
Ethan memberikan kode kepada Izam, agar cowok itu berhenti mengoceh saja.
‘’Mulut lo....''
Nanda menghembuskan nafas berat lebih dulu, lalu angkat bicara. ''Gue sama Ethan aja,'' ucap Nanda, membuat mereka berempat saling menatap satu sama lain.
Nanda ingin pergi bersama teman-temanya, karna Ardian sudah tidak ada. Hanya saja, mobil milik Cika sudah pergi meninggalkan dirinya, karna dia menyuruh Cika pergi lebih dulu.
''Hmmm....'' lebih dulu Ethan berdehem. ‘’Kenapa lo mau sama gue? Bukan apanya, Nan. Gue mau-mau aja bonceng lu kerumah sakit. Nggak masalah kalau gue boncengan cewek cantik kayak lu. Tapi...Ini amanah dari Ardian, kalau lu kerumah sakit sama Rafael. Kita-kita ini takut sama Ardian,'' ucap Ethan panjang kali lebar, karna Nanda menolak berboncengan dengan Rafael.
Nanda melirik anak ARIGEL satu persatu. ''Gue nggak mau kalau Salsa sampai salah paham sama gue,'' jelas Nanda. ''Cukup gue bermasalah sama Kesya, gue nggak mau nambah lagi,'' lanjut Nanda dengan bijak, ini alasanya menolak jika dia berboncengan dengan Rafael kerumah sakit.
Dia tidak ingin menambah masalah dalam hidupnya, dia tidak ingin melihat Salsa kecewa atas dirinya karna boncengan dengan Rafael.
Mereka semua berpikir sejenak, sementara Rafael hanya acuh saja.
‘’Andai gue tahu Ardian udah kerumah sakit duluan, gue bakalan ikut sama teman-teman gue,'' lanjut Nanda lagi.
''Yudah, hal kayak gini nggak usah di perbesar. Biar Nanda sama gue,'' final Leo agar mereka tidak membuang waktu lebuh banyak di parkiran di sekolah, karna dia yakin Ardian sudah bosan menunggu kedatanganya.
''Kalau Ardian marah gimana?'' celetuk Ethan kepada Leo.
''Dia nitip Nanda sama kita, bukan cuman sama Rafael aja,'' balas Leo.
''Ok...Lo yang tanggung jawab,'' ucap Ethan dan dibalas anggukan kepala oleh Leo.
Akhirnya Nanda berboncengan bareng dengan Leo, bukan dengan Rafael. Karna dia tidak mau melihat Salsa kecewa padanya, meski kemungkinannya hanya kecil saja. Lebih baik dia menghindarinya.
Leo memberikan helm kepada Nanda, lalu gadis itu memakainya lalu naik keatas motor milik Leo.
Mereka langsung meninggalkan parkiran sekolah untuk segera kerumah sakit.
***
__ADS_1
Sudah lebih 20 menit lamanya, Ardian menunggu sahabatnya, namun mereka tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Ardian bernafas legah, melihat teman-temanya sudah ada.
''Nanda mana?'' tanya Ardian kepada ke empat sahabatnya.
''Di toilet, katanya dia mau ganti baju,'' jawab Leo dan dibalas anggukan paham oleh Ardian.
‘’Kalian masuk duluan, gue tungguin Nanda di sini,'' ucap Ardian dan dibalas anggukan paham oleh sahabatnya, mereka meninggalkan Ardian di lobby rumah sakit.
‘’El, Nanda mana?'' tanya Salsa, karna tidak melihat Nanda ikut bersama dengan mereka.
Salsa tersenyum kecut, karna Rafael hanya mengabaikan ucapanya barusan, tidak berniat untuk menjawab pertanyaanya.
''Nanda lagi di toilet, Sal. Dia lagi ganti baju.'' Leo yang menjawab pertanyaan Salsa, dia kasihan saja melihat gadis itu bertanya namun di abaikan oleh Rafael.
Salsa manggut-manggut dengan jawaban Leo.
''Nggak usah tnya sama dia. Dia nggak punya mulut buat ngejawab pertanyaan lo,'' sindir Cika untuk Rafael, membuat Rafael menatap tajam Cika.
''Nggak usah sok kenal lo deh.'' Rafael membalas tatapan Cika.
