri dan Cika sudah baikan, Puri yang minta maaf lebih dulu pada sahabatnya, karna dia tahu ini salahnya.
Nanda dan Salsa keluar dari uks, bersamaan dengan kedatangan ketiga temanya itu.
''Jadi'kan kerumah sakit?'' tanya Cika setelah menyerahkan tas milik Nanda dan Salsa.
''Jadi, kok. Nanda nggak jadi bareng kita, dia barengan sama Ardian,'' jelas Salsa menyertakan alasanya mengapa Nanda ingin ikut Ardian.
Cika mengangguk paham, lalu mereka segera berjalan menuju parkiran.
Sampi di parkiran, Nanda melihat anak-anak ARIGEL tengah menatapnya, dia yakin anak ARIGEL sedang menunggunya, namun Nanda tidak melihat Ardian di tengah-tengah para sahabatnya.
''Sini!'' panggil Ethan, melambaikan tanganya kearah Nanda.
''Kesana gih, udah di panggil tuh,'' ucap Pute, sehingga Cika, Puri dan Salsa langsung melihat kearah anak ARIGEL
‘’Gue kesana dulu,'' pamit Nanda kepada temanya itu dan hanya dibalas anggukan kepala saja.
Rafael bersedekap dadah, tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata milik Salsa. Beberapa hari ini Salsa tidak mengusiknya, mungkin karna dia mengerti dengan situasi ini.
''Ardian mana?'' tanya Nanda.
''Udah kerumah sakit duluan, dia nyuruh kita berempat nungguin lo,'' ucap Izam membuat Nanda mengangguk kecil.
Dia pikir, dia akan bersama ardian. Dia tidak berharap, masalahnya ardian yang menawarinya namun cowok itu pergi duluan.
''Oiya, gue sama siapa?'' tanya Nanda.
‘’Sama gue,'' sahut Rafael membuat Nanda terdiam. Dia ingin mengataka untuk bersama Ethan saja, namun Leo langsung angkat bicara.
''Lo sama Rafael. Sesuai perintah Ardian ke kita,'' ucap Leo dan dibalas anggukan kepala oleh yang lain.
Rafael sudah memakai helmnya. Tinggal menunggu Nanda mendekatinya untuk segera naik keatas motor.
''Lo tenang aja, Ardian nggak pernah salah orang, buat nitip cewek yang dia sukai,'' celetuk Izam, membuat Ethan langsung menyikut perut cowok itu
__ADS_1