Cika menutup buku yang sedang dia baca, lalu membalas tatapan Rafael. ''Emangnya gue sok kenal sama lo? Gue cuman bilang, kalau lo nggak bisa jawab pertanyaan orang,'' sinis Cika. ''Nggak habis pikir juga sih, kenapa Salsa ngebet banget sama lo. Mau dibilang ganteng, tapi lebih gantengan Gerald.''
Cika terdiam, dia baru saja mengeluarkan kata keramat. Leo, Rafael, Ethan dan Izam menautkan alis mereka bingung.
Sementara Cika berusaha menjaga imagenya.
''Ci,'' panggil Salsa, dia tahu sepupunya itu keceplosan.
''Lo suka sama Gerald?'' tanya Ethan penasaran, ini berita hangat jika Cika yang tomboi itu bisa jatuh cinta juga.
''Kalau gue bilang orang itu ganteng, apa harus di ikuti kata suka?'' Cika kembali balik bertanya, bukanya menjawab pertanyaan dari Leo barusan.
__ADS_1
‘’Kalian itu ganteng, itu fakta. Apa gue suka sama kalian, kalau gue bilangin kalian ganteng? Tentu saja nggak, memuji orang itu belum suka.'' Cika memberikan jawaban yang mantap dari pertanyaan Leo.
Gara-gara dia yang keceplosan, dia harus bicara panjang kali lebar, yang selama ini dia tidak lakukan. Apa lagi gadis itu terkenal banyak diam bersama dengan buku-bukunya.
''Oh...''
Rafael tersenyum penuh arti, dia tahu jika jawaban yang Cika berikan bertolak belakang dengan isi hatinya.
''Nggak usah gengsi,'' sinis Rafael kepada Cika, sehingga mereka berdua saling bertatapan tajam.
''Kalian berdua sepupuan, emang cocok sih. Cintanya sama-sama bertepuk sebelah tangan,'' ejek Rafael membuat Cika mengepalkan tanganya.
''Loh...Kalian berdua sepupu?'' Izam nampak terkejut saat mengetahui jika Cika dan Salsa itu mempunyai hubungan kelurga.
''Satu tomboi, satu feminin. Satu suka Gerald satu suka Rafael,'' lanjut Izam dengan tawa kecilnya membuat Ethan juga ikutan tertawa.
''Bukan cuman mereka berdua cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi cinta sahabat mereka juga bertepuk sebelah tangan. Kesya sama Pute juga suka sama Ardian dan Leo. Tapi mereka berdua nggak masuk di List tipe sahabat kita,'' ucap Rafael membuat Leo menjadi kikuk.
Pasalnya, dia dibawa-bawa juga.
''Iya juga ya. Sahabat lo pada suka sama sahabat kita. Cuman Puri aja nggak ada yang dia sukai diantara kita. Pesona anak ARIGEL emang beda dari pesona cowok lain,'' bangga Ethan membuat Izam mengangguk setuju dengan ucapan cowok itu.
''Kalian omongin apa, gue sama Pute itu cuman sebatas teman mabar,'' ralat Leo membuat Ethan dan Izam memutar bola matanya malas. ''Lagian....Pute bukan selera gue.''
''Dasar Playboy!'' umpat Ethan dan Leo hampir bersamaan.
Pute dan Puri tidak ada di sini, karna kedua gadis cantik itu masuk kedalam ruangan Gerald. Mereka tidak bisa masuk secara bersamaan untuk menjenguk Gerald.
‘’Siapa yang harapin sahabat kalian? Gue udah punya pacar. Gue sama Leo itu cuman sebatas teman mabar!'' Mereka semua melihat kearah pintu ruangan Gerald, karna kedua gadis itu sudah keluar.
Lebih dulu Pute menatap Leo, lalu menatap sahabat Leo satu persatu.
''Gue cantik, gue mandiri, gue nggak matre, gua cewek setia. Nggak pantas bersanding sama sahabat kalian yang nggak cukup sama satu cewek,'' ucap Pute penuh dengan penekanan membuat Leo terdiam dengan ucapan gadis itu. ‘’Seharusnya gue yang ngomong, kalau lo itu bukan selerah gue. Bukan malah sebaliknya!''
__ADS_1
''Nggak mungkin juga gue yang setia ini, sama sahabat kalian yang nggak pernah setia sama satu cewek. Gue terlalu berharga buat sama cowok nggak cukup satu cewek.'' Pute langsung pergi meninggalkan mereka, ada rasa sesak yang dia rasakan saat mengeluarkan kata-kata barusan.